Danarto yang Asik di Tongkrongan

Perihal (ibadah) haji, sepertinya orang Indonesia memang punya pemaknaan tersendiri. Tidak hanya bagi sekelompok masyarakat atau suku tertentu, namun nyaris merata. Orang Bugis, Madura, Banjar, Sunda, Padang, dan tentu saja Jawa. Di tahun 2024 ini siapa pun yang mendaftar ke tanah suci, sepertinya harus menunggu hingga 30-an tahun baru bisa berangkat. Sebegitu antusiasnya orang Indonesia untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima tersebut.

Ketika membaca Orang Jawa Naik Haji karya Danarto ini saya tiba-tiba merasa ditarik ke masa-masa kecil dulu. Suatu masa di mana saya menyaksikan orang-orang saling berbagi cerita mengenai pengalaman mereka berhaji. Persis seperti nasihat yang diperoleh Danarto sebelum berangkat, itu pula yang dikatakan orang Bugis pada kerabatnya. Bahwa tutup mata, tutup mulut, tutup telinga. Jangan sembarang menegur sesuatu karena itu akan segera berbalik padamu secara spontan. Atau misalnya cerita lain tentang orang yang hendak sujud dan tiba-tiba saja tempat sujudnya dipenuhi orang yang entah datang dari mana. Ternyata ada beberapa pengalaman atau kepercayaan yang mirip-mirip.



Di buku ini Danarto memang menceritakan pengalamannya naik haji, namun bukan sekadar bercerita yang hendak pamer atau menggurui. Saya justru mendapati betapa banyak kritik yang diajukan Danarto dalam tulisannya. Ambillah misalnya tentang pungutan liar yang dilakukan ketua rombongan atas seluruh anggotanya. Padahal pungutan tersebut seharusnya tidak ada, sayangnya seluruh anggota tidak kuasa menolak. Tentu saja Danarto menolak, namun ia terus dipersulit dengan berbagai cara, hingga pada akhirnya toh dia tetap harus membayar.

Karya Danarto yang pertama kali saya baca adalah Adam Ma'rifat, sekumpulan cerpen yang memberikan saya kesan kurang enak setiap kali mendengar nama Danarto. Saya sudah sedikit lupa tentang kritik saya waktu itu mengenai buku Adam Ma'rifat, namun seingat saya, judul ulasan atas buku itu adalah "Danarto yang Sulit Dimengerti".



Saya sudah sedia menerima kenyataan bahwa buku yang ditulis Danarto di tahun 84 ini juga akan membuat kening berkerut, namun ternyata tidak sama sekali. Di buku ini Danarto justru sangat jenaka, pokoknya asiklah di tongkrongan.




Comments

Popular Posts