Kopi Hitam






“Bukan anak muda kalau tidurnya cepat.” Ucapmu tiga tahun yang lalu tatkala kutanya mengapa belum tidur padahal sudah pukul satu dini hari.

Aku hanya mengerutkan dahi mendengar jawabanmu kala itu. Mungkin kau memang cukup aneh. Berbeda dengan pria manapun yang pernah kukenal.

Kini kau tepat di hadapanku. Menyesap kopi yang hampir saja dingin karena menunggumu menyelesaikan aktivitas di dalam kamar mandi. Asapnya tidak lagi menyembul, sebagian ampasnya pun sudah terlihat berkumpul di pantat cangkir putih transparan di mana kopi itu kuseduh.

“Rasanya tetap sama, bukan?” Tanyaku membuka pembicaraan setelah mengamati tingkahmu yang cukup aneh. Memintaku menemanimu menghabiskan secangkir kopi itu, namun nyatanya kau asik saja dengan ponsel yang ada di hadapanmu. Kau hanya menatapku sesekali, lalu kembali menyesap kopi, seakan aku tidak ada. Apa maksudmu memintaku menemanimu di sini?
“Sama saja.” Jawabmu singkat masih menatap layar ponselmu.

“Kubilang juga apa, tidak akan ada bedanya kopi yang diseduh dengan air rebus dan kopi yang disiram dengan air panas dari dispenser.” Ucapku memancingmu untuk berbicara.

“Tentu saja ada.” Jawabmu dengan yakin.

“Buktinya, kau tidak bisa menjelaskanku apa perbedaan rasanya, kan? Kopi yang kubuat ini bahkan tidak ada bedanya dengan kopi yang sering kaubuat.” Desakku memintamu memberiku penjelasan yang masuk akal.

“Ada. Kau tidak akan tahu jika kau bukan pecinta kopi.”

“Lalu jelaskan padaku.” Aku semakin mendesak, meski kulihat dari raut wajahmu, kau tidak mampu menjelaskan itu, atau kau tidak ingin menjelaskannya padaku.

Sebenarnya, kopi yang kau minum sekarang ini tidak diseduh dengan air dari dispenser. Tentu saja aku merebus airnya. Sesuai dengan janjiku padamu tiga tahun yang lalu, aku akan menyeduhkan kopi istimewa buatmu, kopi yang akan terus kau ingat.

“Kalau kau benar menyeduhnya dengan air dari dispenser, aku mengaku salah dan kalah. Aku sama sekali tidak merasakan perbedaannya pada kopi ini. mungkin saja karena kopinya sudah hampir dingin.” Ucapmu dengan kalimat yang mulai panjang. Sayangnya, kau masih belum berani menatapku. Apa yang salah dengan mataku?

“Sebenarnya aku menyeduhnya dengan air yang direbus. Aku sudah berjanji padamu, kan? Lagipula, aku tidak ingin menunaikan janji dengan setengah-setengah.”

“Kau tahu itu. Cara yang berbeda akan menghasilkan rasa yang berbeda. Terima kasih sudah mengerti. Tapi soal kopinya, kupikir kau akan menyajikan kopi hitam. Katanya tidak setengah-setengah?” Tanyamu kemudian saat menyesap kopi itu untuk kesekian kalinya dan mendapati bahwa itu bukanlah murni kopi seperti yang sering kauminum.

Kau mulai menatapku, meski dengan tatapan yang membingungkan.

“Tidak ada kopi hitam buatmu malam ini. Dan, seharusnya kau tahu satu hal, bahwa kau bukan pecinta kopi jika tidak menyukai semua jenis kopi.”

“Seperti itu? Dapat teori dari mana?” Tanyamu terlihat bingung namun sedikit percaya.

“Aku baru saja merumuskan teori itu sekarang. Tapi bukan berarti itu salah, kan? Bahkan aku merasa teori baru ini memang sangat benar. Bukankah ketika kau mencintai sesuatu, tidak peduli bagaimana bentuknya kau akan tetap mencintainya, kan?” Aku semakin banyak merumuskan teori baru. Teori yang tiba-tiba saja muncul dalam benakku tatkala kau semakin berani menatapku.

“Kau semakin aneh saja. Sudahlah, kembali ke kamarmu, sudah larut malam. Tidak baik tidur terlalu larut.”

