Kedai Kosong - Cerpen Naguib Mahfouz

Contradixie
0



Diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Enriawan Achmad Dwiputra


Mohammed Rasyidi, dengan nada gemetar karena duka dan haru, berkata, “semoga Allah yang maha pengasih, lagi maha mulia, wahai Zahia, teman hidupku, mendekatkanmu kepadaNya.”


Ia terisak-isak sambil membungkuk di atas tubuh yang terbaring di tempat tidur, bersandar karena kelelahannya yang luar biasa, dengan tangan kanannya di atas bantal, sampai pembantu wanitanya yang sudah renta itu merasa kasihan padanya, menepuk tangannya dengan lembut, dan membawanya dari wanita yang terbaring tak bernyawa itu ke ruang keluarga, di mana ia duduk di kursi berlengan sambil menarik nafas panjang yang bisa terdengar. Ia meluruskan kakinya, mengerang, lalu bergumam, “sekarang aku sendirian, tanpa teman. Mengapa kau meninggalkanku, Zahia? Setelah bersama selama empat puluh tahun, mengapa kau pergi mendahuluiku, Zahia?”


Pelayan itu menghiburnya dengan kalimat-kalimat klise, meskipun dengan pemandangan lelaki tua berusia sembilan puluhan yang menangis sungguh menyedihkan. Pipinya yang berkerut dan hidungnya yang cekung berkilauan karena air mata. Pembantu itu meninggalkan ruangan, berjuang menahan air matanya sendiri. Dia memejamkan mata, yang di tepinya hanya ada sehelai bulu mata. “Empat puluh tahun yang lalu aku menikahimu,” lanjutnya, “ketika usiamu masih dua puluhan. Aku sendiri yang mendidikmu, dan kita sangat bahagia meskipun dengan jarak usia yang jauh. Kamu adalah sahabat terbaik, kamu orang yang baik hati—oleh karena itu, aku serahkan kamu kepada kasih Tuhan.”


Untuk usianya sekarang, dia dalam kondisi kesehatan yang sangat baik, tinggi dan kurus. Permukaan wajahnya telah sepenuhnya menghilang di balik kerutan dan garis wajah, sementara tulang-tulangnya menonjol tajam, seperti tengkorak. Jauh di dalam matanya, ada tatapan mengintai di balik tabir pucat yang tidak memantulkan hal-hal yang terlihat di dunia ini.


Upacara pemakaman dihadiri oleh banyak orang, tidak satu pun dari mereka adalah sahabat atau kenalannya. Mereka datang untuk menyampaikan belasungkawa untuk putranya, atau sebagai penghormatan kepada suami putrinya yang bekerja di kedutaan besar di luar negeri. Sedangkan dia, tidak ada satu pun temannya yang masih hidup. Dia terus menyapa wajah-wajah yang tidak dikenalnya dan bertanya pada dirinya sendiri di mana generasi pendidik pertama berada. Di mana politisi sejati dari zaman Mustafa Kamil dan Mohammed Farid?


Ketika upacara pemakaman selesai sekitar tengah malam, putranya Sabir bertanya kepadanya, “apa yang ingin kamu lakukan, Ayah?”


Istri anaknya berkata, “Tidak mungkin bagimu untuk tinggal di sini sendirian.” Orang tua itu mengerti apa maksud mereka. Ia mengeluh, “Zahia adalah segalanya bagiku. Ia adalah pikiran dan tanganku.”


“Rumahku adalah milikmu,” ucap Sabir, “dan jika kau datang untuk tinggal bersama kami, kau akan membawa berkah untuk rumah ini. Pembantumu, Mubarka, akan datang untuk menjagamu.”


Tentu saja ia tidak bisa tinggal di rumah ini sendirian. Namun, terlepas dari kebaikan yang ditunjukkan oleh putranya dan istri putranya, ia percaya bahwa dengan pindah, ia akan kehilangan banyak kebebasan. Namun, apa yang harus ia lakukan? Di masa mudanya dan di awal masa dewasanya, ia adalah lelaki yang tangguh dan ia masih mempertahankan sikapnya yang bermartabat. Berapa banyak generasi pendidik dan tokoh-tokoh terkemuka yang telah ia latih—tetapi apa yang harus ia lakukan?


