SAAT ASAP MENGETUK BUMI BORNEO

Contradixie
0

 


Penulis: Muhammad Iqbal An-Najm


Kalimantan adalah pulau terbesar ke-2 di Indonesia dengan luas ±743.330 km². Dengan luas tersebut, Kalimantan memiliki luas hutan sekitar 75% di satu pulau. Maka, dengan jumlah tersebut, Kalimantan memiliki luas hutan sekitar ±557.497,5 km². Selain terkenal dengan luasnya, Pulau Kalimantan juga menjadi salah satu hutan hujan tropis tertua di dunia, dengan pohon-pohon yang sangat besar yang tumbuh selama jutaan tahun. Ketika kita bernapas, pohon-pohon ini membalas dengan menyaring polusi dari udara melalui proses fotosintesis. Bayangkan, setiap pohon bisa menghasilkan oksigen yang cukup untuk 2-4 orang per tahun. Dengan demikian, Kalimantan menjadi penjaga kualitas udara, tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk bumi ini.

 

Pada tahun 1997–1998, 2015. Hutan Kalimantan tidak lagi menyediakan udara sehat untuk semua makhluk hidup. Asap selalu mengetuk pintu bumi Kalimantan tanpa ada salam. Saat tahun ini 2026, asap tebal kembali tanpa adanya undangan. Dengan hadirnya asap, hutan terus berkurang sehingga hewan kehilangan tempat tinggal, ketakutan, kelaparan, udara tak lagi sehat, jalan tertutup. Kini paru-paru dunia dalam ancaman.

 

Bagaimana bisa, tempat yang dulu dilabeli dengan “Paru-paru Dunia” kini kesulitan mencari jalan keluar untuk bernapas? Di balik tebalnya kabut abu-abu yang berkumpul di batas mata, ada teriakan rahasia yang tidak pernah benar-benar tersampaikan dan didengar oleh para pemimpin. Suara pepohonan kayu ulin, meranti, dan jati yang berdiri tegak dengan keindahannya kini terlelap menjadi abu yang lemah. Hutan tidak hanya terbakar, tetapi juga sedang dipaksa untuk menyerah oleh kerakusan dan ketamakan manusia. Hutan tak pernah salah, geografi tak selalu memberikan dampak negatif pada hutan.

 

Setiap musim kemarau datang, rasa cemas dan ketakutan menjadi rutinitas yang mengerikan. Langit Borneo yang seharusnya menjadi tempat awan melayang dengan indah, perlahan menjadi suram, kemudian memerah layaknya neraka kecil yang datang ke Kalimantan. Anak-anak kecil tidak bisa lagi bermain dengan gembira, kini mereka dikurung dalam keamanan, berteman dengan masker tipis yang tak seberapa kuat untuk bertarung dengan tebalnya udara kotor. Setiap isapan terasa menusuk ke dalam tenggorokan mereka, meninggalkan rasa sesak yang tidak hanya merusak fisik, tetapi juga mematahkan masa depan. Ketika mereka kalah dalam bertahan hidup, saat itu pula mereka kehilangan masa depan. Tak hanya anak kecil, kini orang dewasa dan orang tua harus bertaruh nyawa demi sesuap nasi; bahkan mereka gagal saat melawan asap sehingga kelaparan dan kematianlah yang menjadi musuh terbesar mereka. Selain itu, orang yang lanjut usia tak ada kayu sebagai pegangan untuk berjalan; tak ada harapan besar bagi mereka untuk selamat dari asap tebal. Usinya telah tinggi, tubuhnya tak kuat lagi untuk melawan, hingga sebagian besar mereka kalah dalam pertarungan ini.

 

Di tengah hutan yang membara, jeritan yang tak bersuara datang dari mereka yang tak sanggup bersuara. Orangutan penjaga asli Pulau Borneo berlari tanpa arah dengan menggendong anak mereka yang kelaparan. Kaki kecil yang terus terluka dengan jeritan yang tak terdengar, kaki kecil yang terus berlari menginjak ranting yang berubah menjadi bara, dan kebanyakan dari mereka gagal selamat dari kebakaran tersebut. Habitat tempat mereka dilahirkan, dibesarkan, dan berlindung diri kini menjadi kuburan massal. Satwa kesayangan ini dipaksa menjadi pengungsi di tanah kelahiran sendiri, kehilangan rumah untuk bersandar dengan aman hanya demi hamparan tanah kosong yang beralih fungsi.

 

Asap yang datang tanpa salam ini bukan sekadar bencana alam, ini adalah cermin dari keputusasaan dan ketidakpedulian. Di saat orang-orang kota membicarakan kemajuan teknologi, dan masa depan modern, di sini, di jantung Borneo, kami masih bertarung dengan kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan: kehakikian untuk menghirup udara segar.

 

Bumi Borneo tidak meminta hal yang berlebihan. Ia tidak menuntut kemewahan atau pujian atas ribuan hektar tanah dan oksigen yang disumbangkannya secara cuma-cuma selama ribuan, bahkan jutaan tahun. Kalimantan hanya rindu udara sehat, langit yang indah, dan rumah yang aman, rumah di mana sungai-sungai mengalir dengan lancar tanpa tertutup oleh potongan pohon, dan di mana anak-cucu kita bisa bermain dengan bahagia dan menatap masa depan dengan menghirup udara yang segar dan bersih.

 

Sebelum helaan napas terakhir di hutan Borneo berhenti, sudah saatnya kita berhenti saling menyalahkan. Menjaga bumi Borneo bukan lagi sekadar tugas relawan atau isi pidato di mimbar-mimbar internasional. Ini adalah panggilan kemanusiaan untuk kita semua. Sebab jika paru-paru ini akhirnya berhenti berdetak, tidak ada lagi udara segar yang tersisa untuk dihirup oleh siapapun di muka bumi ini.

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default