“Ah, naïf sekali mendengarmu mengatakan itu. Bukannya kau sendiri yang pernah mengatakan hal yang bertentangan dengan ini? Apa kau sudah lupa?” Ucapku mengingatkanmu pada kalimatmu dulu. Aku tahu, kau tidak pernah melanggar ucapanmu, namun apa yang salah dengan ucapanmu barusan?

“Kau semakin berubah sekarang. Semakin cerdas.” Sanggahmu.

“Kau yang berubah!”

“Aku memang berubah tentang banyak hal. Termasuk jadwal tidurku. Hanya satu yang tidak berubah, secangkir kopi menjelang tidurku.” Jelasmu sambil mengangkat cangkir kopi yang berisi setengah itu.

“Aku mengerti sekarang. Kalau begitu, aku akan kembali ke kamar.”

Aku berdiri menuju kamar saat kau tiba-tiba memanggilku dengan suara itu.

“Na …?”

Aku berbalik, menatapmu yang juga sedang berdiri.

“Sudah begitu lama, Na. Apa yang berubah tentangku dalam dirimu? Sejak tiga tahun yang lalu, apa aku masih sama di hatimu? Apa kau masih mengingat namaku, minimal tidak menghapusnya dari kontakmu?”

Aku menggeleng.

“Namamu dalam kontakku, Kopi Hitam.”

Lalu aku berlalu pergi. Kau hanya tersenyum yang tak kuketahui artinya.

 Kudengar kau menyesap kopi itu begitu lama, mungkin saja kau berusaha menghabiskannya sebelum punggungku menghilang dari pandanganmu.


Wina tak Sekadar Nama Ibu Kota




Ada ingatan yang malu-malu kuakui seiring bertambahnya usia hari demi hari. Ingatan itu sebisa mungkin kuhapus dari kepala demi melegakan perasaan. Harus kuakui, hingga berada di usia yang ke 23 atau mungkin 24, barulah ingatan itu tidak lagi kuanggap aib masa kecil hingga remaja lalu berusia dewasa. Ingatan itu tidak terjadi begitu saja tentunya, ada rangkaian cerita yang tidak terlepas darinya.

Saya mendapati diri sedang membuka lembar demi lembar sebuah buku bacaan untuk anak sekolah dasar di teras rumah panggung pada suatu sore. Buku yang dititipkan di rumah karena perpustakaan sekolah kami yang juga merangkap sebagai kantor disesaki kursi dan meja para guru, terlalu padat jika buku-buku dipaksa berada di tempat yang sama, juga ada kemungkinan buku-buku itu basah dan dikerubungi rayap ketika hujan turun dan merembesi gedung sekolah kami yang dibangun dari papan.

Terdapat lumayan banyak buku di rumah yang disusun begitu saja di atas sebuah meja, tempat bapak biasanya menghabiskan segelas tehnya sambil membaca buku-buku tebal dengan kertas berwarna coklat lusuh. Pada mulanya ini hanyalah sebuah keisengan dalam mengisi waktu luang ketika sedang malas bermain bersama teman-teman. Saya akan membongkar buku-buku di atas meja tersebut, mencari sesuatu yang menarik untuk dibaca kemudian membawanya ke teras rumah, membacanya halaman demi halaman.

Iya, mulanya ia hanyalah keisengan belaka. Hingga sore itu sebuah buku seukuran majalah, berisi banyak gambar dan cerita-cerita pendek anak-anak membuatku semakin ingin membaca cerita lagi dan lagi. Gara-Gara Sarang Burung Perkutut adalah judul cerita pendek yang mampu membuatku terlarut dalam kisahnya. Bukan tentang kisah cinta romantis tentunya, tapi tentang dua sahabat yang terlibat konflik karena sarang burung perkutut. Akhir kisahnya membuatku mampu bernapas lega setelah pada pertengahan cerita sempat benar-benar deg-degan dan sedih.