Dengan wajah putus asa, lelaki itu menyaksikan rumahnya dihancurkan. Ia melihat rumahnya dihancurkan, sama seperti ia melihat kematian istrinya. Tak ada yang utuh kecuali pakaian, tempat tidur, lemari bukunya (buku-buku yang tidak lagi dilihatnya), beberapa buku bacaan, dan foto-foto anggota keluarga dan beberapa tokoh besar dalam bidang sastra, politik, dan dunia hiburan, seperti Mustafa Kamil, Mohammed Farid, alMuwailhi, Hafiz Ibrahim, dan Abd al-Hayy Helmi.


Ia meninggalkan rumahnya menuju Heliopolis dengan mobil putranya. Sebuah kamar tidur telah disiapkan untuknya, dan Mubarka bersiap untuk melayaninya. “Kami semua siap melayani Anda,” ucap putranya.


Munira, istri Sabir, tersenyum ramah padanya. Senyum itu menunjukkan sikap ramah, tetapi ini tetap bukan rumahnya—itulah yang sangat ia rasakan. Ia duduk di kursi berlengan, mereka saling bertukar pandang dengan cara yang hampir memalukan. Kalau saja putrinya Samira ada di Mesir. Dia akan menemukan suasana yang lebih menyenangkan di rumah putrinya. Tutu muncul di ambang pintu. Dia menatap orang tuanya lalu ke yang lain, kemudian berlari dan berpegangan pada kaki ayahnya. Dia menatap kakeknya, dan lelaki tua itu tersenyum dan berkata, “Halo, Tutu. Kemarilah.”


Hanya sesekali Tutu pergi bersama ayahnya untuk mengunjungi kakeknya. Kakek sangat mencintainya dan tidak segan-segan bermain dengan anak laki-laki itu sebisa mungkin, meskipun Tutu suka bermain dengan cara yang kasar. Ia suka melompat ke arah orang-orang yang bermain dengannya dan mengancam akan mencakar mata dan hidung mereka. Tak lama kemudian, kakek akan menjauhinya dengan lembut, lebih suka mencintainya dari kejauhan.


Tutu menunjuk ke arah tharbusy tinggi milik kakeknya. “Kepalamu!”


Maksudnya, lelaki tua itu harus menanggalkan tharbusynya, agar Tutu bisa melihat kepala botak oranye yang lonjong dan miring yang telah menarik perhatian dan pertanyaannya sejak pertama kali melihatnya. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, dia mulai menunjuk wajah kakeknya yang keriput dan hidungnya yang berbintik, dan terus bertanya meskipun ayahnya berusaha membungkamnya. Lelaki tua itu berkata pada dirinya sendiri bahwa cucu kesayangannya itu tidak akan berhenti mengganggunya dan bahwa dia juga membutuhkan perlindungan. Tapi di mana Zahia? Dan juga arloji, pengusir lalat, dan rokoknya—bagaimana cara menjauhkan hal-hal tersebut dari jangkauan tangan anak laki-laki itu? Tutu mencoba untuk menemui kakeknya lagi untuk melakukan keinginannya, tetapi ayahnya menangkapnya lalu memanggil suster, yang membawanya pergi, Tutu berteriak protes.


“Ketika aku selesai bekerja di malam hari,” kata Sabir, “Munira dan aku pergi ke klub, jadi mengapa kamu tidak ikut dengan kami?”


“Jangan repot-repot memikirkanku. Biarkan saja semuanya berjalan dengan apa adanya.”


Sabir dan Munira pergi, dan lelaki tua itu menikmati kesendiriannya, berharap akan pulih. Namun, kesendirian ternyata lebih membosankan daripada yang ia bayangkan. Ia melirik sekilas kamar itu kemudian ia diliputi kesepian. Kapan ia akan terbiasa dengan tempat baru dan hidup tanpa Zahia? Selama empat puluh tahun ia tidak pernah melihat satu hari pun berlalu tanpa Zahia. Sejak ia dinikahkan dengannya di Helmiyya, lalu mereka menari di Sharafiyya, kehidupan rumah tangga yang ia bangun sangat indah, harum semerbak layaknya dupa. Apa guna Ramadan dan hari raya tanpa dia?


Upacara pemakaman itu tidak dihadiri oleh murid-muridnya dari generasi ke generasi. Apakah tidak ada yang mengingatnya lagi?


Hal ini tidak terjadi pada teman-teman yang telah lama meninggalkannya. Namun, meskipun mereka telah pergi, ia merasa melihat mereka satu per satu; seperti pada hari mereka dipertemukan di pemakaman Mustafa Kamil.


