Dari tulisan-tulisan Mahfud Ikhwan kita bisa memahami bahwa tidak ada yang terlalu remeh untuk diceritakan. Semua bisa menjadi penting untuk dibahas, layak untuk dibaca, dan memang pantas untuk diceritakan kembali. Dari kakus sampai kates, tidak ada yang tidak terlalu penting. Semua bisa dijadikan sebagai bahan masakan, disajikan dalam keadaan yang menggugah selera.
Pertanyaannya kemudian, apakah kita, dengan bahan yang mungkin jauh lebih melimpah dari Mahfud Ikhwan, juga bisa menyajikannya selezat, atau justru lebih lezat ke meja pembaca?
Pada kenyataannya kita butuh lebih dari sekadar bahan. Kita juga butuh keahlian memasak seperti Mahfud. Sebab memang, tidak semua orang bisa atau harus menjadi koki. Ada yang hanya cukup menjadi penyicip, penikmat sajian dari sang koki.
Mengutip kalimat Cak Mahfud di Kios Domisili kemarin, "kalau memang merasa tidak punya kemampuan untuk menulis, maka sebaiknya tidak perlu dipaksakan. Omong kosong dengan kalimat Pram yang bilang kalau tidak menulis akan hilang dari sejarah. Kamu lihat, G*br*n... dia akan selamanya dicatat sejarah, padahal dia tidak menulis."
*
Ada banyak catatan yang kudapatkan dalam perjumpaan dengan Cak Mahfud kemarin. Utamanya, yang paling utama, terkait buku jelek dan buku bagus. Tapi jujur, aku juga agak takut membahasnya di sini.
Dalam postingan ini aku benar-benar ingin mengucapkan terima kasih pada Remahan Cerita karena telah menyediakan ruang bagi pembaca di Blitar, khususnya perempuan, dan lebih khusus lagi saya, yang selama ini benar-benar kebingungan jika ingin membahas buku secara tatap muka.
Sebagai pendatang baru di Blitar, tidak punya kawan dan tidak punya relasi, rasanya sangat bersyukur ketika pada akhirnya bisa berjumpa dengan perempuan-perempuan ini, yang memiliki minat, pandangan politik, dan keresahan yang sama.



.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)