Ingin membaca tapi tak tersedia bacaan yang diinginkan ternyata cukup menyiksa. Dalam hal ini kehausan akan bacaan fiksi setelah jatuh cinta pada satu cerita sebelumnya. Sayang sekali buku-buku yang dititipkan di rumah didominasi oleh buku agama bersampul hijau untuk tiap tingkatan kelas. Stok buku-buku ini begitu banyak, disusul buku tebal milik bapak yang juga tidak jauh dari konten tentang keagamaan. Maka mau tak mau buku itu tetap kulahap, kubaca karena tidak punya pilihan lain juga sekaligus menyimpan harap semoga di dalam sana terselip beberapa cerita, minimal kisah-kisah teladan para nabi. Waktu itu saya ingat sedang duduk di kelas dua sekolah dasar dan sering mengerjakan tugas agama milik saudara sepupu yang duduk di kelas empat, tiada lain karena saya hapal isi buku agama di mana soal-soal dari tugasnya diambil.

Saya lama menyebutnya sebagai kecelakaan alih-alih kebetulan. Ketika siang itu di atas meja ruang tamu terdapat sebuah buku berukuran kecil tanpa sampul sedang tergeletak begitu saja. Rumah sedang sepi, kedua orangtuaku entah sedang di kebun atau beristirahat, dan seorang guru perempuan yang juga tinggal di rumah tak kelihatan sosoknya. Saya dengan santai membaca buku tak berjudul itu, tepatnya saya tidak tahu apa judulnya sebab sampul dan halaman depannya sudah sobek atau sengaja disobek. Yang tak disangka adalah buku itu tidak hanya mengobati rasa hausku akan bacaan fiksi, rasa-rasanya ada yang lebih dari itu tapi entah apa.

Buku yang sedang saya baca itu memang tidak berjudul, sampulnya disobek beserta beberapa lembar pada bagian awal. Meski demikian, sekalipun awal ceritanya hilang entah ke mana, sama sekali tidak mempengaruhi pesan yang ingin disampaikan dalam buku. Saya tidak mengerti itu apa, tapi  selain membuat saya semakin ingin membaca buku yang sejenis, efek yang ditimbulkan dalam diri pun tidak main-main, perasaan saya berdebar membaca kisah tak jelas di dalam sana.

Di dalam buku tak utuh tersebutlah saya mengetahui sebuah daerah bernama Wina, sebuah tempat yang belakangan baru saya pahami bahwa ia adalah nama ibu kota dari Austria setelah diberi tugas oleh wali kelas untuk menghafal nama-nama Negara beserta ibu kotanya. Tapi sejak hari itu, hari di mana saya menemukan kata Wina di sebuah buku lusuh, ia tak lagi sekadar nama ibu kota bagiku.

Orang-orang barangkali bisa saja menyebut Wina sebegitu santai dan bahagianya sembari membayangkan kemegahan kota tersebut, bangunan-bangunan besarnya, museum-museumnya, atau spot-spot foto ‘instagramablenya'. Tapi bagi saya, menyebut kata Wina sama halnya memanggil ingatan saya tentang kecelakaan, atau ketidaksengajaan masa kecil, yang sebenarnya kini saya sudah berdamai dengannya.

Nyatanya memang saya dipertemukan lagi dengan buku-buku sejenis ketika rasa haus saya akan bacaan fiksi semakin menggebu-gebu. Entah bagaimana ceritanya saya bisa sadar bahwa di rumah sebelah, di rumah kerabat sendiri, saya pernah melihat beberapa buku kecil lusuh tanpa sampul yang tersusun di dalam lemari kaca. Maka dengan segera saya menyambangi lemari tersebut, membaca satu demi satu bukunya sampai semua habis kusesap. Lagi-lagi saya tidak ingat berapa banyak koleksi yang dimiliki kerabat tersebut, tapi pastinya banyak dan itu sangat membuatku senang juga bergairah. Bergairah dalam arti lain dan juga dalam arti sebenarnya.

Dulu masih terlalu dini bagiku menyadari ada rahasia apa di balik buku-buku tak bersampul tersebut. Baru kini rasanya mudah sekali menebaknya, barangkali karena kini saya hampir berada di usia orang-orang yang kemarin membacanya. Bahwa membaca cerita yang didominasi kalimat-kalimat erotis untuk menggambarkan adegan yang dilakoni si tokoh ternyata menyenangkan dan memuaskan juga. Terutama ketika tidak ada wahana lain seperti melihat gambar dan menonton video, maka menikmati liukan kalimat yang disusun penulis pastilah sangat efektif. Kalimat yang kata orang bisa buatmu menggelinjang. Haish.

