Selamat Hari Raya Sarapan




Sarapan jelas sesuatu yang penting. Soal sarapan kita jam tujuh pagi atau jam 13.00 siang (seperti Mbah Takrib), itu bagian dari hak asasi manusia. Yang pasti, karena sebegitu pentingnya, bahkan dalam Islam sendiri ada hari raya sarapan. Ya apalagi kalau bukan idul fitri.
Dalam bahasa Arab kita kenal istilah nailul futur (artinya nedo sarapan). Dari kata futur inilah konsep Idul Fitri (hari raya sarapan) itu dibangun. Kenapa sarapan? Ya karena sebulan lamanya kita harus berpuasa dengan konsekuensi logis sarapan dilarang. Makanya ketika sarapan sudah dihalalkan, kita rayakan. Dan bukankah karena itu sebelum solat Idul Fitri kita disunnahkan sarapan dulu?
Adapun zakat fitrah, juga dimaksudkan untuk sarapan. Kita ingat tenggat waktu zakat itu terakhir adalah solat Id, dengan nisab yang tidak banyak (tapi sudah cukup untuk sarapan beberapa orang). Maksudnya ya ketika kita merayakan sarapan, yang lain juga ikut merayakannya.

Memang ada yang menganggap Idul Fitri adalah hari dimana kita kembali ke fitrah. Fitrah di sini sebagaimana Alquran yang berbunyi kullu mauludin yuladu alal fitroh (setiap yang terlahir berangkat dari kesucian). Dan jika Idul Fitri berangkat dari konsep ini, maka bayangannya adalah umat muslim merayakan kesucian kembali seperti bayi setelah sebulan penuh dosa-dosanya dicuci.
Tidak masalah juga sebenarnya, tapi merayakan kesucian terdengar kurang nyaman. Siapa yang bisa mengklaim kita sudah suci sehingga sampai harus merayakan sebegitu rupa dengan semarak mudik, baju baru, berkelimpahan makanan/jajanan dan mercon dan kembang api? Kalau fitrah itu suatu harapan/doa, ya bolehlah. Tapi hal yang dikhawatirkan adalah kesombongan. Mentang-mentang ikut merayakan Idul Fitri, terus merasa paling suci. Itu tak baik. Nasehat ini untuk saya sendiri tentunya.
Sebab itulah, merayakan sarapan lebih tepat untuk orang seperti kita, meski tentu saja kita tetap berharap/berdoa pada Tuhan agar kembali ke fitrah. Dan kenapa harus capek-capek mudik? Ya mudik adalah semacam kembali ke asal (mirip kembali ke fitrah). Secara praktis juga, dengan mudik kita bisa kembali sarapan bareng di kampung dengan keluarga, kerabat, teman sejawat. Dari situ silaturahim dilangsungkan setelah mungkin terputus sebelumnya. Halal bi halal dilaksanakan setelah mungkin pernah saling ada dosa sebelumnya. Dan tentu akan kurang afdol jika tidak makan bersama.
Kira-kira begitulah. Sudah dulu ya. Selamat lebaran. Yang sempit dilebarkan. Yang lebar dileburkan. Yang lebur dilaburkan. Ga usah rumit-rumit nanti tidak jadi lebaran tapi labirin. Mari sarapan bersama. Sambung sanak, sambung sahabat, sambung sayang. I love you all.
Oleh: Lembu Peteng 
Senori, Jelang 1 Syawal 1438 H
Artikel ini pernah dimuat di www.tubanjogja.org dengan judul "Idul Fitri: Selamat Sarapan Kembali" 

Ular dan Katak



Bapak pernah bercerita, betapa dulu, ketika musim kemarau dirasa sudah waktunya berganti, orang-orang desa akan pergi ke bukit Ngipeng untuk menonton katak dan ular bertarung. Konon, setiap menjelang musim hujan mereka akan muncul di bagian paling sintru bukit tersebut, yaitu belokan Watu Rupit.

Watu Rupit adalah istilah untuk menyebut jalan berbelok dan menanjak yang diapit dua batu kembar yang besar. Di atas dua batu kembar itulah, nak, ular dan katak akan muncul dan bertarung. Katak di sebelah barat jalan, sedangkan ular di sisi timurnya.

