Kumpulan cerita
pendek dari Najib Mahfuz (ejaan Indonesia) berjudul Bisik Bintang baru
saja selesai kubaca ketika Enriawan Achmad Dwiputra (selanjutnya disebut Dwi),
entah kerasukan apa, tiba-tiba berkenan mengirim hasil terjemahannya atas salah
satu cerita pendek dari peraih nobel sastra tersebut. Bukan hanya untuk kubaca
lalu selesai, namun Dwi, seolah meragukan dirinya sendiri, memintaku untuk
memberikan komentar atas hasil terjemahannya. Proses tawar-menawar ini berlangsung
pada bulan November 2024 lalu.
Bisa dibilang
aku bukan, atau setidaknya belum menjadi, pembaca karya-karya Najib Mahfuz. Namun
barangkali digerakkan oleh sesuatu yang entah apa, aku akhirnya melahap 19
cerita pendek darinya dua tahun lalu. 18 dari buku yang diterbitkan Marjin
Kiri, serta sisanya berjudul Kedai Kosong yang dikirimkan Dwi. Masa
berlalu. Setahun, setahun satu bulan, lalu nyaris dua tahun aku terus menerus
dibayangi oleh janji yang kuucap secara tersirat pada Dwi. Bahwa iya, aku akan
memberikan sedikit catatan pembacaan atas karya terjemahannya.
Tentu saja
tidak ada yang berpikir bahwa aku tidak ada bedanya dengan mantan-mantan pada
umumnya yang pergi membawa janji-janjinya tanpa sedikit pun keinginan untuk
menepatinya. Hanya aku yang berpikir dan merasakan itu. Bahkan pada sesuatu
yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan hubungan romantisme. Tapi karena
tetap terbayang-bayangi, aku akhirnya akan menuntaskan janji itu melalui
tulisan ini.
*
Ada kutipan dari Jose Saramago yang sering muncul ketika
membahas karya terjemahan: Para penulis menciptakan sastra nasional dengan
bahasanya, tetapi sastra dunia ditulis oleh para penerjemah. Kutipan tersebut diterjemahkan
secara lebih bebas lagi seperti ini: sastra dunia berada di tangan para
penerjemah.
Bahwa apa
yang hadir di hadapan pembaca sastra terjemahan tidak bisa dilepaskan dari diri
penerjemahnya. Cien años de soledad selalu milik Gabriel Garcia Marquez,
namun perihal menyampaikan suara darinya kepada para pembaca yang tidak berbahasa
Spanyol, kita membutuhkan penerjemah. Seratus Tahun Kesunyian pada
akhirnya tidak hanya membawa kita pada Garcia Marquez, namun juga melihat
seperti apa penerjemah memahami, menafsirkan, dan menyampaikan Garcia Marquez
kepada pembaca Indonesia. Demikian pula apa yang kemudian kita baca pada cerpen
berjudul Kedai Kosong adalah hasil pemahaman dan penafsiran dari Dwi
atas Mahfuz dan karyanya.
Sebelum terlalu
jauh, aku hanya ingin menekankan bahwa kapasitasku di sini hanya pembaca biasa,
bukan seorang kritikus apa lagi punya spesialisasi dalam hal penerjemahan karya
sastra. Komentar yang akan kutulis sangat bebas untuk dibantah ataupun
dikritisi.
Setelah membaca
ulang Kedai Kosong beberapa malam lalu, aku terganggu pada satu hal. Dwi
sangat tidak konsisten dalam penggunaan “dia” dan “ia”. Kadang-kadang untuk
menyebutkan si lelaki tua, Dwi menggunakan “dia”, namun tidak jarang pula ia
menggunakan “ia”. Untuk orang yang baru saja terpesona oleh hasil terjemahan
Gita Nanda atas novel Bonsai karya Alejandro Zambra, aku tidak bisa
mengabaikan keserampangan Dwi.
Kalian harus
melihat bagaimana Gita membuat pembaca terpesona sejak paragraf pertama:
“Pada
akhirnya ia mati dan dia menjadi sendiri, meski sebetulnya dia sudah sendiri
bertahun-tahun sebelum kematiannya, kematian Emilia. Katakanlah ia bernama atau
pernah bernama Emilia dan dia bernama, pernah bernama, dan akan tetap bernama
Julio. Julio dan Emilia. Pada akhirnya Emilia mati dan Julio tidak mati.
Sisanya adalah sastra:” (hal. 1).