Barangkali ada yang bertanya-tanya dari mana datangnya buku-buku tersebut, siapa membawanya hingga bisa tiba-tiba berada di dalam rumahku, di atas meja, tergeletak begitu saja. Tapi ada yang lebih urgen untuk dijawab dibanding pertanyaan tersebut, yaitu rasa penasaranku sendiri, buku siapakah yang sempat mengisi masa kecilku itu, Fredy S. ataukah Enny Arrow?




Kerahasiaan pada Kotak Pandora





When I think of my wife, I always think of the back of her head. I picture cracking her lovely skull, unspooling her brain, trying to get answers.
-Gone Girl (Film)-

Ternyata ada yang lebih kekal menyimpan rahasia dibanding diri sendiri. Kekekalan yang sewaktu-waktu bisa mewujud senjata, tidak hanya melukai sang pemilik rahasia tapi juga orang terdekatnya yang secara sengaja atau tidak sengaja menemukannya. Ia sedemikian candu tapi berbahaya. Ia sedemikian berbahaya tapi tak dapat terhindarkan. Seakan hidup menjadi lumpuh tanpanya, seakan hidup menjadi hampa tanpanya.

Beberapa kesalahan atau sebut saja ia sebagai improvisasi hidup yang bagi orang lain dianggap menyimpang, selama masih berupa niat yang tersimpan rapat di kepala, ia akan tetap rahasia yang hanya diri sendiri mengetahuinya. Tidak ada yang dapat mengusiknya, atau kalau pun ada, ia hanya akan berakhir sebagai tuduhan-tuduhan tak berdasar. Meski memang pada pikiran-pikiran tertentu yang baru dibisikkan pelan, ia sudah tiba-tiba muncul di depan mata, menari-nari, menggoda agar dihampiri.

Dulu rahasia adalah rahasia. Ia bisa dikubur dalam-dalam pada liang yang kita gali untuknya. Menimbunnya berlapis-lapis hingga tiada yang mampu gali. Tapi kini rahasia adalah juga bukan rahasia. Ada yang menyadari kerentanannya namun tak punya pilihan lain, di samping itu ada juga yang memang benar-benar tidak mengerti. Namun yang sebenarnya paling banyak adalah mereka sadar tapi bodoamat.

Pada beberapa talkshow ketika para artis ditanyai tentang kelanggengan rumah tangga mereka hingga bertahun-tahun, didapati jawaban yang sama. Bahwa mereka tidak pernah mengecek ponsel pasangannya tanpa seizin sang pemilik. Orang-orang ini sadar betul bahwa di dalam sana, pada benda pintar itu terdapat ombak kebenaran yang bisa saja menggulung habis mahligai rumah tangga yang selama ini mereka bina. Siapa bisa menduga bahwa riwayat-riwayat pencarian, pengiriman, aplikasi yang baru saja dibuka, semuanya bisa memicu ledakan amarah, cemburu, sakit hati, kecewa, bila ternyata di sana terdapat banyak hal mencurigakan.

Ponsel pintar dan internet adalah kotak Pandora bagi manusia yang hidup di zaman sekarang. Di sana tersimpan siapa diri kita sebenarnya, kerahasiaan yang kita percaya akan tetap terjaga selama kita tidak lupa mnguncinya. Tapi di sisi lain, kita pada dasarnya telah menyerahkan kerahasiaan kita, sesuatu yang paling mahal dalam diri kita, kepada sebuah benda, kepada situs-situs yang siapa pun berpotensi untuk mengetahuinya dengan mudah.

Maka ada rahasia yang akan tetap bersamamu hingga ke liang kubur selama kau menyimpannya dalam dirimu sendiri. Tapi ada rahasia yang akan terus mengejarmu lebih parah dari bayanganmu sendiri, bahkan ke kegelapan yang paling hitam pun ia akan terus mengikuti bila kau telah menyimpannya di luar dirimu, ia menghantuimu dengan wujud kekhawatiran bahwa suatu waktu seseorang menemukannya dan kau tak lagi sama di matanya.     
   

Ke-tiba-tiba-an dan Ihwal Membaca itu Sia-Sia


Dua minggu meresapi cuaca sejuk-semriwing di Jogja menuntunku pada satu hal yang barangkali ini penting untuk ditambahkan dalam artikel Edvin Aldrian di Kompas, 24 Juni yang lalu, tentang Solar Minimum.

