Perihal April, Penjual Sosis Solo, dan Kutukan Pengetahuan

Contradixie
0

 


 

 

Pertengahan Maret tahun ini aku berkesempatan pulang kampung ke Sulawesi Tenggara. Ke rumah mamak dan bapak, ke tanah kelahiranku. Sebenarnya orangtuaku tidak lagi merasakan kangen terhadapku sebagaimana dahulu. Tapi ini bukan kabar baik, atau buruk, sebab rasa kangennya justru berpindah pada anakku, cucu semata wayangnya, yang nilainya berkali lipat daripadaku. Bahkan ia tentu saja akan sangat ikhlas bila misalnya ada suatu hal yang memungkinkan hanya cucunya yang datang, sementara anak pertama dan juga menantunya tetap di Jawa Timur.


Pada kepulangan ini aku mengalami suatu hal yang mengejutkan—ini agak hiperbolis sih—ketika mamak sedang asik menonton sebuah video yang kebetulan muncul pada linimasa facebook-nya. Video seorang anak perempuan—aku menebak dari suara yang terdengar—yang sedang bernyanyi. Karena penasaran siapa gerangan pemilik suara yang berkali-kali lewat dan ditonton mamak, aku pun mengajukan pertanyaan.


“Itu siapa, sih, Mak?”


“April.”


“April siapa?”


Hamma, masa kamu gak tahu April?” Suara mamak meninggi disertai dengan nada heran.


“Masa aku harus tahu?” Suaraku ikut meninggi disertai nada menantang.


Kami berdua kemudian tertawa. Bagi mamak, sebagaimana semua orang di lingkungan nyata maupun mayanya, maka seharusnya aku pun begitu, tahu siapa April. Sayangnya aku memang tidak pernah tahu April sebelum peristiwa obrolan tersebut terjadi.


Usai tahu bahwa ada sosok bernama April yang sedang naik-naiknya, aku masih sama seperti sebelumnya, tidak tertarik untuk sekadar mencari tahu melalui media sosial perihalnya dan segala yang terkait dengannya. Bahasan tentangnya berakhir ketika obrolan dengan mamak selesai.


Pada kesempatan yang lain—sebenarnya baru saja terjadi kemarin—aku mendapati tetangga bersiap berangkat bersama anaknya. Dengan sedikit basa-basi, aku pun bertanya.


“Mau ke mana, Mbak?”


“Ke kota, Mbak. Ada itu, lho, di lapangan (dia menyebutkan sebuah nama dan sayangnya aku lupa betul)”


“Hah, siapa, Mbak?”


Dia kemudian menyebutkan nama itu sekali lagi. Karena aku sama sekali tidak tahu, dia kemudian menambahkan sedikit penjelasan. Penjual sosis Solo, Mbak. Katanya. Dan sialnya, lagi-lagi aku tidak punya bayangan sama sekali tentang sosok yang disebutkannya.


Tetangga berlalu dan aku kembali terkenang percakapan dengan mamak beberapa bulan lalu. Kurasa aku menemukan kesamaan antara mamak dan tetanggaku barusan. Mereka mengetahui seorang tokoh, beberapa kenalannya mengetahui tokoh tersebut, dan mereka berasumsi bahwa semua orang pasti tahu tokoh yang mereka kenal itu.


Dari dua kejadian tersebut aku kemudian penasaran apakah ada semacam tulisan yang bisa menjelaskan atau setidaknya memberikan sedikit pencerahan terkait apa yang sedang membuatku resah. Jujur saja aku resah. Karena bagiku mengetahui sosok penyanyi ataupun penjual sosis bukanlah suatu yang wajib ataupun begitu penting sehingga harus menjadi sebuah pengetahuan bersama.


Lalu aku menemukan dua tulisan yang menyinggung perihal keresahanku ini. Tulisan pertama berjudul The “Curse of Knowledge” when Predicting Others’ Knowledge yang ditulis oleh Jonathan Tullis dan Brennen Feder. Di sana penulis sebenarnya membahas bagaimana sebuah pengetahuan bisa menjadi sebuah kutukan. Mereka menjelaskan bahwa semakin banyak pengetahuan yang kita miliki, maka akan semakin sulit bagi kita untuk memprediksi apa yang tidak diketahui orang lain. Kurasa inilah yang dialami oleh mamak juga tetanggaku. Bahwa mereka mengetahui April, penjual sosis Solo, atau siapa pun sosok di luaran sana yang terkenal di salah satu platform media sosial, membuat mereka sulit sekali membayangkan bahwa ada aku, atau seseorang seperti aku, yang tidak punya bayangan sedikit pun tentang orang-orang yang disebutkan.  


Tulisan kedua berjudul The Curse of Shared Knowledge: Recursive Belief Reasoning in a Coordination Game with Imperfect Information yang ditulis oleh tiga orang: Thomas Bolander, Robin Engelhardt, dan Thomas S. Nicolet. Selama ini kita terlalu sering menggunakan kalimat common knowledge untuk menyebutkan sesuatu yang diketahui bersama, dan kemudian lupa bahwa ada istilah lain yang juga bisa digunakan, dan bahkan mungkin lebih pas digunakan daripada istilah pertama. Istilah tersebut adalah shared knowledge atau bisa diterjemahkan pengetahuan yang sama-sama dimiliki.


Untuk sampai pada common knowlede dibutuhkan terlalu banyak hal, atau katakanlah begini, sesuatu tersebut harus mencapai level tertentu seperti menyangkut kebutuhan bersama, misal dalam kaitannya terhadap negara, kelangsungan alam dan manusia, atau kepentingan ilmu pengetahuan. Silakan ditambahkan hal-hal lainnya yang tentu saja masih luput disebutkan di sini. Sedangkan untuk mencapai level shared knowledge, bisa dibilang sudah menjadi penunjang dalam kehidupan bersosial. Pengetahuan yang sama-sama dimiliki ini bisa masuk ke berbagai aspek, dan di sinilah sosok April juga si penjual sosis Solo berada. Bahwa mereka terkenal dan “banyak orang tahu”, tapi tidak sampai pada taraf “semua orang seharusnya tahu”.


Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default