“Dia” merujuk
pada Julio, sedangkan “ia” merujuk pada Emilia. Dalam penerjemahan sastra,
kupikir kekonsistenan gaya bahasa adalah sesuatu yang penting. Dwi tidak bisa
menggunakan “dia” dan “ia” untuk merujuk pada orang yang sama. Ini akan berpotensi
membingungkan pembaca, setidaknya yang kualami. Aku harus memeriksa beberapa
kali, “ia” yang dimaksud di sini apakah Mubarka, Tutu, atau Nargis si kucing,
namun ternyata Mohammed Rasyidi, si lelaki tua itu sendiri.
*
Delapan
belas cerita pendek karya Najib Mahfuz bisa dibaca dalam satu buku berjudul Bisik
Bintang. Sebuah buku kecil dan tipis bersampul hijau, tidak lebih dari 80
halaman. Cerita-cerita di dalamnya memang tidaklah panjang, baik dari segi kisah
itu sendiri, maupun dari gaya penceritaan, atau penerjemahannya. Pendek-pendek
saja, namun memang diksinya kuat dan pas. Sehingga tidak dibutuhkan kalimat panjang
nan puitis untuk membuatnya terasa lebih memukau. Ini sangat berbeda dengan hasil terjemahan Dwi
yang lumayan panjang, cenderung puitis, indah, dan memukau.
Aku tidak
mengatakan bahwa salah satu di antaranya mestilah tidak tepat. Penerjemahan yang
pendek dan tidak puitis, pun penerjemahan yang panjang dan puitis, juga
merupakan sebuah hasil dari ikhtiar panjang. Hanya persoalan jalan manakah yang
lebih diinginkan, atau dipahami penerjemah, untuk dihadirkan kepada pembaca.
Agak sulit
untuk berkomentar banyak perihal ini sebab aku sendiri tidak punya keberanian
untuk memeriksa, apalagi membaca versi bahasa aslinya. Kemampuan bahasa Arabku
hanya sampai pada level ma ismuka. Namun, aku mungkin ingin
menghadirkan sedikit perbincangan yang sering terjadi ketika orang membahas Animal
Farm dari Orwell. Buku ini
sudah public domain sehingga penerbit mana pun bisa menerbitkannya tanpa
perlu mengurus hak terjemahan. Di Indonesia sendiri buku ini sudah diterbitkan
setidaknya tidak kurang dari empat penerbit.
Beberapa
penerbit tetap menggunakan judul Animal Farm, ada yang menggunakan Negeri
Binatang, namun yang lebih ekstrim adalah Binatangisme. Penggunaan
judul terakhir itu sangat berbeda, sangat unik, dan mempunyai gaya penerjemahan
tersendiri dibanding lainnya. Binatangisme diterjemahkan oleh
Mahbub Djunaidi dan diterbitkan oleh Gading Publishing. Ada yang sangat menyukai
hasil terjemahan Mahbub pada buku ini, namun ada pula yang menolak setengah
menggugat. Bahwa itu tidak sesuai dengan gaya Orwell yang lebih hemat kata dan
cenderung menghindari eksplorasi terhadap emosi secara lebih jauh. Namun sebenarnya
yang dilakukan Mahbub, menurutku, adalah sebuah jalan baru untuk sampai pada
Orwell. Bahwa umumnya Orwell dan karya fenomenalnya itu dipahami dari sudut pandang
yang seragam, mengapa tidak boleh menghadirkan sedikit perbedaan. Animal Farm dan Orwell tidak membatasi dirinya
dari segala jenis penafsiran, kurasa.
*
Meski sebelumnya
aku bilang bahwa Dwi menerjemahkan Kedai Kosong dengan puitis, ini tidak
menutup fakta bahwa hasil terjemahannya masih terasa canggung pada beberapa
kesempatan. Aku merasakan kekakuan, kehati-hatian pada banyak tempat. Seolah Dwi
tidak ingin menghilangkan makna literal dari tulisan Mahfuz. Kemudian ia
akhirnya tidak lugas dan bebas dalam menerjemahkan. Aku tidak tahu seperti apa
teks aslinya, namun misalnya dalam kalimat berikut, aku merasa masih bisa
dibuat lebih luwes lagi:
“Untuk
usianya sekarang, dia dalam kondisi kesehatan yang sangat baik, tinggi dan
kurus.”
“Kedai
itu sebenarnya tidak kosong, dan hanya sedikit meja kosong. Namun, kedai itu
kosong sebab tak ada seorang pun yang ia kenal.”
*
Ada perasaan
bungah tersendiri membaca karya Dwi. Perasaan yang sebenarnya jika hendak
dijabarkan akan bermakna seperti ini: bahwa aku bangga pada segala bakat yang
dimilikinya dan sangat berharap bahwa pada suatu hari nanti karya-karyanya di
bidang apa pun, namun khususnya dalam sastra, akan bisa dinikmati oleh banyak
orang.

