KITA DAN KOROK MELAWAN GULMA, MAKSUDNYA PEMERIN***
Belakangan lumayan
kewalahan menata perasaan. Lebih tepatnya kejiwaan. Asupan berita di media sosial,
film-film yang ditonton, buku-buku yang dibaca, kesemuanya menjejalkan hidangan
yang senada. Pengkhianatan, keculasan, ketidakbecusan, kebobrokan
manusia-manusia di balik sistem. Hati nyaris kebas karena terus-menerus
mengonsumsi sesuatu yang itu lagi-itu lagi. Kemudian muncul pertanyaan, hal-hal
buruk di kehidupan ini apa memang terus bereproduksi sepanjang hari? Mengapa seperti
tak ada habisnya.
Sebenarnya ini
tidak bersifat keluhan pada karya-karya yang kukonsumsi, namun, tentu saja,
pada mereka yang tengah dibahas di dalam karya-karya tersebut. Perihal bacaan, kuurutkan
dari tiga buku terakhir yang kubaca, ada Bukan Pasar Malam, Monster Kepala
Seribu, dan Tahun Penuh Gulma.
Buku Tahun
Penuh Gulma karya penulis India (Siddhartha Sarma) ini merupakan buku remaja. Bercerita
tentang orang-orang suku Gondi di Deogan, dan Korok, bocah 14 tahun yang
menjadi tokoh utamanya. Konflik utamanya adalah munculnya pihak pemerintah yang
sekonyong-konyong menancapkan patok di área perbukitan yang sangat disakralkan
suku Gondi, patok yang mengklaim bahwa bukit tersebut adalah milik pemerintah
dan sebentar lagi akan dijadikan sebagai área tambang.
Korok, si
bocah yang hidup sebatang kara di gubuknya, tak paham apa maksud semua itu. Beruntungnya
dia berteman dengan Anchika, anak kota yang kebetulan tinggal di sekitar Deogan
karena ayahnya sedang bertugas. Dari Anchika dan komputernya Korok kemudian
mendapatkan informasi bahwa sudah banyak kejadian serupa di daerah lain di India.
Yang mana pemerintah bersikap seolah-olah semua tindakannya memang dilakukan atas
nama negara, namun sebenarnya itu hanya akal-akalan. Sebab tentu saja, ada
perusahaan yang nantinya akan mengambil alih semuanya, membangun pabrik dan
semacamnya, mengeruk seluruh sumber daya yang ada.
Di buku ini
kita akan bersama Korok dan orang-orang suku Gondi lainnya melawan polisi culas
Balangir, serta melawan pemerintah sebagai pihak yang paling berkuasa, dan
tentu saja paling culas.
Seringkali
ketika membaca buku, aku mendapati akhir ceritanya lebih banyak berakhir tak
bahagia. Walaupun si tokoh terlihat telah berusaha, berjuang, namun pada
akhirnya tetap dihadapkan pada kenyataan, bahwa yang culas akan tetap menang. Sangat
berbeda dengan buku ini, yang mana Korok dan orang-orang suku Gondi berhasil
melawan keculasan dan menyelamatkan bukit sakral yang mereka miliki.
Kembali lagi
pada bidikan buku ini, yaitu para remaja muda. Kurasa memang lebih bijak menunjukkan
pada mereka bahwa mencoba melawan, tidak begitu saja menyerah pada keadaan, adalah
hal yang diperlukan dalam kehidupan. Tidak peduli sebelia apa usiamu, kamu
tetap bisa menjadi bagian dari perlawanan itu. Karena katanya, sekecil-kecilnya
(yang melawan) perlawanan tetaplah perlawanan.
Buku yang
sangat cocok untuk dibaca anak-anak dan remaja di usia pertumbuhan mereka. Setidaknya
ini akan memicu banyak sekali pertanyaan di benak mereka. Akan bagus jika pertanyaan-pertanyaan
itu kemudian membuat mereka lebih penasaran pada buku lain yang serupa, atau
pada isu serupa melalui media lain. Sama baiknya. Namun sebagaimana judul buku
ini, Korok menganggap bahwa pemerintah seperti layaknya gulma.
“Korok memikirkan berbagai peristiwa sepanjang tahun
lalu. Dia tahu banyak tentang gulma, dan tahu bahwa seperti halnya gulma,
pemerintah dan Perusahaan, barangkali bahkan kelompok Maois, suatu hari nanti
akan kembali.”
Comments
Post a Comment