Tetap Perlu Pintar dalam Bersikap Bodo Amat






Allan sangat menyukai Vodka, sangat terampil menciptakan peledak, dan sangat tidak menyenangi obrolan tentang politik. Bagiku dia adalah tipe orang yang bodo amat, dan juga nekat.

Sesederhana itu? Iya.

Tapi kalau mau dibuat sedikit rumit, barangkali jadinya seperti ini ….

Pada mulanya dia adalah seorang anak lelaki yang berpegang pada petuah orangtua. Sebuah kata-kata dari ibunya yang membentuk falsafah hidupnya, segala sesuatu berjaan seperti apa adanya, dan apa pun yang akan terjadi, pasti terjadi. Ya, dia sama seperti anak-anak kebanyakan. Namun barangkali ketika anak lain tumbuh dengan sikap bijak yang juga mengiringinya, Allan masih tetaplah seorang lelaki dengan pemikirannya yang tidak dibiarkan meremaja. Meski senang bereksperimen dan berhasil menciptakan peledak oleh karena sifat kreatifnya, namun tidak serta-merta membuatnya berwibawa dengan itu. Ia masih saja polos, dan tentu saja bodo amat.

Untuk sebuah lelucon, kehadiran tokoh Allan memang sangat menghibur. Di dunia di mana orang-orang serba merasa segan, begitu mudah dikungkung oleh perasaan menyesal, dihantui oleh banyaknya resolusi yang belum tercapai, keinginan untuk terus menumbuhkan benci kepada siapapun, takut ditinggalkan dan merasa sendiri, Allan muncul sebagai orang yang sebaliknya. Dia tak begitu memperhatikan pendapat siapapun, tak suka menyesali yang telah terjadi, tak punya rencana pasti untuk hidupnya ke depan, tak ada apapun, tidak ada. Untuk bercinta pun tidak, tapi bukan berarti ia tidak mencintai. Satu kali saja ia pernah benar-benar murka, yaitu saat  kucingnya yang sangat disayangi  diterkam oleh rubah.

Namun betapapun cekikikannya saya ketika membaca buku ini, betapapun uniknya kepribadian seorang Allan digambarkan sang penulis, semua hanya akan mentok pada titik tersebut. Saya tidak berharap lebih bahwa mungkin saja di dunia yang mahaluas dan hidup yang maha tidak pasti ini akan berjumpa seseorang dengan sikap polos, bodoamat dan nekat serupa Allan. Dan sungguh sesuatu yang tidak ingin kubayangkan mendapati diri ini berubah sikap menjadi seperti Allan. Ya, itu mengerikan. Untuk orang dengan mental yang sangat buruk tiba-tiba bisa tak peduli terhadap reaksi apapun di sekitarnya, bukankah ini menandakan telah terjadi sebuah peristiwa besar? Hiiii, jangan kayak Joker lah. Hehehe ….

Kalau bukan melalui buku fiksi atau film, memangnya siapa yang sanggup tertawa seolah ikut menikmati hilangnya nyawa satu demi satu oleh pelaku yang bahkan tidak punya perasaan bersalah karena telah melakukannya?

Sekilas petualangan hidup tak terencana yang dialami Allan memang sangat menarik. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu Negara ke Negara lain, dari satu meja makan ke meja makan lain, dari satu makan malam bersama presiden ke makan malam bersama presiden lain, dari satu kematian ke kematian lain, dari satu kenekatan ke kenekatan lain, dari satu kekonyolan ke kekonyololan lain, tapi bukankah bila ini diteruskan, seperti yang disangkakan sang Jaksa Ranelid, bukankah ini kegilaan? Bukankah orang ini gila? Atau setidaknya, bila kau merasa waras dan masuk akal, semua kisah itu terasa gila dan tak masuk akal.

Meski poinku bukan di sana, tapi itu juga benar. Lebih jauh, yang barangkali ingin saya katakan bahwasanya bersikap bodoamat serupa Allan tentu boleh-oleh saja, tapi ada baiknya jika tetap menerapkan aturan untuk hal tersebut. Pintar dalam bersikap bodo amat. Atau sebagaimana dibahasakan Mark Manson, bersikap bodo amat juga ada seninya.
  

Penulis: Alena  

Contradixie akan Membuka FEBRUARISET



Sanggar ini—yang merupakan salah satu program penting Contradixie—dibuka untuk membantu teman-teman yang sedang bingung untuk menyelesaikan penelitiannya. Penelitian di sini mencakup tugas akhir (skripsi dan tesis) dan jurnal. Sasarannya pada teman-teman yang baru mau memulai atau yang mau memulai kembali risetnya selepas beberapa saat ditinggalkan karena kepentingan lain yang lebih mendasar. Jadi, inilah fokus dari program “februariset”.

