Dari Wahyu ke Riwayat: Membaca Al-Qur’an dan Hadis dengan Santai
|
Judul |
Dari Wahyu ke Riwayat: Membaca
Al-Qur’an dan Hadis dengan Santai |
|
Penulis |
Zahra Oktavia |
|
Penerbit |
CV Kontradiksi Indonesia Grup |
|
Tebal |
viii + 88 halaman |
|
Tahun |
2026 |
|
Harga |
- |
Contradixie,
Katalog— Buku
Dari Wahyu ke Riwayat: Membaca Al-Qur’an dan Hadis dengan Santai
mengajak pembaca mendekati teks-teks suci Islam dengan cara yang tenang,
reflektif, dan bertanggung jawab. Berangkat dari kegelisahan atas kecenderungan
keberagamaan yang kaku dan mudah tegang, buku ini menawarkan cara membaca
Al-Qur’an dan hadis yang tidak tergesa-gesa menghakimi, tetapi pelan-pelan
memahami.
Pembahasan
dimulai dengan melihat Al-Qur’an sebagai wahyu yang hadir dalam peristiwa
sejarah, bukan sekadar teks yang jatuh dari langit dalam keadaan siap pakai.
Proses turunnya wahyu, konteks sosialnya, serta tradisi lisan dan penulisan
mushaf dibahas untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an sejak awal berinteraksi dengan
kehidupan manusia. Pendekatan ini membantu pembaca memahami bahwa kesakralan
wahyu justru tampak dalam kedekatannya dengan realitas.
Buku ini
kemudian mengulas hadis sebagai tradisi riwayat yang dijaga melalui
kehati-hatian, kritik, dan tanggung jawab kolektif. Dengan mengenalkan konsep
sanad, matan, jarh wa ta‘dil, serta klasifikasi hadis, pembaca diajak melihat
bahwa tradisi hadis bukanlah kumpulan cerita tanpa saringan, melainkan disiplin
keilmuan yang matang. Hadis diposisikan sebagai penjelas Al-Qur’an yang hidup
dalam praktik Nabi, bukan sebagai teks yang berdiri sendiri.
Pada
bagian aplikatif, buku ini menunjukkan bagaimana Al-Qur’an dan hadis dapat
dibaca secara bersahaja melalui contoh penafsiran Surah Al-Mā‘ūn. Dengan
pendekatan yang santai, surah ini dibaca sebagai cermin etis yang menyoal makna
ibadah, kepedulian sosial, dan konsistensi kebaikan kecil dalam kehidupan
sehari-hari. Hadis-hadis Nabi dihadirkan untuk menerangi arah moral ayat-ayat
tersebut, bukan untuk menambah beban hukum.
Buku ini
ditutup dengan refleksi tentang adab membaca dan agama sebagai jalan menjadi
manusia. Membaca Al-Qur’an dan hadis dengan santai tidak berarti menurunkan
kesakralannya, tetapi justru merawat kedalaman maknanya. Melalui pendekatan
ini, agama dihadirkan kembali sebagai sumber ketenangan, empati, dan
kebijaksanaan—bukan sebagai alat ketegangan atau klaim kebenaran semata.



Comments
Post a Comment