Apa yang Sebenarnya Ikan Inginkan?



Aku hari ini bukanlah tragedi yang aku ingin dan harapkan 10 tahun silam. 

Bukan sama sekali. Bagaimana aku sekarang jauh di atas harapanku kala itu. 

Malah, harapanku yang paling tinggi pun masih berada di bawah apa yang sudah kuterima saat ini. 

Dari banyak sisi, aku sudah dianugerahi, katakanlah, kebahagiaan—meski aku ragu dengan istilah ini—dan bahkan aku adalah kebahagiaan itu sendiri. Saking penuhnya anugerah yang menimpaku. 

Namun, kamu tahu, di titik keberlimpahan ini, ada sebagian diriku (alter ego, anggap saja) yang tetap menuntut lebih. Mengoyak. Menginginkan lagi sesuatu yang entah aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. 

Aku menggerutu dalam diam, "Jika kebahagiaan bukan puncak, lalu apa? Mau nyari apa lagi?"

Sependek upayaku memahami gelombang nakal tersebut, rasa-rasanya itu bukan soal objek atau sesuatu yang berusaha (lagi) dicari oleh alterku, tapi sebaliknya. 

Ini soal diriku sendiri. Diriku sebagai manusia yang—dalam sepanjang sejarah—memercayai fiksi. Coba aku ikan, barangkali tidak akan serumit ini. Barangkali. 

Fiksi bagaimana? Ada banyak fiksi di sini. Fiksi tentang di atas langit masih ada langit, tentang tidak ada keserakahan dalam ilmu, fiksi bahwa agar senang di akhirat kamu harus berbuat baik di dunia, bahwa agar bahagia kamu harus di posisi ini, bukan itu (bayangkan, di duniaku bahagia ada ukurannya dan itu dipakai untuk keseluruhan!), bahwa pekerjaan yang keren itu di sini, bukan di situ (di duniaku, keren itu soal tempat, bukan kenyamanan, jadi kamu harus maklum), bahwa menikah yang sangar itu minimal umur 28 tahun (kamu tahu kan siapa yang mengimpor fiksi ini ke duniaku dan untuk apa mereka mengimpor?), dan lain sebagainya.

Fiksi-fiksi ini menjalar bak racun dalam diriku, memberi asupan gizi yang cukup untuk alterku, hingga bisa memberontak kapan pun ia mau. 

Fiksi-fiksi ini seperti gula, bukan virus (sejak ada kasus Luhut dan PCR, aku berjanji pada alterku untuk tidak menggunakan istilah virus lagi, yang artinya di sini kami berdamai) yang manis sekaligus memompa energi pada satu sisi, tapi membunuh pada sisi lainnya.

Dan yang kutahu, Ikan tidak suka gula. Mereka tidak mengenal puncak, tapi sangat akrab dengan kedalaman. (kza) 



Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts