Suara Perempuan dalam Gelap

Sumber Gambar: @broken_isnt_bad (instagram)



Aku juga tidak tahu bagaimana ini bermula. Yang kuingat hanyalah malam itu aku pulang dalam keadaan mabuk, sempoyongan di jalanan berusaha menggapai kamar sewa dengan selamat, tertatih dalam keadaan mual, dan entah pukul berapa aku akhirnya tiba di depan pintu kamar, bergegas merogoh saku dan tanpa menyalakan lampu aku tersungkur tak berdaya di atas kasur tipisku.

Sebuah suara menghampiri, lalu datang suara lain, kemudian suara yang lain lagi hingga aku benar-benar merasa terganggu dan tak dapat tidur. Mataku bisa tetap kujaga dalam keadaan terpejam tapi telingaku sebagaimanapun kubekap, suara-suara itu tetap muncul, nyata dan seperti memelas minta didengarkan. Aku tidak berusaha meraba siapa di sampingku, tidak juga berusaha mencurigai siapa yang telah masuk ke kamarku tanpa meminta izin dan dengan kurang ajar mengganggu waktu tidurku. Kubiarkan lampu kamar tetap padam dan kurelakan diriku mendengar keluh kesah suara perempuan yang sejak tadi menolak diam itu. Akan kudengarkan kalian, tapi tolong bergantian. Kubisikkan itu di dalam hati dan mereka benar-benar melakukannya, kini hanya satu suara yang fokus kusimak.

Suara itu terisak-isak ketika sudah panjang lebar bercerita. Kemudian hening, ia diam tanpa bersuara. Dan tiba-tiba aku yang menangis, ikut merasa terluka pada penderitaan yang ditanggung si sumber suara. Aku kenapa? Aku boleh saja jadi pendengar, tapi tidak boleh terhanyut begini. Kutekan dadaku yang sesak namun suara tangisanku justru pecah memenuhi ruangan. Suara tangisanku yang terdengar memilukan itu ternyata mengundang rasa kasihan mereka. Kini aku yang bercerita, dengan suara yang tersengal dan terseok, dan mereka diam saja menyimak.

Kuanggap malam itu bagaimana semua ini bermula. Terhitung sudah tiga bulan berlangsung sejak pertama kali aku menjadi pendengar setia tanpa memberikan komentar apa pun, juga sebaliknya, aku akan bercerita setelah itu tanpa mengharapkan respon apa pun. Kami sama-sama hanya butuh telinga untuk menampung. Setelah segala hal ditumpahkan, kami akan sama-sama tertidur menjelang fajar, dan aku akan terbangun tanpa dapati seorang pun di sisiku.

Aku sempat terlintas ingin satu kali saja tidak mematikan lampu kamar menjelang tidur, aku ingin tahu bagaimana rupa para perempuan yang selalu datang ke kamarku menjelang aku terlelap. Tapi urung kulakukan, aku belum benar-benar siap berjumpa dengan mereka, dan sepertinya aku didera ketakutan yang lain, semacam kekhawatiran jika ternyata berjumpa mereka dan semua berubah seketika itu. Jujur saja, aku menyimpan semacam ekspektasi luar biasa tentang mereka di benakku, meraba dari suaranya yang lembut dan tenang, wajar aku berharap paras mereka sememesona bidadari.

Kenyataannya aku telah nyaman dengan keadaan ini. Ketika malam-malam menjelang tidurku diusik oleh suara yang tak kupahami bagaimana rupa yang berbicara, aku bahkan selalu berdebar tiap kali merebahkan badan, penasaran sekaligus antusias kisah apalagi yang akan kudengarkan malam ini. Pada mula-mulanya memang hanya seputar keluh kesah dan segala yang menekan batin yang selalu diceritakan padaku, begitupula aku pada mereka. Namun kemudian di malam-malam yang entah ke berapa, segala hal kami bagikan, entah sedih, menggelitik, pilu atau horor sekalipun.

Semua terasa nyaman dan nyaris membuatku kecanduan. Kebiasaan minumku tidak lagi sesering biasanya tidak juga selama dan sebanyak biasanya. Aku mengatur diriku agar minum sedikit saja dan bergegas pulang bahkan sebelum waktu menunjukkan pergantian hari. Aku merasa ada yang sedang menunggu kepulanganku dan aku justru berbahagia karena itu. Meski kenyataannya tidak ada yang menjelma di hadapanku ketika membuka pintu kamar, tidak ada aroma lain dapat kutangkap selain yang menguar dari tubuhku sendiri, tidak ada tanda apa pun bahwa ada orang selain aku yang mengisi ruang kamar.

Seharusnya aku biasa saja dengan kejutan itu, setiap malam aku juga selalu pulang dengan perasaan antusias karena akan melanjutkan perbincangan menjelang tidur tanpa perlu saling bertukar senyum terlebih dahulu, tapi malam ini terasa berbeda. Perasaan hampa dan kecewaku sulit kubendung. Aku berharap saat membuka pintu kamar, seseorang menyambutku dengan tangan terbuka, memelukku kalau perlu, membisikiku kalimat manis, dan aku bisa bercerita hingga menangis di pundaknya. Nyatanya semua sama saja, kosong sekali kamar ini.

Aku sempat berteriak memanggil-manggil mereka, kusebutkan nama perempuan siapa saja, toh kami memang tidak pernah saling bertukar nama. Aku berharap mereka datang, tapi jangankan muncul di hadapanku, bersuara pun mereka tidak. Kemudian aku teringat Alena, perempuan yang sempat hilang dari ingatanku beberapa bulan belakangan karena kumiliki teman baru yang entah nyata atau sebenarnya jelmaan. Malam ini saatnya menghubungi Alena, menyambung kembali hubungan kami yang sempat terputus begitu saja.

Kau bisa datang ke tempatku malam ini? Sepertinya aku rindu sekali.

Sebuah pesan kukirim melalui whatsapp dan tanpa menunggu beberapa menit langsung mendapat balasan yang membahagiakan hati. Aku akan ke sana, balas Alena yang seketika membuatku melonjak kegirangan. Akhirnya aku akan mengobrol dengan seseorang yang berwujud.

Alena datang setengah jam kemudian dengan mengendarai motor miliknya. Aku menunggunya di depan pintu yang bahkan sebelum mengucapkan sepatah kata pun sudah langsung kuterjang memeluknya.

“Kamu tidak rindu?” Langsung kutodong Alena dengan pertanyaan yang jawabannya justru menyerangku.

“Ngomong apa kamu? Kamu tidak lihat panggilanku di ponselmu? Belum lagi pesan-pesanku yang jarang kamu buka, sekalinya dibuka tidak pernah dibalas. Aku kok heran kenapa tiba-tiba malam ini kamu bilang rindu setelah sekian lama menghilang?”

“Heh, santai. Aku jarang memeriksa ponsel belakangan ini, aku sedang ada kesibukan lain. Tapi aku dimafkan, kan?”

Alena hanya mengangguk, tapi itu sudah melegakan. Aku dimaafkannya dan malam ini akan kuhabiskan dengan bercerita banyak hal padanya. Banyak hal ya, bukan semua hal. Perihal perempuan-perempuan yang selalu mendatangiku sebelum tidur tidak akan kuceritakan. Biarkan saja jadi rahasiaku dengan mereka.

“Tapi kamu baik-baik saja, kan?” Pertanyaan itu meluncur dari mulut Alena sesaat sebelum melepaskan pelukan eratku yang nyaris membuatnya tak dapat bernapas.

“Iya, tapi aku punya banyak hal yang ingin kuceritakan. Kamu mau tidur di sini, kan?” Lalu kutarik tangannya dan mendudukkan dia di kasurku. Tanpa meminta pendapatnya aku bergegas mematikan lampu dan siap menumpahkan semua kejadian tidak penting yang kualami belakangan.

“Kok dimatikan lampunya?” Kukira dia tidak akan protes nyatanya iya.

“Biar aku bisa bebas bercerita tanpa malu karena kamu fokus memperhatikan wajahku.” Selorohku seenaknya. Padahal bukan itu intinya, aku ingin ketika aku bercerita pada Alena, para perempuan itu juga hadir mendengarkan.

“Hemm, kukira kamu sudah baik-baik saja, ternyata semakin aneh. Tunggu sebentar, aku mau ke parkiran mengambil sesuatu di motor.” Lalu ia bergegas keluar tanpa meminta lampu dinyalakan. Kalaupun dia meminta tidak akan kuturuti.