Aldrian menyebut bahwa pada bulan-bulan ini, di tahun 2020, bumi sedang mengalami apa itu yang disebutnya sebagai solar minimum. Fenomena ini mengakibatkan, cuaca di tahun ini, meski musim kemarau, akan cenderung sejuk, dalam arti tidak sepanas di tahun-tahun lainnya. Angin pun akan lebih intens membelai rambut-rambut kita. Memanjakan.

Adapun tentang satu hal yang saya maksud di atas adalah betapa dengan fenomena solar minimum, pikiran serta imajinasi kita akan mendapatkan stimulus lebih untuk bergerak. Menempatkan kita pada posisi yang lebih suka merenungkan sesuatu. Fenomena solar minimum berdampak pada meningkatnya gairah untuk memikirkan sesuatu!

Barusan saja misalnya, di tengah belaian angin yang menyenangkan, dengan posisi sedang duduk di lantai dua rumah sambil melihat pohon-pohon di pekarangan tetangga yang ukurannya berbeda-beda, setibanya di benak saya muncul gambaran tentang satu pohon di jalan raya kota yang penampakannya lebih subur, lebat nan tinggi, dibanding pohon-pohon sebelahnya.

Mereka adalah pohon yang sama dan mereka ditanam di waktu bersamaan, tapi kenapa ada satu yang pertumbuhannya lebih. Saya rasa, ini bukan soal pemupukan dari pihak Dishub yang tidak rata. Jika Dishub memupuk, tentu mereka memberikannya pada setiap pohon. Pohon yang lebih besar ini pasti mendapatkan pupuk lain yang mengerikan, tapi kita tidak tahu apa dan karenanya harus dicari.

Ide yang baru saja muncul ini, saya sendiri tidak tahu dari mana hingga akhirnya saya memaksa mengingatnya. Beberapa kali, nihil. Beberapa kali lagi saya coba, secercah cahaya menerangi, tapi masih samar.

Ide soal pohon lebih subur, kota, dan pupuk yang mengerikan pernah saya baca dari kisahnya Sherlock Holmes, tapi sebentar: di sini masih absurd antara saya baca apa saya tonton.

Saya coba lagi untuk masuk ke rimba ingatan dan emosi: ide ini ada di filmnya atau di bukunya. Entahlah, di ujung saya putuskan untuk menyerah. Saya tidak tahu pasti, rumah dari ide yang tiba-tiba muncul ini buku apakah film. Namun yang pasti, ide itu pernah saya konsumsi dan hari ini, di saat yang tidak terduga, ia kembali muncul, berkelebat dalam pikiranku ibarat jemuran yang terterpa angin.

Dan pohon tadi, kenapa lebih besar adalah sebab di bawahnya telah dikubur jenazah seseorang yang telah dirampok dan dibunuh. Dalam narasi yang sempat saya lupakan dan bahkan (sempat) saya anggap tidak ada, Holmes berhasil menguak kasus pembunuhan melalui pengamatan terhadap pohon-pohon di sekitar lokasi perkara.

Kembali pada posisi saya yang sedang duduk santai, ditimbun angin, di lantai dua rumah, akibat "ketiba-tibaan" tadi, saya jadi mempertanyakan kenapa pohon-pohon di pekarangan rumah tetangga ada yang lebih besar, padahal jenisnya sama.

Namun, tiba-tiba (lagi), pertanyaan lain datang, mengetuk pintu imajinasi: kenapa harus ribet menanyakan pohon tetangga, mengapa tidak tanya mengapa ihwal "ketiba-tibaan" itu bisa terjadi.

Tentang ketiba-tibaan

Ihwal ketiba-tibaan memang khas. Ronggowarsito, setelah memutuskan untuk berhenti jadi makelar, menyebut "ketiba-tibaan" ini sebagai Kasunyatan. Heideger, di tengah kebimbangannya antara selingkuhan dan istrinya, menamakan itu sebagai Facticity. Dan Freud, sembari menghabiskan cerutu, dengan sok sistematis, menjelaskan "ketiba-tibaan" sebagai sebuah kelahiran kembali dari sesuatu yang ada dalam bawah sadar kita.

Kelahiran kembali ini biasanya muncul karena situasi tertentu yang kita tidak tahu kapan. Kenapa? Sebab sumbernya bawah sadar. Itu melampaui kesadaran.