Cara kerja Februariset lebih pada pendampingan atau mentoring yang membidik pada beberapa aspek penting dalam penelitian, antara lain: fokus dan lingkar isu, rujukan yang relevan, kerangka teori, pendekatan, penyusunan outline, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Fokus, lingkar isu, dan referensi yang relevan berhubungan dengan di manakah posisi sebuah riset berada dan apa aspek kebaruannya (novelty), termasuk bagaimana cara membuat judul yang representatif. Kerangka teori dan pendekatan lebih pada kerangka seperti apakah yang sesuai—dan simple—untuk dipakai sebagai pisau analisis. Adapun melalui sistematika (outline), kami mencoba untuk membantu bagaimana membuat rancangan riset yang nyambung dengan variabel judul dan teori yang dipakai.

Tidak saja itu, kami juga akan membantu untuk mengolah data yang sudah didapatkan dari lapangan. Tentunya, ini juga sebagai pelatihan dalam kaitannya dengan mempraktikkan teori secara sederhana. Jadi, bagi teman-teman yang kesulitan untuk menerapkan teori dalam penelitiannya, barangkali program ini bisa menjadi opsi. Tentang cara menarik kesimpulan juga menjadi perhatian tersendiri buat kami. Harapannya, dengan begini teman-teman bisa mengalami langsung bagaimana rasanya melakukan riset dari awal sampai akhir secara sederhana.  

Kakak Pendamping

Kami juga sudah menyiapkan beberapa pendamping yang cukup berpengalaman di bidang rumpun keilmuan sosial-humaniora. Sementara ini, kami baru memiliki tiga pendamping yang akan dengan senang hati menemani teman-teman menyelesaikan penelitiannya, yakni Kak Muhammad Fathur Rozak, S.Ag., M.A., Kak Muhammad Saifullah, S.Ag., M.A., dan Mbak Mariyatul Qibtiyyah, S.Th.I., M.A.. Kakak yang pertama sekarang ini sedang sibuk mengampu di UIN Sunan Ampel Surabaya, yang kedua sibuk di LKiS, dan Mbak Qibti sibuk di IAIN Ponorogo. Di sela-sela kesibukannya, Mbak Qibti juga tidak segan meluangkan waktunya untuk mengampu Filologi di STAI Sunan Pandanaran Sleman-Jogja. Mengenai publikasi, teman-teman barangkali bisa langsung mengunjungi Google Scholar untuk melihatnya langsung. Ketiganya, paling tidak sudah pernah mengabadikan hasil risetnya di jurnal berakreditasi Sinta 2 dan 3.  

Waktu Pelaksanaan Program dan Konten

Februariset, sebagaimana namanya, akan dilaksanakan pada bulan Februari, tepatnya mulai 5 Februari – 5 Maret 2020 untuk program pokok. Lebih jelasnya, program ini terdiri dari dua bagian: pokok dan lanjutan. Program pokok mencakup 3 kali Pertemuan Inti dan 6 kali Pendampingan. Dalam Pertemuan Inti, teman-teman akan diajak berdiskusi tentang tiga isu mendasar dalam riset. Perinciannya sebagai berikut:

a.       Pertemuan I: apa itu tulisan akademik?
Sesi ini akan mengupas tentang posisi tulisan akademik di antara banyak jenis tulisan, mengapa itu penting dipelajari, dan hubungannya dengan aspek praksis keseharian kita sebagai manusia. Di sini akan didiskusikan pula mengenai trik sederhana supaya suatu tulisan bisa dianggap akademik dan terhindar dari apa yang dosen-dosen sering bilang sebagai “teks khutbah Jumat”.

Di pertemuan ini, teman-teman akan diajak juga untuk membedakan antara tulisan yang baku dan yang tidak. Bukan saja itu, di sini kami juga akan masuk pada sejarah mengapa aturan itu harus ada, kontestasi identitas, kecenderungan mental bangsa ketiga, dan semacamnya.    

b.      Pertemuan II: dari seni melakukan problematisasi masalah sampai menemukan referensi yang relevan

Pertemuan kedua dari Februariset akan mengajak teman-teman mengenal lebih intim tentang unsur pokok dalam riset, termasuk bagaimana cara mengatasinya. Banyak kasus mengungkapkan bahwa tidak jarang kita itu memiliki problem akademik yang jelas dan menarik, tapi sayangnya kita tidak bisa menyituasikan problem tersebut tampak bermasalah (problematisasi). Walhasil, judul kita tidak diterima oleh dosen pembimbing. Pertemuan ini, salah satunya, akan menawarkan beberapa pandangan tentang cara untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Selain itu, di pertemuan ini pula teman-teman bisa belajar tentang relevansi rujukan dan aspek kebaruan riset, cara menemukan teori dengan cepat, cara mempraktikkan teori yang sudah dibaca, dan sebagainya.   

c.       Pertemuan III: cara menemukan kerangka riset yang sesuai dan efisien

Sesi terakhir dari Februariset berencana membedah taktik untuk cepet menemukan teori yang relevan. Teman-teman akan diajak berdiskusi tentang macam riset, macam teori, dan apa-apa yang berkaitan dengan keduanya. Sesi ini pula akan kami isi dengan pengenalan isu-isu mutakhir seputar sosial humaniora, sehingga harapannya bisa membantu teman-teman untuk menemukan kerangka seperti apa yang harus mereka pakai sebagai pembimbing penelitiannya.

