Katanya Sabar, kok masih Ngomongin di Belakang?



Istiadah Afifi*

Sifat sabar sering dibutuhkan ketika seorang muslim mendapatkan cobaan atau masalah dalam kehidupan. Dengan mempraktikkan teori sabar, maka ia akan terbiasa menghadapi masalah dengan perasaan yang lebih tenang.

Lalu bagaimana jika katanya sabar, tapi masih ngomongin di belakang? Semisal si A ngantri mandi ketika di pondok tiba-tiba ada si B yang ingin menyela karena si B buru-buru mau ada acara. Si A bilang pada si B, Iya gapapa, aku sabar kok nunggu kamu sampai selesai.

Setelah si B masuk, si A bilang ke si C kalo si B itu bla bla bla. Dalam hadit yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dijelaskan tentang pengertian gibah secara jelas. Abu Hurairah menyampaikan: Nabi pernah bertanya pada para sahabatnya (HR Muslim no 2589):

 

“Tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat menjawab: “Tuhan dan Nabi -Nya yang lebih mengetahui”. Lantas beliau menjelaskan: “(Ghibah) itu ialah engkau menyebut (keburukan) saudaramu yang ia tidak suka”. Ada yang bertanya: “Bagaimana sekiranya, jika yang ada pada saudaraku itu memang benar seperti yang ku katakan? Beliau menambahkan: “Jika benar ada padanya apa yang engkau katakan itulah yang namanya ghibah. Dan jika sekiranya apa yang engkau katakan tidak ada pada saudaramu, itu namanya fitnah”.

 

Hakikat sabar dalam Al-Quran adalah kemampuan bertahan. Mengendalikan diri baik ketika berada dalam damai atau pun perang, kemampuan bertahan dalam menjalani tugas sebagai manusia, dan kemampuan bertahan dalam menghadapi hal-hal yang menyebalkan (Hadi, 2018) 

Ketika kita diam saat dihina, ketika kita lebih memilih diam meredam emosi dan mendiskusikan dengan kepala dingin saat kita terlibat dalam permasalahan, itulah yang dinamakan sabar.

Kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan mengikuti sifat sabar yang dicontohkan oleh Nabi. Dalam hadis lain dijelaskan (Nawawi, 2014): 

 

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian dan bahwa Tuhan, apabila menyayangi atau mencintai suatu kaum, maka Tuhan akan mengujinya dan bagi siapa saja ridha, maka baginya keridaan dari Tuhan dan barang siapa yang membencinya, maka baginya kebencian dari Tuhan.”

 

Jadi, bersikap sabar itu sangat sulit. Kita harus membiasakan bersikap sabar. Berawal dari paksaan dan akhirnya akan menjadi kebiasaan. Karena buah dari sabar adalah keridaan Tuhan: kebahagiaan serta kebaikan. 

 

*Penulis adalah mahasiswi Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Annur Yogyakarta

Ikhlas itu Mengalir dan Sabar adalah Jalan

Oleh: Mahmudzatun Nisa*

Pembahasan mengenai sabar dan ikhlas merupakan pembahasan yang penting. Mereka berkaitan dengan Islam di mana sedikit dari kita mengamalkan perilaku ini.

Sabar dan ikhlas saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Ikhlas bukan hanya bersih hati, bukan kita pasrah pada cobaan. Akan tetapi, ikhlas itu seperti mengikuti arus air. Mengalir.

Adapun sabar adalah cara kita berlapang dada atas musibah yang menimpa. Memahaminya juga dapat dikatakan sebagai “jalan” yang harus dijalani sambil terus berusaha mencari pemecahannya. Mereka mudah diucapkan namun sulit dilakukan. Sebab itu, sebagai muslim kita harus barusaha untuk menjadi orang yang sabar dan ikhlas.

Diceritakan dalam tafsir Imam Thabarani atas Surah al-Anbiya':35 bahwa setiap orang yang bernyawa akan merasakan mati. Setiap yang hidup akan diuji dan dengan metode yang berbeda satu sama lain.  

