Review Jujur Buku Tafsir Surat Al-Muzzammil: Perihal Istitsna’

Contradixie
0


Saya lupa kapan tepatnya teman saya meminjamkan buku karya dosen saya untuk saya baca. Ketika ia menanyakan perihal buku miliknya, saya bilang padanya bahwa buku tersebut belum sempat saya baca. "Ya udah dibaca dulu aja", katanya pasrah. Memang, di antara orang-orang baik yang saya kenal dia adalah salah satunya. Lalu di suatu malam saat menunggu kantuk yang tak kunjung tiba, akhirnya saya khatamkan buku tersebut dalam sekali duduk.


Buku tersebut berjudul 'Tafsir Surat Al-Muzammil'. Ditulis oleh seorang dosen muda yang dulu mengajar kami di kelas IAT.  Mungkin karena umur beliau hanya beberapa tahun lebih tua dari kami, beliau lebih mudah akrab dengan kami daripada dosen-dosen lainya. Gaya mengajarnya pun asyik khas orang-orang pintar yang suka nongkrong. Ketika saya baca buku beliau pun, ke-asyik-an itu pula yang menjadi kesan pertama saya terhadap buku ini.

 

Buku ini, meskipun judulnya memakai diksi 'tafsir' isinya lebih ke renungan-renungan (tadabbur) Pak Dosen perihal surat al-Muzzammil. Sepertinya buku ini adalah seri kedua dari buku sebelumnya yang membahas Surat al-Muddattsir. Dicetak seukuran a5 oleh penerbit Contradixie. Covernya berwarna abu-abu yang kesanya sendu. Buku ini cukup tipis, hanya seratus halaman kurang dikit. Lebih tebal skripsi saya, wkwk.

 

Di seratusan halaman karang dikit itu, 27 halaman pertamanya adalah muqaddimah. Dilanjutkan renungan-renungan beliau terhadap dua puluh ayat surat al-Muzzammil. Lalu beliau bagi pembahasan dalam lima gugus. Setiap gugus terdiri dari beberapa ayat. Beliau terjemahkan dulu ayat-ayat tersebut dengan bahasa jawa yang dipakai sehari-hari, lalu dilanjutkan dengan ungkapan-ungkapan renungan atas ayat-ayat tersebut.

 

Dalam renungan beliau, Surat al-Muzzammil adalah anjuran agar kita mengoptimalkan waktu istirahat yang ada setelah sebelumnya kita disuruh kerja keras. Tentunya, bagi orang-orang yang ngaji al-Qur'an secara konservatif pemahaman seperti itu akan mengernyitkan dahi mereka. Sialnya, saya termasuk orang-orang konservatif itu. Dahi saya bahkan sudah mengernyit saat pertama kali membaca judul buku ini yang sedikit menyinggung pemahaman saya tentang diksi 'tafsir'.

 

Namun, yang membuat dahi saya mengernyit lebih kusut adalah perihal istitsna'. Pada gugus pertama, ketika beliau menerjemahkan ayat, "qumill-laila illaa qoliilaa" beliau mengalih bahasakannya dengan, "wengi-wengi tangio, neng sediluk wae." Loh loh. Saya baca ulang. Memang benar terjemahannya seperti itu. Saya tidak terima. Lalu saya berusaha mencari klarifikasi di pembahasan. Dugaan saya malah semakin kuat. Beliau mengabaikan istitsna' dalam ayat ini (emote nangis).

 

===

 


Istitsna' (الإستثناء) dalam bahasa Indonesia berarti 'pengecualian'. Menurut al-Gholayaini, diksi tersebut adalah bentuk istif'aal dari lafadz tsanaa (ثنى) yang berarti memalingkan. Secara istilah bisa dipahami dengan, "memalingkan suatu lafadz dari mustatsna minhu yang bersifat umum dan mengeluarkanya dari ketetapan yang ada pada keumuman tersebut. Misal ada guru yang berkata pada muridnya, "tetaplah di kelas selama jam sekolah, kecuali jam istirahat!".

 

Di kalimat yang saya contohkan, 'jam sekolah' adalah mustatsna minhu yang bersifat umum. Sang guru tidak mengkhususkan apakah jam yang dimaksud itu jam pertama, jam kedua, atau lainya pokoknya selama jam sekolah si murid harus tetap di kelas. Sampai ada lafadz 'kecuali'. Nah lafadz 'kecuali' ini mengkhususkan dan mengeluarkan 'jam istirahat' dari keharusan untuk tetap di kelas, yang berarti jam istirahat boleh di luar kelas.

 

Begitu juga pada ayat "qumillaila illa qoliilaa". 'Al-lail' di sini bersifat umum kemudian 'illa' mengkhususkan dan mengeluarkan 'qoliilaa' dari perintah untuk bangun. Atau jika diterjemahkan menjadi, "bangunlah saat malam kecuali singkat saja". Di sini perintah bangun tidak khusus di jam satu, jam dua, atau jam berapa pun. Pokoknya bangun saat malam. Kemudian 'singkat saja' dikeluarkan dari perintah untuk bangun yang berarti boleh istirahat.

 

Intinya, secara bahasa ayat tersebut justru menyuruh untuk banyak-banyak beribadah dan sedikit istirahat. Bertolak belakang dari ide utama dalam buku tersebut.

 

===

 

Meskipun begitu, membaca buku ini tetap mengasyikan. Sosok beliau yang mudah akrab dan sok asik bisa saya rasakan dalam gugus-gugus itu. Renungan-renungan beliau relate dengan apa yang dialami anak-anak muda seperti kita. Seolah menegaskan bahwa beliau adalah bagian dari kita dan merasakan apa yang kita rasakan. Gaya penyampaian semacam ini tentu lebih mudah diterima pembaca dari pada buku-buku tafsir yang njelimet dan nggak ramah buat orang-orang bingung seperti kita.

 

===

 

Pada akhirnya, sebagaimana beliau dan umumnya manusia, kita seringkali mengabaikan istitsna'-istisna' yang tersirat dalam kehidupan. Banyak dari kita yang mengabaikan hal-hal baik gegara ketrigger oleh suatu keburukan. Kita terlalu fokus pada mustatsna dan malah abai pada mustatsna minhu. Padahal, adat ististna' membetulkan kalimat-kalimat negatif yang ada di kepala kita. Kalimat ini misalnya: "banyak hal baik telah kita lalui dalam hidup, kecuali sedikit keburukan yang nggak penting". 


Penulis: Keset_mejid

  • Newer

    Review Jujur Buku Tafsir Surat Al-Muzzammil: Perihal Istitsna’

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default