Madonna dengan Mantel Bulu: Semesta Raif Efendi dan Maria Puder
Ada jenis buku yang kamu beli dan langsung menatanya di rak.
Bacanya kapan-kapan saja pas
ingin. Ada pula jenis buku yang kamu beli dan langsung dibaca saat itu juga.
Bahkan berhasil kamu tamatkan dalam satu-dua kali duduk saja.
Madonna
dengan Mantel Bulu
ini masuk ke kategori yang terakhir. Ia tiba di malam tahun baru, kubuka
segelnya di hari pertama tahun 2026, dan menamatkannya keesokan hari. Terkadang
alasannya sederhana saja, sesederhana kamu tidak ingin kena bocoran kalau
kelamaan menunda. Buku ini sangat sering dibahas dua tahun belakangan. Kalau kamu
mengikuti beberapa akun pembaca buku di X ataupun Instagram, kamu akan tahu bahwa
beberapa judul buku memang sering dibahas dan direkomendasikan. Karya Sabahattin
Ali ini termasuk salah satunya.
Perilaku menghindari
membaca ulasan tentang buku Madonna yang seliweran di linimasa ternyata sangat
berhasil di aku. Ketika membuka bukunya dan membaca paragraf pertama, dugaanku
benar-benar dipatahkan. Tidak pernah menyangka bahwa sosok Raif yang sering
disebut-sebut itu ternyata bukanlah pencerita. Buku ini ditulis dengan sudut
pandang orang ketiga, seorang lelaki malang yang hidupnya tidak kalah menarik
dari Raif Efendi juga Maria Puder.
Mengapa bagiku
menarik? Barangkali karena kondisinya dan pandangannya terhadap orang yang
berinteraksi dengannya terasa relate bagi banyak di antara kita (tentu
saja termasuk aku). Tentang ia yang diberhentikan dari tempat kerja, ia yang melamar
pekerjaan ke sana-kemari, ia yang akhirnya segan berjumpa dengan kenalannya
karena masih menganggur, ia yang ingin berteriak minta tolong tapi juga teramat
malu untuk sekadar menampakkan muka. Ia yang berjumpa kawan lama yang sudah sukses
dan diperlakukan seperti orang hina, ia yang menyerahkan seluruh harga dirinya demi
bisa dipekerjakan dengan gaji rendah.
Namun, di
atas semua itu, aku semakin tertarik padanya karena ia membuka mataku sekali
lagi melalui satu paragraf ini:
“Betapa orang begitu mudah saling menilai … Dan aku, dalam
kondisiku yang seperti ini, masih ingin mencoba memahami isi kepala orang lain.
Padahal manusia, bahkan yang paling sederhana, paling lemah, atau paling bodoh
sekalipun, memiliki jiwa luar biasa rumit dan mengejutkan. Kenapa kita begitu
takut memahami itu, dan malah menganggap manusia adalah makhluk yang paling
mudah dipahami dan dihakimi? Mengapa kita enggan memberikan penilaian terhadap
sepotong keju yang baru kita lihat, tapi begitu cepat memberi keputusan akhir
terhadap orang yang baru kita temui dengan begitu santai?”
Kurasa, untuk masuk ke dalam dunia Raif Efendi, kita juga
bisa berangkat dari sana. Bahwa manusia itu unik, mengandung cerita dan gejolaknya
masing-masing, maka tidaklah cukup jika hanya menilai dari tampilan luarnya
saja. Dari pakaian yang dikenakannya, sikap kaku dan diamnya, atau interaksinya
yang acuh tak acuh. Manusia, dalam hal ini Raif Efendi, adalah kisah itu
sendiri. Di dalam dirinya terkandung pengalaman hidup yang tak seorang pun
pernah mengalaminya; Impian-impiannya, kegemarannya, hal yang dikaguminya,
serta jatuh cinta dan patah hatinya.
Memang, kisah percintaannya yang tak berlangsung lama itu cukup
menyedihkan. Memang,
kesalahpahaman antara dirinya dan Maria Puder itu cukup disayangkan. Memang, sikapnya
yang menolak move on padahal bisa hanya karena ia gemar meromantisasi itu cukup
menyebalkan. Tapi, dari seluruh kejadian itu, bagiku kisah mereka tidak cukup
tragis.
Kulihat banyak
yang menyebut-nyebut buku White Nights karya Dostoevsky usai membaca
buku Madonna. Menurut mereka yang sudah membaca keduanya, kisah percintaan tokohnya
mirip-mirip. Aku tidak bisa berkomentar sebab belum membaca yang White
Nights. Tapi, aku justru ingin menyandingkannya dengan The Lady of the
Camellias karya Alexandre Dumas Jr.
Dari segi struktur penceritaan, keduanya sangat mirip. Diceritakan
oleh orang ketiga, membahas kisah cinta dua insan, dibantu oleh catatan tokoh
yang diceritakan, dan pada akhirnya si wanita meninggal lebih dulu. Mereka
begitu mirip, namun efeknya padaku cukup berbeda. Untuk karya Dumas aku menangis
hingga bersimbah air mata ketika membacanya, adapun karya Sabahattin Ali justru
biasa saja. Aku mencoba menemukan perbedaannya dan akhirnya muncul satu hal, ada
satu poin yang membedakan kedua buku ini; di buku Camellias kita masih bisa
mendengar suara tokoh wanita—melalui buku catatannya—sekalipun ia telah
meninggal. Ini tidak ditemukan dalam buku Madonna. Bayangkan jika kita bisa mengetahui apa yang
dialami Maria Puder di masa ia terpisah dengan Raif. Bagaimana ia menghadapi
penyakitnya, bagaimana ia menanggung perasaan rindu di tengah sekaratnya, bagaimana
ia berjuang bersama bayi dalam kandungannya. Bayangkan jika kita bisa membaca
kisahnya dari sudut pandang Maria langsung, apa tidak bengkak mata kita karena
menangis brutal?
Ini hanya
persoalan selera sebenarnya, tapi menurutku perlu kubahas sekalian di sini. Sebagai
orang yang punya beberapa buku dari penerbit Moooi, aku bisa mengatakan bahwa
gaya buku-bukunya memang demikian. Aku bisa menebak, barangkali ini semacam métode
penghematan. Semakin padat tulisannya, semakin tipis bukunya. Semakin tipis
bukunya, semakin murah harganya. Semakin murah harganya, semakin mudah
dijangkau. Semakin mudah dijangkau, semakin banyak yang bisa membacanya. Semakin
banyak yang bisa membacanya, semakin banyak pula yang bertambah wawasannya. Semakin
banyak yang bertambah wawasannya, semakin banyak yang bisa berpikir kritis. Semakin
banyak yang bisa berpikir kritis, semakin tidak mudah dibohongi pemerin***.
Adapun dari
segi kualitas penerjemahan, kurasa baik dari penerbit Mizan maupun Moooi
sama-sama menarik. Keduanya punya ciri khas masing-masing, namun memang
aku lebih suka versi Moooi. Susunan
kalimatnya terasa sederhana, halus, namun puitis di waktu bersamaan.

.jpeg)
.jpeg)


Comments
Post a Comment