Ruang bawah sadar merupakan gudang dari segenap pengalaman, emosi, trauma, kesan keindahan, dan sebagainya yang pernah kita lalui sebelumnya, termasuk apa saja yang kita baca, tonton, dan dengarkan.

Fenomena solar minimum tahun ini berhasil menjadi bidan atas kelahiran kembali ide tentang pohon, mayat, dan kota untuk hariku siang ini. Apa saja yang kita lupa atau tidak tahu bukan berarti ia tidak ada dan akhirnya hanya satu yang ada: tidak ada yang sia-sia. Hmmm.zv

“Buaya”, Fakboy, dan Tradisi Diskursif Muslim



Meme yang cukup menggoda belakang ini menurut saya adalah meme buaya yang dipakai sebagai personifikasi dari fakboy. Daya tarik ini terletak pada dua hal, yakni adanya pose yang simetris dengan tulisan di gambar dan kepsyen dari akun yang menyebar meme. Buaya yang ditampilkan dalam meme tidak saja buaya polos, tetapi buaya dengan mulut yang terbuka setengan, buaya yang sedang menutup rapat mulutnya sehingga menyembulkan beberapa taringnya ke luar, dan buaya yang mulutnya terbuka lebar. Setiap pose buaya diselipi dengan tulisan ala fakboy.

Salah satu contoh yang menggemaskan adalah buaya dengan pose mulut tertutup. Dengan pose ini, tulisan yang dimunculkan adalah “dia tuh jahat udah sini sama aku aja”. Seturut yang saya rasakan, pose buaya dengan mulut tertutup yang menandakan keseriusan sangatlah sesuai dengan tulisan di muka. Jadi ada keharmonisan di sini yang harmoni ini menggambarkan betapa para fakboy ketika sedang pedekate dengan calon korbannya—terutama saat memakai redaksi barusan—mereka juga memasang muka serius.

Dalam bukunya, Memes in Digital Culture, Limor Shifman menengarai bahwa meme adalah salah satu humor yang rumit. Maksud rumit di sini adalah tidak semua orang bisa menangkap apa maksudnya. Ia mengandaikan adanya keselarasan konteks antara pembuat meme (tim kreator) dengan konsumen meme dalam proses pemahaman tersebut. Persis di celah ini, kepsyen menemukan momentumnya. Kepsyen membantu mengurangi jurang kontekstual antara tim kreator dan konsumen.

Tim kreator dari akun penyebar meme tadi menyadari akan hal ini. Walhasil mereka menuliskan kepsyen yang tidak kalah nggemesinnya, yaitu “macam-macam spesies buaya”, dan setelah saya lihat dari komentar-komentar yang muncul, rupanya apa yang disampaikan Shifman tidak sepenuhnya salah. Ada beberapa warganet yang mengakui bahwa dirinya tidak memahami apa maksud dari gambar sampai ia membaca kepsyen. Yang berangkutan sempat menulis, “Oalah, buaya darat!”.

Kenapa buaya?

Warganet lain, mungkin lantaran iseng, ada yang bertanya, “Kenapa harus buaya? Buaya yang cewek sekarang juga banyak.” Dari sini, setibanya ada yang datang di pikiran saya, tetapi tanpa diiringi degan suara samar lonceng. Setibanya saya teringat salah satu dokter hewan terkemuka pada abad 14 M, Imam Kamaluddin al-Damiri, salah satu nama yang saya kenal dua tahun silam gara-gara ada tugas tentang “hewan dalam Al-Quran”.

Karena buat saya kebetulan (kata ini sering saya pakai untuk membahasakan ke-tiba-tiba-an) adalah cara Tuhan yang paling magis untuk intervensi pada urusan hambanya, akhirnya saya membuka kitab beliau yang membahas cukup detail setiap hewan di Mesir, yaitu Hayat al-Hayawan al-Kubra, dan hasilnya menggembirakan. Ternyata isu soal “laki-laki” buaya sudah ada sejak abad ke-14 M dan ini disinggung secara jelas oleh beliau. 

Di jilid 1 halaman 536 dijelaskan bahwa buaya adalah nama dari salah satu hewan yang sudah biasa ditemui dan seringnya dipakai sebagai sebutan bagi laki-laki yang suka berbohong atau fakboy dalam konteks kita sekarang ini. Buaya memiliki perawakan seperti kadal, tetapi bisa pula hidup di air. Mulutnya lebar dengan enam puluh (60) taring di bagian atasnya dan empat puluh (40) di bagian bawah dan sebagainya. Imam Kamaluddin menulis:

التمساح: اسم مشترك بين الحيوان المعروف, والرجل الكذاب ... وهذا الحيوان على صورة الضب, وهو من اعجب حيوان الماء, له فم واسع, وستون نابا فى فكه الأعلى, واربعون فى فكه الأسفل...