Sementara Alena di parkiran, kusempatkan memberitahu para teman perempuanku agar malam ini menyimak saja. Mereka tidak boleh menginterupsi percakapanku dengan tuturan mereka. Sebuah suara mengiyakan dan kuanggap semuanya sepakat.

Tiba-tiba Alena muncul di depan pintu, tanpa aba-aba menyalakan lampu dan aku terkaget dibuatnya. Dalam keadaan kelimpungan mengerjapkan mata yang silau karena langsung melihat cahaya, aku gelagapan mencari para perempuan yang beberapa detik lalu masih di sini. Tidak ada, ke mana mereka pergi.

Melihatku uring-uringan begitu, Alena bergegas menghampiriku. Suaranya terdengar begitu khawatir.

“Kamu kenapa, Dea? Kamu baik-baik saja, kan? Apa selama ini kamu masih sering uring-uringan begini, hah? Ini aku tadi ke parkiran untuk mengambil obat tidurmu yang beberapa bulan bahkan tidak pernah kamu tagih lagi untuk kuantarkan. Kukira kamu sudah sembuh dari penyakit cemasmu …”

Aku tidak mendengarkan lagi kalimat Alena selanjutnya, aku sibuk menata perasaanku, aku sibuk menyusun kembali pikiranku, ingatan-ingatanku.

Aku juga tidak tahu bagaimana ini bermula. Tapi kurasa aku sedang salah paham pada diri sendiri. Aku terlalu menikmati rasa sakitku sampai tidak lagi menganggapnya sebagai rasa sakit. Malam ketika aku kembali dalam keadaan mabuk berat dan dapati diri tak dapat terlelap karena suara berisik di dalam kepala, aku tidak lagi berusaha meraih obat tidur agar bisa terlelap. Aku dan diriku sibuk berbincang hingga subuh.
***

ALENA



Jendela Kelas Corona, Sum



Selamat malam, Sumini.

Mungkin malam ini sudah sempurna untukku menceritakan semuanya padamu, setelah sekian hari aku menyimpannya sendiri, di sini. Mungkin malam ini sudah waktunya, bersama sepinya malam aku ingin sekali kau mendengar ceritaku.

Demi malam yang paling malam, Sumini, jalanan terlihat sangat sepi, lebih sepi ketimbang kabarmu selama ini. Apa kau sudah membaca surat kabar hari ini? Aku rasa itu tak penting. Ketimbang hanya membuat dirimu panik, cemas dan khawatir, lebih baik kau puasa membaca surat kabar jika yang kau terima hanya siksa-siksa saja.

Benar kata beberapa orang yang sering seliweran di layar ponselku, mereka memilih untuk tak membaca surat kabar yang mengajak warga(net) bergentanyangan. Tak menjadi masalah jika yang bergentanyangan adalah raganya, itu baik, hitung-hitung sembari berolahraga mengeluarkan keringat. Tapi jika yang bergentanyangan hanyalah pikiran dan ketakutan mereka, apakah itu tidak hanya membuat orang-orang akan semakin menggila? Lihat saja status-status media sosial, apa pun itu, siapa yang tak menampilkan kegilaannya selama kurang lebih mereka terpaksa mengurung diri di rumah dalam jangka waktu 14 hari? Aneh, kan? Gilaaa, kan?

Sumini ….
Sejak wabah Covid-19 ini menjamur di bibir-bibir orang, kau tahu, apa yang terjadi di sini, di kampungku? Semua orang geger tak karuan, banyak lorong-lorong jalan penuh dengan tulisan lockdown, lockdown dan L O C K D O W N. Tanpa mengesampingkan kepanikanku memikirkan dirimu, aku tetap berlalu di atas motorku, membaca setiap lorong-lorong yang tertutupi coretan dinding. Bukannya aku tak suka membaca tulisan-tulisan itu, akan tetapi apa yang diperoleh dari semua itu selain hanya menunjukan ketakutan-ketakutan pribadi, agar orang di sekitar juga merasakan ketakutan yang sama.

