Selingkung Hujan






Mereka tahu tugasnya. Mereka tidak pernah melanggar sedikit saja apa yang sudah menjadi jalan hidup mereka. Namun, meski begitu tidak dengan apa yang mereka pikirkan dan isukan kepada teman-temannya.

Banyak dari hujan berpandangan dungu dan pecundang. Apa yang menggeliat dan mereka bahas dengan teman-temannya bertentangan dengan apa yang harus mereka jalani.

Di daerah kawasan Jogja, hari ini adalah hari buat generasi yang ke 405199549912042 dari hujan untuk menjalankan misi luhurnya. Setiap turun hujan itu berarti satu generasi sedang ditugaskan dan angka itu, entah aku tidak tahu kapan mulainya, adalah nomor urut generasi dari hujan-hujan yang mengguyur Jogja selama ini.

Hari ini adalah harinya Remus, Romulus, Napo, Dort, dan Mences. Mereka sedang bersiap-siap di Portal (tempat pelepasan) setelah dua jam mendengarkan ceramah dari Klod, sang Induk. Mereka terlihat santai mengobrolkan sesuatu. Rautnya plong seperti habis masturbasi.

Teman-teman mereka yang lain juga menunjukkan iklim senada. Jadinya, suasananya lumayan riuh. Kalau kamu pernah ikut wisuda anak-anak TK, barangkali demikianlah nuansanya.

"Ini kan hari yang sangat luhur buat kita toh...." Remus bertanya pada Mences, memulai.

"Iya. Lalu?"

"Apa tujuan luhurmu nanti?"

"Ahaaa, tak terpegang, Rem. Tapi ada satu yang paling bersuara di hatiku. Kita ini kan hujan toh. Salah satu elemen yang di mensyen di semua kitab-kitab suci para manusia. Makanya, aku sudah memikirkan ini matang-matang."

"Opu kui, bangsat. Kakean prolog." Romulus menyela keras.

"Aha, sabar sih. Aku nanti pengen mengguyur tanah-tanah gersang supaya para petani yang tertindas kurang air gara-gara berdirinya hotel-hotel baru itu bisa kembali tersenyum dan menanam buat masa depan kaum manusia." Mences menjawab dengan penuh suka cita cum visioner.

"Emm. Seluhur dirimu, Ces," Remus merespons, "Kalau kamu, Dort?"

Dort sedang meneropong jauh ke bawah ketika Remus melemparnya pertanyaan. "Eh aku ya. Aku sederhana sih. Kurang lebih sama kayak Mences. Aku akan turun di situ," jawab Dort sembari menunjuk sebayang garis yang melintang dari ujung barat kota sampai ujung timur, "Sungai itu sudah lama kerontang. Sendu rasanya melihat para petani harus mengemis air dengan bor yang mahal padahal di sampingnya ada jalur air surga yang malah diabaikan pemerintah."

"Woo, bagus. Kok pikiranmu cerdas, Dort." Napo tiba-tiba nimbrung dan tiba-tiba pula menceritakan pilihannya.

"Kalau aku akan memilih bergabung menjadi tim banjir. Iya banjir. Biar bisa menyantap semua yang ada di Jakarta. Kalau bisa sampai ke rumah Gubernurnya yang kemarin sok-sok ngomongin fitrah kita sebagai hujan dan air. Aku muak dengan orang itu. Biar juga, kalau misal sudah tersantap banjir, dia itu mau memikirkan nasib warga-warga yang rumahnya berlangganan banjir!" Napo menggebu-gebu. Teman-temannya melongo mendengar.

"Hoi, bangsat. Daerah tugas kita ini Jogja, bangsat. Ndak sampek Ibukota." Lagi-lagi Romulus menyahut.

"Oiya. Aduh. Yaaowoh lupa. Hi hi hi..."

"Haish haish haish, tiwas saya merungokkan dengan seksama, Po Napo." Mences kecewa dan melanjutkan, "Kalau kamu sendiri bagaimana, Lus?"

"Ndak jauh-jauh, Ces. Aku mung pengen jatuh di pipi perempuan yang selama ini kuidam-idamkan," tutur Romulus dengan kepala agak mendongak, membayangkan, dan mata terpejam sejenak.

"Loh, loh, kamu memang pernah melihat perempuan itu, Lus," Dort gusar seperti tidak mau kalah dengan Romulus tentang isu kemanusiaan.