Orang-orang meyakini bahwa Katak berada di sisi barat karena posisi batunya strategis untuk ukuran katak. Di sekitar batu tersebut ada beberapa batu lain yang tidak kalah besar dan sisa lembah di kanan kirinya. Yang namanya katak, betapa pun gaibnya, tetaplah katak: dia pasti butuh tumpuan untuk melompat, apalagi ini dalam situasi pertarungan.

Sama halnya dengan ini, ular berada di sisi timur sebab beberapa meter dari batunya terdapat gua berbentuk bulan lebar dengan lorong mengarah ke sungai di sisi timurnya. Ular tentu membutuhkan lubang tersendiri untuk mengisi kekuatan.

Orang-orang desa pergi ke Ngipeng sebenarnya bukan saja untuk nonton pertarungan itu, nak. Mereka ke sana lebih untuk memastikan bahwa musim hujan sebentar lagi memang akan datang. Mereka meyakini bahwa ketika pertarungan dimenangkan oleh katak, maka esok harinya akan hujan. Namun jika sebaliknya itu sanepo bahwa mereka masih belum bisa menanam: sebab besok hujan belum akan turun.

"Berarti, orang-orang mendukung katak dong, Pak?" Aku bertanya.

Bapak menatapku sejenak dan melanjutkan kisahnya. Tentu, nak. Mereka mendukung sama sekali katak dan bentuk dukungannya adalah dengan menanam apa saja yang tidak terlalu membutuhkan banyak air di sekitar bukit Ngipeng, seperti Jagung, Singkong, dan semacamnya. Hari ini kita mengenalnya sebagai bengkok.

Jadi, sambil menunggu katak menang hingga akhirnya mereka bisa menanam padi lagi, orang-orang desa pergi ke bukit, ke bengkok, untuk menanam jagung. Dengan begitu mereka sudah merasa berjasa dalam membantu turunnya hujan.

Namun, nak. Sejak tahun lalu, semuanya bergeser. Lebih tepatnya sejak kebijakan dari pemerintah kabupaten untuk melebarkan jalan di Ngipeng karena itu rute ke kediaman Bupati. Batu di sisi Barat jalan atau panggungnya katak tadi akhirnya menjadi korban, nak. Itu harus dihancurkan supaya jalan bisa diperlebar dan akses ke kediaman Bupati semakin lancar.

Dan sejak saat itu juga nak, seperti sampean lihat sendiri sekarang, tidak ada lagi bengkok-bengkok di Ngipeng. Petani-petani desa kehilangan alasan tambahan untuk menggarap tanah mati di situ. Akibatnya, panen selingan yang biasanya lumayan buat mengisi waktu menunggu musim hujan juga tidak ada.

****

Sementara ingatanku masih pada cerita bapak, pacarku tiba-tiba memanggil, "Ayo, sayur. Kita harus ke gua itu dan kemudian ke sungainya. Kita harus melewati lorong indah-berkelok itu. Kamu ingat kan kalau hari ini hari spesialku, jadi kamu harus nurutin dong."

Sepuluh tahun lewat, Ngipeng kini menjadi wahana wisata dengan keuntungan parkirnya saja mencapai 15jt per-hari dengan pengelolaan penuh oleh investor.


Jogja, 14 Mei 2020
bertepetapan dengan 26 tahun
Alena 

Tamu Tengah Malam




Selembar foto usang bergambar perempuan muda masih lekat dipandanginya. Hampir sejam berlalu matanya tertuju di sana, menatapi wajah sang perempuan, mengingat-ingat segala hal tentangnya. Barangkali sepuluh tahun berlalu ketika foto tersebut diambil dan ingatannya seketika merembeskan gerimis, membasahi kulit wajahnya yang kencang.

Kini tangannya ikut bergetar, foto di tangan hampir saja terjatuh. Lalu dengan sigap digenggamnya kembali kuat-kuat. Setetes airmata jatuh tepat pada lembaran foto itu, tepat mengenai wajah si perempuan muda.  Age sigap mengusap air yang masih ada di sana persis seperti sedang benar-benar mencoba hapus airmata di wajah seorang perempuan. Ia tidak sanggup lagi, ingatan-ingatan begitu kejam menyiksa perasaannya.