Suminiku yang anggun, aku pikir, apakah tidak sebaiknya kita mengusulkan ke pak KaDes agar membelanjakan sebagian anggaran desa untuk kasus ini, itu lebih baik, kan? Semisal, di setiap pos kamling tersedia hand sanitizer, thermogun, masker dan disinfektan, ini akan lebih terasa seperti rumah, kampung halaman dan handai tolan, ketimbang hanya sekadar tulisan lockdown yang menjadi trendi akhir-akhri ini, apakah kewaspadaan memaksa mereka harus seperti itu? Lagi pula, untuk siapa tulisan itu ada? Untuk saudara mereka? Tetangga? atau jangan-jangan Covid-19 sanggup membaca  tulisan mereka itu? Tetapi, lagi-lagi, semua itu hanya sebatas angan-angan saja.

Suminiku yang baik, untuk pertama kalinya aku ingin sekali kau mendengar cerita ini, kau tak bosan, kan, mendengarku bercerita panjang lebar sampai berbusa-busa? Asal kau tahu, malam ini aku ditemani Luluk di sampingku, kucing cantik yang berambut lurus-pedek, tidak ikal. Meski kadang ia nakal, tapi tak jadi apa.

Suminiku yang baik, cerita ini mungkin akan bertele-tele, menceritakan kecemasan orang-orang, tak lupa juga menceritakan kecemasanku sendiri ketika ingat dirimu.

Suminiku yang baik, aku sempat bertanya-tanya akhir-akhir ini, ketika kau merasakan tubuhmu lemas, apakah kau sempat terbersit khawatir, jangan-jangan tubuhmu telah digerogoti Covid-19. Aku pun pernah merasakan itu beberapa hari yang lalu, dan ternyata yang merasakan itu bukan hanya aku, teman-teman di sekitarku juga merasakan hal yang sama. Lalu aku mencoba menjernihkan pikiranku, sebenarnya aku hanya kekurangan meminum air putih, tidak lama kemudian itu benar terjadi, ini hanya ketakutan belaka.

Sumini, jangan-jangan, apa pun yang akan terjadi atau bahkan telah terjadi, adalah ketakutan sebab pandemi Covid-19, itu semua karena kekhawatiran, kecemasan, dan kepanikan kita yang berlebihan. Kau pasti sudah mendengar rahasia umum, kan, jika alat untuk mendeteksi Covid-19 masih simpang-siur. Lalu dengan apa mereka menjustifikasi keberadaan Covid-19 ini? Bukankah ini sama sulitnya jika kau bertanya padaku tentang bagaimana cintaku padamu? Sedang, aku dan kamu tak pernah memiliki tolok ukurnya. Sial!!!!

Esok, jika Covid-19 ini benar-benar pergi meninggalkan kita semua, aku berharap kita akan tetap ingat dan sadar, bahwa kematian adalah keniscayaan, bukan sebatas pemanis bibir (abang-abang lambeh) belaka.

Sumini, aku tidak tahu sebenarnya Covid-19 ini apa? Atau aku terlalu santai-abai menyikapinya, sebagaimana aku menyikapi dingin sikapmu selama ini? Aku mengingat pesan salah seorang walisongo, beliau adalah Sunan Drajat. Lima belas tahun yang lalu, guruku melemparkan pertanyaan kepada para muridnya, termasuk aku; apa artinya, sak jeroning suko kudu eling lan waspodo? Katanya. Semua murid yang ada di dalam kelas menjawab seadanya, sampai akhirnya guruku pun menjawabnya sendiri. Aku masih sangat ingat sekali guruku itu berkata; pesan Sunan Drajat itu, dapat kita artikan secara bebas; dalam situasi dan kondisi apa pun kita harus tetap waspada, baik susah maupun senang, sedih ataupun gembira, dalam situasi apa pun, kapan pun, bahkan situasi seperti saat ini juga termasuk di dalamnya. Hanya saja, aku masih tak yakin dengan sikap kewaspadaan yang aku lihat hari ini yang terasa begitu berlebihan, bahkan sangat berlebihan, yang paling mengerikan dari semua itu, aku tak ingin menjadi asing di kampungku sendiri, Sum. Apalagi di depanmu.

Dalam ceritaku yang terlihat sempoyongan ini, Sum. Aku tetap ingin menyelipkan pesan sederhana padamu, bahwa kita harus tetap berhati-hati dan santai, alias; stand kalem, gaya kaliren, yang penting pasti. Malam selalu bersembunyi di ketiak petang, ayam jago sudah berkelakar di samping betinanya, aku tahu, A K U merindukanmu, Sum, tapi lorong-lorong jalan itu masih tersumbat oleh coretan dinding, aku tak punya alamat untuk merebahkan rinduku, sudikah kau menjadi sepiku? S U M I N I.

