Identitas buku
Judul : Beloved
Penulis :
Toni Morrison
Penerjemah :
Endah Raharjo
Tahun Terbit : 2026
Penerbit :
Pojok Cerpen
ISBN : 978-623-5869-71-1
“Ada
kesepian yang dapat dibuai diayun-ayunkan. Lengan disilangkan, lutut ditekuk ke
atas; mendekap, bertahan. Tidak seperti goyangan
kapal, ayunan ini menenangkan dan menenteramkan. Ini kesepian
yang menikam dalam-dalam—seperti kulit melekat erat. Dan, ada kesepian yang gentayangan. Tidak ada buaian yang mampu menenangkannya.
Kesepian
yang hidup, yang bernyawa. Sesuatu yang kerontang yang menyebarkan kehampaan
yang membuat langkah kaki sendiri terdengar serupa gaung di Lorong yang tak
berujung.”
(Hal. 444)
Wajar jika ada ketakutan tersendiri ketika
hendak membaca buku ini pertama kali. Sempat mendengar bahwa ini bukan buku
yang mudah, bukan bacaan yang ringan, dan bukan isu yang banyak diangkat dalam
sebuah tulisan. Namun rupanya saya sedikit nekat juga untuk memulai, padahal bukunya
cukup tebal. Kira-kira akan berapa lama saya menamatkannya.
Tidak usah ditebak-tebak, karena memang cukup
lama. Meskipun ya masih di batas normal. Buku ini sudah kubawa dari satu warung
kopi ke warung kopi selanjutnya dan tidak tamat-tamat juga. Nyaris dua
bulan, atau justru lebih, barulah saya berhasil. Awalnya memang sedikit tertatih
untuk mengikuti alurnya, meski tetap saja alasan lama menyelesaikannya karena
tidak meluangkan waktu, bukan karena kesulitan dalam pembacaan. Saya mengakui
bahwa buku ini membutuhkan konsentrasi lebih ketika membacanya. Ada beberapa
informasi yang disampaikan seperti sambil lalu saja, tapi sebenarnya itu adalah
bagian-bagian penting. Bagian yang, jika luput kamu perhatikan, maka selanjutnya
akan kebingungan, atau setidaknya merasa ada yang hilang.
Saya harus memulai dari mana ya. Barangkali
dari pengantar si penulis sendiri yang merasa bahwa menuliskan buku ini merupakan
sebuah cara untuk memberikan suara pada seorang ibu, korban perbudakan, yang
memilih membunuh anaknya daripada harus berakhir menjadi seorang budak. Kita dihadirkan
sebuah kisah yang memotret secara utuh bagaimana perbudakan terhadap
orang-orang kulit berwarna yang dilakukan oleh orang-orang kulit putih demikian
kejinya hingga mampu membuat seorang ibu rela menghilangkan anaknya untuk
selamanya daripada harus mengalami kekejaman serupa, atau bahkan lebih. Cukup Sethe
yang pernah merasakan segala jenis belenggu dan tak punya harga diri sebagai
manusia, anak-anaknya jangan. Cukup air susunya yang diperas sampai habis,
cukup punggungnya yang dipecut hingga berdarah-darah, keturunannya jangan.
Sejumlah nama hadir dalam buku ini sebagai
tokoh yang memperkaya kisah-kisah dari orang-orang kulit berwarna yang telah
mengalami masa-masa paling kelam sebagai budak. Ada Baby Suggs yang akhirnya
ditebus oleh anaknya, ada Halle, anak dari Baby Suggs yang membayar kebebasan ibunya
dengan bekerja sekian tahun lagi bersama keluarga Garner, ada Paul D yang telah
merasakan segala jenis penyiksaan, dan juga Sixo yang akhirnya mati dibakar. Ada
beberapa tokoh lain juga seperti Denver, anak dari Sethe, dan Stamp Paid yang memberikan
pertolongan pada sejumlah orang kulit berwarna.
Terdapat banyak narasi dalam buku ini yang
kedengarannya terlalu lirih, terlalu dalam, sehingga membuat saya beberapa kali
ingin menangis. Ketika Sethe memberikan penjelasan pada Paul D tentang
alasannya membunuh buah hatinya sendiri. Bahwa pada akhirnya ia merasakan
sebuah kebebasan untuk bertindak, untuk memiliki keinginan, untuk memutuskan
sesuatu, untuk mencintai anak-anaknya. Setelah sekian lama hanya terikat,
terbelenggu oleh pemiliknya, yang untuk sekadar menikmati bintang di langit pun
ia tidak berhak. Lalu apakah kebebasan yang ternyata seistimewa itu boleh
menghalanginya dalam menentukan mana takdir yang akan dipilihkan untuk
anak-anaknya. Padahal sudah jelas bahwa orang kulit berwarna selalu akan
berakhir menjadi budak, diperjualbelikan, dilelang, diperalat, dimanfaatkan
sampai akhirnya tidak berguna lagi. Maka, jika kamu seorang ibu dengan seorang
anak di gendonganmu yang akan direbut oleh orang-orang kulit berwarna,
menurutmu tindakan apa yang akan kamu lakukan?
