KETIKA BARAT MENJADI ANCAMAN BAGI AGAMA

Contradixie
0

 

Sumber gambar: Koleksi Canadian Centre for Architecture, Montréal.


Ada satu pengalaman intelektual yang cukup sering terjadi, kita mengenal label seorang tokoh jauh sebelum mengenal pemikirannya. Muhammad Abduh adalah salah satu contohnya. Sejak masa Madrasah Tsanawiyah, nama itu melekat di benak pikiranku dengan satu kata yang hampir final liberal. Label tersebut cukup untuk membentuk sikap waspada, bahkan curiga. Aku menerima penilaian itu tanpa banyak bertanya, lalu membawanya cukup lama sebagai pengetahuan yang dianggap sudah selesai.

 

Baru ketika aku kembali bertemu dengan namanya dalam kajian sejarah pemikiran hukum Islam, aku merasa perlu menunda penilaian itu. Siapa sebenarnya Muhammad Abduh? Apa yang ia kritik dari tradisi keilmuan Islam pada masanya? Mengapa gagasan pembaruannya menimbulkan resistensi yang cukup keras? Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian membawaku ke persoalan yang lebih luas. Mengapa pada abad ke-19 gagasan modern yang secara substantif banyak berkaitan dengan rasionalitas, sains, dan reformasi Pendidikan begitu mudah dicurigai sebagai ancaman terhadap agama?

 

Sejarah intelektual Islam, setidaknya pada masa kejayaan Abbasiyah, memperlihatkan hubungan yang relatif terbuka dengan pengetahuan dari luar. Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Khwarizmi tidak sekadar menerima warisan Yunani atau India, mereka mengolah, mengkritik, dan mengembangkan ilmu-ilmu tersebut dalam kerangka pemikiran Islam. Hubungan dengan pengetahuan asing tidak otomatis dianggap sebagai pengkhianatan terhadap iman. Tentu saja perdebatan antara filsuf, mutakallimin, dan fuqaha selalu ada. Namun, setidaknya sejarah itu menunjukkan bahwa “pengetahuan dari luar” tidak selalu dibaca sebagai ancaman eksistensial.

 

Lantas, apa yang berubah pada abad ke-19?

 

Aku tidak ingin menyederhanakan sejarah pasca-1258 sebagai kemunduran total. Kehidupan intelektual Muslim tetap berlangsung di berbagai pusat keilmuan. Yang lebih signifikan adalah perubahan posisi geopolitik dunia Islam berhadapan dengan Eropa. Ekspedisi Napoleon ke Mesir (1798) dan pendudukan Inggris atas Mesir (1882) bukan sekadar peristiwa militer. Kedua peristiwa itu memperlihatkan bagaimana pengetahuan modern yakni teknologi militer, administrasi negara, sistem pendidikan, dan sains. Hadir bersama dengan dominasi politik yang tidak setara. Barat tidak datang hanya sebagai kumpulan teori atau temuan ilmiah; ia datang sebagai kekuatan yang menduduki, mengatur, dan mengubah struktur kehidupan masyarakat Muslim.

 

Di sinilah posisi Muhammad Abduh menjadi menarik. Ia hidup di tengah krisis politik dan intelektual yang mendalam. Proyeknya memperkuat posisi akal dalam memahami agama, mereformasi pendidikan, dan membuka ruang ijtihad bukanlah upaya naif untuk membawa Barat ke dalam Islam. Ia berusaha menjawab tantangan zamannya dengan cara yang ia anggap paling mungkin menjaga relevansi Islam. Kritik terhadap pemikirannya tentu tidak bisa direduksi semata-mata sebagai akibat trauma kolonial. Ada persoalan teologis yang serius mengenai batas akal dan wahyu, otoritas teks, serta kedudukan tradisi. Namun, konteks historis di mana kritik itu muncul juga tidak boleh diabaikan.

 

Apa yang aku coba pahami adalah kemungkinan adanya ingatan kolektif yang terbentuk dari pengalaman dominasi. Pengalaman itu tidak harus selalu disebut trauma dalam arti klinis. Namun, ia dapat membentuk pola pembacaan, sesuatu yang berasal dari Barat terlebih dahulu dicurigai sebelum isinya benar-benar diperiksa. Ada perbedaan mendasar antara menolak sebuah gagasan setelah mempelajarinya secara serius dan menolaknya karena asal-usulnya sudah lebih dulu dianggap bermasalah.

 

Kesadaran ini membuat saya lebih berhati-hati terhadap label yang dulu aku terima begitu saja tentang Abduh. Label “liberal” atau “tradisionalis” sering kali lebih berfungsi sebagai penutup diskusi daripada pembuka pemahaman. Belajar sejarah pemikiran, setidaknya bagiku, bukan lagi soal memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia lebih merupakan upaya memahami mengapa orang-orang yang sama-sama merasa sedang mempertahankan agama dapat mengambil jalan yang berbeda dan bagaimana konteks kekuasaan turut membentuk perbedaan itu.

 

Aku belum memiliki jawaban yang tuntas. Namun, satu hal kini terasa lebih jelas, langkah pertama untuk memahami persoalan ini bukanlah menemukan jawaban baru, melainkan berani memeriksa kembali jawaban lama yang selama ini tidak pernah dipertanyakan.

Penulis: Ratna

 

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default