Ketika pak tua itu tidak pernah mengenal penyakit serius, istrinya yang malang telah menderita demam berdarah, tifus, dan serangan influenza, dan akhirnya meninggal karena penyakit jantung, membuatnya terpaksa harus tetap menjalani hidup. Dia pergi ke jendela dan melihat taman besar di tengah bangunan persegi panjang, bukan masjid besar yang biasa ia lihat dari jendela kamarnya di rumah Munira. Angin kering yang hangat bertiup menerpa dirinya. Dia menikmati keheningan yang menenangkan, meskipun juga diselimuti kesepiannya. Pada hari Inggris menduduki Kairo, dia mendapatkan seekor kuda liar, tetapi ayahnya yang takut akan akibatnya, memukuli pak tua muda dan membawa kuda itu pada malam hari ke Terusan Kairo, tempat dia melepaskannya. Kota itu berguncang karena ketakutan dan kesedihan.


Kembali ke tempat dia duduk, dia melihat seekor kucing kecil di kaki kursi. Kucing itu berwarna putih bersih, dengan bulu tebal dan bercak hitam di dahinya. Dari sorot mata abu-abunya, dia melihat keinginan untuk berteman. Zahia selalu menyukai kucing. Karena menyukai penampilannya, dengan matanya mengikuti binatang lucu itu saat bergerak di sekitar kaki kursi. Dia membelai punggungnya, dan kucing itu menggesekkan dirinya ke kaki pak tua, membuatnya tersenyum. Dia mengusap punggungnya, dan kucing itu mendekatkan tubuhnya. Punggungnya berdenyut, naik dan turun. Dia menganggap ini sebagai tanda kasih sayang dan sekali lagi tersenyum, memperlihatkan gigi dengan akar berwarna lumut, sementara kucing itu melengkung karena senang. Dia bergeser sedikit ke kiri untuk memberinya ruang, tetapi suara Tutu, yang gemetar karena upaya berlari, meraung saat dia bergegas masuk ke ruangan. "Kucingku!"


Dengan pasrah, lelaki tua itu berkata, “ini kucingmu,” dan bertanya dengan penuh kasih sayang tentang namanya.


“Nargis,” jawab anak laki-laki itu dengan kasar, sambil mencengkeram leher binatang itu dengan kasar dan berlari keluar sambil membawanya, sementara pak tua itu memohon, “pelan-pelan…pelan-pelan....”


Tiba-tiba dia tersentak. Apa yang sebenarnya terjadi? Seperti ada sesuatu yang mengenai dahinya. Dia mengerutkan kening karena kesal, dan tawa Tutu terdengar dari ambang pintu saat dia mengambil bola kecil yang memantul kembali kepadanya. Pak tua mengangkat tangannya untuk merasakan kacamatanya dan memastikan semuanya baik-baik saja, lalu dia memanggil Mubarka, yang bergegas menghampiri dan menggendong anak itu sebelum dia sempat melempar bola lagi.


“Anak yang menyebalkan dan kasar. Kucing yang malang!”


Lima tahun yang lalu putrinya Samira kehilangan seorang anak seusia Tutu, dan ia menghiburnya dengan air mata. “Sayalah yang seharusnya meninggal….” Menurutnya, saat ia duduk di pemakaman, semua mata tampak takjub melihat usia tuanya, menunjukkan kontradiksi yang mencolok antara kelangsungan hidupnya sendiri dan meninggalnya cucu pak tua di usia tiga tahun. Malam itu ia berkata kepada Zahia, “Umur panjang adalah kutukan.” Namun, betapa lembutnya Zahia saat berkata kepadanya, “Kami semua akan melakukan apa pun untukmu—kamu pembawa keberuntungan dan rejeki.”


Sore harinya, saat pulang kerja, Sabir berkata kepada ayahnya, “karena kamu tidak mau ikut kami ke klub, pilih saja kedai di Heliopolis. Kami punya kafe bagus di dekat rumah.”


Meskipun memilih kedai di dekat rumah mungkin merupakan hal yang masuk akal untuk dilakukan, ia menyukai Mattatia. Itu telah menjadi tempat favoritnya sejak lama. Ia berjalan menuju halte bus, bergerak dengan kecepatannya sendiri tetapi dengan tubuh yang tetap tegak. Ia menggunakan tongkat tetapi tidak untuk menopang berat badannya. Banyak orang menatapnya dengan heran, heran yang bercampur kagum.