Kemudian, jika 3 kali Pertemuan Inti barusan fokus pada isu teoretis, maka 6 kali Pendampingan-nya mengarah pada praktik konkret. Praktik di sini tidak saja tentang cara mengaplikasikannya dalam isu riset, tetapi juga pada menjelaskan kembali beberapa aspek yang teman-teman belum bisa paham. Jadi, ketika dalam “Pertemuan Inti”, teman-teman belum paham dan malu bertanya, maka di “Pendampingan”, teman-teman boleh sekali menanyakannya pada pendamping.

Adapun tentang Pendampingan, sesi ini akan dilakukan selama 6 kali. Detailnya, 6 kali tersebut dipisah menjadi tiga, yakni 2 kali pendampingan setelah “Pertemuan I”, 2 kali seusai “Pertemuan II”, dan sisanya selepas “Pertemuan III”. Harapannya, untuk konteks Skripsi contohnya, setiap Pendampingan bisa dipakai untuk menyelesaikan satu atau dua bab. Misal, di Pendampingan ke-1 dan ke-2, teman-teman bisa menggunakannya untuk menyelesaikan bab I dan II. Adapun bab III bisa dihabiskan selama pendampingan ke-3 dan untuk tiga pendampingan sisanya bisa dipakai buat bab IV dan V—dengan asumsi bahwa bab IV lebih susah ketimbang bab II dan III.

Untuk durasi Pendampingan, kami bisa menemani teman-teman selama 90 menit. Mengenai tempat, kami sudah menyediakan lokasi diskusi yang nyaman, tetapi kami juga terbuka untuk tawaran tempat dari teman-teman sendiri, seperti ketika teman-teman ingin diskusi di warung kopi, maka dengan senang hati kami akan menyesuaikan. Satu lagi: jam dan hari kami mempersilahkan teman-teman untuk mengaturnya secara pribadi dengan pendamping selama masih masuk ke dalam tempo yang sudah dijelaskan di awal, 5 Februari – 5 Maret 2020.  

Apakah setelah Februari semuanya selesai?
Tentu tidak. Kami berani menjamin adanya pendampingan sampai teman-teman munaqasah atau pendadaran buat skripsi-tesis dan sampai masuk review buat jurnal. Jadi, semisal nanti, setelah program berlangsung dan ada beberapa teman yang risetnya belum selesai atau menggantung, tenang saja, kami masih akan mendampingi. Hanya saja, pendampingan pascaprogram atau yang kami sebut sebagai “Program Lanjutan” ini akan tersedia sebanyak 5 kali pendampingan.

Sederhananya, setelah program selesai, teman-teman masih berhak mendapatkan pendampingan sebanyak 5 kali sampai penelitian teman-teman disidangkan. Mengenai waktunya, teman-teman bisa melakukan komunikasi pribadi dengan pendamping dalam tempo 2 bulan setelah program selesai. Dengan demikian, 5 kali pendampingan tersebut teman-teman boleh memakainya sampai dua bulan pascaprogram. Untuk spesifik jam dan hari bisa diatur secara pribadi dengan pendamping.

Bagaimana jika penelitian molor sampai melebihi batas dua bulan pascaprogram? Teman-teman masih bisa mendapatkan fasilitas pendampingan, tetapi dikenai biaya operasional sebesar 30rb per-pertemuan dengan durasi waktu dan ketentuan yang sama.

Apa keunggulan Februariset?
  • a.       Teman-teman akan mendapatkan ringkasan teori yang dibutuhkan secara gratis. Ketika teman-teman tertarik dengan teori meta-narasi misalnya, maka kami akan membantu dengan memberi gambaran umum, bahkan langkah praktis, dari teori tersebut, termasuk rujukannya.
  • b.      Kami menyediakan jasa edit gratis hasil riset teman-teman. Sebagai catatan, edit gratis di sini terbatas pada edit EYD. Jika teman-teman membutuhkan jasa edit ke aspek lebih dalam, beberapa biaya dikenakan.
  • c.       Kami akan membantu memahami referensi berbahasa asing jika teman-teman membutuhkan.
  • d.    Bagi yang mau menyelesaikan tugas akhirnya atau ada tanggungan publikasi jurnal, tetapi tidak ada bayangan judul, kami akan membantu menemukan judul yang pas dan sesuai kapasitas teman-teman.
  • e.  Dan yang terakhir, seperti sudah disinggung sebelumnya, kami berani menjamin pendampingan riset sampai teman-teman pendadaran atau sampai masuk review, plus konsultasi tentang revisi dengan beberapa ketentuan seperti di atas tadi.

Berapa teman-teman harus membayar?

Karena program ini perdana, maka kami memberi diskon 35% dari harga asli 465rb untuk satu bulan Pertemuan Inti dan Pendampingan, serta jaminan konsultasi sampai Pendadaran. Jadi, teman-teman hanya perlu membayar 296rb untuk menikmati fasilitas di atas. Selamat mencoba! Heuheu

Masih Mending Batu







Pagi ini tawaku pecah setelah membaca kutipan dari salah satu bab dalam kitab Nasihat yang biasa dibawa para santri salaf. Modern juga, sih. Liberal juga, sih. Eh, orang-orang yang baca juga termasuk, dong.

