Kartika Kopi Jombang: Mont Blanc, Dirty Latte, dan Pengalaman Tidak Terlupakan

Contradixie
0


Sebulan lalu aku bertandang ke Jombang karena sedang ada urusan. Sehari sebelum keberangkatan dari Blitar, aku mengajukan tanya ke salah dua aplikasi media sosial; Threads dan X (dulu twitter). Intinya aku meminta rekomendasi cafe di Jombang yang kopinya enak, atau suasananya nyaman. Tidak ada yang merespons di Threads, tapi untungnya seseorang yang kukenal di X mencolek mutualnya yang warga Jombang. Muncullah tiga rekomendasi kedai kopi di Jombang, yang menurutnya, setidaknya mont blanc, dirty latte, dan magic-nya sangat juara. Nama Kartika Kopi muncul di rekomendasi paling utama.


Alangkah bahagianya mendapatkan rekomendasi sesuai dengan keinginan. Belakangan aku memang sedang eksplorasi mont blanc dan dirty latte sebab sudah memutus hubungan dengan es kopi susu gula aren maupun es kopi susu avocado. 


Tiba di Jombang hampir pukul sepuluh pagi dan aku langsung menuju Kartika. Membuka pintu dan disambut oleh dua orang pegawai yang sangat ramah. Satu perempuan dan satu laki-laki. Sempat bingung ingin membeli makan apa karena saat itu aku bersama anak. Kami dipersilakan membawa menunya dulu jika memang butuh waktu untuk menentukan. Aku sungguh kagum dengan perlakuan baristanya yang terlampau ramah, penuh senyum, gelagat yang sopan, juga intonasi yang bersahabat. Seperti yang sudah direncanakan, aku tentu saja memesan dirty latte, minuman es coklat untuk anakku, serta nasi ayam dengan telur ceplok dan sambal. Aku kagum ketika menanyakan apakah telur ceplok tersebut bisa diganti dengan telur dadar saja dan apakah sambalnya bisa dipisah, berhubung anakku sukanya makan telur dadar dan tidak sanggup makan pedas. Ternyata semuanya bisa. Mereka dengan senang hati menerima permintaan khusus tersebut. Aku juga merasa sangat lega.




Es coklat dan nasi sudah diantarkan, sementara itu dirty latte memang butuh waktu sedikit lebih lama untuk disajikan. Aku paham betul, itu sebabnya aku tidak merasa keberatan. Lalu di tengah-tengah kami menikmati nasi telur dadar, seorang barista mengantarkan es teh. Katanya itu adalah es teh gratis, sepaket dengan nasi yang kami pesan. Sungguh menyenangkan dapat tambahan minuman. Belum juga nasi yang kami nikmati habis, ataupun es teh berhasil kami seruput sampai tandas, listrik tiba-tiba padam. Harusnya hanya sebentar, tapi ketika si barista laki-laki memeriksa meterannya, rupanya ada yang korslet. Petugas biasa pun tidak bisa mengatasinya, lalu akhirnya mereka menelepon pihak PLN.


Perasaanku mulai tidak enak. Dirty latteku bagaimana ini. Padahal sudah kuimpi-impikan sejak semalam. Tapi kayaknya aku bakal batal menikmatinya jika listrik ternyata butuh waktu lama untuk bisa kembali menyala. Dan benar, barista perempuan tadi datang menghampiriku, menyarankan agar aku mengganti pesanan karena kemungkinan dirty latteku bisa disajikan sangatlah kecil. Kami harus menunggu ada aliran listrik, dan itu entah kapan. Dengan sedikit merasa kecewa, wajah yang kebingungan, aku pun sedikit mengeluh, "Bagaimana ya, Kak, aku jadi bingung mau pesan apa, soalnya ke sini memang tujuannya mau minum dirty latte. Direkomedasikan sama teman, katanya di sini dirty lattenya enak."

Mendengar ucapanku, baristanya meminta maaf. Aku sebenarnya tidak kesal, aku tahu keadaannya, tapi aku memang tiba-tiba tidak tahu mau ganti dengan pesanan apa. Sebab di hadapanku sudah ada dua es teh; es teh pertama yang paketan nasi, es teh kedua diantarkan sebagai kompensasi menunggu listrik beroperasi lagi. Kalau mau pesan minuman lain, aku takut perutku begah. Tapi toh pada akhirnya aku memesan mont blanc.