Ayat ini diturunkan karena Allah akan menguji hambanya dengan keburukan dan juga kebaikan. Hal ini dalam rangka untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

Ayat tersebut diturunkan untuk menunjukkan bahwa dalam kehidupan pasti terdapat suatu masalah. Meski demikian, hal tersebut bukan tujuan utama melainkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita. Misalnya, ketika kita melihat anak SD yang mau masuk sekolah, dia pasti akan dihadapkan dengan ujian untuk menilai kualitasnya.

Qana’ah terhadap kedua hal itu merupakan jalan terindah. Tuhan tahu mana yang terbaik bagi semua makhluknya. Sebagai makhluk-Nya, kita diharuskan untuk tetap berikhtiar dan yakin bahwa setiap apa pun yang telah diberikan oleh Allah adalah yang terbaik. Oleh karena itu, jangan tergesa-tergesa karena semua hal pasti ada waktunya, ada porsinya, dan tunggu saja sambil terus berdoa. Jika hal itu baik untukmu, maka akan datang. Yakinlah bahwa semua akan indah pada waktunya.

Apa benar sabar berkaitan dengan ikhlas?

Orang yang sabar akan merasa ikhlas ketika dia kehilangan dan orang ikhlas akan merasa rela ketika dia kehilangan sesuatu. Apa ikhlas bisa diperoleh dengan instan? Ikhlas adalah rangkaian panjang berupa kumpulan dari berbagai ikhtiar, bermacam-macam rasa, dan beragam proses.

Proses ini bisa kita amati dari kisah-kisah para nabi dan rasul, seperti Maryam yang harus hamil tanpa pernah dekat dengan laki-laki mana pun, Ibrahim yang harus meninggalkan keluarga tercintanya, dan sebagainya.  

Menurut Imam Nawawi dalam Riyadh al-Shalihin kata sabar bukan hanya merujuk pada makna bertahan atau menahan diri, tetapi juga mengusahakan kebenaran tersebut dengan menjalankan ikhtiar sekaligus menjaga diri kita tetap dalam keadaan sadar, serta menjadi pemenang dalam menghadapi setiap musibah dan cobaan.

Diimplementasikan dalam kehidupan seorang mukmin yaitu menyadari bahwa kesabaran adalah ketabahan dalam menghadapi bencana. Konsep sabar dalam Riyadh al-Shalihin yang dapat diambil ide dasarnya dan diterapkan—untuk konteks pendidik misalnya—adalah seorang pendidik penting untuk memberikan teladan kepada mahasiswa dengan senantiasa bersikap sabar, tenang, tidak cepat marah, baik dalam kehidupan sehari-hari, dan sabar saat menghadapi suatu masalah.

 

*Penulis adalah mahasiswi semester III Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT) Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Annur Yogyakarta


Serangan Pandemi VPMR (Virus Polisi Musuh Rakyat) Di Indonesia

Disclaimer! 

Tulisan ini disusun oleh penulis berdasarkan pengamatan penulis terhadap beberapa peristiwa yang terjadi di sebuah negara yang menjunjung tinggi HAM, kehormatan wanita, dan menjamin keamanan juga nyawa setiap penduduknya. Tulisan ini tidak fiktif belaka apabila ada kesamaan peristiwa dalam tulisan ini dengan peristiwa yang terjadi di sekitar anda, segeralah melapor dan jangan lupa sertakan #PercumaLaporPolisi.


Oleh: Alin Adzkanuha*

Sepanjang 2021 Indonesia terus diterpa badai musibah. Mulai dari Covid-19 yang entah sampai kapan akan terus dikomersialisasi, Semeru yang baru-baru saja memuntahkan dahak erupsinya, tsunami di Lombok yang kurang mendapat perhatian media, hingga fenomena maraknya kasus pidana yang dilakukan oleh pihak aparatur negara kepolisian. Maaf, saya ralat oknum kepolisian.

