Tabayun Sejarah Kenabian: Perspektif Astronomi


Oleh: Alin Adzkanuha*

Tulisan ini membahas kemungkinan kebenaran hadis dan ketersinambungan peristiwa-peristiwa kenabian dilihat dari kacamata astronomi. Saya meminjam metode penghitungan konversi kalender hijriah ke kalender syamsiah ciptaan Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, seorang peneliti dalam bidang astronomi dan astrofisika.

Patokan Konversi Kalender Hijriah ke Kalender Syamsiah

Kalender hijriah ditentukan berdasarkan penampakan hilal dengan siklus 29,5306 hari sehingga 1 tahun hijriah adalah 354,3671 hari. Berangkat dari teori di atas maka 1 Muharam 1 H apabila dikonversi menjadi tanggal syamsiah akan ditemukan sama dengan 16 Juli 622 M. Dari sini akan kita temukan selisih penanggalan kedua kalender tersebut yang nantinya akan dijadikan patokan dalam penentuan tanggal peristiwa sejarah kenabian.

Kelahiran Rasul

Bertepatan dengan hari Senin, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis bahwa rasul melaksanakan puasa senin karena bertepatan dengan hari kelahirannya, diutusnya menjadi rasul, dan diturunkannya Al-Quran pertama kali (HR. Muslim).

Jabir dan Ibnu Abbas berpendapat, rasul dilahirkan, diangkat menjadi nabi dan rasul, dimikrajkan, hijrah ke Madinah, dan wafat pada malam Senin, 12 Rabi’ul Awwal.

Terdapat banyak sekali pendapat terkait tanggal, bulan, dan tahun dari kelahiran Nabi. Akan tetapi pendapat paling masyhur adalah Senin, 12 Rabi’ul Awwal Tahun Gajah (53 tahun sebelum hijrah/ -53 H). Berangkat dari pendapat ini maka apabila kita konversi ke dalam penanggalan syamsiah/masehi maka kita akan mendapatkan bahwa rasul dilahirkan pada Senin, 5 Mei 570 M.

Peristiwa Pengangkatan Nabi Menjadi Rasul

Sering dijumpai banyak perbedaan pendapat. Yang menjadi kesepakatan umum adalah saat nabi berumur 41 tahun (tahun gajah ke 41/ -13 H). Berangkat dari pendapat Jabir dan Ibnu Abbas maka kita akan mendapati kalender syamsiahnya adalah Senin, 24 Februari 609 M.

Pendapat lain terkait tanggal pengangkatan rasul adalah 17 Ramadan (pendapat ini berdasarkan tafsiran dari QS. 8:41). Maka kalau kita konversikan 17 Ramadan 13 H ke dalam penanggalan syamsiah kita akan menemukan Senin, 25 Agustus 609 M.

Turunnya Al-Quran

Hasbi Ash Shiddieqy dalam pengantar Tafsir Al Bayaan menengarai, Surah Al-Alaq: 1- 5 (ayat nubuwwah atau pengangkatan sebagai Nabi) pertama kali turun pada Rabi’ul Awwal dan ayat risalah (pengangkatan sebagai rasul), Surah Al-Muddatsir turun pada 17 Ramadhan.

Diriwayatkan, setelah menerima wahyu, Nabi pulang ke rumah dan meminta Siti Khadijah untuk menyelimutinya, sedangkan apabila kita mengonversi bulan kamariah turunnya wahyu ke dalam bulan syamsiah dan kita melihat kondisi cuaca atau musim dan letak geografis pada waktu itu, kita akan mendapati bahwa saat turunnya ayat nubuwwah adalah di dataran Arab pada musim semi dan turunnya ayat risalah adalah di dataran Arab pada musim panas.

Peristiwa rasul meminta diselimuti oleh Khadijah adalah menunjukkan betapa tegang dan takutnya rasul saat diberikan wahyu oleh Allah lewat perantara Jibril dalam wujud aslinya sehingga di dataran Arab dan musim yang panas tersebut beliau sampai minta diselimutkan oleh Siti Khadijah.

