Hari Minggu yang panas di Kota Jogja ini kugunakan
untuk sejenak melamban. Mengatur langkah untuk esok, menyiapkan tubuh, juga ngademin
otak, dan pastinya mengistirahatkan hati, upps. Akhir-akhir ini, beberapa
temanku bercerita tentang patah hatinya. Jujur, akupun bingung bagaimana
menanggapi patah hati mereka. Bila teman-temanku bercerita tentang jatuh
cintanya, aku tak kekurangan kata, kalimat untuk menanggapi dan mengekspresikan
diri. Lain cerita ketika teman-temanku menceritakan patah hatinya. Aku kesusahan
merespons, aku kebingungan, dan gugup untuk sekedar mengucap satu kalimat.
Terkhusus, kata ‘sabar’ yang menjadi pantangan tersendiri. Semacam ada larangan
tak tertulis untuk mengucap kata sabar kepada mereka yang sedang patah.
Hari yang panas benar-benar kugunakan untuk melamban.
Aku sengaja mengirim pesan kepada teman lamaku, dan menanyakan resep melupa
alias move on. Alih-alih menasihatiku dengan kalimat yang begitu
panjang, ia justru merekomendasikanku film Materialist. Film
ini disutradarai oleh Celine Song, yang sebelumnya dikenal lewat film Past
Lives. Ceritanya berfokus pada Lucy Mason (Dakota Johnson), seorang
makcomblang sukses di New York yang membantu orang menemukan pasangan ideal.
Namun, kehidupan cintanya sendiri justru rumit.
Mungkin
ini mengandung spoiler. Haha. Namun, percayalah aku hanya ingin berbagi
pelajaran yang mungkin dapat digunakan untuk merenungi hati-hati yang sedang
patah.
Dalam
percakapan film tersebut, aku merenungi percakapan ini:
Man:
“But you must know a lot about love”
Woman:
“I know about dating.”
Man:
“What's the difference?”
Woman:
“Dating takes a lot of effort. A lot of trial and error. A ton of risk and
pain. Love is easy.”
Man:
“Is it? I find it to be the most difficult thing in the world.”
Woman:
“That's because we can't help it. It just walks into our lives sometimes.”
Lalu,
pada percakapan:
Harry's
father: Love is the last religion, the last
country, the last surviving ideology. So what else really is there to believe
in? When you get lost, and I know you'll be lost at times, it's life. When
you're lost, the answer is simple. Just go where love is. Just go where love
is.
Dan
terakhir pada percakapan:
Lucy:
And then you file for divorce. And you fight about... who owns what and... who
gets the kids when until it's... all over.
John:
Why does anybody even get married?
Lucy:
Because people tell them they should. And because they're lonely. And because
they're hopeful.
They
want to do it differently than their parents.
Pada
akhirnya, Lucy sebagai tokoh utama menyadari bahwa hubungannya dengan Harry
lebih didasarkan pada kecocokan status dan kriteria ideal, bukan cinta yang
mendalam. Ia memilih kembali bersama John, karena hubungan mereka dibangun atas
kasih sayang yang nyata meskipun tidak sempurna secara finansial. Film berakhir
dengan lamaran John kepada Lucy di Central Park.
--
Cukup
sudah melamban hari ini, kukirim pesan kepada temanku dan berterima kasih
karena sudah memberikan rekomendasi film ini. Lalu, aku mengirim pesan kepada
satu temanku yang sedang mengalami patah hati terparah (menurutku). Ia
membalas, “Lalu, bagaimana kondisi patahmu?” Aku tak membalas pesan itu,
rasanya aku ingin mengakhiri siang-soreku sesegera mungkin. Rencanaku untuk
mengiriminya foto langit merah jingga sore ini kuurungkan. Langitku mendung,
mataku sembab. Aku menyadari,
perihal patah hati, kita semua perih.
Penulis: azn.