Tidak saja itu, ihwal kebiasaan serta bagaimana cara menaklukkan buaya juga dibahas oleh Imam Kamaluddin. Namun, karena tulisan ini tidak mengarah ke aspek biologis buaya, tetapi sosiologis, maka saya tidak akan beranjak lebih jauh tentang itu. Yang jelas, ketika pada masa itu term buaya (al-timsah) sudah disejajarkan dengan lelaki pendusta (al-rajul al-kazzab), maka artinya isu tentang “lelaki buaya” usailah menjadi kenyataan buat perempuan-perempuan di masa Imam Kamaluddin. Pada titik ini, saya bisa menyebut bahwa melekatnya “buaya” dengan cowok fakboy hadir bukan tanpa landasan sejarah.

Akhirul kalam, beginilah kisah singkatnya mengapa secara bahasa—atau dari aras tradisi diskursif, meminjam istilahnya Talal Asad— yang ada itu “lelaki buaya darat” dan bukan “perempuan buaya darat”.


Siti K., perempuan yang kalau masak 
suka gosong

Studi Al-Quran, Momentum, dan Pandemi


Ketidakpastian adalah wajah dunia hari ini. Secara ekonomi, banyak dari kita mengalami pemecatan atau minimal pengurangan gaji. Jika kita tinggal di desa barangkali ini tidak terlalu terasa, tetapi jika di kota, ini adalah kematian.

Di lingkup pendidikan, kisah yang muncul juga sama: sendu dan tidak pasti. Teman saya baru masuk kuliah tahun ini, padahal teman saya. Ia harus menabung selama dua tahun terlebih dulu untuk bisa mendaftar. Sekali bisa mendaftar, pandemi memaksanya untuk hanya benar-benar kuliah selama satu bulan. Lima bulan sisanya dilakukan lewat daring.

Belajar lewat daring adalah bentuk dari ketidakpastian sekaligus kepalsuan. Begitu temanku mengakuinya. Ia menyesali sama sekali, tetapi entah pada siapa dia menyesal sampai akhirnya belakangan ini ia tahu bahwa kampus-lah yang harus disesali. Pasalnya, di akhir perkuliahan, mau masuk semester II, biaya kuliah yang harus ia bayar, sama! Bayangkan, kuliah cuma disuruh mengerjakan tugas, tidak ada materi yang cukup signifikan dari dosen, tapi uang kuliah sama.

Kurasa, di dunia ini, saat ini, ada banyak yang bernasib sama dengan temanku. Hanya saja isunya berbeda. Landasan polanya satu: tidak pasti.

Ketidakpastian, Agama, dan Al-Quran

Menurut Pippa Noris dan Ronald Inglehart dalam studinya yang ditulis pada 2004 dulu, Sacred and Secular: Politics and Religion Worldwide, menyebut bahwa ketidakpastian berbanding lurus dengan intensitas keberagamaan seseorang. Jika tidak demikian, minimal, setiap tragedi ketidakpastian memiliki tautan dengan agama. Jadi, rumus yang mereka tawarkan adalah semakin tidak pasti keadaan yang seseorang hadapi, maka ia akan semakin religius. 

Terlepas dari sejauh mana riset pada tahun 2004 ini bersalaman dengan kenyataan di Indonesia, saya rasa kesimpulan lain bisa ditarik bahwa di tengah pandemi, Al-Quran memiliki banyak kesempatan untuk menciptakan momentumnya.

Untuk membantu terciptanya momentum Al-Quran di tengah pandemi, kita bisa melakukan empat hal paling tidak, yakni membacanya, menghafal, memahami, dan meneliti. Untuk ukuran teman-teman yang kuliahnya di Studi Al-Quran, tentu yang terakhir adalah pilihan yang membanggakan. Tulisan ini mencoba untuk turut meramaikan melalui ihwal yang terakhir, yaitu membaca penelitian tentang Al-Quran.

Studi Al-Quran?

