Jogja Basah

Contradixie
0

 


Setahun lalu, hujan Jogja pernah menjadi bagian dari ingatanku. Saat itu, aku baru saja resmi bergabung dengan Contradixie. Kota Malang menjadi tempat pertemuan kami, mengenal orang-orang keren dengan versinya masing-masing. Meski, kalau dipikir-pikir lagi, ada satu kesamaan yang cukup mencolok di antara kami, sama-sama orang lelah dan stres yang berkumpul dan saling mengenal. Wkwkwk.

 

Setahun berlalu. Seorang temanku berencana mengajakku kembali ke Malang. Katanya, ia rindu Malang. Maksudku kota Malang yaaa bukan nasib dia yang sedang malang. Hihihi …

 

Ah, rupanya sebelum rencana itu benar-benar terlaksana, Jogja lebih dulu menyambutnya dengan hujan. Seolah-olah kota ini sedang ikut meromantisasi kerinduan seseorang terhadap kota lain.

 

Rasa penasaranku tentu saja tak diam, sebenarnya apa yang ia rindukan? Kotanya, suasananya, orang-orang yang pernah ditemuinya, atau jangan-jangan ada seseorang yang diam-diam menjadi alasan di balik keinginannya untuk kembali?

 

Aku mencoba mencari kata-kata yang barangkali bisa menjelaskan kerinduan ini. Lalu, aku menemukan satu larik puisi Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni: “dirahasiakannya rintik rindunya.” Aku tidak tahu apakah rindu memang selalu ingin dirahasiakan, tetapi rasanya ada sesuatu yang menarik dari cara hujan menyimpan cerita tanpa perlu menjelaskannya kepada siapa-siapa.

 

Barangkali memang begitu cara rindu bekerja. Ia tidak selalu datang dengan pengakuan yang gamblang. Kadang, ia menyamar menjadi keinginan untuk mengunjungi sebuah kota, mengulang perjalanan, atau sekadar melewati tempat yang pernah menyimpan cerita. Kita bilang rindu suasananya, padahal bisa jadi ada seseorang yang membuat suasana itu terasa berbeda. Cie, bucin.

 

Namun, tentu saja, aku tidak sedang menuduh temanku sedang jatuh cinta. Bisa jadi Malang memang senyaman itu untuk dirindukan. Sebab, sebuah kota bisa menyimpan banyak hal sekaligus: pertemuan yang menyenangkan, percakapan yang tak selesai-selesai, pengalaman yang mendewasakan, juga versi diri kita yang pernah merasa begitu bahagia di sana.

 

Mungkin itulah yang membuat kita ingin kembali. Bukan selalu karena ingin mengulang masa lalu, melainkan karena ada sesuatu di sana yang pernah membuat hidup terasa lebih berwarna.

 

Meski begitu, aku percaya bahwa tidak semua rindu harus segera dituntaskan. Ada tempat yang boleh kita kenang tanpa harus buru-buru didatangi. Ada seseorang yang boleh kita rindukan tanpa harus dijadikan tujuan. Dan ada perjalanan yang cukup direncanakan dulu, sambil menunggu waktu dan keberanian menemukan jalannya sendiri.

 

Sementara temanku masih menyimpan rencana menuju Malang, aku membiarkan Jogja menyelesaikan hujannya. Pagi ini, rasanya tidak perlu pergi terlalu jauh untuk menikmati sesuatu yang menyenangkan. Cukup duduk sebentar, memandangi jalanan yang basah, dan menyeruput cokelat panas perlahan-lahan.

 

Maaf, aku lebih dulu menikmati cokelat panas Jogja tanpa lebih dulu mengabarimu. Nanti kuceritakan bagaimana nikmatnya cokelat dengan merindu.

______

Penulis: Ratna

 

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default