ALI R
Manajer GadingCoffee


Coba Cermati Reaksimu Dulu

 
Dan tiba-tiba semuanya adalah jarak






It’s not what happens to you. But how you react to it that matters
(Epictetus)

Satu hal yang setibanya muncul di benakku ketika membaca kutipan ini adalah wabah covid-19. Iya, virus yang baru saja diklaim oleh Donald Trum, Presiden Amerika, sebagai virus china tersebut.

Seperti sudah kita lihat sendiri, beberapa pekan ini banyak orang di jagat bumi panik—untuk tidak bilang semuanya. Jalan-jalan mulai sepi. Kampus diliburkan. Para mahasiswa belajar secara daring. Begitu pun dengan sekolah dan hampir semua kegiatan di luar dibatasi. Beberapa Negara, termasuk Indonesia menghimbau kepada semua masyarakatnya melakukan semuanya di rumah untuk meminimalisasi penyebaran virus. Walhasil, kepanikan pun menjadi harga yang harus dibayar.

Jika kita melihat kejadian ini dari sudut pandang Epictetus tadi—meski hanya sepotong sih—maka dalam menyikapi covid-19, kita penting untuk tidak terpaku pada apa yang terjadi pada kita, tetapi juga memperhatikan bagaimana reaksi kita menghadapinya. Maksud dari menghadapi di situ termasuk sikap kita terhadap beragam berita yang beredar di semua sudut media sosial kita.

Dengan ungkapan lain, bersikap berlebihan dalam mewanti-wanti covid-19 jugalah tidak efektif. Pasalnya, bicara berlebihan maka yang ada di dalamnya adalah panik. Jika seseorang sudah panik, maka ia akan kehilangan tiga hal di waktu bersamaan, yakni kejernihan pikiran, kebijakan, dan segala ingatan berkaitan dengan pola hidup sehat—jika kasusnya seperti ini. Jadi, ketika reaksi kita dalam mewanti-wanti berlebihan, maka yang ada malah kontra-efektif.

Masih tentang Epictetus, saya tertarik untuk mengutip narasi dari Setyo Wibowo dalam bukunya Ataraxia ketika mengulas filsafat Stoic [satu jenis filsafat yang beririsan dengan pemikiran Epictetus]. Adalah sebagai berikut:

Biasanya, di depan realitas, kita membuat representasi yang ditambahi dengan penilaian, misalnya 'tragis'  atau 'betapa malangnya', dll. Epictetus mengajak supaya jiwa kita berdiskusi dengan dirinya sendiri untuk akhirnya "tidak melewati batas fakta-telanjang bahwa yang ada di depannya adalah sebuah kematian makhluk yang memang bisa mati. Titik. Hanya kepada fakta seperti itulah (representasi adekurat) jiwa mesti memberikan persetujuannya. Jika jiwa justru mengiyai representasi yang salah (artinya, representasi yang ditambah-tambahi penilaian tragis, malang, dan seterusnya), jiwa akan menyasar-nyasar dalam mengikuti hasrat dan dorongannya untuk bertindak. Hanya dengan mengikuti representasi ade-akurat, kita bisa mengarahkan dengan benar hasrat dan impuls kita.

Ekstrimnya, bila saja anak kita mati, maka kita mesti berlatih dengan serius. Orang yang kehilangna anaknya, biasanya spontan merasa sedih atau marah. Stoikisme mengajukan pertanyaan-pertanyaan: anak itu siapa ? Anak itu apa? Mengapa kamu sedih? Apakah karena kamu merepresentasikan anak itu sebagai "milikmu"? Benarkan dia milikmu? Ataukah dia sebenarnya pemberian alam? Lalu,  sebagai pemberian alam, anak itu apa? Bukankah dia juga manusia seperti kita-kita juga? Dan manusia sudah sewajarnya pasti mati. Hanya soal antrean saja siapa yang lebih dulu mati, dia, kita, kamu atau anakmu. Jadi, kalau manusia berkodrat mortal (bisa mati), seorang anak juga bersifat mortal.