"Urungkan saja niat itu, Romulus," Remus ikut-ikutan, "Nanti pacarnya cemburu! Tak baik itu."
"Halah kalian. Apa toh. Sekali-kali kalian tidak akan bisa dan tidak akan pernah bisa menentukan apa yang menjadi kehendakku. Hu. Eh eh, kowe durung, Mus. Tujuanmu opo mengko iki?"

"He he he, kamu mengalihkan, Lus. Ehm. Aku ingin mengabadikan setiap hal yang nanti kulewati di sepanjang jalan, Ges, sebelum aku melebur dengan air-air di bawah sana dan nantinya terlahir kembali. Biar besok kalau ada manusia yang kepingin mencari senyatanya kebenaran, mereka bisa memanfaatkanku. Kasian jika mereka harus saling mengklaim kebenaran dari sesuatu yang tidak jelas. Ah kebanyakan. Itu saja, Lus."

"Aha, itu panjang kali, Mus. Bukan 'itu saja'. Ah kamu masih saja sok bijak." Respons Napo di sela-sela persiapannya untuk terjun.

***

Sirine berbunyi. Dek tempat mereka berpijak sudah mulai miring. Akhirnya masa itu tiba. Sebagaimanapun pikiran mereka menerawang, tetap saja mereka harus jatuh saat ini juga.

Napo, Dort, Mences, Remus, dan Romulus meluncur. Tidak ada raut takut atau menyesal membayangi wajah mereka.

Malah, di sela jatuhnya, mereka masih membahas soal impian-impian tadi kecuali si Napo yang masih bingung mendesain kembali tujuan luhurnya.

Mereka tahu sekali, paham, terlampau mengerti bahkan, bahwa ke mana mereka jatuh sudahlah ditentukan. Tapi mereka tidak mau berhenti bermimpi, meski tidak ada sepotong usaha pun mereka lakukan.

***

Di sudut tertentu Bumi Jogja, ada cowok yg sedang misuh gara-gara nasi goreng sayur yang baru saja dia pesan, terkena cipratan air hujan.

"Bangsat. Asu. Koyok nasgor kuah dadine iki. Bangsat!"

Cewek di depannya yang tidak lain gebetan si cowok, menenangkan, "Hush. Jangan gitu. Tadi pas lagi kenyang saja minjam-minjam hujan untuk merayuku sampek bilang kalau perasaanmu padaku itu ibarat hujan yang tidak pernah tahu di mana dia akan turun. Hayo."

“Emmm …emmm …emmm… Ini nasi gorengnya enak, sayang. Emmm….”

Gejolak Cinta




Bahkan nyala api 
tak bisa terus-menerus berkobar.
Akan ada masanya surut, 
redup, menjadi bara kemudian abu.

Gejolak cinta juga begitu.
Bila kekasihmu tidak sehangat kemarin, 
barangkali kobar perasaannya memang telah redup.
Hanya menunggu waktu ia berubah bara 
lalu abu yang kau anginnya.


"Selamat Hari Natal"


Sumber gambar: https://thehoneycombers.com/bali/christmas-and-new-year-at-alila-seminyak/

Sudah lama tidak ditanya pendapat tentang Hari Natal. Barusan tadi, selepas berdiskusi dengan teman-teman tentang pembangungan tempat wisata baru di sisa gunung bekas tambang, ada yang bertanya soal Natal. Eh bukan Natalnya sih, kalau itu mending, tapi tentang u c a p a n selamat natal.

Lama tak memikirkan itu, rasanya ada ketimpangan yang muncul antara sisa memoriku dan apa yang menjadi pandanganku sekarang.

Dulu, sejauh yang kuingat, saat menulis tentang natal, aku melakukannya cukup serius. Dua sampai tiga hari habis untuk fokus ke situ. Mulai dari mencari ayat Alquran yang relevan, mengumpulkan tafsir-tafsir dari berbagai daerah, sampai pembacaan atas situasi hari ini di Jogja atau Gresik. Intinya, banyak waktu dan tenagaku terforsir.

Bukan soal apa-apa sih. Hanya saja, ihwal ucapan natal itu sudah lebih jelas dari kejelasan itu sendiri. Menyoal hal tersebut sama halnya dengan orang Jawa yang mau liburan bareng orang Sulawesi (memakai mobil sewaan) dan kemudian berdebat tentang, "Kita nanti pakai arah mata angin atau kanan-kiri?"

