Banyak hal yang membuatku senang ketika membaca buku ini. Salah satunya mungkin karena saya dan penulis sama-sama merantau ke kota Makassar, lalu ke Jogja. Kami bahkan, mungkin, sempat berada di kota yang sama dalam kurun waktu yang singkat, 2017 di Makassar dan 2021 di Jogja.
Berangkat dari kesamaan itulah barangkali yang membuat proses membacaku terhadap buku ini terasa lebih intens, akrab, dan seperti membaca pengalaman sendiri. Walaupun seandainya saat saya dan penulis makan bakso kuah coto bersama, perbedaan akan tampak dengan jelas. Saya tidak suka menikmati makanan berkuah yang polosan, tanpa kecap, apalagi tanpa sambal. Bagiku kurang nendang di lidah, dan terlalu pucat dipandang.
Membaca buku ini saat saya berada sejauh sekian ratus mil dari tanah Sulawesi sukses membuatku ngiler setengah mati. Tapi ngiler hanya satu hal, terlebih saya bisa membuat beberapa sajian yang disebutkan walaupun kurang sempurna. Yang lebih membuatku melankolis adalah rasa kangen yang tiba-tiba membuncah pada suasana rumah, pallumara buatan mama, bale pijja dengan perasan jeruk nipis, dan kami sekeluarga yang duduk melingkar menghadapi piring masing-masing. Suami Jawa-ku mengamati bagaimana keluarga Bugis istrinya makan saat berkesempatan berkunjung ke Kolaka, "Ngambilnya dikit-dikit, ya, tapi nambah terus."
Saya sempat bertepuk tangan ketika menemukan kata "karton" di awal-awal buku ini. Sangat Sulawesi. Bergembira karena penulis, ataupun editor mempertahankan kata itu, alih-alih menggantinya dengan kata "kardus." Tapi kegembiraan itu ternyata tidak berlangsung lama, sebab pada bahasan lain, kata yang digunakan ternyata "kardus."
Sekalipun ada banyak ketidakkonsistenan editing dalam buku ini, saya tetap merasa nyaman menikmati setiap sajian kisahnya. Semoga akan segera cetak ulang, tapi dalam versi yang lebih rapi lagi.



.jpeg)
.jpeg)