Tawaku ini murni dan tulus, bukan karena maksud mengejek, merendahkan atau menyepelekan loh, ya. Semacam tawa yang disertai dengan anggukan sepakat saja, sih. Yaaa, bener juga. Semacam itulah. Dan uniknya ini muncul ketika aku membaca sebuah kitab yang bisa disebut sakral dan tanpa unsur guyon sedikit pun. Setidaknya begitu menurutku.

Biar kutuliskan beberapa tulisan di buku  tersebut ke sini, syukur-syukur kalau kamu sepaham denganku.

Jadi Ahnaf bin Qais pernah berdialog dengan seseorang, di mana ketika Ahnaf ditanya, jawabannya selalu saja seperti ini:

“Pemberian (Allah) apa yang paling baik, yang diberikan kepada seorang hamba?”
“Akal tabi’i (yang dibawa sejak lahir).”
“Jika tidak ada?”
“Budi pekerti yang mulia.”
“Jika tidak ada?”
“Teman yang dapat menolong.”
“Jika tidak ada?”
“Hati yang tabah.”
“Jika tidak ada?”
“Banyak diam.”
“Jika tidak ada?”
“Mati dengan segera.”

Yang membuatku tersenyum ada pada jawaban terakhir. Yaps “mati dengan segera.” Itu dalam banget maknanya menurutku. Iyalahh, sebagai manusia yang sudah diberi akal, kelebihan dari makhluk-makhluk lainnnya—kecoa dkk, rumput tetangga dkk, malaikat dkk—manusia diberi warna-warni oleh Tuhan untuk menentukan keputusan apa yang harus ia ambil.

Karunia sudah diberikan melimpah ruah, sudah dijelaskan panjang lebar di mana-mana oleh Tuhan. Tapi masih ada saja yang ngeyel Tuhan tidak adil, Tuhan tidak berpihak padanya.

Yaaa, itulah. Kalau kalian ketemu sama model orang begitu, tidak ada salahnya tuh nanya apa yang sudah diperbincangkan oleh Ahnaf. Kalau dia masih ngrasa, masih belum sadar, dan masih menganggap tidak punya apa-apa, tidak dikasih apa-apa, mending suruh mati segera saja.

Kalo beneran dia mati gimana? Misal orang-orang yang bunuh diri itu? Dan ternyata salah satu sebabnya dari percakapan Ahnaf tersebut? Jawabannya, dia tidak bisa mikir berarti. Baiklah dia mati saja. Ngapain hidup kalo tidak bisa mikir. Kayak batu. Mending batu, karena memang tidak punya pikiran, lah ini, manusia tidak bisa mikir padahal punya pikiran.

Heu heuuu.

Kayaknya aku yang ngelantur.

Ahhh, mbohh … pokoknya gara-gara kitab itu.

Hehe…

Penulis: Dea


Bacalah Jurnal, maka Kamu akan jadi Manusia yang Sesungguhnya (Ini serius!)




Selepas membaca catatan Gus Mus soal “perilaku kita”—di salah satu buku bunga rampai—tiba-tiba saya merasa tergugah untuk membuka kembali surah al-Ashr. Bagaimana tidak, dalam tulisan pendek tersebut, beliau berhasil menyentuh ruang paling suwung pada diri kita sebagai manusia. Beliau, dengan gaya menulisnya yang seperti angin di sore, menenangkan, mencatat bahwa manusia hari ini secara tanpa sadar tidak pernah menaruh perhatian yang lebih buat orang lain.

Mulai dari bangun bobok sampai mau bobok lagi, tegas beliau, kita tidak melakukan apa pun kecuali sibuk dengan kepentingan kita masing-masing: belajar, mencari uang, olahraga, belanja, dan sejenisnya. Paling banter—jika memang boleh disebut sebagai peduli—kita baru mau meluangkan waktu buat orang lain ketika ada undangan yang bernuansa resmi, seperti undangan rapat RT, organisasi, atau lembaga tertentu. Pun, itu sifatnya sebatas meramaikan sambil lalu. Tentu kita sendiri sering merasakannya toh betapa saat ada rapat organisasi, sebagian besar kita hanya mencukupkan diri dengan bilang “bungkus!”, “sepakat!”, “aduh, itu terlalu sederhana!”, “wah, jangan serius-seriuslah!”, dan sebagainya tanpa benar-benar mau ikut berpikir secara mendalam. Iya, kan?

Melihatnya dari satu sisi, cukuplah wajar. Kita melakukan itu sebab urusan organisasi tidak memiliki hubungan langsung dengan kita. Andai ada, saya yakin ujungnya akan beda. Akan tetapi, diteropong dari gardu pandang lain, fakta barusan sangatlah tidak wajar. Mengapa? Sebab jika ia dibiarkan maka akan berdampak pada apa itu yang disebut sebagai “menjauhkan diri dari predikat manusia” atau jika ditarik ke ranah normatif bahasanya adalah “lafi khusrin” (al-Ashr [103]:2). Mari kita menyelam sebentar ke peradaban kata.