Sekarang, alih-alih membuat tulisan, memikirkannya saja malas rasanya. Faktor umur barangkali atau efek pergaulan bebas atau entahlah. Yang jelas, buatku saat ini, persoalan itu tidak lagi relevan untuk dibahas (jika bukan tidak penting sama sekali).

Kalau perdebatan mereka dilanjut dan masih saja menganggap ragam "arah" itu penting, aku yakin mereka tak jadi liburan dan malah akhirnya ngopi di Kopi Paste.

Pendeknya, meluangkan waktu dan tenaga untuk isu natal sama artinya dengan merelakan "potensi sejenak" kita buat kekosongan. Okelah kalau kekosongan itu memang benar-benar kosong di semua lapisan, barangkali itu mending. Tapi bagaimana jika kekosongan itu justru menjadikan sesuatu di luar sana menjadi lebih terkuatkan atau terdukung dengan tanpa kita sadari.

Aku jadi ingat tentang kasus Kasravi dan Anglo-Iranian Oil Company di Iran pada tahun 1941-1949. Saat itu terlihat sekali bagaimana banyak orang potensial menghabiskan tenaga dan waktunya untuk menggugat Kasravi dan malah perkara Oil Company tidak ada satu kata pun terlontar. Padahal yang lebih menyangkut hidup-mati seseorang, lapangan pekerjaan kelas bawah, dan semacamnya adalah yang kedua. Lah iki kepriben?

Itulah mungkin yang kumaksud dengan bagaimana menyoal Natal untuk konteks saat ini adalah lebih dari kesia-siaan. Aku merasa ada semacam makhluk lain yang memang sengaja membuat kita sibuk untuk isu remah supaya kita bisa lupa dengan perkara-perkara yang lebih mendasar dan krusial. Asembuh begitulah. Pada ujungnya, tetap juga aku menulisnya. Asu!

Hierarki Profesi dan Sepotong Upaya Membangun Bawah Sadar

Sumber Gambar: https://peluangusaha.kontan.co.id/news/menilik-peluang-bisnis-kudapan-pentol-gupal



Sepanjang akhir pekan, aku diculik temanku untuk menginap di rumah kedua miliknya. Rumahnya di pinggiran kota. Akses ke pusat jajanan bisa ditempuh hanya sepuluh menit pakai sepeda motor.

Dua hari menginap di sana seperti memasuki kota Permen di One Piece: tiap enam jam sekali (iya, enam jam! Aku cukup pengamat pada bagian ini) dia mengajak ke pusat jajanan untuk membeli pentol.  Bangsatnya, beberapa kali ke pusat jajan, kami cuma membeli pentol, meski di toko berbeda. Aku pengen protes, memberi saran jajanan lain yang lebih kontekstual seperti ental, tapi kuurungkan. Yang membayar dia, eh.

Setiap kami memakan pentol yang berbeda-beda itu, dia selalu menceritakan sisi historitas dari pentol yang sedang kami kunyah. Penjelasannya membentang mulai dari bahan dasar pentol (aspek ontologis), unsur yang membuatnya jatuh cinta, sejauh mana dia dekat dengan para penjualnya sampai sejarah pendidikan dari penjual itu sendiri.

Di bagian sejarah pendidikan (disebut genealogi boleh kok) penjual, dia mengisahkan bahwa penjual yang ada di pojok itu dulu alumni SMP 7 dan yang di tengah alumni SMK 1. Dengan rona bahagia cum bangga atau membanggakan mereka, dia menceritakan juga rentetannya mengapa dia sampai tahu jauh soal para penjual pentol kesukaannya di Tuban.

Penjelasannya, harus kuakui, kadang membuatku harus berpikir maju-mundur, tetapi ketika melihat nada serta rona betapa dia bangga dengan para penjual pentol itu, segalanya berubah (sudah kayak dampak dari revoluis 4.0 toh). Aku spontan kepo:  orang ini apa terbuat dari pati dicampur daging kebo po ya. Di masa ketika kebanyakan orang Tuban melihat penjual pentol atau tukang bakso sebagai pekerjaan yang rendahan—seperti halnya penyedia jasa servis ban bocor, driver becak, pebisnis tuak, dan semacamnya—eh dia malah dengan santainya menempatkan mereka lebih tinggi dari kepala sekolah. Guru Kepala di sekolah tempat dia bekerja sendiri lagi.