Mont blanc diantarkan tidak lama kemudian. Tampilannya menggoda, tapi aku menurunkan ekspektasi. Mengingat kemarin baru saja habis menikmati menu yang sama di salah satu kedai kopi dan rasanya tidak karu-karuan. Kusesap perlahan busanya, dan mataku membelalak dibuatnya. Aduhai ini enak sekali. Bagaikan langit dan dasar bumi dengan mont blanc yang kunimati terakhir kali. Busanya meletup-letup di mulut, americanonya juga menyatu dengan rasa lemonnya. Mereka sangat kawin. Kalaupun ada rasa pahit yang muncul, itu rasa pahit yang sangat bisa dinikmati. Diam-diam aku berharap kebahagiaan ini tidak segera berakhir. Diam-diam aku juga berterima kasih karena akhirnya memesan mont blanc. Mungkin memang belum takdirnya mencicip dirty lattenya, tapi aku sudah beruntung bisa merasakan salah satu mont blanc terenak yang pernah ada.


Aku masih di kedai kopi ini sampai beberapa waktu kemudian. Saat tengah sibuk mengutak-atik ponsel, tiba-tiba barista laki-laki yang sedari tadi sibuk di bar menghampiriku dengan segelas dirty latte di tangannya. "Ini dirty latte-nya, Kak." Aku cukup terkejut dan sungguh merasa sungkan.


"Lho, jangan, Kak. Aku sudah dapat banyak minuman gratis ini, aku sungkan banget, Kak." Aku berusaha menolak. Bukan untuk berbasa-basi, tapi memang sangat sungkan.


"Gak apa-apa, Kak. Daripada nanti kepikiran." Si barista tersenyum ramah sekali. Akhirnya aku menerima juga dirty latte gratisan itu. Sebelum meninggalkan mejaku, baristnya sempat menjelaskan dirty latte buatannya. Bahwa bijinya blend americano Flores dan entah apa. Aku sungguh lupa.



Kusesap perlahan. Sangat berhati-hati takut gradasinya hancur. Alamak, rasanya aku seperti di surga. Oh, ini tentu dilebih-lebihkan. Tapi aku hanya ingin menegaskan bahwa espressonya yang masih bersisa di sudut-sudut bibir membuatku terpana untuk waktu yang cukup lama. Barangkali ada yang tidak terlalu suka dengan espresso yang oily, tapi aku justru merasa kenikmatan dirty latte yang baru saja kusesap ini, salah satu kuncinya ada di bagian oily-nya. Espressonya juga bukan jenis yang terlalu pahit. Aku bisa menyesapnya dalam ritme yang cepat tanpa perlu merasa terlalu berat. Hingga masuk ke bagian susunya pun aku masih merasa kagum. Ada sedikit rasa manis, bukan yang menusuk, namun bukan juga yang terlalu tipis. Berulang-ulang aku mengucap syukur dalam hati. Masih sedikit tidak percaya kalau ternyata aku ditakdirkan menikmati mont blanc dan dirty latte di waktu yang bersamaan. Mana salah satunya kudapatkan secara cuma-cuma.


Kartika Kopi ini, selain kopinya yang memang enak, pelayanannya juga juara. Keramah-tamahan baristanya patut diacungi jempol. Mereka sigap melakukan tindakan ketika terjadi suatu hal di luar rencana. Misalnya dalam kasus tadi, listrik padam, maka baristanya berinisiatif memberikan kompensasi kepada pelanggan berupa es teh gratis. Atau ketika aku terpaksa harus mengganti pesanan, lalu mereka tetap membuatkan pesanan awalku sekalipun aku sudah tidak memintanya. Mereka tahu mesti melakukan apa agar pelanggan merasa nyaman dan mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Padahal mereka hanya pegawai, tapi mereka memikirkan nasib tempat mereka bekerja. 


Aku sempat membaca sebuah kasus di media sosial, yang mana pegawainya terang-terangan ingin mematikan bisnis tempat ia bekerja. Orang tersebut, sebagaimana sebuah kalimat bijak, disebut sebagai sosok yang meludah di sumur tempatnya mengambil air minum. Dan tentu saja, karyawan Kartika Kopi bukanlah orang-orang yang termasuk dalam golongan tersebut.


Lokasi Kartika Kopi ini berada di sekitaran belakang RSUD Jombang. Sangat strategis dan tidak jauh dari lokasi perayaan Muktamar NU di Ponpes Bahrul Ulum. Jadi, kepada seluruh peserta Muktamar dari mana pun asalnya, mumpung kalian di Jombang, aku menyarankan sempatkanlah mampir ke Kartika Kopi. Berjumpa dengan baristanya yang ramah, mencicipi mont blanc ataupun dirty latte-nya yang gurih, lalu pulang dengan perasaan yang bungah sebab baru saja menjumpai pengalaman yang memikat. Sebab itulah yang kurasakan hingga hari ini, aku sungguh terpikat dengan segala yang kudapatkan di kedai kopi Kartika Jombang.





  • Newer

    Kartika Kopi Jombang: Mont Blanc, Dirty Latte, dan Pengalaman Tidak Terlupakan

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default