Secara tidak langsung, ayat tersebut menegaskan bahwa manusia ketika dihadapkan dengan waktu keseharian (24 jam), maka hakikatnya adalah makhluk sosial. Akibatnya, tidak bisa tidak mereka penting untuk menyediakan waktunya secara khusus tulus untuk “peduli” dengan sesama, bukan waktu-waktu sisa. Pada lanjutan ayatnya, tertulis pula kalimat seperti iman (meyakini), ‘amal saleh (berbuat baik), dan tawashau (saling memberi alarm), yang konotasinya jelas pada keseimbangan atau pun prestise sosial, tidak individu, pada kebahagiaan (al-falah) bersama, bukan kemenangan pribadi yang suwung, kosong.

Sederhananya, yang ingin saya sampaikan di sini adalah mbok yo’o, dari 24 jam kita itu ada dua atau tiga jam khusus untuk orang lain. Entah itu melalui turut memikirkan—secara mendalam layaknya ketika memikirkan urusan sendiri—problem teman, organisasi, atau apalah yang bermanfaat bagi umum. Jangan sampai, 24 jam yang kita miliki habis, dan bahkan kurang, hanya untuk kepentingan diri sendiri. Sangat disayangkan: sudah kekurangan waktu, cuma buat pribadi lagi! Pula, di waktu yang sama andai kautahu, itulah perwujudan “lafi khusrin” yang paling nyata.

Dan akhirnya untuk langkah awal, bolehlah kita meniru teman-teman akademisi kita itu yang sudah berhasil menekan kepentingan pribadi-akademiknya demi kepentingan orang lain. Yang sudah berhasil mengontrol ambisinya untuk tidak lagi seperti kepiting yang berebut untuk keluar dari ember. Yang sudah berhasil menguasai pikirannya untuk tidak menganggap remeh orang lain, meski posisinya sudah di menara gading, dan sebagainya. Ya paling tidak, kita mulai dari membaca sesuatu yang mereka makan selamanya, eh selama ini: jurnal. Hayuk.

Penulis: Zav

Senja dan Sendu





Sebelum masuk ke dalam cerita dan dengan sendirinya mendapati sosok Eguchinya Kawabata di sana, dalam versi terjemahan—setidaknya begitu yang kudapati, entah jika versi bahasa asli juga benar terdapat hal serupa—akan ditemui sebuah kutipan dari buku Rumah Perawan/The House of Sleeping Beauties karya Kawabata. Pada mulanya bertanya-tanya mengapa dituliskan di sana, namun akan terjawab ketika mulai membaca beberapa halaman.

Tubuh telanjang seorang perempuan tengah terbaring di tempat tidur, dalam keadaan lelap, dalam keadaan tidak sadar akan sekeliling. Ia tidak tahu bahwa di sampingnya tengah berbaring pula seorang lelaki tua yang dalam misi mewujudkan keinginan akhir usia. Dalam keadaan penuh kagum pada tubuh telanjang, diam-diam si tua jatuh cinta namun juga disiksa oleh banyak kekhawatiran. Nyatanya ia lebih mencintai si perempuan ketika sedang terlelap begitu, dalam keadaan telanjang. Ia bahkan lebih merasai nyata segala imajinasinya tentang si perempuan dibanding kenyataan itu sendiri. Diam-diam ia takut bila perempuannya terbangun dan membuyarkan segala keindahan bayangan tentangnya dalam kepala si lelaki tua. Haish cinta.

Tapi sebenarnya apa sih yang ingin disampaikan si tua ketika mengenang para pelacur sendunya? Sebab bagiku, semakin ia bertutur semakin pula kudapati bahwa yang sendu tiada lain dirinya sendiri.  Lihatlah ketika Casilda melontarkan ini padanya, Bangunkan dia, setubuhi dia habis-habisan dengan burung besar yang diberikan setan kepadamu sebagai imbalan atas kepengecutan dan kekikiranmu. Aku serius: jangan biarkan dirimu mati tanpa mengetahui keajaiban bercinta dengan rasa cinta.  Duh, lelaki tuaku yang sendu, jelaskan padaku irama debar jantung yang tercipta dari kasmaran pertama di usia sembilan puluh. Nanti akan kuceritakan padamu fantasi seks terliarku, eh fantasi masa tuaku maksudnya. Haish.

Jika Hendri Yulius dalam buku terbarunya C*bul mengajukan semacam pertanyaan, jadi apa fantasi seks terliarmu? Pertanyaan yang baginya jika diajukan pada setiap orang maka akan mendapatkan jawaban berbeda, dan bisa jadi setiap orang memang benar-benar memilikinya. Sebuah fantasi akan percintaan yang boleh saja sekelebat melintas di kepala, bisa pula benar-benar akan dijadikan sebuah pencapaian dalam kehidupan seksualnya.  