Mungkin penjelasan temanku di muka adalah alam bawah sadarnya yang dominan. Namun, bukankah apa yang mengendap di bawah sadar kita itulah yang jauh lebih nyata dari sekadar pengetahuan di level kesadaran? Bukankah pula orang-orang dulu lebih mengandaikan anak-anaknya untuk bisa ngelmu dibanding hanya punya ilmu? Hayo, makan pentol dulu wae wes.

Etika Mantan



Ada yang pernah menyengaja pergi tanpa pamit, 
membawa serta segala janjinya 
tanpa sadar sedang berutang penjelasan. 

Bahkan ketika tak lagi peduli kabar tentangnya, 
ke mana perginya, 
siapa bersamanya, 
ia tiba-tiba kembali, 
mengetuk jendela 
di suatu malam pada Desember yang basah.

Kau salah menilai seseorang, Tuan. 
Tak ada hati yang semudah itu dibuka 
hanya dengan kunci berupa kata 'k a n g e n'. 

Setiap mantan seharusnya paham etika ini!

Pemakaman (dan) Tuak

Sumber: https://suryamalang.tribunnews.com/



Ada temanku dari Ngawi. Dia sedang main ke Tuban dan ngajak bersua. Aku memberi dia alamat warung minum yang paling lengkap sak-Tuban. Dia senang. Kami bertemu.

Karena dia sedang belajar merawat ego atau khudi, meminjam bahasa Iqbal, dia yang menraktir kali ini. Dia pergi menuju kasir yang jauhnya setara dengan setengah menit perjalanan. Aku memesan kopi susu tanpa susu, seperti biasa. Dianya, entah memesan apa. Aku tidak tertarik buat tahu.

Sekembalinya dari kasir, dia rada heran setengah kecewa. Aku tanya, "Pasti kopinya habis? Atau kamu lupa aku tadi mesan apa? Atau kasirnya pindah?"

Dia tidak menjawab pertanyaanku. Tapi langsung merepotkanku dengan pertanyaan lain, "Ini warung minum paling lengkap sak-Tuban, toh?"

Aku tertawa dan menegaskan lagi bahwa itu benar. Dia tidak terima, "Kenapa di sini tidak jual tuak? Tuban, Su. Tuban. Dulu, kakek-kakekku itu ke sini untuk nyari tuak. Rasanya khas, kata mereka. Beda dengan yang di Gresik, apalagi yang di Jogja. Ah Asu. Aku tanya tuak ke mbaknya, eh kamu tahu, aku malah ditawatin tasbih. Lah iki pie toh. Asu."

Aku terpingkal dalam hati, tapi tetap serius mendengar dia mengumpat. Lalu kujelaskan begini.
Tuak itu sudah lama tak menghiasi kotaku yang semakin lucu ini, Su. Terakhir kutahu, dia mengalami stigmatisasi yang luar biasa dari Bupati. Eh bupati, maksudku: b kecil.

Dia dicitrakan sebagai minuman haram. Hanya pendosa yang berani menerjang batas haram. Dalihnya mengerikan. Alquran langsung. Siapa coba yang tidak ketakutan kalau mainnya langsung Alquran. Siapa pun pasti ingin sesuai dengan Alquran toh, kitab sucinya.

Cerdiknya, pemerintah tidak berani memakai hadis. Kenapa? Soalnya takut nanti malah membuat orang-orang tidak salat. Kamu pasti bingung, kan? Ya tentu. Dulu aku juga.

Awalnya mungkin masih ada banyak yang melanggar, tapi lama-lama mereka ketakutan juga dan kamu tahu apa yang menjadikan mereka ketakutan? Sebab masyarakat Tuban waktu itu sudah mulai bermain Facebook!

Bukan soal main Facebooknya sih,  tapi tentang apa yang mereka baca lewat Facebook. Sejak pertama stigmatisasi itu berjalan, pemda mengguyur beranda Facebook masyarakat Tuban dengan informasi-informasi bahwa tuak itu minuman terkutuk! Dengan kemajuan teknologi (algoritma), tentu hal ini tidak susahlah, apalagi bagi Daerah yang sebentar lagi memiliki kilang minyak terbesar sakdunyo.

Bahkan, pemda sampai memunculkan semboyan baru yang pada jaman Pak De-ku saja belum ada. Apa itu? Tuban Bumi Wali! Itulah awal mula, tuak sekarat di Tuban.

Seiring dengan semakin seringnya tetangga-tetanggaku membunuh waktu luangnya, kadang juga waktu kerja, buat akses Facebook dan sejawatnya, semakin mengendap pula di bawah sadar mereka bahwa Tuak itu haram. Tidak layak minum.