Membaca dua paragraf ini, saya merasa ada semacam kesesuain dengan apa yang tengah kita hadapi sekarang. Satu aspek, memang wajar orang-orang takut mati. Tapi pada aspek lainnya, mengapa orang-orang jarang sekali memikirkan, jika yang namanya makhluk, dia pasti akan mati. Yang namanya hidup, pasti ada sesuatu yang membuat gelisah dan sebagainya? Cobalah sesekali masuk ke relung ini.  

Atau bisa juga, sembari bosan di rumah, kita iseng menanyakan (pada diri sendiri saja), sebenarnya apakah iya covid-19 muncul dari pasar Hewan? Apa iya covid-19 vaksinnya belum ada? Siapa yang paling dirugikan dari wabah ini? Siapa yang paling diuntungkan? Dan sebagainya.

Adapun untuk jawabannya, tidak perlu dipikir atau kalau memang mau memikirkannya, tidak juga masalah, tetapi yang jelas simpanlah itu sendiri. Dan yang lebih jelas lagi, yang paling utama dari beberapa tautan ide di muka adalah betapa mendasarnya kita untuk bersikap tenang dalam menghadapi berondongan informasi mengenai covid-19. Bersikap tenang adalah bagian dari menjaga kondisi tubuh untuk tetap sehat dan tidak rentan virus.

Bisa jugalah pakai prinsip begini: tak usah resah, semua manusia pasti mati. Hanya menunggu gilirannya saja. Kita tak memiliki apa-apa. Diri kita pun bukan milik kita

Jadi, apakah kita tidak boleh khawatir? Tidak juga. Khawatir itu natural. Khawatir tentu boleh, tetapi jangan sampai di level terlalu. Terlalu khawatir berarti panik dan panik, lagi-lagi, tidak baik buat kesehatan baik fisik atau rohani. Bahasa lainnya, kalau kita khawatir coba imbangi dengan ketenangan, di samping tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Dengan mencoba mencermati bagaimana reaksi kita sendiri, kita akan lebih terhindar dari sikap yang justru malah merugikan orang lain, seperti panic buying dan semacamnya. Jadi begitu.  


Dea
Barista di GadingCoffee

Respons Universal untuk Alquran








Tentu yang saya maksud dengan istilah universal bukan merujuk pada arti luas yang melingkupi semua di biosfer ini. Tidak. Universal di sini hanya sebagai perwakilan dari keragaman latar belakang teman-teman yang ikut berbagi dalam diskusi contradi[xi]e tadi dengan tema The Quran and its Universal Response.

Di ujung diskusi yang fokus pada bunga rampai The Quran Seminar Commentary hasil suntingan Mehdi Azaiez dan Gabriel S. Reynold, ketika teman-teman sudah berada di satu spektrum yang efektif, tiba-tiba ada sesuatu yang membuat masing-masing dari kami mencurahkan apa sejujurnya yang kami rasakan tentang Alquran. Jika misalnya ada yang menyebut sekolah itu sebagai sesuatu yang sangat membosankan, bahkan menindas seperti ditengarai Freire dan lingkarannya, maka di sini kami bebas untuk menceritakan apakah Alquran membosankan seperti sekolah atau bagaimana.

Maka, di bawah ini ada beberapa pandangan polos teman-teman tentang Alquran dalam sekujur hidupnya. Dengan asumsi bahwa untuk konteks ketika masyarakat sangat mudah panik seperti sekarang ini--sehingga tidak ada lagi dalam pikiran mereka kecuali keselamatan dirinya sendiri--sampai-sampai Alquran tidak pernah mendapatkan secuil saja perhatian, kami rasa ini adalah upaya yang layak mendapatkan momentum. Adalah sebagai berikut:

Ade Charirie
Alquran adalah yang mulia. Yang menjadikan sekitarnya mulia dan kemuliaan itu memunculkan satu "ketakutan" dalam sisi yang lain. Sedang, Alquran membuka dirinya untuk memudahkan pembacanya melewati "ketakutan" itu.

Fathur Rozaq
Al-Qur'an itu sejati dirimu sendiri yang menunggumu membuka diri, mengenalnya.

Dea
Alqur'an adalah obat. Obat yg menyembuhkan kebuntuan. Yang menjauhkan dari beragam wajah keresahan.

