Life After Breakup and Life Under Prabowo’s Regime

Contradixie
0

 

Sumber gambar: instagram eekokk_

 

Patah hati adalah salah satu pengalaman yang cukup menyakitkan dalam hidup. Kehilangan seseorang yang sudah menjadi ‘rumah’ tempat bercerita dan membicarakan masa depan memang tidak mudah. Namun, ada yang lebih menyedihkan daripada sekadar life after breakup: mengalami patah hati ketika hidup di bawah rezim Prabowo. Sebab, seseorang bukan hanya kehilangan kekasih, tetapi juga kehilangan teman seperjuangan menggulingkan rezim. Haha. Patah hati karena ditinggalkan kekasih, ditambah sakit kepala karena ulah pemerintah. Double kill, arrggghhhh!


Bayangkan sepasang kekasih yang masih bersama di tengah situasi politik hari ini. Alih-alih hanya bertukar kabar dan mengucapkan selamat tidur, mereka bisa membicarakan pidato Prabowo, menertawakan omon-omon pejabat, atau mempertanyakan kebijakan pemerintah yang semakin sulit dipahami. Obrolan mereka mungkin bermula dari pertanyaan sederhana, seperti “Hari ini makan apa?”, “Gimana hari ini?”, “Ada cerita apa hari ini?”, lalu berakhir dengan diskusi tentang demokrasi, kerusakan lingkungan, dan masa depan bangsa. “Udah kritik pemerintah belum?” Ahh.. Romantis sekali, bukan? Pasangan lain merencanakan pernikahan, mereka merencanakan perubahan politik. 


Lebih menarik lagi kalau bisa menghabiskan malam dengan memecahkan tiga teka-teki yang terus mengundang rasa penasaran publik: “SKCK Prabowo, ijazah SMA Gibran, dan ijazah S1 Jokowi.” Bayangkan betapa serunya menjadi pasangan yang bukan hanya berbagi kabar, tetapi juga berbagi tautan berita, dokumen, dan berbagai teori tentang misteri politik Indonesia. Satu orang membuka mesin pencari, yang lain memeriksa sumber informasi. Lalu berdebat, mencocokkan informasi, kemudian menyimpulkan bahwa urusan percintaan ternyata tidak serumit urusan dokumen tokoh politik. Haha.


Tentu saja, ketiganya merupakan isu yang perlu dibicarakan berdasarkan bukti dan informasi yang dapat diverifikasi, bukan sekadar dugaan. Justru di situlah letak romansanya: mereka bisa bersama-sama mencari tahu apa yang sebenarnya diketahui publik, apa yang masih menjadi pertanyaan, dan apa yang membutuhkan klarifikasi. Siapa tahu, hubungan mereka malah semakin erat karena sama-sama menyadari bahwa rasa ingin tahu adalah salah satu fondasi penting dalam kehidupan demokratis. “Pasangan yang sehat saling terbuka; pemerintah yang sehat juga semestinya terbuka kepada rakyatnya.”  Ah, indahnya cinta dan transparansi!


Sayangnya, tidak semua kisah cinta berakhir bahagia. Ada pasangan yang berpisah sebelum sempat mewujudkan impian, cita-cita atau goals politik mereka, wkwk. Hubungan berakhir, komunikasi terputus, dan rencana-rencana yang dahulu terasa begitu mungkin hanya tinggal kenangan. Sementara itu, Prabowo masih menjadi presiden, pejabat masih punya panggung untuk berpidato, dan persoalan negeri tidak ikut selesai hanya karena dua orang memutuskan untuk tidak lagi bersama. Kekasih boleh pergi, tapi hidup sebagai WNI harus tetap dijalani.


Rasanya life after breakup jadi berbeda ketika bersamaan dengan life under the Prabowo’s regime. Yang hilang bukan sekadar pasangan romantis, melainkan kemungkinan untuk memiliki kawan seperjuangan yang bisa diajak mengkritik kekuasaan, membongkar persoalan publik, dan membayangkan perubahan politik bersama. Barangkali ada sesuatu yang lebih menyedihkan daripada kehilangan orang yang dicintai: kehilangan orang yang bisa diajak membayangkan masa depan negeri yang berbeda. Oh ya masih ada, yang paling menyakitkan adalah kehilangan spark hidup sebagai WNI. Sendu sekali rasanya.

 

“Maafkan, kekasih, ternyata ada yang lebih membara daripada rindu kepadamu: kebijakan pemerintah, pidato Prabowo, dan omon-omon para pejabat pemangku kepentingan.”


Jika masih bersama, mungkin keduanya akan duduk berdua, meneguk kopi yang semakin lama semakin dingin, membicarakan bagaimana rakyat dapat mendorong perubahan melalui kritik, pengorganisasian warga, dan gerakan demokratis. Meski MBG berakhir ketika kiamat datang. Menertawakan meme terbaru tentang ke-asbun-an Prabowo dan omon-omon pejabat lainnya. Dan hal-hal nyeleneh yang ngga masuk akal dari kelakuan pejabat kita.


Aku jadi membayangkan ketika sudah berumah tangga mereka bisa berkhayal tentang berakhirnya sebuah rezim sembari memperdebatkan siapa yang harus mencuci piring setelah makan malam. Revolusi di kepala, urusan domestik tetap berjalan semestinya. Uhh, manisnya. Masa yang indah, bukan? Membayangkan dua orang yang saling mencintai sekaligus saling mengingatkan bahwa mencintai negeri tidak berarti harus selalu menyetujui pemerintahnya. Sayangnya, hidup tidak selalu memberikan akhir cerita seperti yang dibayangkan. Ada hubungan yang harus selesai sebelum cita-cita bersama sempat tumbuh. Ada pula teka-teki politik yang belum menemukan jawaban memuaskan bagi sebagian orang. Sementara itu, kehidupan terus berjalan dan rakyat terus mencari cara agar pemerintah lebih transparan dan bertanggung jawab.


--


Lalu, bagaimana dengan urusan kesabaran? Sebagai WNI, rasanya masyarakat dituntut untuk memiliki persediaan kesabaran yang tidak pernah habis. Kebijakan datang silih berganti, pernyataan pejabat terkadang membuat dahi berkerut, dan persoalan lingkungan terus membutuhkan perhatian. Di tengah semua itu, istilah ‘ekoteologi’ terdengar seperti sesumbar dan narasi deskriptif semata. Agama semestinya tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tanggung jawab manusia terhadap alam.


“Ulama hari ini cukup pongah, umat jadi gelisah. Bagaimana menurutmu?”


Itu yang ingin aku diskusikan denganmu, Mas. (MISAL)  


Ahh sialnya, hidup harus tetap berjalan :)

 

*Sumber: tulisan ini diambil dari kisah nyata kegelisahan seorang teman yang ingin keresahannya terkait patah hati diabadikan.

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default