Pada aras ini, stigmatisasi berperan seperti bom waktu, Su. Pola geraknya mirip dengan bagaimana narasi "desa kumuh" itu dimunculkan (dan dilawankan dengan "perumahan") oleh pemerintah di daerah barat sana secara sengaja supaya mereka bisa menggusur dengan tanpa mendapatkan perlawanan yang cukup berarti dari masyarakat. Ya, sebab itu kumuh.

Dan hari ini, bom itu telah meletup. Anggap sajalah begitu. Masyarakat Tuban sekarang, termasuk para pebisnis tuak, ketika mendengar kata tuak, yang muncul di benaknya tidak lagi satu istilah yang khas Tuban. Yang mewakili tempat tinggalnya atau representasi dari segenap budaya dan pengalaman masyarakat. Tidak. Yang muncul di benak mereka hanya satu isu: dosa!

Loh, sebenarnya ada apa di balik stigmatisasi tuak ini? Pertanyaan bagus. Yang jelas itu tidak tentang haram-halalnya tuak. Tentu tidak. Lalu? Hash. Capek aku. Besok saja kulanjut. Sak iki melok aku nang makam sik. Makam di sini beda dengan di daerahmu.

Mencari Diri Sendiri: Refleksi “Bangun Tidur”



Sumber gambar: https://www.innovationinpractice.com/.a/6a00e54ef4f376883401bb0875ae4b970d-popup



Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. (al-An’am: 60)


      Selama ini, banyak dari kita mungkin memandang bahwa tidak ada yang istimewa dari “bangun tidur”. Peristiwa tersebut tidak lebihnya adalah akibat dari kita yang sebelumnya usai tidur dan kemudian bangun. Itu amat wajar atau memang sudah seharusya begitu, sehingga tidak ada sesuatu yang penting di dalamnya. Akan tetapi, jika kita tidak enggan untuk meluangkan sedikit waktu guna merenung. Minimal, terdapat dua hal yang menarik dalam peristiwa “bangun tidur”. Pertama, itu merupakan batas bagi kita untuk memulai hari yang baru dan meninggalkan apa-apa yang usai kita lakukan kemarin dan kedua, itu adalah tanda bahwa umur kita semakin bertambah.  