Peristiwa Isra’ Mi’raj

Kebanyakan mengikuti pendapat Ibnu Katsir yang riwayat sanadnya tidak sahih yakni 27 Rajab 1H bertepatan dengan Rabu, 15 Oktober 620 M. Tetapi apabila mengikuti pendapat Jabir dan Ibnu Abbas yakni pada 12 Rabi’ul Awwal maka bertepatan dengan Senin, 6 November 618 M.

Rentetan kejadian Isra’ Mi’raj adalah sebagai berikut: Malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibelah dadanya dan dibersihkan hatinya kemudian diisi dengan iman dan hikmah.

Lalu Buroq datang dan Nabi melakukan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina

Di Masjidil Aqsha Nabi melaksanakan salat sunah 2 rakaat lalu Nabi dibawakan segelas anggur dan segelas susu oleh Malaikat Jibril dan Nabi memilih segelas susu.

Lalu Nabi melanjutkan perjalanannya yakni Mi’raj dengan menunggangi buroq. Nabi bertemu dengan Nabi Adam (langit ke-1), Nabi Isa dan Nabi Yahya (langit ke-2), Nabi Yusuf (langit ke-3), Nabi Idris (langit ke-4), Nabi Harun (langit ke-5), Nabi Musa (langit ke-6), dan Nabi Ibrahim (langit ke-7).

Di langit ke-7 Nabi melihat Baitul Ma’mur, tepat di mana 70.000 malaikat salat di dalamnya setiap harinya. Setiap malaikat yang telah memasukinya tak akan pernah memasukinya lagi.

Lalu perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (tanaman sidrah). Tempat ini adalah sebagai perbatasan, di mana manusia thau makhluk apa pun tidak akan mengetahui sesuatu yang lebih jauh lagi. Di Sidratul Muntaha Nabi melihat 4 sungai (2 sungau batin dan 2 sungai fisik; Sungai Efrat dan Sungai Nil)

Puncak dari perjalanan ini, yang sekaligus menjadi buah tangan dari Nabi kepada kita sebagai umatnya adalah perintah kewajiban sholat 5 waktu.

Perjalanan Isra’ Mi’raj berbeda dari perjalanan lainnya yang terjadi di muka bumi. Kalau melihat pada ilustrasi dimensi pada gambar di atas, maka dapat disimpulkan setiap perjalanan adalah perjalanan 2 dimensi yang akan melibatkan waktu dan jarak di mana keduanya saling berkesinambungan.

Namun, perjalanan isra’ mi’raj yang dilambangkan dengan garis merah pada gambar adalah perjalanan yang keluar dari dimensi ruang dan waktu sehingga waktu yang dialami nabi adalah berbeda dengan waktu yang sebenarnya terjadi di bumi dan tempat/ruang yang dilihat oleh nabi adalah tempat yang tidak sebenarnya ada di muka bumi.

Peristiwa Hijrah

Terjadi pada tahun 13 Bi’tsah (13 tahun setelah kenabian). Nabi berangkat pada 2 Rabi’ul Awwal dan sampai di Madinah pada 12 Rabi’ul Awwal. Waktu kedatangan Nabi yakni 12 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan Senin, 5 Oktober 621 M. Kalau dilihat ini adalah musim gugur sehingga nabi melakukan perjalanan dalam kondisi cuaca tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas.

Perintah Puasa Ramadan

Mulai diwajibkan pada 2 Sya’ban 2 H atau bertepatan dengan 30 Januari 624 M. Bulan Ramadhan pada tahun ini berarti terjadi pada bulan Februari hingga Maret. Suhu juga relatif sejuk, dan panjang hari normal (siang harinya adalah 12 jam).

Menurut analisis astronomi Rasul hanya berpuasa sebanyak 9 kali. 6 kali selama 29 hari dan 3 kali selama 30 hari.

Perang Badar

Pendapat yang masyhur adalah terjadi pada Jum’at, 17 Ramadan 2 H, Pendapat ini sangat tidak sesuai dengan kenyataannya, karena sebenarnya 17 Ramadan 2H ini bertepatan dengan Selasa, 13 Maret 624M (bukan Jum’at). Adapun 17 Ramadan yang bertepatan dengan Hari Jumat adalah pada tahun 1 H yang bertepatan dengan 25 Maret 623M. Sehingga pendapat yang awal ini dirasa kurang akurat dalam penetapan harinya.

