Perihal Patah Hati, Kita Semua Perih

Contradixie
0

 


Hari Minggu yang panas di Kota Jogja ini kugunakan untuk sejenak melamban. Mengatur langkah untuk esok, menyiapkan tubuh, juga ngademin otak, dan pastinya mengistirahatkan hati, upps. Akhir-akhir ini, beberapa temanku bercerita tentang patah hatinya. Jujur, akupun bingung bagaimana menanggapi patah hati mereka. Bila teman-temanku bercerita tentang jatuh cintanya, aku tak kekurangan kata, kalimat untuk menanggapi dan mengekspresikan diri. Lain cerita ketika teman-temanku menceritakan patah hatinya. Aku kesusahan merespons, aku kebingungan, dan gugup untuk sekedar mengucap satu kalimat. Terkhusus, kata ‘sabar’ yang menjadi pantangan tersendiri. Semacam ada larangan tak tertulis untuk mengucap kata sabar kepada mereka yang sedang patah.

Hari yang panas benar-benar kugunakan untuk melamban. Aku sengaja mengirim pesan kepada teman lamaku, dan menanyakan resep melupa alias move on. Alih-alih menasihatiku dengan kalimat yang begitu panjang, ia justru merekomendasikanku film Materialist. Film ini disutradarai oleh Celine Song, yang sebelumnya dikenal lewat film Past Lives. Ceritanya berfokus pada Lucy Mason (Dakota Johnson), seorang makcomblang sukses di New York yang membantu orang menemukan pasangan ideal. Namun, kehidupan cintanya sendiri justru rumit.

Mungkin ini mengandung spoiler. Haha. Namun, percayalah aku hanya ingin berbagi pelajaran yang mungkin dapat digunakan untuk merenungi hati-hati yang sedang patah.

Dalam percakapan film tersebut, aku merenungi percakapan ini:

Man: “But you must know a lot about love”

Woman: “I know about dating.”

Man: “What's the difference?”

Woman: “Dating takes a lot of effort. A lot of trial and error. A ton of risk and pain. Love is easy.”

Man: “Is it? I find it to be the most difficult thing in the world.”

Woman: “That's because we can't help it. It just walks into our lives sometimes.”

Lalu, pada percakapan:

Harry's father: Love is the last religion, the last country, the last surviving ideology. So what else really is there to believe in? When you get lost, and I know you'll be lost at times, it's life. When you're lost, the answer is simple. Just go where love is. Just go where love is.

Dan terakhir pada percakapan:

Lucy: And then you file for divorce. And you fight about... who owns what and... who gets the kids when until it's... all over.

John: Why does anybody even get married?

Lucy: Because people tell them they should. And because they're lonely. And because they're hopeful.

They want to do it differently than their parents.

Pada akhirnya, Lucy sebagai tokoh utama menyadari bahwa hubungannya dengan Harry lebih didasarkan pada kecocokan status dan kriteria ideal, bukan cinta yang mendalam. Ia memilih kembali bersama John, karena hubungan mereka dibangun atas kasih sayang yang nyata meskipun tidak sempurna secara finansial. Film berakhir dengan lamaran John kepada Lucy di Central Park.

--

Cukup sudah melamban hari ini, kukirim pesan kepada temanku dan berterima kasih karena sudah memberikan rekomendasi film ini. Lalu, aku mengirim pesan kepada satu temanku yang sedang mengalami patah hati terparah (menurutku). Ia membalas, “Lalu, bagaimana kondisi patahmu?” Aku tak membalas pesan itu, rasanya aku ingin mengakhiri siang-soreku sesegera mungkin. Rencanaku untuk mengiriminya foto langit merah jingga sore ini kuurungkan. Langitku mendung, mataku sembab. Aku menyadari, perihal patah hati, kita semua perih.

 

Penulis: azn.

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default