       Bagi yang pertama, jika kita mau sedikit saja mendalami, ini akan berdampak luar biasa terhadap pola pikir kita. Ini adalah ibarat kita memiliki lembar baru yang masih putih, sehingga dampak normalnya, kita akan lebih bersemangat dan fokus untuk menjalani satu hari kita dengan efektif. Hal tersebut berbeda, saat kita disuruh fokus dan bersemangat di siang hari yang paginya kita, semisalnya, usai melakukan tindakan yang kurang efektif.
       Adapun untuk yang kedua, hal tersebut menjadi bagian dari keistimewaan “bangun tidur” sebab itu berpotensi menyadarkan kita akan pentingnya sebuah perencanaan. Dengan lain ucapan, di saat kita menyadari bahwa umur kita semakin tua, dampak normalnya, kita akan berkeinginan untuk menjadikan hidup kita lebih berarti. Berbicara berarti, dalam konteks ini, maka berbicara pula tentang perencanaan. Disadari atau tidak, melalui cara pandang yang berbeda terhadap “bangun tidur”, itu akan berdampak luar biasa terhadap pola pikir kita tentang keefektifan hidup.
      Namun, selain kedua hal di atas, ada satu lagi yang boleh jadi ini merupakan penentu atas keduanya, yaitu “kesadaran akan pentingnya mencari diri sendiri”. Artinya, dua paragraf di atas hanya akan berfungsi saat kita sudah berani untuk melakukan pencarian diri di setiap kali kita “bangun tidur”. Adapun yang termasuk dalam pencarian diri tersebut adalah memikirkan kembali siapakah kita sebenarnya, apa yang sewajarnya kita lakukan sebagai diri kita, siapakah yang membentuk kita, apa saja ketidakefektifan kita di hari kemarin, bagaimana cara agar itu bisa diperbaiki, dan sebagainya. Sederhananya, pesan yang ingin disampaikan di sini adalah agar masyarakat muslim terbiasa untuk menemukan  dirinya sendiri pada setiap bangun tidur, lantas mereka akan selalu berusaha memperbaiki kehidupan di setiap harinya.
       Jika dikembalikan kepada al-Quran, secara prinsip anjuran tersebut sudah cukup jelas disinggung dalam surat al-An’am: 60. Dalam bagian ayat tersebut tercantum kalimat “tsumma yab’atsukum fih” dan “ya’lamu ma jarahtum”. Untuk yang pertama, tersirat darinya sindiran kepada kita yang sering kehilangan diri sendiri selepas bangun tidur. Kenyataan bahwa di penggalan terakhir ayat tertulis “tsumma yunabbiukum bima kuntum ta’malun” yang mengindikasikan ketidaksadaran kita atas diri kita sendiri adalah salah satu alasan mengapa bisa demikian. Sedangkan kedua, darinya bisa dipahami bahwa kita dianjurkan untuk selalu intropeksi diri. Dalam kalimat tersebut, dijelaskan bahwa pihak yang mengetahui ketidakefektifan—jarh—kita hanyalah Allah. Tidak lain, itu adalah indikasi bahwa kebanyakan manusia tidak bisa menyadari ketidakefektifannya sendiri. Oleh karena itu, melalui kalimat selanjutnya— tsumma yab’atsukum fih—mereka dianjurkan untuk intropeksi diri pada setiap dibangunkan dari tidurnya di pagi hari.
       Secara umum, ada tiga kata kunci dalam ayat ini, yaitu kita dibangunkan di pagi hari, kita sering kehilangan diri sendiri selepas bangun tidur, dan kita sering tidak menyadari ketidakefektifan kita di hari kemarin—tsumma yab’atsukum fih, ya’lamu ma jarahtum, tsumma yunabbiukum bima kuntum ta’malu. Dan jika semua itu dirangkai, maka akan ditemukan dua poin, pertama kenyataan kita sehari-hari dan kedua adalah alternatif untuk memperbaikinya. Untuk penggalan ayat kedua dan ketiga itu masuk dalam katagori kenyataan kita sehari-hari, yaitu sering melakukan ketidakefektifan dan tidak menyadarinya. Sedangkan penggalan ayat pertama itu masuk katagori alternatif, yaitu solusi untuk memperbaikinya. Adapun solusi tersebut adalah sebagaimana yang disebut di awal dengan selalu mencari kembali diri sendiri selepas bangun tidur. Sederhananya, dalam hal ini, kita direkomendasikan untuk senantiasa intropeksi diri di setiap selepas bangun tidur dan yang pasti tidak lagi meremehkan peristiwa “bangun tidur” itu sendiri.
       Dalam wilayah praksis, ini bisa kita mulai dengan mengharuskan diri sendiri untuk sejenak merenung—termasuk di dalamnya intropeksi—di pagi hari. Mungkin, bisa saja itu kita lakukan selepas salat subuh atau pas waktu salat dluha. Di samping suasananya masih pagi, tenang, dan lembaran kita masih baru, hal tersebut juga akan membantu kita merasakan langsung hikmah di balik mengapa harus ada salat wajib di waktu fajar atau salat subuh. Tentang perenungan, di dalamnya kita bisa menanyakan kembali apa tujuan hidup kita, siapa kita, sudahkan kita sewajarnya berlaku sebagai diri kita sendiri, sudahkah kita menjadi manusia yang manusia, apa saja ketidakefektifan yang kemarin dilakukan, bagaiaman cara memperbaikinya, dan sebagainya. Sehingga selepas perenungan, kita sudah mendapatkan diri kita sendiri dan yang pasti dengan pola pikir yang lebih bijak, fresh, enjoy, fokus, serta siap untuk bertarung.
       Kiranya demikian. Setidaknya, setelah memahami ayat di atas, kita bisa lebih sadar akan pentingnya mendapatkan kembali diri kita sendiri setelah kita kehilangannya. Hal tersebut bukan saja untuk pengembangan potensi individu semata, tetapi juga menyangkut kenyaman orang lain atas kehadiran kita. Semakin kita sadar akan apa yang kita lakukan, semakin orang lain nyaman dengan kita. Sebab tanpa kesadaran atas diri, kebijakan akan selalu bersembunyi.

Oleh: Redaksi 

Perputaran Waktu





Betapa waktu sangat tidak adil membagi dirinya. 

Selalu saja berjalan begitu cepat tiap kali aku bersamamu. 

Sering berlangsung teramat pendek saat kita berada di ruang yang sama. 

Lebih lagi saat kau sedang mesra memelukku, mengapa berlalu sekilat itu.