Ia duduk di kedai di bawah gang beratap, sambil berkata pada dirinya sendiri setengah bercanda, "mengapa kedai ini begitu kosong?" Kedai itu sebenarnya tidak kosong, dan hanya sedikit meja yang kosong. Namun, kedai itu kosong sebab tak ada seorang pun yang ia kenal. Ia menatap kursi-kursi yang pernah digunakan oleh teman-teman lamanya yang sudah meninggal, mengingat wajah dan gerakan mereka, serta diskusi-diskusi mereka: berita yang dimuat di al-Muqattam; tentang permainan backgammon yang diperebutkan dengan sengit; dan tentang politik. Tuhan telah menakdirkan bahwa ia harus berjalan dalam prosesi pemakaman mereka, satu demi satu, dan harus meratapi mereka semua. Saatnya tiba, ketika satu-satunya sahabat pak tua yang masih hidup, Ali Pasha Mahran. Ini adalah kursi tempat ia biasa duduk. Pendek, kurus, dan membungkuk di atas tongkatnya, dengan pinggiran tharbusy-nya menyentuh alis putihnya yang lebat, menatap temannya dengan pandangan yang rapuh dan setengah berlinang air mata dari balik kacamata berwarna biru tua, ia bertanya, "aku ingin tahu siapa di antara kita yang akan hidup lebih lama dari yang lain?" Kemudian ia akan tertawa terbahak-bahak. Pada saat itu tangannya gemetar karena usia tua meskipun ia dua tahun lebih muda dari Pak tua itu.


Ketika Ali Pasha Mahran meninggal di usia delapan puluh lima tahun, Pak tua itu berkabung sejadi-jadinya. Setelah itu dunia menjadi kosong, begitu pula kedai Mattatia.


Di sini, di alun-alun Ataba, mengelilinginya seperti biasa di hadapan matanya yang tumpul, tetapi itu adalah alun-alu baru. Sedangkan untuk Mattatia, tidak ada tanda-tanda seperti dahulu kecuali lokasinya. Di mana pemilik kedai, orang Yunani yang ramah itu? Dan pelayan dengan kumis yang meliuk-liuk? Dan kursi-kursi yang kokoh, meja-meja marmer putih yang berkilau, cermin-cermin yang dipoles, dan prasmanan dengan minuman ringan dan salad—di mana semua itu?


Pada malam hari raya Sham al-Nesim tahun 1930, lelaki tua itu telah pensiun. Ia menghabiskan malam di Teater Ezbekiyya bersama sahabat-sahabatnya, dalam suasana yang gembira dengan musik. Ia menghabiskan hari berikutnya di Qonatir, merayakan masa pensiunnya, lalu bertemu Ibrahim Zanati membacakan sebuah puisi yang ia susun untuk acara tersebut. Malam itu Pak tua meminum begitu banyak brendi hingga ia mabuk, Ia duduk mendengarkan dengan penuh rasa takjub sajak sahabatnya, “O! persahabatan masa lalu yang indah.” Ketika di penghujung malam ia tertidur, ia bermimpi bahwa ia sedang bermain di Surga. Ibrahim Zanati telah mengungkapkan keinginannya dalam puisi, agar sahabatnya dapat menikmati umur panjang selama seratus tahun. Tampaknya haarapan itu akan dikabulkan, meskipun kedai itu sekarang kosong, dan Sheikh Zanati telah meninggal saat masih bekerja. Pelayan datang untuk mengambil gelas kosong, tetapi mundur sambil meminta maaf, mengingatkan pak tua tentang cangkir kopi yang terlupakan dan belum tersentuh.


Ketika dia kembali ke rumah, dia mendapati kucing itu sedang tidur dengan pulas, pemiliknya belum kembali dari klub. Dia menemukan makan malamnya berupa yogurt di meja makan. Tanpa bantuan, dia berganti pakaian dengan susah payah. Kemudian, sambil duduk untuk makan malam, dia teringat Nargis. Kalau saja anak kucing itu mau berbagi makan malam dengannya! Betapa menyenangkan berteman dengannya dan menjadi teman sejati di rumah yang begitu sibuk dengan dirinya sendiri! Mungkin kucing itu ada di suatu tempat di rumah. Dia mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah pintu dan memanggil, "Kucing...Kucing." Kemudian dia keluar dan memanggilnya lagi, "Nargis...Kucing...Kucing." Ngeongan Nargis datang dari balik pintu kamar di sebelah kamarnya sendiri, tempat Tutu dan perawatnya tidur. Setelah berpikir sejenak, dia mendekati pintu dan membukanya dengan lembut, dan kucing itu menuju ke arahnya, ekornya yang gemuk terangkat tegak seperti bendera.


lelaki tua itu kembali ke kamarnya dengan kucing yang mengikutinya, tetapi teriakan marah terdengar dari Tutu. Ternyata, pikirnya sambil tersenyum, bocah lelaki itu tidak tidur nyenyak. Tutu berlari masuk dan menerkam kucing itu, mencengkeram lehernya dengan kuat. Kakeknya mengelus kepalanya dan berkata dengan penuh cinta, "pegang dia dengan lembut, Tutu."


