Setahun lalu, hujan Jogja pernah menjadi bagian dari
ingatanku. Saat itu, aku baru saja resmi bergabung dengan Contradixie. Kota
Malang menjadi tempat pertemuan kami, mengenal orang-orang keren dengan
versinya masing-masing. Meski, kalau dipikir-pikir lagi, ada satu kesamaan yang
cukup mencolok di antara kami, sama-sama orang lelah dan stres yang berkumpul
dan saling mengenal. Wkwkwk.
Setahun berlalu. Seorang temanku berencana mengajakku
kembali ke Malang. Katanya, ia rindu Malang. Maksudku kota Malang yaaa bukan
nasib dia yang sedang malang. Hihihi …
Ah, rupanya sebelum rencana itu benar-benar
terlaksana, Jogja lebih dulu menyambutnya dengan hujan. Seolah-olah kota ini
sedang ikut meromantisasi kerinduan seseorang terhadap kota lain.
Rasa penasaranku tentu saja tak diam, sebenarnya apa
yang ia rindukan? Kotanya, suasananya, orang-orang yang pernah ditemuinya, atau
jangan-jangan ada seseorang yang diam-diam menjadi alasan di balik keinginannya
untuk kembali?
Aku mencoba mencari kata-kata yang barangkali bisa
menjelaskan kerinduan ini. Lalu, aku menemukan satu larik puisi Sapardi Djoko
Damono dalam Hujan Bulan Juni: “dirahasiakannya rintik rindunya.” Aku tidak
tahu apakah rindu memang selalu ingin dirahasiakan, tetapi rasanya ada sesuatu
yang menarik dari cara hujan menyimpan cerita tanpa perlu menjelaskannya kepada
siapa-siapa.
Barangkali memang begitu cara rindu bekerja. Ia tidak
selalu datang dengan pengakuan yang gamblang. Kadang, ia menyamar menjadi
keinginan untuk mengunjungi sebuah kota, mengulang perjalanan, atau sekadar
melewati tempat yang pernah menyimpan cerita. Kita bilang rindu suasananya,
padahal bisa jadi ada seseorang yang membuat suasana itu terasa berbeda. Cie,
bucin.
Namun, tentu saja, aku tidak sedang menuduh temanku
sedang jatuh cinta. Bisa jadi Malang memang senyaman itu untuk dirindukan.
Sebab, sebuah kota bisa menyimpan banyak hal sekaligus: pertemuan yang
menyenangkan, percakapan yang tak selesai-selesai, pengalaman yang
mendewasakan, juga versi diri kita yang pernah merasa begitu bahagia di sana.
Mungkin
itulah yang membuat kita ingin kembali. Bukan selalu karena ingin mengulang
masa lalu, melainkan karena ada sesuatu di sana yang pernah membuat hidup
terasa lebih berwarna.
Meski begitu, aku percaya bahwa tidak semua rindu
harus segera dituntaskan. Ada tempat yang boleh kita kenang tanpa harus
buru-buru didatangi. Ada seseorang yang boleh kita rindukan tanpa harus
dijadikan tujuan. Dan ada perjalanan yang cukup direncanakan dulu, sambil
menunggu waktu dan keberanian menemukan jalannya sendiri.
Sementara temanku masih menyimpan rencana menuju
Malang, aku membiarkan Jogja menyelesaikan hujannya. Pagi ini, rasanya tidak
perlu pergi terlalu jauh untuk menikmati sesuatu yang menyenangkan. Cukup duduk
sebentar, memandangi jalanan yang basah, dan menyeruput cokelat panas
perlahan-lahan.
Maaf, aku lebih dulu menikmati cokelat panas Jogja
tanpa lebih dulu mengabarimu. Nanti kuceritakan bagaimana nikmatnya cokelat
dengan merindu.
______
Penulis: Ratna

