Yusuf adalah tokoh simbolis yang dihadirkan Gurnah dalam bukunya. Mengikut karakter fisiknya, mimpi-mimpinya, dan fitnah yang diterimanya kemudian hari. Saat menarik buku ini dari rak, saya membacanya dengan sedikit rasa berdebar. Tidak tahu cerita apa yang akan saya temui, juga tidak ingin merasa kecewa jika ternyata terjemahan dari Malkan Junaidi kurang asyik.
Pada akhirnya buku ini ternyata memikat saya. Seperti saat membaca Ulid, barangkali saya menemukan kesenangan yang sama mengikuti bagaimana seorang anak bertumbuh, berjumpa dengan beragam wajah dunia, dan merasakan kasmaran.
Buku ini sangat asyik, membahas soal perbudakan, kolonialisme, dan banyak lagi isu-isu lainnya yang kala itu terjadi di Afrika Timur. Namun, ketampanan Yusuf, sosoknya yang digemari oleh semua orang, justru dapat membuat pembaca hanya berfokus pada bagian itu dan mengabaikan topik lain. Ini yang terjadi pada saya.
Ketampanan Yusuf yang tidak pernah
dideskripsikan itu justru membuat saya sibuk memvisualisasikannya. Ada banyak
momen ketika saya senyum-senyum sendiri membayangkan Yusuf yang polos, kadang
keras kepala, dipenuhi rasa penasaran, dan akhirnya jatuh cinta pada istri muda
majikannya.