Miris dan mengundang emosi kalau kita sadar semakin banyak saja berita-berita yang tayang di berbagai media terkait tindak pidana oleh pihak yang disebut oleh atasannya sebagai oknum kepolisian. Miris karena mereka yang seharusnya mencegah dan memberantas tindakan pidana justru mereka yang memerankan tokoh pelaku dalam kasus tindakan pidana.

Mengundang emosi? Sudah tentu, siapa yang tidak naik pitam menyaksikan dan mendengar berita lucu seperti itu. Bahkan, umpatan kesal serupa BANGSAT pun jika ditujukan pada aksi para oknum yang melakukan tindak pidana seperti itu saya rasa akan dicatat oleh malaikat sebagai tindakan mulia. Tindak pidana mereka yang mengaku manusia ini sungguh di luar nalar manusia, mulai dari pelecehan seksual, pembunuhan, pencurian, dan berbagai kasus tindak pidana lain yang sungguh mengherankan bagaimana bisa tokoh pelakunya diperankan oleh oknum kepolisian.

Apakah saya berlebihan atau justru terlalu halus dalam menggambarkan bencana ini adalah murni hak para pembaca untuk menilainya. Sebentar, sebelum melakukan penilaian berikutnya saya akan ceritakan sebuah kisah lucu yang bukan fiktif belaka di negara yang sebagaimana sudah saya sampaikan pada disclaimer “menjunjung tinggi HAM dan menjamin keamanan penduduknya”.

Kisah berlatar tempat di Kabupaten Tangerang. Alkisah seorang mahasiswa ditemukan terbujur lemas tak sadarkan diri setelah tubuhnya dibanting oleh seorang “oknum” polisi saat aksi demo di depan kantor bupati Kabupaten Tangerang, Banten. Terekam dalam sebuah video aksi pengamanan yang tidak sesuai dengan SOP tersebut memperlihatkan seorang polisi melakukan adegan kekerasan dengan membanting tubuh seorang mahasiswa ke trotoar.

Saking kerasnya bantingan oknum tersebut, sang mahasiswa langsung terkapar pingsan setelahnya. Entah atas dasar takut terjerat hukum atau empati sesama manusia, sang polisi mungkin baru sadar kalau yang telah ia banting adalah seorang manusia yang seharusnya ia ayomi sebagai aparatur negara sehingga segera polisi tersebut berusaha mengembalikan kesadaran mahasiswa yang pingsan itu. Mahasiswa tersebut tak kunjung sadar hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk pemulihan. Pascainsiden, Kapolda Banten Irjen Polisi Rudy Heriyanto dan Kapolresta Tangerang Kombes Wahyu Sri Bintoro memohon maaf atas kejadian yang dilakukan oleh bawahan mereka kepada korban dan keluarga korban. Tamat.

Sekarang, mari kita sedikit mengulas kisah tersebut. Awalnya saya merasa heran, bagaimana bisa seorang anggota dari sebuah lembaga negara yang tugasnya menegakkan hukum malah main hukum sendiri (red; smackdown). Ternyata setelah saya menelisik apakah ada peristiwa serupa yang terjadi di waktu lalu, rasa heran saya berubah menjadi geram karena ternyata menurut data Komisi untuk Orang hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS) mengatakan bahwa sejak Juni 2020 sampai Mei 2021 terdapat 651 kasus kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Padahal menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2003 Pasal 4 Poin A disebutkan bahwa aparat kepolisian diwajibkan untuk memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan dengan sebaik - baiknya kepada masyarakat. Husnuzhon saya, sepertinya rasa sayang dan cara polisi tadi mengayomi adalah memang dengan seperti “itu”. Bukankah mereka yang posesif dan mereka yang membebaskan pasangannya juga atas dasar cinta melakukannya.