Betapa Age sangat jelas mengingatnya, menjadi saksi kejadian di malam buta saat perempuan muda itu terpaksa meninggalkan kampung halaman karena tuduhan yang tidak pernah diduganya, pun tidak pernah terbersit untuk dilakukannya.

Si perempuan muda berlari tanpa alas, malam buta menapaki rimbun pohon sawit, kakinya yang lelah, juga tertancap beberapa duri pelepah sawit, tidak membuatnya gentar untuk sejenak beristirahat. Tidak boleh menyerah atau besok pagi benar-benar akan dilemparkan warga dari puncak air terjun, mengendap di dasar sana bersama batu besar yang diikatkan pada tubuh. Selama-lamanya. Ia sudah pernah menyaksikan kejadian serupa, dengan tuduhan yang sama. Meggoda suami orang.

Maka demi tak menjadi korban kebengisan warga selanjutnya, si perempuan muda harus mengambil tindakan. Kabur adalah satu-satunya pilihan yang ia punya. Meski dingin menusuk sendi ia tetap merasa berterima kasih. Cuaca yang membekukan jadikan warga memilih berselimut di dalam rumah, lelap di kamar mereka. Hal ini membuat usaha pelarian sedikit lebih mudah sebab hanya perlu menghindari beberapa orang yang berjaga.

Sebuah alamat yang tertulis pada selembaran sudah dikantonginya. Alamat tersebut yang akan ditujunya nanti ketika telah tiba di terminal. Tidak, tidak ada kendaraan yang akan langsung mengantarnya pada alamat tersebut, ia perlu berganti mobil sebanyak empat kali untuk tiba di desa yang dimaksud, perlu berjalan kaki sejauh tiga kilometer untuk benar-benar sampai di rumah yang diinginkan. Si perempuan muda mengangguk paham, menyanggupi segala risiko yang akan dilaluinya agar bisa aman. Penjelasan sang kakak adalah satu-satunya petunjuk yang harus selalu diingatnya dan itulah malam mencekam pertemuan terakhir mereka berdua.

Dini hari yang gigil rupanya tidak juga ampuh membekukan airmata. Si perempuan muda di tengah pelariannya tidak henti-henti menangis. Batinnya tidak terima, namun ia tidak berdaya. Tidak ada yang bisa berdaya di hadapan massa yang suci itu, bahkan kehidupan itu sendiri pun tidak sama sekali. Untuk menyelamatkan nyawa yang masih sangat dicintainya itu, ia telah melakukan hal yang benar. Meninggalkan kampung halaman beserta segala hal yang ada di sana.

Age semakin diresapi sedih. Bibir tipisnya ikut bergetar sebisa mungkin menahan tangis namun tetap saja merembes bahkan semakin meruah. Selembar foto usang itu kini diletakkannya di atas meja, khawatir ikut kuyup oleh airmatanya yang sulit dibendung. Sejenak ia menenangkan diri, berusaha tidak mengerti kenapa harus seterhanyut itu hanya karena selembar foto.

Ia tahu benar jawabannya, ia hanya tidak ingin berlarut-larut. Maka ia mencoba berjalan ke luar kamar, mencari anaknya yang berusia delapan tahun tapi tidak ada jawaban. Ia sejenak lupa kalau anak perempuannya sedang berada di sekolah. Setelah menyadari itu, ia pun memilih kembali ke kamar, memberanikan diri meraih foto yang tadi digeletakkannya di meja, berharap kali ini tidak lagi terhanyut saat melihatnya. Tapi toh ia tidak dapat mengatur perasaannya. Kini ia bahkan seperti melihat dengan jelas adegan tersebut diputar di hadapannya. Perempuan muda mengetuk pintu rumah seorang warga di malam hampir pukul sepuluh.

Seorang lelaki tua terseok membuka pintu. Matanya yang sayu terlihat jelas masih menahan kantuk ketika di hadapannya seorang perempuan muda nyaris terjatuh tiba-tiba membuat mata sayu itu membelalak. Heran, kaget dan takut yang dirasakannya.

“Kamu siapa?” Akhirnya kalimat itu yang pertama keluar dari mulut lelaki tua.

