Hitungannya cukup telat membahas buku ini sekarang padahal selesai baca sudah enam bulan yang lalu. Menurutku kisah-kisah di buku ini layak untuk diulas satu per satu, jadi memang ada baiknya diulas sesegera mungkin usai dibaca.
Salah satu judul cerpen dalam buku ini adalah Seher. Mengisahkan seorang perempuan bernama Seher yang kehidupannya direnggut oleh para lelaki. Mulanya oleh sekelompok laki-laki yang melakukan pemerkosaan terhadapnya, lalu selanjutnya oleh ayah, kakak, dan adik laki-lakinya di sebuah tanah lapang.
Kisah Seher terus menghantuiku sejak aku selesai membacanya, menimbulkan semacam kemarahan pada diriku atas perlakuan setiap tokoh laki-laki yang ada dalam cerita ini. Kebengisan macam apa yang dibutuhkan oleh seorang ayah hingga tega mengakhiri nyawa putrinya? Atas nama harga diri dan kemuliaan keluarga katanya? Cuiiih. Ayah Seher, laki-laki sok kuasa dan sok suci itu, adalah seorang munafik yang malamnya tidur bersama pelacur di rumah bordil lalu subuhnya berangkat ke masjid untuk berjamaah.
Betapa mengenaskannya terlahir sebagai perempuan. Bahkan ketika kamu menjadi korban sekalipun, kamu tetap disalahkan dan dianggap aib. Bukannya menghukum orang yang memperkosamu, mereka malah melenyapkanmu dari dunia karena dianggap telah merusak martabat keluarga. Si pelaku, dalam hal ini para lelaki, akan tetap bebas melenggang dan menunjukkan kuasanya dengan semena-mena.
Satu kisah lain yang juga menghantuiku adalah cerpen yang berjudul Tak Seperti yang Anda Kira. Dinarasikan dengan gaya yang cukup unik; lucu, berbelok-belok, dan akhir yang membuat kening sedikit berkerut. Aku perlu mengulang beberapa kali bagian akhirnya baru bisa merasa paham.
Tentang Musti, Mustafa, yang mengalami kenahasan hidup hingga membuatnya tidak punya banyak gairah akan masa depan. Ini karena Semra, seorang perempuan yang teramat dicintainya, direnggut di depan matanya, oleh saudara lelakinya. Keduanya menerima peluru, namun Musti selamat dan Semra tidak. Sekalipun, ini tak seperti yang Anda kira.
Ada orang-orang yang merasa dirinya berkuasa, atau berhak berkuasa atas orang lain, lalu kemudian bertindak semena-mena seolah-olah mereka memang memegang kendali atasnya. Naudzubillah. Semoga kita terhindarkan orang-orang semacam ini.

.jpeg)
