Penulis: Muhammad Ayub Abdullah
Tahun 2018 merupakan salah satu tahun yang
tidak akan pernah bisa aku lupakan. Bukan hanya soal indahnya masa SMA, tapi
ada satu pengalaman yang begitu mengesankan bagiku. Saat itu, adalah pertama
kalinya aku berkunjung ke tempat yang banyak orang menyebutnya sebagai “Ibu
Kota Orang utan”, ya, Taman Nasional Tanjung Puting namanya. Menyusuri Sungai
Sekonyer dengan kelotok, menikmati lanskap hijau yang seolah-olah tak punya
ujung. Sebagai putera daerah Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, tempat di mana
Taman Nasional Tanjung Puting berada, bagiku tempat ini bukan hanya sekadar
destinasi wisata atau nama yang sesekali muncul di berita. Ia adalah bagian
dari tanah yang menyimpan kebanggaan, ingatan dan ikatan emosional. Waktu itu,
hutan terasa begitu hidup. Aku serasa diingatkan bahwa bumi ternyata jauh lebih
luas daripada dunia manusia.
Kini, setelah sekian lama tak berkunjung, kabar
karhutla yang melanda Tanjung Puting terasa begitu menusuk jantungku. Ada
kesedihan yang bercampur dengan kecemasan. Aku benar-benar teringat dengan
Sungai Sekonyer, pepohonan, dan terutama Thom, salah satu orang utan di sana.
Entah bagaimana keadaannya hari ini, entah bagaimana rumah yang menjadi bagian
dari perjalananku itu bertahan. Sebagai putera daerah, ada rasa perih ketika tanah
yang menyimpan kebanggaan justru menghadapi ancaman. Sebab, yang dipertaruhkan
bukan hanya soal bentang alam, namun keberlangsungan berbagai makhluk hidup
yang tak punya kuasa untuk menentukan nasib ruang hidupnya sendiri.
Ada satu fakta ilmiah yang kian membuat tragedi
ini jauh lebih mengerikan. Di lahan gambut, hutan tidak selalu terbakar dengan
cara yang kita bayangkan. Api bisa merambat dan membara di bawah permukaan
tanah. Gambut menyimpan material organik yang, ketika mengering, dapat menjadi
bahan bakar. Api yang tampak kecil di permukaan bisa menyisakan bara yang sulit
dideteksi dan dipadamkan. Itulah salah satu alasan mengapa kebakaran di
ekosistem gambut begitu rumit ditangani.
Plot twist-nya,
sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai tanah, ternyata bisa menjadi bahan
bakar bagi kehancuran hutan itu sendiri. Lapisan yang selama ini menopang
kehidupan, justru dapat menjadi ruang bagi api untuk bertahan. Di situlah aku
merasa bahwa sains sedang memberi kita sebuah tamparan filosofis, bahwa
kerusakan ekologis tidak selalu berlangsung secara dramatis di depan mata kita.
Kadang sesuatu yang paling berbahaya justru bekerja secara diam-diam, di bawah
permukaan, ketika kita merasa semuanya sedang dan telah baik-baik saja.
Metafora ini bukan berarti semua kebakaran di
Tanjung Puting berasal dari gambut atau memiliki penyebab yang sama. Justru,
karhutla harus dibaca melalui banyak
faktor, seperti kondisi iklim, kelembapan, tutupan lahan, aktivitas manusia,
hingga tata kelola kawasan. Tetapi bukankah di situ masalahnya? Kita sering
baru memberikan perhatian saat asap telah terlihat. Padahal pencegahan
seharusnya dimulai jauh sebelum api itu muncul. Kita sudah sibuk duluan untuk
memadamkan, tetapi kurang serius untuk membenahi kondisi yang membuat bencana
yang sama terus berulang.
Aku juga tidak bisa melihat persoalan ini hanya
sebagai tragedi alam. Ada pertanyaan politis dan etis yang perlu diajukan,
siapa yang terus menikmati dari pengelolaan sumber daya, dan siapa yang harus
menanggung ongkos ekologisnya? Mengapa hutan begitu mudah untuk ditempatkan
sebagai sumber ekonomi, tetapi perlindungannya sering seperti pekerjaan yang
datang belakangan? Pembangunan macam apa yang kita rayakan jika kehidupan di
dalamnya justru kehilangan ruang untuk bertahan?
Kerusakan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari
relasi kuasa, distribusi sumber daya, dan kepentingan politik-ekonomi. Etika
lingkungan mengajak kita untuk menggugat antroposentrisme, di mana manusia
diposisikan sebagai pusat nilai kehidupan. Orang utan tidak perlu menjadi
menguntungkan agar hidup dengan layak, hutan tidak harus menjadi destinasi
wisata agar pantas dilindungi, dan alam tidak membutuhkan tepuk tangan manusia
untuk membuktikan bahwa ia berharga.
Aku tak tahu bagaimana keadaan Thom hari ini.
Aku juga tak ingin menjadikan orang utan sebagai simbol sentimental semata,
seolah semua persoalan hutan selesai dengan satu cerita yang menyedihkan.
Dibalik satu nama, ada banyak kehidupan yang belum pernah kita kenali, spesies
yang tak pernah kita lihat, dan ekosistem yang bekerja tanpa pernah meminta
perhatian kita. Barangkali, justru karena itulah tanggung jawab kita menjadi
lebih besar.
Tagal nahuang maraup amas
lenting sedot mangarak baras
Himba pahewan lepah talampas
Metu karayap galabah uras
Barangkali, di tengah bencana kabut asap dan
ingatan yang mulai berjarak, aku sedikit mengutib penggalan lagu berbahasa
Dayak berjudul “Mamangun Mahaga Lewu” seperti di atas, sebuah lagu yang
maknanya sangat dalam dan petuah tentang menjaga alam. Ada ironi ketika kita
begitu sibuk untuk mengumpulkan kemakmuran, tetapi lupa bahwa kehidupan yang
menopangnya perlahan kehilangan rumah. Apa artinya emas yang berhasil diraup,
jika yang tersisa tinggal tanah yang kehilangan dayanya.
Semoga, kelak ketika aku kembali, Sekonyer
masih punya ruang manis untuk bercerita. Bukan hanya cerita tentang hutan yang
pernah hijau, atau orang utan yang pernah hidup di sana, tetapi tentang sebuah
peradaban yang akhirnya belajar bahwa tidak semua yang bisa dieksploitasi harus
dikorbankan.

