Kataleya

Contradixie
0

 


Ada hari-hari ketika Kataleya berpikir bahwa hidup adalah pekerjaan yang terlalu melelahkan untuk dilakukan sendirian.


Hari-hari seperti ketika ia harus meminum obat setelah makan malam sambil menatap hujan yang luruh di balik jendela kamarnya. Kamar yang sunyi, di sebuah sudut pulau yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar, tempat ia biasa menghabiskan waktu dengan helai-helai benang. Di atas meja kayunya yang mulai kusam, kini berjejer lima botol kaca kecil dengan nama-nama kimia yang sulit dieja oleh lidahnya. Nama-nama obat yang diberikan dokter untuk meredakan badai yang telanjur mengamuk di kepala dan saraf lehernya.


Setiap kali menelan kapsul-kapsul itu, Kataleya selalu merasa sedang menegosiasikan kedamaian dengan tubuhnya sendiri. Hidup, baginya saat ini, terasa seperti sedang menyesuaikan dosis. Kadang terlalu pekat hingga membuatnya tidak bisa bangkit dari tempat tidur seharian, kadang terlalu hambar hingga ia terbangun pukul dua dini hari hanya untuk memastikan dadanya masih bergerak, memastikan dirinya masih bernapas dengan tenang.


Lucunya, rasa sakit yang paling besar dalam hidup manusia sering kali tidak meninggalkan luka yang bisa difoto.


Jika seseorang jatuh dari sepeda, akan ada lutut yang berdarah atau kulit yang lebam untuk ditunjukkan kepada dunia sebagai bukti bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Namun, bagi Kataleya, lukanya bersembunyi di balik detak jantung yang mendadak melompat terlalu cepat, lambung yang terus memberontak, dan rasa kaku yang menjalar dari tengkuk hingga ke pelipisnya. Orang-orang yang berpapasan dengannya di jalan sore hari tetap melihatnya sebagai Kataleya yang biasa, perempuan dengan rambut yang diikat rapi dan senyum yang tipis.


Mereka sering mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan yang kuat. Dan mereka tidak pernah salah. Kataleya memang kuat. Hanya saja, mereka tidak pernah bertanya apakah ia ingin menjadi perempuan yang kuat.


Barangkali jika boleh memilih, ia lebih ingin menjadi perempuan yang menghabiskan sore dengan membeli es teh di pinggir sawah, duduk di gubuk kecil sambil menghirup bau rumput yang dibakar setelah masa panen, lalu pulang ke rumah dengan kepala yang kosong, tanpa membawa beban atau ingatan apa pun yang menggelayuti pundaknya. Menjadi manusia yang biasa saja, yang sedihnya secukupnya dan bahagianya sewajarnya.


Namun hidup rupanya memiliki selera humor yang aneh, dan Kataleya dipaksa untuk tertawa pada komedi yang ditulis oleh takdirnya sendiri.


Dua bulan lalu, musim panas di kepalanya bermula dari sebuah ruang percakapan digital. Ia dipertemukan dengan seorang laki-laki yang berada di seberang samudra, di sebuah kota kecil yang belum pernah Kataleya injak. Laki-laki yang lewat getaran suara di ujung telepon mampu membuat Kataleya percaya bahwa jarak hanyalah angka di atas peta. Mereka membangun sebuah dunia kecil yang hanya terdiri dari ketukan pesan teks, panggilan video menjelang petang, dan janji-janji yang diucapkan dengan nada begitu meyakinkan hingga terdengar seperti kebenaran mutlak.


Mereka tidak pernah berjalan berdampingan di trotoar yang sama. Tidak pernah berbagi tempat di bawah payung yang sama saat hujan deras melanda. Tetapi cinta, siapa yang pernah berhasil menjelaskan logikanya dengan rumus matematika? Kataleya menyerahkan seluruh ketulusannya yang paling rapuh ke dalam genggaman suara itu. Ia mencintai dengan cara yang membakar dirinya sendiri.


Lalu, seperti banyak kisah yang gagal menjadi puisi, semuanya selesai begitu saja.


Perpisahan itu tidak datang dengan suara ledakan atau pertengkaran hebat yang dramatis. Semuanya selesai dengan cara yang paling sederhana dan paling kejam di zaman modern, sebuah tekanan jari pada tombol blokir. Dalam satu detik, ruang percakapan yang biasanya penuh dengan ketukan kata mendadak berubah menjadi dinding batu yang dingin. Nama yang biasanya muncul di layar HP-nya lenyap, menyisakan keheningan yang berdengung keras di telinga Kataleya.