Masih banyak kasus bencana pandemi VPMR (Virus Polisi Musuh Rakyat) yang disajikan di berbagai media, entah varian yang menyerang nyawa seperti kasus pembunuhan 2 wanita Medan oleh polisi yang tak terima dikomplain, atau varian yang mengotori kehormatan wanita seperti kasus di Mojokerto, di mana seorang polisi menghamili pacarnya lalu memaksanya untuk aborsi hingga sang pacar frustasi dan memutuskan bunuh diri, atau varian yang gejalanya berupa terkikisnya rasa kemanusiaan seperti kasus penghentian penyelidikan atas laporan seorang ibu di Luwu timur, Sulawesi Selatan terkait pemerkosaan ketiga anaknya yang masih dibawah umur oleh mantan suaminya sendiri yang berarti juga merupakan ayah dari ketiga anak tersebut.

Belum terlihat jelas, langkah pemerintah dalam penanganan sekaligus pencegahan penyebaran terhadap pandemi VPMR (Virus Polisi Musuh Rakyat) di negeri ini. Sejauh ini, rakyat masih bergerak atas inisiatif sendiri seperti gerakan #PercumaLaporPolisi, #OknumAparatBrengsek, #PolisiMusuhRakyat, dan beberapa gerakan lain yang tujuannya adalah agar segera mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Bukankah sudah menjadi tradisi di negeri ini bahwa untuk mendapatkan keadilan tidak cukup dengan menjadi benar, syarat berikutnya adalah viral dan mendapat desakan dari publik.

Tentu, tidak setiap polisi termasuk bagian dari pandemi VPMR (Virus Polisi Musuh Rakyat), tak sedikit juga polisi yang masih baik dan menjalankan segala kewajiban sebagaimana seharusnya. Yang menjadi bagian dari pandemi VPMR hanya “oknum” saja kok. Iya, oknum yang kian hari kian terlihat jelas di hadapan publik, oknum yang kian hari kian menyebarkan pandeminya dengan segala variannya. Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang sempat melunakkan hati saya dan mendinginkan emosi saya, saya sadar bahwa VPMR (Virus Polisi Musuh Rakyat) ini juga sebenarnya adalah manusia yang sama seperti kita. Sama-sama memiliki nafsu, sama-sama punya ambang kesabaran, sama-sama punya peluang untuk melakukan kejahatan, dan tentunya sama-sama punya kesempatan untuk bisa berubah menuju lebih baik.

Tapi, jangan sampai kita terlena dengan fakta itu, fakta bahwa mereka adalah manusia yang sama seperti kita juga tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan perlakuan mereka bukan? Mari kita coba analogikan kasus ini. Seorang pemuka agama dan jemaatnya sama-sama manusia, yang artinya sama-sama memiliki kewajiban yang sama sesuai agamanya. Akan tetapi pemuka agama memiliki tanggung jawab juga kewajiban yang lebih untuk selalu menunjukkan hal-hal yang dibenarkan agamanya dan selalu melarang hal-hal yang tidak dibenarkan agamanya kepada seluruh jemaatnya. Kenapa? Padahal sama-sama manusia. Karena pemuka agama secara struktur sosial memiliki kewajiban sebagai teladan dan pilar utama dalam penegakan fondasi agamanya. Sama halnya dengan polisi, secara struktur sosial mereka memiliki peran dan kewajiban untuk menjadi contoh baik dalam bernegara dan bersosial karena mereka adalah pengayom dan pengaman masyarakat.

Apabila selalu mengatasnamakan oknum dalam setiap kasus, rasanya dengan jumlah kasus yang banyak saya pribadi sulit untuk bisa menerima istilah oknum yang digunakan sebagai kambing hitam oleh pihak kepolisian. Di akhir muncul pertanyaan, siapa yang sebenarnya dibela oleh polisi? Rakyat? Penguasa? Atau kepentingan pribadi mereka? Haruskah rakyat berperan menjadi lawan polisi? Silahkan dijawab sesuai dengan keyakinan masing-masing pembaca. Berharap di 2022 yang sudah di hadapan mata ini, VPMR (Virus Polisi Musuh Rakyat) kian mereda, terlebih lagi punah dari negeri kita.

*Penulis adalah Santri Krapyak Yogyakarta  

 

Popular Posts