Pendidikan Berbasis Al-Quran: Tafsir, Akhlak, dan Krisis Pendidikan Modern

 


Judul

Pendidikan Berbasis Al-Quran: Tafsir, Akhlak, dan Krisis Pendidikan Modern

Penulis

Abdul Basit

Penerbit

CV Kontradiksi Indonesia Grup

Tebal

vi + 102 halaman

Tahun

2026

Harga

-

Contradixie, Katalog Buku ini lahir dari kegelisahan atas krisis pendidikan modern yang kian terasa kehilangan ruh—sebuah sistem yang berhasil melahirkan individu-individu cerdas secara intelektual, tetapi sering kali rapuh dalam dimensi moral dan spiritual. Pendidikan direduksi menjadi sekadar instrumen pencapaian akademik dan kompetisi, sementara pembentukan karakter, kesadaran etis, dan kedalaman makna justru terpinggirkan. Dalam situasi ini, penulis mengajukan satu pertanyaan mendasar: ke mana pendidikan harus kembali menemukan pijakannya?

Melalui pendekatan tafsir, buku ini mengajak pembaca untuk kembali menempatkan Al-Qur’an sebagai fondasi utama dalam membangun pendidikan yang utuh dan bermakna. Al-Qur’an tidak hanya dibaca sebagai teks normatif, tetapi sebagai sumber nilai yang hidup—yang mampu membimbing manusia dalam memahami diri, realitas, dan tujuan keberadaannya. Dengan demikian, pendidikan tidak lagi dipahami sebagai proses mekanis transfer ilmu, melainkan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya: berakal, berakhlak, dan berkesadaran spiritual.

Buku ini memadukan kekayaan tradisi tafsir klasik dengan pendekatan tarbawi yang berorientasi pada pembentukan manusia, serta refleksi hermeneutika kontemporer yang membuka ruang dialog antara teks dan konteks. Dari konsep uswatun hasanah, relasi guru-murid, hingga metodologi tafsir seperti sabab nuzul dan pendekatan tematik, penulis menunjukkan bahwa warisan keilmuan Islam memiliki potensi besar untuk merumuskan paradigma pendidikan yang lebih manusiawi dan transformatif.

Lebih jauh, buku ini menegaskan bahwa tafsir bukan hanya disiplin keilmuan yang bergerak di ranah akademik, tetapi juga jalan praksis untuk merespons tantangan zaman. Di tengah krisis akhlak, kaburnya kebenaran di era post-truth, serta disrupsi teknologi digital yang mengubah cara belajar dan berpikir, tafsir hadir sebagai jembatan yang menghubungkan wahyu dengan realitas kontemporer. Ia tidak hanya menafsirkan teks, tetapi juga menafsirkan kehidupan.

Pada akhirnya, karya ini menawarkan sebuah visi pendidikan Islam yang tidak berhenti pada romantisme masa lalu, tetapi bergerak aktif menjawab persoalan masa kini. Sebuah pendidikan yang tidak hanya relevan secara intelektual, tetapi juga transformatif secara moral dan spiritual—membentuk manusia yang tidak sekadar tahu, tetapi juga mengerti, merasakan, dan bertanggung jawab atas makna hidupnya.

 

Comments

Popular Posts