Tafsir Surah Al-Muzzammil: Tuhan dan Hal-Hal yang Tidak Perlu Selesai
|
Judul |
Tafsir Surah Al-Muzzammil:
Tuhan dan Hal-Hal yang Tidak Perlu Selesai |
|
Penulis |
Muhammad Saifullah |
|
Penerbit |
CV Kontradiksi Indonesia Grup |
|
Tebal |
viii + 92 halaman |
|
Tahun |
2026 |
|
Harga |
- |
Contradixie, Katalog—Tafsir Surah al-Muzzammil: Tuhan dan Hal-Hal yang Tidak Perlu Selesai merupakan upaya membaca Al-Qur’an bukan hanya sebagai teks suci, tetapi sebagai pengalaman hidup yang terus bergerak bersama manusia. Berangkat dari Surah al-Muzzammil dalam konteks Juz ke-29, buku ini menempatkan ayat-ayat Al-Qur’an di tengah realitas keseharian: rutinitas yang berulang, tekanan hidup, ambisi, kegagalan, serta kelelahan yang kerap tidak disadari.
Penulis menunjukkan bahwa Surah al-Muzzammil tidak
berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan Surah al-Muddaththir dan
surah-surah lain yang membentuk lanskap besar tentang kerja keras, konsekuensi,
dan kekuasaan Tuhan. Jika al-Muddaththir mendorong manusia untuk bangkit dan
bergerak, maka al-Muzzammil hadir sebagai penyeimbang: mengajarkan pentingnya
istirahat, kontemplasi, dan kepasrahan.
Melalui pembacaan yang menggabungkan tafsir klasik,
analisis bahasa, refleksi personal, serta dialog dengan pemikiran filsafat dan
budaya lokal—termasuk konsep Jawa seperti nrimo ing pandum—buku ini
mengajak pembaca untuk melihat kehidupan sebagai rangkaian pengulangan yang
tidak selalu sia-sia. Rutinitas, yang sering dianggap membosankan atau bahkan
sebagai “kutukan Sisifos”, justru dapat menjadi ruang lahirnya makna ketika
dijalani dengan kesadaran dan keseimbangan.
Di sisi lain, buku ini juga mengkritik kehidupan
modern, terutama budaya media sosial yang dangkal, krisis figur, serta
kecenderungan manusia untuk terjebak dalam standar-standar semu yang mereka
ciptakan sendiri. Dalam situasi tersebut, Surah al-Muzzammil menawarkan jalan
keluar: melambat, memahami, bekerja secukupnya, dan berani pasrah pada kekuatan
yang lebih besar.
Dengan gaya yang cair, reflektif, dan kadang
provokatif, buku ini tidak berusaha memberikan jawaban final. Sebaliknya, ia
membuka ruang dialog antara teks, pembaca, dan kehidupan itu sendiri. Pada
akhirnya, buku ini menegaskan satu hal sederhana namun mendalam: hidup tidak
selalu harus dituntaskan—sebagian hal justru perlu diterima, dijalani, dan
dilepaskan.



Comments
Post a Comment