Menyaksikan Gerimis Merah di Auschwitz

Contradixie
0




Judul            : Seperti Gerimis Merah di Auschwitz

Penulis         : Triyanto Triwikromo

Penerbit        : KPG

Tahun Terbit : 2025


Kita mengikuti kehidupan Rutha yang ditinggal mati ibu kandungnya, diusir ibu tirinya, dan tak pernah dicari ayah kandungnya. Rutha, katakanlah, seorang diri melewati maut tatkala Hitler memerintahkan pemusnahan terhadap Yahudi di Jerman. Rutha yang merupakan keturunan Yahudi Polandia terlunta-lunta, berpura-pura meninggal di antara mayat-mayat yang tergeletak, lari bersembunyi di dalam terowongan, penuh ketakutan, dibayang-bayangi kematian, bertanya-tanya di mana gerangan Tuhan mengapa diam saja menyaksikan pembantaian ini.


Membaca buku ini rasanya ikutan disiksa. Ditembaki, digantung, dimasukkan ke dalam ruangan penuh gas lalu dibumihanguskan. Cara Rutha berkisah yang melompat-lompat, berceracau, cenderung ngawur, ke mana-mana tidak jelas juntrungannya. Bukan bosan, hanya lelah. Ke mana arah semua ini, Rutha akan membawa kita sampai mana? Tapi sebagaimana Rutha yang berhasil lolos dari maut, sebagai pembaca saya juga harus bertahan membaca buku ini hingga akhir. Karena barangkali itulah yang hendak disampaikan Triyanto, bahwa sedemikian menyiksanya segala yang dialami Rutha hingga kita sebagai pembaca pun bisa ikut merasakannya.



Total sepuluh hari baru bisa menamatkan buku setebal 660 halaman ini. Mengikuti Rutha yang berhasil melewati maut hingga kekalahan Jerman atas Uni Soviet, lalu menyaksikan Rutha diperkosa Tentara Merah namun tetap bertahan, hingga berjumpa dengan Bimo, seniman dari Indonesia yang dituduh komunis. Kisah cinta mereka, atau sebutlah kehidupan seksual mereka, banyak disoroti pada bagian akhir buku ini.


Hanya saja, semakin ke belakang, saat Rutha akhirnya meninggal dunia pada tahun 2006 dan masih menjadi narator atas kehidupan orang-orang hidup, terutama atas Bimo, saya merasa buku ini justru membosankan. Dalam sudut pandang aku, Rutha, menjelaskan bagaimana perasaan Bimo, kehendak Bimo, dan segala tindak-tanduk Bimo yang terlalu tanpa cela dalam mencintai Rutha. Rutha menafsirkan dan sok tahu atas segalanya tentang Bimo. Hingga kemudian semuanya terasa seperti hanya keinginan Rutha agar dianggap seperti itu. Tapi sebagai seorang pembuat film, tidak jago menulis skenario, mungkin memang kita tidak bisa berharap terlalu banyak terhadap cara Rutha bercerita. Itu, jika kita melihat buku ini sebagai kisah yang dinarasikan Rutha.



  • Newer

    Menyaksikan Gerimis Merah di Auschwitz

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default