Bicara soal studi Al-Quran, maka kita sedang berhadapan dengan dua hal besar, yakni tafsir dan Al-Quran itu sendiri. Mengkaji tafsir berbeda dengan mengkaji Al-Quran

Perbedaan ini ada sebab secara ontologi keduanya tidak bisa disamakan. Tafsir adalah komentar atau catatan seseorang atas Al-Quran. Karena catatan, maka yang menonjol dalam tafsir adalah si komentator, pandangan-pandangannya, caranya melihat Al-Quran, dan sikapnya terhadap Al-Quran, bukan Al-Qurannya.

Adapun Al-Quran, sederhananya, adalah mushaf yang terdiri dari 30 juz, yang sering kita baca saat Ramadan atau saat ada undangan muqaddaman di rumah-rumah saat syukuran. Al-Quran mengandung efek pahala ketika dibaca, seperti yang selama ini kita yakini. Sebab ia kalam Tuhan, sedangkan tafsir tidak.

Secara sifat, keduanya pun unik. Tafsir adalah anak zaman atau produk pemikiran ( al-afkar al-diniy) dari suatu masa dan oleh seseorang yang terikat dengan masa. Tafsir yang muncul pada abad pertengahan tentu beda dengan yang lahir abad ini. Jadi, tafsir adalah sesuatu yang sangat bergantung pada dua hal, yaitu konteks lingkungan tempat ia ditelurkan dan kondisi psikis pengarangnya.

Tekstur tafsir yang seperti ini mengakibatkan siapa pun untuk tidak begitu saja menerima tafsir, apalagi menganggapnya sebagai suatu kebenaran dan lantas mengamalkannya dalam keseharian. Langkah pertama saat meneliti atau membaca tafsir adalah meletakkannya pada konteks ia muncul. Mempertanyakan mengapa penafsirnya menulis A misalnya, menimbang faktor politik yang terjadi saat itu, dan sebagainya. Lalu, baru setelah kita melakukan itu semua, kita bisa memutuskan untuk bersikap bagaimana terhadapnya.

Jika sifat tafsir statis, maka Al-Quran sebaliknya. Al-Quran memiliki tekstur yang dinamis. Dengan model bahasanya yang terbuka serta khas menjadikan Al-Quran senantiasa relevan untuk segala zaman, meski menurut beberapa sarjana ini masih menjadi perdebatan.

Laboratorium

Dalam ihwal penelitian, baik Al-Quran dan Tafsir memiliki laboratoriumnya masing-masing, kendati berada di gedung yang sama. Karena beda laboratorium, otomatis pendekatannya pun khas. Soal pendekatan barangkali kita bisa berdiskusi lain kali. Tulisan ini akan fokus ke model-model risetnya terlebih dulu.

Ada tiga model yang kerap dipakai dalam lingkup tafsir, yaitu model tema, tokoh, dan tematik tokoh. Pertama adalah riset yang mencoba untuk melihat isu tertentu, wabah misalnya, menurut beberapa penafsir. Gaya riset yang dipakai di sini biasanya gaya komparasi.

Kedua adalah riset yang fokus ke seorang penafsir. Satu penafsir saja. Kerapnya model ini membidik aspek metodologi. Ketiga lebih pada penelitian yang mengkaji isu tertentu dari satu penafsir. Contoh: Kegilaan menurut Imam Al-Alusi dalam tafsirnya ...

Bagaimana dengan lingkup Al-Quran? Ada dua model: internal dan eksternal. Pertama lebih pada apa yang tertulis dalam Al-Quran, baik bahasanya, diksi, penempatan, manuskrip, percetakan, dan sebagainya. Adapun kedua lebih pada bagaimana Al-Quran diberlakukan oleh Muslim, seperti bagaimana kita memegang Al-Quran, bagaimana kita kerap menjadikan Al-Quran jimat, Al-Quran sebagai media yang dilombakan (MTQ), dan lainnya.

Sampai di sini, tentu ihwal studi Al-Quran masihlah banyak yang belum tersampaikan. Namun untuk ukuran "pra", saya rasa ini bisa disebut cukup. Pandemi memberikan kita waktu yang lebih banyak untuk santai, jadi mungkin saja, di tengahnya kita bisa menyelipkan upaya untuk mendekati Al-Quran serta tafsir dengan cara yang rada miring ke kiri. Selamat berdiskusi.zv

Popular Posts