You’ll Never Walk Alone, Indonesia!

Contradixie
0

 

Sumber Gambar: https://www.thisisanfield.com/

Penulis: Muhammad Ayub Abdullah

Barusan aku lagi asyik scroll Instagram, di tengah ramainya spanduk kuning yang dibentangkan oleh Greenpeace, tiba-tiba muncul di beranda postingan dari salah satu klub raksasa Inggris, “Liverpool FC”, yang ikut menyuarakan kondisi negara kita saat ini. Ada sesuatu yang selalu membuatku percaya kepada sebuah lagu. Bukan karena ia mampu mengubah kenyataan dalam semalam, bukan pula karena ia dapat membayar tagihan yang menumpuk di atas meja. Melainkan karena di dunia yang berkali-kali membuat manusia merasa sendirian, sebuah lagu dapat mengingatkan bahwa kehidupan semestinya tidak dijalani sebagai perjuangan individual semata.

 

Sebagai fans Liverpool FC, aku mengenal perasaan itu melalui semboyan dari lagu “You’ll Never Walk Alone”, kamu tidak akan berjalan sendirian.

 

Di Anfield, lagu tersebut bukan hanya  sekadar nyanyian. Ia bagaikan ikrar yang menjelma menjadi suara, bahwa di tengah kekalahan, kesedihan, dan jalan panjang yang tak selalu ramah, seseorang tidak seharusnya ditinggalkan sendirian.

 

Namun, semakin aku mendengar lagu itu, semakin aku teringat dengan Indonesia, dan semakin aku merasakan bahwa ia menyimpan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sepak bola.

 

Benarkah kita tidak pernah berjalan sendirian?

 

Di Indonesia, pertanyaan tersebut barangkali hidup di dalam kepala seorang sarjana muda yang telah mengirimkan puluhan lamaran pekerjaan, tetapi belum juga menemukan pekerjaan yang layak. Ia hidup di dalam kegelisahan seorang pekerja yang setiap bulan menerima gaji, tetapi harus menghitung pengeluaran sebelum tanggal tua. Ia hidup di dalam pikiran seorang ibu yang berdiri di depan rak kebutuhan pokok, menimbang harga sambil mengingat uang sekolah anaknya.

 

Ia juga hidup di dalam diri seorang anak muda yang berkali-kali mendengar bahwa masa depan adalah miliknya, tetapi tidak pernah benar-benar diberi kepastian bagaimana cara mencapainya.

 

Kita hidup dalam sebuah zaman yang gemar berbicara tentang pertumbuhan, produktivitas, bonus demografi, transformasi digital, dan Indonesia emas. Kata-kata itu terdengar megah, seperti bangunan tinggi yang berdiri dengan jendela-jendela berkilauan. Namun, di bawah bangunan-bangunan itu, ada manusia-manusia yang masih berusaha memastikan bahwa esok pagi mereka masih bisa berangkat kerja tanpa harus meminjam uang.

 

Di negeri yang begitu fasih mengucapkan gotong royong, mengapa masih banyak manusia yang harus bertahan hidup sendirian?

 

Barangkali permasalahan kita bukan kekurangan orang tangguh, melainkan terlalu sering menuntut ketangguhan dari mereka yang semestinya memperoleh perlindungan. Kita mengajari orang miskin berhemat, pengangguran meningkatkan skill, pekerja bersabar, dan anak muda terus berjuang. Seolah-olah setiap kesulitan adalah persoalan mentalitas, bukan persoalan struktur. Bahkan yang lagi ramai, ada selebgram yang mengaitkan biaya hidup dengan gaya hidup, yang sejujurnya berbeda jika dipetakan lebih dalam lagi.

 

Dan di sinilah slogan tentang kerja keras terkadang menyimpan ironi. Kita seakan memuliakan mereka yang sedang bertahan tetapi lupa mengadili keadaan yang membuat mereka harus bertahan sedemikian kerasnya.

 

Tentu aku sepakat bahwa kerja keras itu penting. Namun kerja keras tidak bisa dijadikan alibi untuk membebaskan struktur dari tanggungjawabnya. Kata dokter Tirta (Mas Cipeng), tidak semua orang memulai hidupnya dari garis yang sama. Bagi sebagian orang, kegagalan adalah pelajaran. Bagi sebagian yang lain, kegagalan bisa berarti kehilangan penghidupan.

 

Mills dalam sociological imagination pernah mengingatkan bahwa kesulitan personal tidak selalu dapat dipisahkan dari persoalan publik. Pengangguran bukan semata-mata cerita tentang seseorang yang kurang berusaha, ia juga bicara tentang struktur kesempatan. Gaji yang tidak mencukupi bukan selalu kegagalan mengelola gaya hidup, ia juga berbicara tentang hubungan upah, harga kebutuhan, dan distribusi kesejahteraan.

 

You’ll Never Walk Alone bukan sekadar penghiburan bagi mereka yang sedang bersedih. Ini adalah gugatan terhadap kita yang kerap membiarkan penderitaan menjadi urusan privasi. Sebab apa arti kebersamaan, apa arti gotong royong jika kesejahteran dinikmati sebagai kemenangan individual, sementara resikonya dibebankan kepada mereka yang paling lemah.

 

Aku teringat suatu hal, di Anfield nyanyian itu terdengar paling menggetarkan bukan karena setiap pertandingan berakhir dengan kemenangan, melainkan karena kebersamaan tetap dinyanyikan bahkan saat kemenangan tidak datang.

 

Mungkin Indonesia bisa mengambil pelajaran dari sana, bukan tentang sepak bola, tetapi tentang makna yang berjalan bersama, bahwa bangsa tidak semestinya menjadi perlombaan yang hanya menyediakan podium bagi para pemenang, sementara mereka yang tertinggal dipersilakan menyalahkan dirinya sendiri.

 

Salam hangat dari klub yang punya tropi UCL terbanyak di Inggris.

  • Newer

    You’ll Never Walk Alone, Indonesia!

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default