Ada
hari-hari ketika Kataleya berpikir bahwa hidup adalah pekerjaan yang terlalu
melelahkan untuk dilakukan sendirian.
Hari-hari
seperti ketika ia harus meminum obat setelah makan malam sambil menatap hujan
yang luruh di balik jendela kamarnya. Kamar yang sunyi, di sebuah sudut pulau
yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar, tempat ia biasa menghabiskan waktu
dengan helai-helai benang. Di atas meja kayunya yang mulai kusam, kini berjejer
lima botol kaca kecil dengan nama-nama kimia yang sulit dieja oleh lidahnya.
Nama-nama obat yang diberikan dokter untuk meredakan badai yang telanjur
mengamuk di kepala dan saraf lehernya.
Setiap
kali menelan kapsul-kapsul itu, Kataleya selalu merasa sedang menegosiasikan
kedamaian dengan tubuhnya sendiri. Hidup, baginya saat ini, terasa seperti
sedang menyesuaikan dosis. Kadang terlalu pekat hingga membuatnya tidak bisa
bangkit dari tempat tidur seharian, kadang terlalu hambar hingga ia terbangun
pukul dua dini hari hanya untuk memastikan dadanya masih bergerak, memastikan
dirinya masih bernapas dengan tenang.
Lucunya,
rasa sakit yang paling besar dalam hidup manusia sering kali tidak meninggalkan
luka yang bisa difoto.
Jika
seseorang jatuh dari sepeda, akan ada lutut yang berdarah atau kulit yang lebam
untuk ditunjukkan kepada dunia sebagai bukti bahwa mereka sedang tidak
baik-baik saja. Namun, bagi Kataleya, lukanya bersembunyi di balik detak
jantung yang mendadak melompat terlalu cepat, lambung yang terus memberontak,
dan rasa kaku yang menjalar dari tengkuk hingga ke pelipisnya. Orang-orang yang
berpapasan dengannya di jalan sore hari tetap melihatnya sebagai Kataleya yang
biasa, perempuan dengan rambut yang diikat rapi dan senyum yang tipis.
Mereka
sering mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan yang kuat. Dan mereka tidak
pernah salah. Kataleya memang kuat. Hanya saja, mereka tidak pernah bertanya
apakah ia ingin menjadi perempuan yang kuat.
Barangkali
jika boleh memilih, ia lebih ingin menjadi perempuan yang menghabiskan sore
dengan membeli es teh di pinggir sawah, duduk di gubuk kecil sambil menghirup
bau rumput yang dibakar setelah masa panen, lalu pulang ke rumah dengan kepala
yang kosong, tanpa membawa beban atau ingatan apa pun yang menggelayuti
pundaknya. Menjadi manusia yang biasa saja, yang sedihnya
secukupnya dan bahagianya sewajarnya.
Namun hidup rupanya memiliki selera humor yang aneh,
dan Kataleya dipaksa untuk tertawa pada komedi yang ditulis oleh takdirnya
sendiri.
Dua bulan lalu, musim panas di kepalanya bermula dari
sebuah ruang percakapan digital. Ia dipertemukan dengan seorang laki-laki yang
berada di seberang samudra, di sebuah kota kecil yang belum pernah Kataleya
injak. Laki-laki yang lewat getaran suara di ujung telepon mampu membuat
Kataleya percaya bahwa jarak hanyalah angka di atas peta. Mereka membangun
sebuah dunia kecil yang hanya terdiri dari ketukan pesan teks, panggilan video
menjelang petang, dan janji-janji yang diucapkan dengan nada begitu meyakinkan
hingga terdengar seperti kebenaran mutlak.
Mereka tidak pernah berjalan berdampingan di trotoar
yang sama. Tidak pernah berbagi tempat di bawah payung yang sama saat hujan
deras melanda. Tetapi cinta, siapa yang pernah berhasil menjelaskan logikanya
dengan rumus matematika? Kataleya menyerahkan seluruh ketulusannya yang paling
rapuh ke dalam genggaman suara itu. Ia mencintai dengan cara yang membakar
dirinya sendiri.
Lalu, seperti banyak kisah yang gagal menjadi puisi,
semuanya selesai begitu saja.
Perpisahan itu tidak datang dengan suara ledakan atau
pertengkaran hebat yang dramatis. Semuanya selesai dengan cara yang paling
sederhana dan paling kejam di zaman modern, sebuah tekanan jari pada tombol
blokir. Dalam satu detik, ruang percakapan yang biasanya penuh dengan ketukan
kata mendadak berubah menjadi dinding batu yang dingin. Nama yang biasanya
muncul di layar HP-nya lenyap, menyisakan keheningan yang berdengung keras di
telinga Kataleya.