Pada suatu sore yang dingin, ketika kabut perlahan turun menyelimuti pekarangan, Kataleya berdiri dan berjalan mendekati sudut kamarnya. Di sana, alat tenun kayu tuanya berdiri membisu, tertutup kain penutup yang sudah berdebu. Sudah lama sekali ia tidak menenun sesuatu untuk dirinya sendiri. Selama ini, seluruh energinya habis digunakan untuk memikirkan lukanya, memikirkan bagaimana cara agar ia sadar, bagaimana cara agar ia menyesal, atau apakah ego laki-laki itu akan terbentur suatu hari nanti saat ia menyadari telah menyia-nyiakan wanita setulus Kataleya.


Kataleya sempat berpikir untuk membuat sehelai kain yang indah, menempuh perjalanan jauh menyeberangi pulau itu, lalu meletakkannya di depannya sebagai sebuah tanda perpisahan. Bukankah indah jika luka bisa dijadikan hadiah terakhir? Ia ingin memancing sebuah reaksi, sebuah tatapan bersalah dari mata yang dulu sering menatapnya lewat layar kaca.


Ia menarik seikat benang sutra berwarna ungu muda dan putih. Di dalam kepalanya, sketsa itu mulai terbentuk. Ia tidak ingin menenun kupu-kupu yang sayapnya mudah patah, tidak juga ingin menenun langit senja yang akan segera digantikan oleh malam yang gelap. Ia memilih menenun sekuntum bunga anggrek Cattleya.


Orang-orang menyebut bunga itu sebagai Ratu Anggrek. Kataleya tahu filosofinya dari buku tua milik ibunya. Cattleya adalah jenis bunga yang tidak tumbuh dengan tergesa-gesa. Ia membutuhkan waktu yang panjang untuk merayap di kulit pohon, mencengkeram kehidupan dengan akarnya yang kuat, dan mengumpulkan nutrisi dari udara sebelum akhirnya mengeluarkan kuncup. Ia tidak pandai menarik perhatian sejak awal seperti bunga mawar yang mencolok, tetapi ketika ia akhirnya mekar, kelopaknya yang anggun dan aromanya yang lembut akan tinggal lebih lama di kepala orang-orang daripada pergantian musim itu sendiri.


Kataleya duduk di kursi kayunya, mulai menggerakkan injakan kaki alat tenunnya. Bunyi klek-tak-klek-tak yang berirama mulai mengisi kesunyian kamar. Benang sutra ungu pertama mulai menyilang di antara benang-benang putih.


Ada sesuatu yang lucu dari manusia yang sedang patah hati, pikirnya sembari menarik sisir tenun. Mereka selalu ingin memberikan sesuatu yang paling indah kepada orang yang paling tidak tahu cara menjaganya. Mengapa ia harus melelahkan fisiknya yang sedang sakit hanya untuk membuatkan hadiah bagi seseorang yang bahkan tidak peduli apakah ia masih bernapas atau tidak malam ini?


Tetapi seiring dengan terbentuknya pola kelopak bunga Cattleya di atas bentangan benang, pikiran itu perlahan memudar, tertiup angin yang masuk dari celah jendela. Kain tenun ini terlalu berharga. Setiap helai benangnya ditarik dengan sisa tenaga dari tubuhnya yang sedang berjuang sembuh. Kain ini tidak pernah ditenun untuk laki-laki itu.


Ia ditenun untuk perempuan yang diam-diam masih memiliki daftar mimpi yang belum selesai, melihat keindahan Raja Ampat suatu hari nanti, menyelesaikan buku pertamanya sebelum usianya menginjak angka tiga puluh, dan perlahan-lahan mulai percaya bahwa hujan lebih indah dinikmati dari balik jendela rumah kecilnya sendiri tanpa perlu menunggu kabar dari siapa pun.


Malam mulai turun, menggantikan warna jingga di ufuk barat dengan kegelapan yang tenang. Kataleya menghentikan gerakan tangannya. Ia meraba tekstur tenunan barunya yang baru selesai beberapa sentimeter. Masih sangat panjang perjalanan untuk menyelesaikan motif Cattleya ini.


Ia berdiri, berjalan menuju meja kayu, lalu mengambil segelas air hangat dan obat malamnya. Tidak ada keajaiban mendadak malam ini. Rasa sakit di lehernya masih ada, denyut di kepalanya belum sepenuhnya hilang, dan dunia di luar sana tetap berjalan dengan kecepatannya sendiri yang acuh tak acuh. Orang-orang masih akan datang dan pergi sesuai takdir mereka masing-masing. Ia menatap jendela sembari tersenyum mengucapkan selamat telah berhasil hidup satu hari lagi.



Penulis: Ratna 

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default