Pernah seorang mengajukan pertanyaan, jadi bagaimana kau memvisualisasikan masa tuamu? Kala itu pertanyaan tersebut kuanggap luar biasa, setidaknya aku diajak untuk sejenak membayangkan masa tuaku seperti apa. Namun setelah membaca Para Pelacurku yang Sendu dari Gabriel Garcia Marquez rasa-rasanya ingin mengedit pertanyaan yang pernah dilontarkan padaku tersebut. Bagaimana jika, jadi apa fantasi masa tua terliarmu?

Ya, setidaknya aku dipicu dan dipacu untuk memikirkan hal-hal di luar kebiasan tentang masa tuaku nanti. Bisa menjadi semacam motivasi bagiku untuk tetap ingin hidup dan mencapai usia yang benar-benar dianggap sebagai masa tua. Paanseeeh ….

Meski niscaya bahwa ketika nanti mencapai usia tersebut aku bahkan akan menjadi pelupa, pikun terhadap hal-hal yang sangat ingin kukenang. Dan meski benar bahwa, keinginan liar masa tua adalah sebuah ilham. Seperti Sang Wartawan senior yang tiba-tiba mendapat semacam wahyu untuk menghadiahi diri sendiri sebuah malam penuh gairah bersama seorang perawan di ulang tahunnya yang kesembilan puluh. Atau seperti Eguchi yang menghabiskan malam-malam masa tuanya di rumah perawan. Atau mungkin seperti si kakek usia 100 tahun yang kabur melalui jendela dan menghilang. Atau?

Lalu apa yang menjadikan ilham kurang ajar di masa tua menjadi sedemikian istimewa? Ya bagiku sih karena kesadaran bahwa jatah hidup sebentar lagi habis, maka darinya harus mewujudkan satu kesenangan luar biasa yang benar-benar dilakukan untuk diri sendiri, untuk pernah benar-benar merasa hidup meskipun hanya sekali.

Bukankah kita memang cenderung meyakini bahwa yang tua adalah yang lebih pasti akan segera mati daripada yang muda? Bahkan si tua dibanding si sakit pun tetap lebih diyakini akan lebih dulu meninggal(kan) adalah si tua. Alasannya anggap saja begini; penyakit bisa sembuh, bisa dicegah, sedang usia tua tidak dapat dimanipulasi, tidak juga dapat ditunda. Karena ketika tua yang terjadi adalah kau tidak merasakannya di dalam, tapi tiap orang bisa melihatnya dari luar. Begitu kata Casilda Armenta, sih.

Jadi, sudah membayangkan  seliar sesendu apa masa senjamu?

Penulis: Alena


SACTFN: Sekarang Aku Cerita Tentang Film NKCTHI



awas spoiler

Pertama yang perlu kuceritakan adalah film NKCTHI ini bagus. Jadi nanti akan kuulas kubandingkan dengan beberapa film internasional. Yah, meski nanti jadi kelihatan celanya. Perlu kubilang lagi, film ini bagus jadi bandingannya harus bagus juga itu maksudku. Kalau mas Aulia Adam di Tirto menyorotinya dari sudut kelas. Mengenai bagaimana bayangan perayaan keluarga ideal kalangan menengah di Jaksel. Aku mau cerita soal karakterisasi yang kata mas Aulia mapan namun menurutku biasa-biasa aja.

Faktor paling mencolok dari bagusnya film ini, bisa jadi kita sepakat, soundtracknya. Dibuka dengan backsound Rehat-nya Kunto Aji buatku merasa dan berekspektasi film ini akan penuh semiotika. Dan betul tiap adegan bermakna, nyaris tak ada lubang, anggaplah semuanya saja signifikan. Dari langkah gontai pak Narendra (Donny Damara) sampai senyum satu keluarga itu di bandara.

Karakterisasi juga jadi kunci mengapa film ini jadi bagus. Ditunjang dengan plot maju mundur, mengisahkan silang kelindan masa kecil dan dewasa dari tiga bersaudara dengan ayah dan ibu mereka. Alur ini membantu kita mudah menangkap konteks mengapa karakter Angkasa (Rio Dewanto) dan Aurora (Sheila Dara) begitu mengakar. Untuk karakter Awan (Rachel Amanda), kukira justru banyak celah. Ya, kau boleh bilang bisa saja karakter Awan itu dibikin dinamis, berkembang, tidak disajikan secara tradisional yang saklek tak berubah. Cuman gini, dari tiga kakak beradik itu kenapa cuma Awan yang karakternya dinamis, kenapa?

Kita tentu sepakat karakter manusia tidak dapat diubah dengan cuman dua sks kuliah, logisnya begitu. Ini si Awan bisa malih karakter hanya dengan ngobrol semalam. Dari ketiga tokoh itu Awan paling sedikit kilasan masa kecilnya dan paling banyak kisah masa dewasanya. Untuk menggambarkan konteks karakter Awan ini, Angga dan Jenny banyak menampilkan kejadian masa dewasa, bukan masa kecil. Terang saja ini jadi pembeda yang mencolok dan mengguratkan tanda tanya besar.