Dari Lingkungan untuk Tuhan

Sumber Gambar: https://jogjainside.com/sampah-plastik-yang-butuh-solusi/



           Pada 2015, Indonesia dinobatkan sebagai penyumbang sampah plastik laut terbanyak nomor dua setelah Tiongkok (Kompas, 15/02/15). Indonesia menyumbang lebih dari 2,5 juta ton sampah dalam kurun waktu satu tahun. Menurut riset, ini disebabkan oleh dua hal, yakni tidak adanya keseimbangan antara jumlah populasi dengan tingkat pembangunan yang ada dan sistem pengolahan sampah kita yang masih belum mumpuni.
           Ini adalah kabar yang cukup menyedihkan. Selain sebab Indonesia akan mendapatkan citra cukup buruk di bidang kebersihan, darinya kita juga bisa menilai bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih belum memiliki kesadaran yang efektif untuk berteman dengan lingkungan. Saya menduga, itu dipicu oleh masih adanya gaya berpikir yang “subjek-objek”. Gaya berpikir tersebut mengandaikan seseorang untuk melihat apa dan siapa pun hanya sebagai objek yang tidak berdaya. Sehingga saat melihat laut misalnya, mereka pasti akan memanfaatkannya dengan tanpa berpikir banyak ke depan—karena memang itu hanyalah objek. Karenanya pula, mereka pasti kesulitan untuk menemukan bentuk kesadaran efektifnya.
            Dalam hal ini, sebenarnya sudah jamak penelitian yang dilakukan untuk menjawab persoalan tersebut. Ambil saja contoh Habitat, suatu forum di bawah naungan PBB yang bergerak di bidang lingkungan hidup, pemukiman, perkotaan, dan sejenisnya. Sejak 1976, Habitat telah mengadakan tiga kali forum, yaitu Habitat I di Vancouver, Habitat II di Istanbul 1996, dan Habitat III di Surabaya (2016). Pada forum I dan II, Habitat menyimpulkan bahwa faktor asas kurang nyamannya lingkungan hidup ketika itu adalah global-struktural sehingga pemerintah harus turun tangan sebagai solusinya. Sedangkan pada forum III, berbalik arah dari dua sebelumnya, Habitat justru melihat bahwa penyebab asasi tidak kondusifnya lingkungan adalah lokal-kultural sehingga sebagai terobosannya, ia menghimbau untuk segenap masyarakat dan komunitas harus menjadi satu individu yang sadar untuk berteman dengan lingkungan (Sudaryono, “Habitat III dan Dialektika Global-Lokal”, Kompas 5/08/16).
            Selain Habitat, ada Abdul Mustaqim. Lewat artikelnya, “Menggagas Paradigma Tafsir Ekologi”, Mustaqim melihat bahwa salah satu yang harus digarisbawahi dalam persoalan lingkungan hidup adalah pola pikir (mode of thought). Perilaku manusia (mode of conduct), menurut Mustaqim, adalah semata-mata wujud dari pola pikirnya. Dan di waktu yang sama pola pikir—apalagi di Indonesia—sangat dipengaruhi oleh pemahaman atas teks-teks keagamaan. Sebabnya, berbekal asumsi tersebut Mustaqim menawarkan satu model penafsiran yang lebih fokus pada lingkungan hidup dengan harapan itu bisa menjadi solusi atas kondisi masyarakat kita hari ini yang tingkat kesadaran efektifnya atas lingkungan rendah.
            Akan tetapi, walau demikian, sudahkah itu berjalan barang 80%? Saya kira belum, apalagi di Indonesia. Ini bisa kita amati, sebagai contoh kecil saja, dari sampah-sampah yang membanjiri sepanjang jalan tol Pejagan-Brexit pada libur lebaran 2016 kemarin dan sampah yang menghiasi pantai utara Tuban di awal tahun 2016. Melihatnya, pasti ada sesuatu yang tidak beres di situ, “Mengapa terobosan yang sudah dianalisis dengan begitu matang masih belum bisa sepenuhnya menyentuh titik kesadaran efektif masyarakat?”