“Saya adiknya Asia, Pak.” Perempuan muda berusaha menjawab meski dengan suara yang begitu lemah. Ia kelelahan, kesakitan dan kelaparan.

Lelaki tua itu paham, ia tahu nama yang baru saja disebutkan si perempuan muda. Asia adalah mantan pekerja di rumahnya yang tiga tahun lalu sudah tidak dipekerjakan setelah istrinya meninggal karena kanker.

Sudah lewat pukul sepuluh malam. Rumah mewah itu hening dan hanya denting jam pada sebuah tembok yang berulang terdengar. Kini si perempuan muda telah memiliki cukup tenaga untuk melanjutkan hidup hingga hari-hari esok. Lelaki tua yang duduk di hadapannya itu sudah berbaik hati menyuguhkan nasi, ikan goreng dan sayur bayam yang semuanya sudah dingin namun tetap dilahap habis olehnya.

“Jadi apa yang membawamu ke sini? Mengapa pakaianmu lusuh begitu dan tubuhmu sangat kacau?” Lelaki tua itu akhirnya mengulik kisah tamu tengah malamnya tersebut. Meski telah tengah malam, ia enggan melanjutkan tidur dan enggan menawarkan kamar untuk si perempuan muda, sebelum terjawab segala yang menggunung di kepalanya.

“Saya kabur dari kampung, Pak. Warga mengancam akan menghukum mati saya pagi tadi kalau saja saya masih tetap di kampung. Mereka menganggap saya telah menggoda salah seorang suami warga di sana.”

“Tapi kamu benar melakukannya? Atau hanya dituduh?”

“Saya dituduh, Pak. Saya tidak sedikit pun pernah terlintas untuk melakukan hal seperti itu. Tidak mungkin, Pak.” Lalu tiba-tiba ia menangis lagi, si perempuan muda tak sanggup menahan sesak di dadanya. Kedua punggungnya sampai ikut begetar.

“Sini saya antarkan ke kamar, kamu istirahat saja dulu. Tenangkan perasaanmu. Di kamar bekas kakakmu tidur dulu masih ada pakaiannya yang tidak dibawa pulang sepertinya. Kamu berganti pakaian dengan itu saja, ya.”

Perempuan muda itu mengangguk lalu mengikuti tuan rumah mengantarkannya ke kamar. Ia benar-benar butuh beristirahat. Jiwa raganya sangat lelah untuk dapat berbincang panjang.

***

Age harus berhenti dengan kegiatan mengenangnya. Anaknya baru saja pulang dari sekolah, mencari dirinya dan meminta ditemani makan siang. Foto usang itu diletakkan di atas kasur dan ia berlari ke luar, menghampiri anaknya yang sedang melepas sepatu. Ia sebisa mungkin menyembunyikan mata sembabnya.

“Wah, sudah pulang rupanya. Sini peluk dulu, mama kangen banget.”

Mereka berpelukan, erat, dan airmata Age lagi-lagi merembes hingga membasahi seragam sekolah anaknya.

“Mama kenapa menangis?”

Tapi Age tetap diam. Dia tak punya jawaban sederhana untuk menjelaskan pada anaknya. Maka ia hanya menangis, sesenggukan di pelukan anaknya.

“Mama tiba-tiba teringat bapakmu, Nak. Akhir pekan nanti mau temani mama mengunjungi makamnya?” Akhirnya kalimat itu yang meluncur dari mulutnya. Anak perempuannya mengangguk mengiyakan.

Barangkali tidak sepenuhnya salah. Ia memang benar teringat suaminya, lelaki tua, sang tuan rumah, yang sembilan tahun lalu ia usik tidur lelapnya karena bertamu di tengah malam. Lelaki tua yang sebulan kemudian ia terima ajakannya untuk menikah karena merasa berutang budi, tuan rumah yang akhirnya seranjang dengannya hingga tiga tahun ke depan sebelum menghembuskan napas terakhir karena serangan jantung. Tepat di tahun yang sama ketika ia mendapat kabar bahwa kakaknya telah berpulang.

Masih dengan airmata yang tidak kunjung reda, Age membimbing anaknya ke kamar. Ia mengambil foto usang dengan tulisan tangan bertulisakan alamat rumah mereka pada bagian belakangnya. Foto bergambar perempuan muda itu ditunjukkan pada anaknya.