Begini, sejak dulu para sarjana hermeneutika mulai Schleimacher hingga Gadamer nyaris sepakat kalau psikologi dan horizon seseorang tidak bisa lepas dari lingkungannya. Si Awan ini cerita ke cowok yang baru ditemuinya kalau sejak kecil dia tidak pernah milih sesuatu sendiri. Dia buka cerita untuk menanggapi cerita si cowok yang melihatkan karakternya yang mandiri, sigap memilih, bijak, peka, pinter main musik dan pinter bahagiain banyak cewek.

Sejak ketemu cowok itu si Awan ini jadi bisa galau lantaran tahu dari rekan kerjanya kalau sang ayah bikin kerjanya mulus lagi. Anak yang sejak kecil mengaku tidak pernah hidup susah dan selalu dibantu, sekarang resah karena dibantu. Dari sini karakter Awan ini udah berkembang tanpa penjelasan. Waktu malam hari pulang dengan diantar cowok itu, Awan sudah kayak cewek yang rutin ikut kajian feminisme dan komunitas bedah buku-buku kiri. Dia terlampau kreatif memberi jawaban untuk ukuran anak yang sejak bocah tidak pernah tidak mendapat bantuan.

Dan lagi yang miris karakter ayah dan ibu di film ini selain luar biasa nampak patriarkinya luar biasa juga berkabutnya. “Bahagia ibu itu ya ayah kalian,” tutur sang ibu agar anaknya bisa mengerti kalau ayahnya seberapapun salahnya ia punya jiwa penyayang. Ibu jadi obat karena sakit yang disebabkan oleh ayah. Karakter tokoh ibu dan ayah begitu kelabu. Kilasan masa lalu yang ditampilkan Angga dan Jenny seputar ayah dan ibu tidak menjangkau mengapa karakter itu bisa terbentuk, melainkan hanya untuk menunjang plot menuju klimaks. Mengapa sang ayah suka menyembunyikan masalah hanya dijelaskan alasannya untuk dan agar tidak bersedih lagi, bukan mengapa atau apa sebab dia bisa berbuat begitu.

Aku lihat karakter ayah ini sampai kasihan (nope: kasihan ini bukan timbul karena adegan film ya). Kebijakan yang salah dari Narendra untuk menyembunyikan rahasia selama dua puluh satu tahun dan timpangnya kasih sayang jadi konflik arus utama. Setelah konflik meletus, sebelum baikan dengan ayah mereka, tiga anak itu ghibahin sang ayah di ujung senja kota Jakarta. Sepotong adegan yang sangat terpuji dan patut diapresiasi. Untung ada ibu, keluarga bisa utuh lagi seperti semula. Intinya mereka kemudian bisa cerita satu sama lain, kan bahagia.

Padahal di fase setelah konflik itu aku bayangin akan ada adegan untuk ayah, biar tidak terkesan melompat habis ghibah tiba-tiba cinta lagi, cuma itu tipis sekali. Hanya kilasan sang ayah berlari dari tribun dan mencium kening Aurora di kamar pasca kecelakaan di kolam renang. Jujur aku kepikiran dan berekspektasi Angga mau nampilin kesan yang disuguhkan David Dobkin dalam The Judge. Di film itu Dobkin bisa menampilkan konflik anak-ayah dan klimaks yang bikin setiap orang yang pernah ngerasain ditinggalkan ayahnya pasti nangis. Hanya ekspektasiku ketinggian, kau betul aku yang salah, jadi kesannya karakter ayah dan ibu di film ini terselimuti kabut. Lebih tragis lagi, aku baru ngeh nama sang ayah dari sepotong batu nisan. Yah meskipun itu batu nisan si anak tapi dalam benakku, Ini maksud mas Angga apa? Apa ayahnya tidak nonton? Hashhhh, lupakan! Aku mau cerita semiotika tapi takut kamu bosan.

Terlalu banyak karakter yang hendak ditampilkan bisa jadi alasan. Bandingkan dengan film Manchaster By the Sea garapan Kenneth Lonergan yang hanya fokus pada satu karakter. Karakter Casey yang fakboy (Lee Chandler) di film itu juga dinamis tapi kita bisa paham dan mungkin memaklumi mengapa dia bisa jadi fakboy. Lonergan fokus pada satu karakter sementara Angga coba gambarkan tiga sampai lima karakter sekaligus dalam satu film, buset. Konsekuensi dari kebanyakan karakter ya jadinya terkesan tidak berimbang dan mbliur.

Tapi bagaimanapun aku harus jujur film ini pada tontonan pertama bagus banget. Lebih-lebih saat Aurora bilang, “Kalian tuh sejak lama udah kehilangan aku.” Duh, itu tragis banget asli. Angkasa sama Aurora ditampilkan mateng banget, salut. Tapi karena ini cerita niatnya review yah sepet-sepetnya juga harus ditelen. Jadi maaf banget buat kalian yang belum nonton tapi sudah baca ulasan ini.  Udah ya, semoga kamu tak tersakiti.

