Menemukan Diri WNI dalam Novel Menyongsong Badai Karya Margarita García Robayo

 


Sepanjang membaca buku Menyongsong Badai karya Margarita García Robayo pikiranku tidak pernah lepas dari bayang-bayang #KaburAjaDulu yang sempat—dan tampaknya sampai sekarang—digaungkan dan bergema begitu hebat di jagat media sosial, utamanya X (dulu twitter). Tokoh perempuan dalam buku ini, penuh keresahan dan rasa tidak tahan, ingin meninggalkan negaranya dengan cara apa pun yang memungkinkan.

Sebuah buku yang sangat tipis—tidak lebih dari sembilan puluh halaman—memotret bagaimana seorang gadis kecil yang tidak nyaman hidup di lingkungannya. Di lingkup keluarganya yang dia anggap menyebalkan, dan di negaranya sendiri yang penuh dengan ketimpangan. Oleh karena itu sejak kanak-kanak ia kagum pada Rafa karena pernah ke luar negeri, namun ia bahkan sangat kagum pada Gustavo, seorang pedagang ikan segar dan makanan laut lainnya, karena sudah menjelajah ke berbagai negara.

Tokoh aku kemudian menjalani hidup apa adanya. Bukan tanpa perlawanan, namun lebih pada sikap cuek terhadap segala hal yang terjadi di sekitarnya karena ia punya harapan bahwa, kelak di suatu masa, ketika usianya beranjak dewasa, ia akan tinggal di luar negeri. Tapi, apakah hidup memang berjalan sesuai harapan masa kecil manusia? Bagaimana dengan tokoh aku, berhasilkah ia #KaburAjaDulu?

Dalam perjalanannya ia pun menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Toni. Mereka saling menyayangi, saling memiliki, dan saling memberi kenikmatan. Tapi di waktu bersamaan keinginan mereka sebenarnya tidak sejalan. Toni berpasrah diri akan segala hal yang ditawarkan negaranya, sementara kekasihnya ingin terbang bebas layaknya burung.

Usai mendengar usulan dari kakaknya bahwa menjadi pramugari adalah pilihan tepat jika ingin tinggal di luar negeri, tokoh utama pun melakukannya. Mengambil sekolah pramugari sampai akhirnya benar-benar mendapatkan pekerjaan tersebut. Penerbangan pertamanya adalah Miami. Di Miami ia kemudian mengundang Jhony—seorang teman dari temannya—yang beberapa masa kemudian selalu menjadi pasangannya untuk bercinta. Toni masih sempat menemuinya satu atau dua kali sebelum akhirnya mereka benar-benar tidak berkontak hingga beberapa lama. Demikianlah hidup dijalaninya dengan setengah putuh asa. Satu bentuk keputusasaannya yang paling besar ketika ia memutuskan meniduri kaptennya agar bisa hamil dan nantinya membayar seseorang di Miami untuk menjadi pasangannya. Dengan begitu ia akan mendapatkan kewarganegaraan. Tapi takdir tidak berpihak padanya. Kehamilan hanyalah khayalan sebab sang kapten ternyata sudah menjalani vasektomi.

Tahun berganti, usia tua menghantui, sementara itu harapan masa kecil belum juga terpenuhi, di sanalah sang tokoh utama terseok-seok menyongsong badai.

Kita berhenti sampai di situ dulu. Aku ingin membahas tentang judul buku ini. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, judulnya adalah Menyongsong Badai, adapun dalam bahasa Spanyol, judulnya adalah Hasta que Pase un Huracán. Ini menarik karena jika menggunakan Menyongsong Badai maka buku ini ingin berfokus pada tokoh utama, namun jika menggunakan Sampai Badai Berlalu (terjemahan literal dari Hasta que Pase un Huracán) maka buku ini sebenarnya membahas Toni dan orang-orang lainnya seperti Toni—dalam hal ini hampir semua masyarakat kelas menengah bawah di Kolombia.

Kalimat ‘menyongsong badai’ ini sebenarnya muncul ketika tokoh utama membayangkan hidup yang akan dijalaninya jika seandainya ia memutuskan menikahi Toni.  

Aku berniat membuka jendela dan berteriak padanya agar kembali ke atas. Ya, aku berniat membuka jendela dan berteriak. Tapi yang kulakukan adalah menyulut rokok dan, tanpa mengalihkan pandangan, membayangkan hidupku bersama Toni yang akan berjalan seperti ini:

…. Rumah-rumah itu menguarkan bau minyak goreng, bau rum, bau rawa busuk, bau kemiskinan. …. Toni akan merapat ke punggungku, memeluk pinggangku dan berbisik di telingaku: Suatu saat kita akan keluar dari sini. Kita akan selalu berada di sini, kataku, menyongsong badai.

Jika misalnya kalimatnya diganti:

…. Toni akan merapat ke punggungku, memeluk pinggangku dan berbisik di telingaku: Suatu saat kita akan keluar dari sini. Kita akan selalu berada di sini, kataku, sampai badai berlalu.

Dalam kalimat ‘menyongsong badai’ terdapat keberanian, kesiapan untuk menghadapi, bahkan semacam semangat motivasional. Ini sejalan dengan kehidupan yang tengah dijalani tokoh utama. Sedangkan dalam kalimat ‘sampai badai berlalu’ terkandung sikap bertahan, menunggu, bahkan terperangkap. Ini sejalan dengan kehidupan yang tengah dijalani Toni dan tokoh-tokoh lainnya.

Aku tidak sedang menggugat judul, sebaliknya, aku merasa berterima kasih sebab dengan adanya perbedaan tersebut, aku sebagai pembaca disadarkan bahwa ada dua kondisi yang sedang dipotret dalam buku ini: mereka yang sadar dan berusaha melawan, serta mereka yang bertahan tanpa perlawanan berarti.

Tidak sulit membayangkan kondisi yang dikisahkan dalam buku ini. Bukankah #KaburAjaDulu juga muncul dari rasa lelah, tidak tahan, tidak nyaman, ketimpangan, kekecewaan terhadap negara yang tidak mampu memberikan jaminan apa pun atas warga negaranya? Entah jaminan pekerjaan, kesejahteraan, kesehatan, keselamatan, dan kebebasan untuk sekadar berpendapat.



Comments

Popular Posts