Usai melahirkan seorang anak perempuan pada
akhir November 2022 lalu, saya pernah mengalami kekalutan yang teramat sangat. Ketika seorang
manusia hadir dalam hidup saya dan segala pikiran buruk seketika memenuhi
kepala. Melihatnya terbalut kain bedong, wajahnya yang mulus dan polos,
menggeliat-geliat, setiap beberapa jam menangis meminta susu. Saya merasa bahwa dunia ini, semakin ke sini semakin tidak layak dihuni.
Tapi bukan hanya perihal dunia ini, juga perihal ketakutan saya kehilangannya. Ternyata
itu menciptakan cengkraman di dalam kepala saya dan membuat saya berpikir bahwa
ada baiknya jika dulu dia tidak pernah lahir saja. Akan lebih baik untuk kami
berdua ketika tidak pernah sekalipun ia hadir di dunia ini. Penyesalan itu menghantui.
Kadang muncul keinginan agar si bayi mati saja mumpung masih kecil. Agar ia
tidak perlu merasakan dunia terlalu lama, mengalami ketidakramahannya, juga
agar saya tidak perlu merasakan kecemasan terus-menerus.
Mengapa saya menceritakan ini. Barangkali karena
antara Sethe dan saya kala itu, pernah ada di satu momen yang sama. Bahwa lebih
baik anak mati di saat masih bayi daripada harus mengalami hidup di dunia yang
serba tidak adil ini. Bedanya bahwa saya mengalami itu di fase baby blues, adapun
Sethe mengalaminya setelah benar-benar merasakan segala jenis penyiksaan yang
tidak seharusnya dialami seorang manusia pun, apalagi jika itu sudah membudaya,
dilakukan oleh sekelompok manusia lain yang merasa lebih istimewa dari manusia
lainnya hanya karena berbeda warna kulit.
Tentu saja apa yang saya alami tidak dapat
dibandingkan sepenuhnya dengan pergolakan batin Sethe. Pergolakan batin saya disebabkan
oleh hormon, sementara Sethe oleh trauma masa lalu yang masih menyertainya
setiap waktu.
***
Beloved
dalam buku ini adalah anak perempuan Sethe yang dibunuhnya. Sesosok hantu yang muncul kembali di rumah 124 dan tinggal di sana selama
beberapa waktu. Mulanya tidak ada yang sadar bahwa ia adalah anak Sethe yang
telah meninggal, namun kemudian semuanya tahu bahwa sosok perempuan yang
mengaku bernama Beloved itu ialah anak Sethe yang kembali dari kematiannya.
Beloved
datang menagih perhatian dan kasih sayang dari Sethe yang belum sempat dirasakannya
di masa dulu. Sethe yang merasa bersalah dan berutang kasih sayang terhadap Beloved
menuruti segala keinginan putrinya. Namun Beloved semakin sulit dipuaskan,
sementara Sethe semakin kehilangan akal dan dirinya sendiri.
Ada yang menarik pada bagian ini. Sosok Beloved
yang dinarasikan hadir, mewujud sebagai sebuah sosok di rumah 124, membawa perubahan
baru dalam kehidupan Sethe dan Denver. Saya lebih suka membacanya sebagai
sebuah manifestasi trauma. Jadi Beloved sebenarnya hanya mewujud dalam kepala Sethe, Denver,
Paul D, dan orang-orang yang pernah berinteraksi dengan rumah 124. Dia tidak benar-benar
mewujud. Layaknya dalam sebuah adegan film, pada adegan akhir kita akan
disuguhkan kebenarannya. Cuplikan beberapa adegan dimunculkan, tapi
kali ini sosok Beloved ternyata tidak ada di sana. Hanya dalam kepala saja.
Mengapa saya lebih suka menganggapnya
begitu, karena melihat bagaimana Sethe kemudian berakhir seperti orang yang
telah kehilangan akal. Ini biasanya terjadi karena muncul semacam perasaan
bersalah dalam dirinya, menghantuinya setiap waktu, membuatnya bertindak
seolah-olah ia ingin membayar ketidakadilan yang ia lakukan pada Beloved, rela
kehilangan dirinya sendiri, tidak lagi peduli pada apa pun dan siapa pun selain
Beloved, hingga akhirnya ia tidak lagi sanggup mengatasinya sendirian.
Bagaimana
dengan orang-orang di sekitarnya yang juga turut menyaksikan kehadiran Beloved.