Penulis: MFR

Alquran dan Upaya Merayakan Kedangkalan




Di kolom status Wotsap-ku tampak beberapa teman mengunggah foto yang sama. Aku tidak tertarik untuk melihat. Tapi, sejenak kemudian, jumlah yang beberapa tadi berubah menjadi banyak. Ini pasti perayaan kelas, batinku, jika bukan ada yang mati. Eh atau mungkin lowongan kerja.

Gara-gara banyak, karena aku masih tinggal di lingkaran yang logikanya kerumunan sehingga bawah sadarku ikut terseret, akhirnya otot-otot tanganku dengan tanpa kubimbing membuka status salah satu dari "mereka".

Dan ternyata imajinasiku berbuah. Itu adalah foto perayaan. Perayaan Alquran, eh penghafal Alquran maksud aing. Jadi, barangkali kisahnya begini: salah satu dari teman mereka sudah selesai menghafal Alquran dan kemudian mereka, selaku sahabat sejati, merayakannya dengan mengunggah foto yang bersangkutan. Kenapa dirayakan? Ya sebab Alquran sendiri, sejauh yang kutangkap dari mereka sih, menjanjikan surga bagi para penghafalnya. Surga, men, surga.  Amerika yang liberal itu saja bergeming saat berhadapan dengan sosok-sosok yang berani mati demi surga.

Pun, sensitifku, mengapa hari ini berjubel program-program hafiz di televisi kita adalah disebabkan hal yang serupa. Terlepas dari betapa gemesinnya program itu loh ya, seperti pernah ditulis Mas Fathur Razak di Islami.co satu tahun silam.

Oke, kembali ke asal, satu sisi memang itu patut untuk dirayakan. Pertama, sebab mereka adalah sahabat sejatinya. Yang namanya sejati, secuil pencapain sahabatnya saja harus dipestakan dong dan apalagi ini keberhasilan yang adikodrati. Kedua, lantaran mereka berada di jalur ideologi yang sama: perjuangan menghafal Alquran sama dengan perjuangan merangsek kehidupan yang berkelas di akhirat. Untuk yang kedua, aku menjangkarkan asumsiku pada teori moral dari kitab Alaala Lirboyo-Kediri bahwa untuk tahu seperti apa seseorang itu kita cukup melihat teman duduknya. Utas yang indah.

Meski demikian, pada sisi lain, perayaan terhadap penghafal Alquran membuatku pasi. Pucat ibarat laki-laki yang pobia dengan perempuan seperti yang ditulis dalam esainya, eh cerpen, mbak Linda minggu kemarin di Kompas.

Bukan apa-apa sih sebetulnya (bukan apa-apa kok sampai pucat, hu), cuma aku kepikiran sama teman-teman yang lain, yang secara praksis keseharian mereka sudah membumikan nilai Alquran. Namun, tidak ada satu pun yang memberinya apresiasi, termasuk orang tuanya.

Absennya apresiasi di muka bukan tanpa sebab. Ini berkaitan dengan konsumsi publik (sumber pengetahuan) baik di level televisi nasional ataupun status personal media sosial. Dominannya informasi yang beredar di masyarakat tentang penghafal Alquran yang keren telah membentuk pola pikir sekaligus pola tindak mereka untuk hanya mengagumi para penghafal dan mengabaikan pihak-pihak yang sedang berupaya membumikan Alquran.

Akibatnya, anak-anak dan pemuda hari ini di Indonesia lebih terfokus ke arah hafalan ketimbang daya berpikir-berperilaku kritis-qurani. Pun, ini yang penting dirayakan, tidak sedikit dari teman-teman mahasiswa turut berada di jalur tersebut, tak terkecuali mahasiswa prodi Studi Alquran. Studi loh, ya.

Antara Islam sebagai norma dan sebagai Peradaban

Jika dipetakan, barangkali teman-teman yang mengunggah foto tadi masuk--untuk tidak menyebut terjebak--dalam kategori Islam sebagai norma, meminjam klasifikasi Bernard Lewis. Mereka yang berada di jalur ini cenderung menutup mata terhadap keseharian masyarakat Muslim dan menjadikan apa pun berkenaan dengan norma Islam (Alquran) yang berupa simbol sebagai segalanya.

Sisi baiknya, dengan jalur itu mungkin mereka bisa melestarikan tradisi yang selama ini ada di lingkarannya. Tetapi, sisi lucunya, mereka rentan terjebak dalam eksklusivitas yang dangkal dan prasangka mapan bahwa bagaimanapun Alquran lebih luhur untuk dihafal ketimbang dibiasakan dalam pikir dan praktik.

Ah terlalu panjang. Bangsat. Terlalu dosa juga. Meski kurasa mereka sudah turut berkontribusi dalam pembentukan opini lugu publik bahwa prestasi anak bergantung pada hafalan Alquran melalui statusnya, tapi tetap sajalah mereka sedang memperjuangkan nilai yang dipegangnya. Nilai tidak bisa dijulidin, cuk! Hash! Apalagi ini Alquran. Di situ jelas tertulis, Wa amma bini'mati rabbika fa haddis,  Kalau kamu merasa senang, berbagilah. Mereka itu dalam rangka mengamalkan ayat itu, Su.


Oleh: Dosto Y.

Popular Posts