Namun, setelah menilik peristiwa – peristiwa di tahun 1 H rasanya tidak mungkin kalau perang badar terjadinya pada tahun 1 H.

Ada kemungkinan ini adalah contoh dari nasi’ (kebiasaan orang Arab untuk menukar bulan haram ke bulan lain untuk bisa melaksanakan perang). Kalau ini memang benar maka sebetulnya 17 Ramadan ini adalah 17 Rajab. Dan 17 Rajab 2 H bertepatan dengan Jum’at, 13 Januari 624 M.

Perang Uhud

Terjadi pada 15 Syawwal 3 H atau bertepatan dengan Ahad, 31 Maret 625 M. Pada perang ini umat Islam mengalami kekalahan karena tidak taat pada perintah rasul. Namun, sebelum musuh meninggalkan medan perang, Abu Sufyan menantang kembali umat islam untuk berperang lagi di Badar sebagai balas dendam pada kekalahan orang-orang kafir pada perang Badar pertama.

Perang Badar ke-2 ini tidak benar-benar terjadi karena pasukan musuh ketakutan.

Peristiwa Perpindahan Arah Kiblat

Perintahnya terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 144:

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

“Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.”

Lintang Masjidil Aqsha adalah 31,8 dan lintang Masjidil Haram adalah 21,4. Hikmah dari perpindahan kiblat ini adalah kita bisa menentukan waktu datangnya shalat lebih mudah. Karena dengan posisi lintang Masjidil Haram yang berada di 21,4 matahari bisa tepat berada diatasnya sehingga bayangan jadi lebih mudah dihitung.

Gerhana Matahari di Zaman Rasulullah

Dalam hadisnya Rasul bersabda bahwa peristiwa gerhana bukan karena kematian atau kehidupan seseorang. Maka bila melihatnya berzikirlah kepada Allah dengan mengerjakan salat (H.R. Bukhari Muslim dari Aisyah dan Ibnu Abbas).

Sabda rasul di atas menjawab orang-orang yang menyangkut-pautkan kematian putra nabi, Ibrahim bin Muhammad yang baru berumur 18 bulan.

Terjadi pada tahun 10 H atau bertepatan pada tanggal 27 Januari 632 M. Gerhananya adalah gerhana matahari cincin, saat itu gerhana sebagian dengan kegelapan 85%.

Bagaimana bisa orang-orang di zaman itu melihat gerhana matahari tanpa bantuan alat? Jawabannya adalah karena saat itu gerhana terjadi di pagi hari sehingga masih sangat memungkinkan untuk melihat peristiwa tersebut tanpa bantuan alat kaca mata.

Wafatnya Rasulullah SAW

Hari-hari menjelang wafatnya rasul, salah satunya ditandai dengan turunnya surat Al Maidah ayat 3 yang menerangkan bahwa Allah telah menyempurnakan agama islam. Ayat ini turun saat Rasul melaksanakan wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah 10 H beretepatan dengan Jum’at, 6 Maret 632 M. Berangkat dari peristiwa inilah istilah haji akbar kita kenal.

3 bulan setelah turunnya ayat terakhir, Rasul wafat pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H atau beretapatan dengan Sabtu, 6 Juni 632 M (bukan Senin sebagaimana diriwayatkan oleh Jair dan Ibnu Abbas).

Selisih 2 hari ini tidak dibenarkan apabila alasannya adalah istikmal 30 hari pada Bulan Shafar, kemungkinannya adalah terjadinya kelalaian dalam penentuan awal bulan secara masal, yang mana hal ini terjadi karena kesedihan mendalam yang dirasakan oleh umat islam karena sakitnya Rasul sejak Bulan Shafar.

 

*Penulis adalah Santri Krapyak Yogyakarta 

Related Articles

1 comment:

  1. insight yang bagus mengenai peristiwa kenabian, untuk kedepannya mungkin bisa digunakan ilustrasi yang lebih jelas, jazakallah khairan��

    ReplyDelete

Popular Posts