Saya tetap akan menganggapnya sebagai proyeksi psikologis semata. Paul D,
Denver, Stamp Paid, atau siapa pun yang berinteraksi dengan Beloved, mereka
hanya terbawa suasana. Aura yang dipancarkan dalam rumah 124 itu mau tidak mau
mengubah cara orang-orang dalam mencerna suasana yang dirasakan. Rumah yang
terasa berhantu hanyalah di perasaan di pikiran, tapi tidak jarang menjelma sebagai
sebuah wujud. Jelmaan yang sebenarnya diciptakan oleh pikiran sendiri dan
akhirnya dipercaya sebagai sebuah kebenaran.
Saya
semakin yakin dengan ini ketika orang-orang menyambangi rumah 124 dan mendapati
diri mereka sendiri di sana:
“Ketika
mereka sudah berkumpul, semuanya 30 orang, dan tiba di rumah 124, yang pertama
mereka lihat bukanlah Denver yang sedang duduk di tangga beranda, melainkan
diri mereka sendiri. Lebih muda, lebih kuat, bahkan sebagian masih bocah yang
terbaring lelap di atas rumputan.” (Hal. 418).
“Namun,
saat itu, mereka ada di sana, masih muda dan bahagia, bermain di halaman rumah
Baby Suggs, tanpa adanya rasa dengki yang muncul keesokan harinya.” (Hal. 418).
Narasi
di atas seolah membawa kita pada adegan film yang menampilkan tokoh sedang
menyaksikan masa-masa yang telah lalu ketika akhirnya mengunjungi sebuah tempat
yang lama tidak disambanginya. Semua kegiatan yang pernah dilakukannya di
tempat itu pada waktu lampau seperti terputar kembali.
***
Beberapa
waktu lalu saat membaca sebuah bab dalam buku ini dan mendapatkan gaya
penulisan berbeda, saya sempat bertanya pada penerbit. Takutnya itu merupakan
salah cetak, namun ternyata memang dari naskah aslinya sudah seperti itu. Beberapa orang kemudian memberikan penjelasan bahwa itu bagian dari teknik
penulisan. Biasanya
sastrawan besar justru menyukai bentuk-bentuk demikian. Saya kemudian tersadar
satu hal. Dalam bab tersebut naratornya memang berganti, jadi sudah pasti
itulah penyebab gaya penulisannya berbeda. Tidak lama kemudian muncul penjelasan dari Mbak Endah Raharjo sebagai
penerjemah. Saya berterima kasih karena akhirnya tahu bagaimana cara membaca
teks tanpa tanda baca tersebut. Rasanya seperti membaca saja dan tidak ada yang
melekat di kepala. Akhirnya saya berhenti dulu. Namun kata Mbak Endah, sebaiknya
dibaca seperti membaca puisi. Saya melakukan seperti yang disarankan dan benar
saja, lebih asik.
Ada begitu banyak kutipan yang saya tandai dalam
buku ini, saya akan mencantumkannya beberapa:
“Ada pohon di punggungku dan hantu di
rumahku, dan tidak apa pun di luar itu selain putriku yang kudekap ini. Aku tidak
mau lari lagi—dari apa pun. Aku tidak akan pernah lari lagi dari apa pun di bumi
ini. Aku hanya
membeli tiket satu jalan ke tempat ini dan tidak akan pergi lagi ke mana pun.” (Hal. 22)
“Sepanjang
hidup Baby Suggs, seperti halnya hidup Sethe, laki-laki dan perempuan
dipindah-pindahkan serupa biji halma. Setiap orang yang dikenal Baby Suggs,
apalagi yang ia cintai, yang tidak melarikan diri atau digantung, akan
disewakan, dipinjamkan, dibeli, dikembalikan, dikerangkeng, digadaikan,
dimenangkan, dicuri atau disingkirkan.” (Hal. 35)
“Ada
seorang gadis budak berusia Sembilan belas tahun—setahun lebih tua dari dirinya—berjalan
menembus hutan gelap untuk menemui anak-anaknya di tempat yang jauh. Ia lelah, mungkin takut, dan mungkin bahkan tersesat. Dan terutama, ia
sendirian dan di dalam rahimnya ada bayi lain yang juga harus ia pikirkan. Di belakangnya
mungkin ada anjing; mungkin senjata api; dan tentu saja gigi-gigi yang berjigong.
Ia tidak begitu takut berjalan di malam hari karena malam sewarna kulitnya,
tetapi di siang hari setiap suara terdengar serupa tembakan atau langkah para
pelacak yang mengendap-ngendap.” (Hal. 123)
“Aku dan kamu punya lebih banyak masa lalu daripada
orang lain. Kita butuh sesuatu untuk masa depan.” (Hal. 443)








.jpeg)