Pada suatu sore yang dingin, ketika kabut perlahan
turun menyelimuti pekarangan, Kataleya berdiri dan berjalan mendekati sudut
kamarnya. Di sana, alat tenun kayu tuanya berdiri membisu, tertutup kain
penutup yang sudah berdebu. Sudah lama sekali ia tidak menenun sesuatu untuk
dirinya sendiri. Selama ini, seluruh energinya habis digunakan untuk memikirkan
lukanya, memikirkan bagaimana cara agar ia sadar, bagaimana cara agar ia
menyesal, atau apakah ego laki-laki itu akan terbentur suatu hari nanti saat ia
menyadari telah menyia-nyiakan wanita setulus Kataleya.
Kataleya
sempat berpikir untuk membuat sehelai kain yang indah, menempuh perjalanan jauh
menyeberangi pulau itu, lalu meletakkannya di depannya sebagai sebuah tanda
perpisahan. Bukankah indah jika luka bisa dijadikan hadiah terakhir? Ia ingin
memancing sebuah reaksi, sebuah tatapan bersalah dari mata yang dulu sering
menatapnya lewat layar kaca.
Ia
menarik seikat benang sutra berwarna ungu muda dan putih. Di dalam kepalanya,
sketsa itu mulai terbentuk. Ia tidak ingin menenun kupu-kupu yang sayapnya
mudah patah, tidak juga ingin menenun langit senja yang akan segera digantikan
oleh malam yang gelap. Ia memilih menenun sekuntum bunga anggrek Cattleya.
Orang-orang
menyebut bunga itu sebagai Ratu Anggrek. Kataleya tahu filosofinya dari buku
tua milik ibunya. Cattleya adalah jenis bunga yang tidak tumbuh dengan
tergesa-gesa. Ia membutuhkan waktu yang panjang untuk merayap di kulit pohon,
mencengkeram kehidupan dengan akarnya yang kuat, dan mengumpulkan nutrisi dari
udara sebelum akhirnya mengeluarkan kuncup. Ia tidak pandai menarik perhatian
sejak awal seperti bunga mawar yang mencolok, tetapi ketika ia akhirnya mekar,
kelopaknya yang anggun dan aromanya yang lembut akan tinggal lebih lama di
kepala orang-orang daripada pergantian musim itu sendiri.
Kataleya
duduk di kursi kayunya, mulai menggerakkan injakan kaki alat tenunnya. Bunyi
klek-tak-klek-tak yang berirama mulai mengisi kesunyian kamar. Benang sutra
ungu pertama mulai menyilang di antara benang-benang putih.
Ada
sesuatu yang lucu dari manusia yang sedang patah hati, pikirnya sembari menarik
sisir tenun. Mereka selalu ingin memberikan sesuatu yang paling indah kepada
orang yang paling tidak tahu cara menjaganya. Mengapa ia harus melelahkan
fisiknya yang sedang sakit hanya untuk membuatkan hadiah bagi seseorang yang
bahkan tidak peduli apakah ia masih bernapas atau tidak malam ini?
Tetapi
seiring dengan terbentuknya pola kelopak bunga Cattleya di atas bentangan
benang, pikiran itu perlahan memudar, tertiup angin yang masuk dari celah
jendela. Kain tenun ini terlalu berharga. Setiap helai benangnya ditarik dengan
sisa tenaga dari tubuhnya yang sedang berjuang sembuh. Kain ini tidak pernah
ditenun untuk laki-laki itu.
Ia
ditenun untuk perempuan yang diam-diam masih memiliki daftar mimpi yang belum
selesai, melihat keindahan Raja Ampat suatu hari nanti, menyelesaikan buku
pertamanya sebelum usianya menginjak angka tiga puluh, dan perlahan-lahan mulai
percaya bahwa hujan lebih indah dinikmati dari balik jendela rumah kecilnya
sendiri tanpa perlu menunggu kabar dari siapa pun.
Malam
mulai turun, menggantikan warna jingga di ufuk barat dengan kegelapan yang
tenang. Kataleya menghentikan gerakan tangannya. Ia meraba tekstur tenunan
barunya yang baru selesai beberapa sentimeter. Masih sangat panjang perjalanan
untuk menyelesaikan motif Cattleya ini.
Ia
berdiri, berjalan menuju meja kayu, lalu mengambil segelas air hangat dan obat
malamnya. Tidak ada keajaiban mendadak malam ini. Rasa sakit di lehernya masih
ada, denyut di kepalanya belum sepenuhnya hilang, dan dunia di luar sana tetap
berjalan dengan kecepatannya sendiri yang acuh tak acuh. Orang-orang masih akan
datang dan pergi sesuai takdir mereka masing-masing. Ia menatap jendela sembari
tersenyum mengucapkan selamat telah berhasil hidup satu hari lagi.

