Mencicipi Indonesia, Mengalami Indonesia Lewat Ulid (Catatan atas Ulid Karya Mahfud Ikhwan)

 


Mahfud Ikhwan adalah juru masak langka. Dia ahli menyajikan sebuah menu yang akan membuat penyicipnya terlongong-longong. Pada suapan pertama kita hanya akan menemukan sebuah rasa yang biasa saja, cenderung datar. Suapan berikutnya mulai muncul rasa lain, lebih berwarna dan bisa membuat kita goyah. Apakah rasanya cocok di lidah, perlukah teksturnya dipadatkan, kok ada rempah yang akrab. Sesekali kita juga akan protes, seharusnya jangan diolah seperti ini dan seterusnya. Kalau Hairus Salim menyebut cerita Ulid adalah kepingan dari cerita anak Indonesia, atau untaian pengalaman menjadi Indonesia, maka saya mungkin akan menyebutnya sebagai sajian khas makanan Indonesia yang bisa menghadirkan sensasi rasa pulang ke rumah setelah mencicipnya.
Tidak meleset sedikit pun apa yang disampaikan HS. Setidaknya saya banyak sekali melewati pengalaman yang sama dengan Ulid. Bapak saya juga seorang guru, sekitar akhir 80-an sampai awal 2000-an. Seperti ditekankan Mahfud, Tarmidi menyandang gelar guru bukanlah perkara istimewa. Demikian juga bapak saya. Dia hanya lulusan SMA dan menjadi guru karena tidak ada orang lain yang ma(mp)u. Tidak ada seragam, tidak perlu ruang kelas. Bapak mengajar sepulang dari kebun, masih menggunakan pakaian lusuh, mengajarnya pun bukan di sekolah, tapi di kolong rumah panggung.
Tapi kami berdua (Ulid maupun saya) memperoleh privilese atas peran bapak sebagai guru. Buku-buku sekolah terpaksa dititip di rumah kami karena ruang sekolah tidak memadai. Saya pun terpapar dengan buku-buku. Ada banyak sekali buku bertumpuk di atas meja, sebagiannya buku pelajaran, beberapa buku cerita, dan ada pula koleksi pribadi bapak.
Saya tumbuh di pertengahan tahun 90-an. Masa itu kampung kami memang belum berani memimpikan masuknya PLN. Masih sangat jauh. Kami pun mengalami momen-momen menggunakan mesin diesel yang dinyalakan mulai pukul enam sampai pukul sepuluh malam. Belum ada ponsel, bahkan telepon rumah pun tidak ada yang punya. Oleh karenanya saya juga mengalami apa yang menjadi kegemaran utama Ulid, mendengarkan sandiwara radio. Kejadiannya sudah puluhan tahun lalu, saya sudah lupa betul sandiwara apa saja yang dulu sering saya dengarkan.
Salah satu kekuatan pada tulisan Mahfud adalah dialognya yang ciamik. Kita akan merasakan bagaimana dialog yang dihadirkan benar-benar seperti sebuah kejadian nyata. Tidak ada yang menyisakan kesan dipaksakan, tidak terdengar dibuat-buat. Semua terasa alami dan apa adanya. Kalau ditanya kurangnya di mana, mungkin pada kemampuan Mahfud untuk menghadirkan dialog jenaka. Di buku ini belum ada dialog semacam itu.
Karena tokoh utamanya adalah seorang anak laki-laki, maka terasa wajar ketika sedikit sekali tokoh perempuan yang mendapatkan porsinya di sini. Hanya ada Kaswati, Juwairiyah, dan juga Bu Sofi. Dibandingkan tokoh laki-laki yang lumayan mendominasi. Sebutlah Tarmidi, guru mengaji Ulid, juga kawan-kawan Ulid.
Saya juga hendak menyoroti bagaimana Mahfud benar-benar memperhatikan pergeseran nama-nama tokohnya. Untuk generasi kelahiran 60-an, nama tokohnya masih sangat kedaerahan. Dari Ngatmi'in, Kaswati, Tarmidi ke Isnan, Imron, Nisa, Yamin, Nurdin. Kalau latarnya sampai tahun pertengahan 2000-an, nama-nama yang muncul pasti akan jauh berbeda lagi.
Di tengah-tengah bacaan saya sempat teringat dengan obrolan bersama dua orang kawan di sebuah warung kopi beberapa tahun silam. Malam itu kedua kawan ini sudah selesai menonton seluruh season Breaking Bad. Adapun saya masih tersisa beberapa episode. Keduanya kemudian bercerita bahwa ending series tersebut benar-benar membuat mereka teramat sedih sampai berkaca-kaca. Kutanya kenapa, katanya adegan yang diperankan Walter White di episode tersebut sungguh membuat hati mereka terenyuh. Lalu saya akhirnya menyelesaikan series itu sehari kemudian. Anehnya, kami sampai pada kesimpulan berbeda. Kedua kawan saya yang merupakan laki-laki walaupun belum menikah dan punya anak saat itu, justru bersimpati pada Walter White. Sedangkan saya justru berkebalikan. Seolah merasakan apa yang dialami sang istri dan anaknya, tidak ada sedikit pun rasa simpati pada tokoh utamanya.
Ingatan tersebut muncul saat mulai memasuki cerita di mana Kaswati, istri Tarmidi, emaknya Ulid ternyata hamil, hamil, dan hamil lagi. Entah kenapa emosi saya tersulut mengetahui pasangan tersebut terus-menerus beranak pinak padahal perekonomian mereka begitu terseok-seok. Bagaimana menghidupi manusia-manusia baru itu?
Namun menjelang akhir hingga selesai, perasaan saya justru berkecamuk. Tidak lagi kesal pada Tarmidi juga Kaswati, saya hanya kesal pada Mahfud. Mengapa menghadirkan cerita sedemikian pilu? Yang lebih memilukan karena saya sama sekali sadar kalau kisah tersebut adalah kisah-kisah jutaan rakyat Indonesia. Mereka yang terjerat kemiskinan, mereka yang sudah berusaha untuk maju namun terbentur berkali-kali, mereka yang menerima nasib seolah sudah ditakdirkan demikian. Padahal kalau saja mereka mau, ada banyak hal yang bisa digugat.
Pada akhirnya saya hanya hendak mengutip Dostoyevsky, bahwa miskin bukanlah kejahatan.

Post a Comment

0 Comments
* Mohon Jangan Spam Disini. Semua Komentar ditinjau oleh Admin