Menuju Kepentingan Individu
            Berbicara mengenai kesadaran efektif, kiranya ada satu hal yang penting untuk tidak kita lupakan. Yaitu soal kenyamanan dan kepentingan. Saat seseorang tidak nyaman dan tidak memiliki alasan praktis terhadap sesuatu, maka sulit rasanya ia akan menemukan kesadaran efektifnya. Begitu juga dengan persoalan ekologi: andai mereka tidak menjumpai satu kenyamanan dan manfaat praktis di dalamnya, kesadaran efektif senantiasa akan menjadi fiktif.
            Adapun mengenai lima prinsip al-Quran terkait pengelolaan sumber daya alam—keadilan, keseimbangan, mengambil manfaat tanpa merusak, memelihara, memperbarui—menurut saya itu akan lebih efektif jika ditambah lagi satu poin di akhir, yaitu al-Sa’adah bi al-bi’ah, berbahagia dengan lingkungan (Mustaqim, 2016). Mengapa harus  ditambah? Karena dari lima prinsip tersebut, belum ada satu poin yang menyuratkan prinsip kebahagiaan individu. Mengapa harus kebahagiaan? Sebab bahagia adalah kepentingan paling asas dari setiap yang bernafas. Dengan ungkapan lain, dalam wacana ini kita penting untuk membuat satu lagi terobosan agar masyarakat Indonesia tergoda untuk tidak membuang sampah sembarangan, yaitu dengan menjadikan “berteman dengan lingkungan” adalah bagian dari kepentingan praktisnya untuk menjadi bahagia.
            Titik relasi antara bahagia dengan lingkungan bisa kita lihat, salah satunya, pada surat al-Fatihah [01]: 02. Dalam ayat tersebut, kita bisa mengamati bagaimana “bersyukur” disejajarkan dengan “Allah, Tuhan semesta alam”—mengapa pula bukan rabb al-‘arsy al-adzim. Bersyukur adalah simbol kebahagiaan. Saat senantiasa bersyukur—dalam arti tidak terlalu banyak keinginan dan selalu berpikir positif—kita pasti akan menjumpai model kehidupan yang santai, ringan, indah, bebas, tanpa beban, dan sejenisnya. Sedangkan “Allah, Tuhan semesta alam”, adalah simbol lingkungan. Untuk itu, agar mudah bersyukur serta berbahagia, kita penting untuk berteman dengan lingkungan.
            Lebih jauh, hal tersebut bisa kita pahami bahwa salah satu alasan mengapa kita, melalui ayat tersebut, dianjurkan untuk selalu bersyukur adalah karena kita masih diberi kesempatan untuk bernafas. Bernafas adalah aktifitas vital manusia yang tidak bisa tidak membutuhkan oksigen. Oksigen adalah hasil produksi alam. Sebabnya, di titik inilah kita penting untuk berteman dengan lingkungan. Pun, karena itu pula ayat di atas menyejajarkan “bersyukur” dengan “lingkungan”.

Menuju Tuhan
            Selain ada “lingkungan” dan “kita” sebagai pihak yang memiliki kepentingan untuk berteman dengan alam, rupanya dalam proses alhamdulillah, terlibat satu entitas lagi di dalamnya, yaitu Allah. Ini bisa dipahami bahwa salah satu cara untuk berbahagia adalah dengan bersyukur kepada Allah dalam keadaan apapun itu. Kemudian cara paling nyaman biar mudah bersyukur adalah dengan berteman dengan alam. Bermula dari keinginan untuk bahagia, menyadari bahwa lingkungan memiliki potensi tersebut dengan oksigennya, kepuasan pribadi, sampai pada Allah sebagai sumber kebahagiaan.
            Jika dilihat secara bertingkat, pada tahap pertama seseorang akan meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia penting untuk berteman dengan alam demi kebahagiaannya. Berangkat darinya, secara perlahan ia akan mampu merasakan bahwa salah satu alasan mengapa sampai hari ini dia bisa hidup adalah sebab ada alam yang selalu menyediakan oksigen kepadanya. Sampai di sini, ia berhasil menemukan bahagia level pertamanya.
Lebih dalam, ketika sudah terbiasa dengan level pertama, maka ia akan bertanya, “Apa saja unsur yang dibutuhkan tumbuhan hingga bisa memproduksi okigen?”  Apa yang ada di balik unsur-unsur tersebut? Nah loh, di situlah letak Tuhan. Dan tepat saat ia sudah sampai di tangga ini, mode of thought-nya bukan lagi “subjek-objek”, tetapi sudah “subjek-subjek”. Pun, di level inilah siapa saja mudah menemukan kesadaran efektifnya untuk berteman dengan lingkungan, sebab semuanya memang bukan untuk siapa-siapa kecuali kebahagiaan diri sendiri. “Bahagia itu: diri + lingkungan + Tuhan.”



Oleh: Redaksi 

Popular Posts