Zaid
Al-Qur'an buatku adalah teman curhat. Aku dapat menangis dan tertawa di depan Al-Qur'an.

Ana
Al-Qur'an adalah pengingat agat tidak melampaui batas. Al-Qur'an adalah pembatas.

Ipung
Al-Qur'an buatku seperti akhir dari ketidaktentuan. Akhir dari segalanya yang tidak jelas, hambar, dan memgambang dalam hidup. Alquran memberikan satu tempat bersandar yang kokoh dan pasti.

Labik M.
Paham atau tidak, Al-Qur'an harus selalu menjadi pedoman. Ketika paham, sebisa mungkin kita amalkan. Ketika tidak paham, tidak lantas ditinggalkan.

Ali R.
Ketika ada pertanyaan, Alqur’an itu apa? Maka seketika itu juga saya bingung harus menjawab apa. Pertanyaan yang sederhana itu tak pernah memiliki jawaban dalam diriku. Yaa Tuhan, —saya mengerang- Alquran itu apa?

Burhan
Satu hal yang terngiang di benakku ketika Alquran disebut. Cerita-cerita di dalamnya! Aku selalu suka cerita, meski kadang tak paham apa maksud intinya.

A. Hanan
Alquran itu buku. Alquran itu memahami. Alquran itu menghayati. Menjiwai dan kolaborasi antara raga dan semesta.

Hasvirah
Dengan memiliki wujudnya, melihatnya terpajang di lemari bersama buku-buku bacaan yang lain, aku sudah merasa tenang bahkan sebelum membacanya. Satu-satunya hal yang bahkan aku sangat merasa bersalah jika tak memilikinya di antara koleksiku. Al-qur'an.


4 Maret 2020, Jogja






Bahasa Universal untuk atau dari Al-Qur'an?





Ingat film Arrival yang tayang pada Januari 2017 lalu? Jika ingat, masih adakah gambaran di benakmu tentang scene ketika Amy Adams, pemeran Dr. Louise Banks, mencoba berkali-berkali berkomunikasi dengan alien hingga akhirnya berhasil?

Jika masih ada sisa-sisa di memori teman-teman, barangkali itulah yang dimaksud dengan istilah bahasa universal. Suatu pola bahasa yang siapa atau apa saja--dalam level tertentu--mampu untuk menangkap maksudnya dan kemudian menjalin komunikasi.

Al-Qur'an, banyak diasumsikan terutama oleh para pakar yang konsen ke fokus studi living Al-Qur'an [oral-aural], sebagai sesuatu yang memiliki tekstur kebahasaan universal. Tekstur tersebut mencakup hal-hal seperti diksi, kosakata, ritme, dan semacamnya, yang dalam situasi tertentu, bisa dimengerti oleh "apa saja" yang bahasa manusia tidak bisa dipahaminya.

Disksusi pengaruh Al-Quran dalam kaitannya dengan teks sebagai mantra atau pleasure, meminjam bahasa Barthes, sudah banyak bermunculan. Risetnya Rasmussen, M. Mahjoob, dan R. A. Campbell adalah beberapa contoh yang layak dipertimbangkan. Ketiganya fokus pada bagaimana pengaruh bahasa Al-Qur'an ketika dihafalkan atau pun dibacakan.

Namun, bagaimanapun studi yang mencoba fokus pada isu bahasa universal itu sendiri dalam relasinya dengan tekstur linguistik Al-Quran belum banyak disentuh. Diskusi ini mencoba untuk masuk ke gua tersebut, meski hanya dibantu dengan senter seadanya.

Sebagai improvisasi, nantinya kita juga akan berdiskusi tentang aspek yang bersebarangan. Yakni wilayah respons universal yang muncul dari pembaca Al-Quran. Jika yang pertama tadi cenderung ke arah respons universal Al-Quran terhadap para pembacanya--yang tidak terbatas pada manusia--maka yang kedua ini sebaliknya: seperti apa saja respons universal yang muncul untuk Al-Quran.

Dengan ungkapan lain, diskusi ini akan juga membidik beragam respons yang ditujukan kepada teks Al-Quran. Beragam di sini merujuk pada manusia dari bermacam latar belakang yang memiliki testimoni khusus terhadap Al-Quran. Monggo yang tergoda untuk bersua...

Popular Posts