MONSTER KEPALA SERIBU, TAPI MONSTER PUN MINDER, SIH

 

 


“Saya tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya semua akan berakhir sedemikian rumit, tapi saya melakukannya karena dikuasai kemarahan. Pengalaman selama beberapa bulan terakhir menyadarkan saya kalau saya tidak mungkin bisa menggugah orang lain dengan kata-kata, tidak juga dengan permohonan sewajarnya, atau dengan diagnosa medis yang tersusun rapi. Mereka mendepak saya dari dunia yang rasional, dari kepercayaan kepada masyarakat yang beradab. Dan seekor binatang buas yang disudutkan tidak akan merintih, dia menggigit.”

 

Belakangan saya senang bertanya apa yang dipikirkan suami ketika mendengar sebuah judul buku yang kusebutkan. Termasuk juga buku Monster Kepala Seribu ini, kira-kira apa yang terbayang di benaknya. Karena kita—atau barangkali hanya saya—seringkali berusaha menebak cerita suatu buku dari judulnya. Kadang ada yang benar, kadang pula sangat meleset. Untuk kasus buku ini, saya sama sekali tidak berani menebak. Tidak ada hal yang terlintas di kepala, dan melihat pengalaman-pengalaman sebelumnya yang sering salah tebak, kali ini saya memutuskan untuk langsung membaca ceritanya saja. Ngapain berusaha menebak segala.

Buku ini cukup menegangkan. Dengan konsep penyajian cerita yang dibagi atas dua sisi; sisi pandang tokoh utama; dan sisi pandang orang-orang yang secara sengaja atau tidak sengaja berinteraksi dengan si tokoh utama.

Tokoh utamanya bernama Sonia Bonet, seorang istri yang menyaksikan suaminya sakit parah dan bertekad untuk memberinya perawatan terbaik. Namun tekad kuatnya tersebut harus terbentur dengan kebijakan asuransi yang seperti menemukan begitu banyak alasan untuk tidak memberikan fasilitas sebagaimana mestinya. Mulai dari dokter yang terikat dengan pihak asuransi Alta Salud tersebut, sampai ke direktur umumnya.

Dalam perjalanan Sonia Bonet mencari keadilan dengan menodongkan pistol pada orang-orang yang mempersulitnya, kemudian akan didapati fakta bahwa tidak ada yang benar-benar ingin membantunya. Lebih tepatnya, semua pihak berusaha sekuat tenaga untuk menggagalkan pengajuan klaim asuransi untuk Memo, suami Nyonya Bonet.

Di momen-momen itulah, kita sebagai pembaca, terutama Nyonya Bonet akan merasa sesak. Bahwa segala harapan dan kepercayaan yang selama ini kita pelihara pada sistem, baik itu orang-orang dengan jabatan di instansi swasta maupun di instansi pemerintahan, sama busuknya. Mereka hanya peduli pada diri sendiri, sibuk memperkaya diri sendiri, namun dengan cara-cara yang menjijikkan. Keculasan, penindasan, tidak tahu malu, tidak tahu diri, dan tidak punya hati.

Masalahnya adalah, ini tidak hanya terjadi di dalam buku, tidak hanya terjadi di Uruguay, namun di tempat kita berada sekarang, bahkan sama saja. Setiap hari ada saja kelakukan pejabat yang bikin mual dan membuat kita ingin memuntahi wajahnya.

“Saya tidak pernah mendapatkan kesempatan mendapatkan apa yang saya ajukan. Alta Salud adalah monster kepala seribu yang tak punya otak; di dalamnya tak seorangpun memikirkan para pasien atau kesehatan mereka, kehidupan mereka dan juga kematian mereka. Faktanya, tak ada yang memikirkan orang sama sekali.”

“Tak seorang pun mendengarkan saya karena di dalam sana semua sudah tuli akibat hiruk-pikuk uang tak berguna yang terus mereka hitung, mereka kehilangan hati seperti babi demi meraup keuntungan.”

Kita kadang kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan seberapa buruk kelakukan manusia-manusia dengan kekuasaan tersebut. Pada akhirnya kita memanggilnya dengan sebutan jenis hewan. Padahal hewan pun tidak sekurang akal itu.

 

Comments

Popular Posts