Namun, anak laki-laki itu semakin mempererat pegangannya hingga lelaki tua itu merasa Nargis akan dicekik. “Pergilah, lalu aku akan membawanya kepadamu di tempat tidur,” pintanya.


Namun Tutu tidak mau mendengarkannya, jadi Pak tua itu membungkuk dan melepaskan kucing itu dari genggaman anak itu, sambil berkata, “aku akan memberinya makan, lalu membawanya kembali kepadamu.”


Tutu melompat dengan marah dan mendorong lutut kakeknya. Orang tua itu terhuyung, lalu melangkah mundur dengan ragu, bergoyang, pak tua akan terjatuh jika saja tembok itu tidak menopangnya. Dengan kucing yang masih berada di lengannya, dia tetap dalam posisi miring, tidak mampu menegakkan tubuhnya. Kepalanya sedikit terhuyung. Dia menekan kakinya ke lantai dan bahunya ke dinding untuk menegakkan tubuhnya, tetapi ia tidak mampu melakukannya. Kucing itu merangkak naik ke lengannya untuk beristirahat di bahunya yang terangkat. Meskipun sedikit pusing di kepalanya, dia menyadari bahaya yang mengancam tulang-tulangnya. Dengan kekuatan yang tersisa, dia berteriak, “Mubarka!”


Tutu menjerit dan mengancam akan menyerang lagi. Lelaki tua itu putus asa untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Lebih lelah dari sebelumnya, ia tidak mampu berteriak lagi. Tutu bersiap untuk melompat ke tempat kucing itu berlindung, dan melemparkan dirinya ke depan dengan sekuat tenaga. Namun, saat ia bergegas keluar dari kamarnya, matanya linglung karena mengantuk, pengasuhnya menangkap pinggangnya. Akhirnya Mubarka datang, terbangun karena semua keributan itu, dan berlari ke arah tuannya, berseru kepada Tuhan dalam kesusahannya.


Mubarka meraihnya dari belakang dan dengan lembut menegakkannya, sementara dia mengerang. Dia berdiri tak bergerak seperti patung, dan Nargis melompat ke lantai dan melarikan diri. Dengan susah payah, lelaki tua itu, bersandar di lengan Mubarka, kembali ke kursi berlengannya. Beberapa waktu berlalu saat dia duduk di sana dalam diam sementara wanita itu terus-menerus bertanya kepadanya tentang keadaannya. Dia memberi isyarat dengan tangannya untuk memberikannya waktu menenangkan pikirannya, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, kakinya terentang, menarik nafas dalam-dalam. Dia memejamkan mata untuk menenangkan diri.


Tiba-tiba dia teringat sebuah perayaan peringatan untuk menghormati seseorang yang telah meninggal, sebuah kenangan yang berakar dalam jiwanya. Dia telah kembali dari mimbar setelah menyampaikan pidato yang pantas dan telah duduk di samping seorang teman. Temannya telah membungkukkan tubuh ke arahnya dan membisikkan beberapa kata pujian di telinganya. Tapi siapa teman itu? Ah, dia yakin dia akan mengingatkannya. Betapa sedihnya dia karena telah melupakannya! Temannya telah mengatakan sesuatu yang juga tidak mungkin dia lupakan. Dia pasti akan mengingatnya. Tepuk tangan dan sorak-sorai terdengar. Kucing mengeong semakin keras, setiap mata menangis. Dia bisa mendengar teriakan anak-anak. Sekali lagi temannya membungkukkan tubuh ke arahnya dan berbicara. Pak tua yakin bahwa dia akan memiliki kenangan itu, semuanya.


Dan tak lama kemudian dia pun tertidur.


*

Penerjemah : Enriawan Achmad Dwiputra

Tanggal penerjemahan : Selasa, 17 September 2024

Sumber : Baitun sayyi’u As-sam’ati

Judul asli : al-Qohwaru al-Khâliyatu

Penerbit : Hindawy

Tahun terbit : 1965

Penulis : Naguib Mahfouz

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default