“Ini mama setahun sebelum bertemu ayahmu, Sayang.”

Anak perempuannya mengusap airmata di wajah sang mama dan berkata lirih, “Mama masih sama cantiknya saat masih muda.” Seketika Age tersenyum dibuatnya dan mereka saling memeluk untuk kedua kali.

***



Biar Kuberitahu tentang Hiasan Langit, An



An… pernah kau berpikir jika langit memiliki batas? Atau paling tidak, terpikir langit memang memiliki batas?

Lihatlah, An, keluarlah dari kamarmu. Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.

Di atas sana, di langit itu, An, gelap menjadi sangat manis ketika awan meminggirkan dirinya. Hanya untuk memamerkan apa yang ada di baliknya, An, bintang-bintang itu ….

Kau lihat ada yang berwana putih bening, dan di ujung sana yang paling aku sukai, An. Putih bening, bersinar paling terang di antara yang lainnya.

Pernah kau berpikir untuk menjadi bintang-bintag itu juga, An? Begitu indahnya dari sini, tapi belum tentu indah jika ia berada dekat dengan kita, An.

Kau pasti sudah tahu karena kau juga resah memikirkannya, kan? Seperti apa dunia waktu ini? Semuanya terlihat begitu berkilauan, pada benda yang selalu kita pegang, pada sesuatu yang selalu kita buka. Orang-orang berlomba membuat dirinya tampak terang layaknya bintang-bintang itu, An.

Tapi biarlah, lupakanlah. Aku hanya resah dengan diriku sendiri, An. Bukan pada mereka. Kenapa harus mereka yang aku salahkan, aku hanya ingin menyalahkan diriku yang juga resah memikirkan mereka. Untuk apa?

Kita nikmati saja lukisan Tuhan malam ini, iya kan? Atau kita bicara hal lain yang lebih menarik lagi. Seperti sains yang sering kau tanyakan setiap kita berpergian ke pantai, gunung, atau hanya sekadar mampir di warung kopi kala itu, An?

Aku sering mendengar dari orang-orang, An. Hal-hal yang tak logis mengenai bintang-bintang itu, dan bahkan mereka selalu mengutip ayat-ayat dalam alquran tanpa mencari referensi penafsiran lain, An. Aku resah seperti biasa. Resah pada diriku sendiri yang memikirkan orang-orang itu. Ah! Mungkin aku yang salah, An.

Tapi aku suka bunyi ayat itu, An, ayat-ayat dalam al-qur’an yang selalu kita agung-agungkan. Memnag sangat indah bagiku. Seperti ketika Tuhan berfirman “Sesungguhnya telah kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang….”(QS.al-Mulk: 5)

Sudah, sampai di situ saja. Aku sangat suka. Langit memang begitu indah ketika gelap dengan butiran-butiran berkilauan ketika awan tak mengitarinya. Cahaya-cahaya itu membuatku terpaku sejenak, seperti aku melihat kehindahan senyummu, An.

Kau tahu, An, ada satu cahaya yang hanya kulihat dari gawai yang kupegang ini, tapi aku sangat mengaguminya seperti aku mengagumi apa yang kulihat sekarang. Namanya aurora, An, aku ingin menunjukkannya padamu.

Aurora ini, An, ada yang mengatakan jika cahayanya begitu menakjubkan. Biasa tampak di kutub utara dan selatan. Dan lucunya lagi, An, cahaya itu masih menjadi misteri yang belum bisa diketahui penyebab munculnya. Dan mereka, para peneliti itu, An, mereka mengira-ngira jika aurora itu terjadi karena emisi foton, yang kutahu foton itu partikel energi elektromagnetik yang ada di atmosfer paling atas, An, sekitar 65.000km di atas permukaan bumi, juga dari ionisasi atom-atom nitrogen yang mendapatkan kembali elektron dan oksigen. Lalu, An, katanya para ilmuwan itu lagi, proses ionisasinya terjadi bertumbukan, akibat dari partikel-aprtikel cahaya matahari yang mengalir ke arah magnet bumi lalu mengalami percepatan sepanjang garis magnetopause. Kiranya seperti itu, An.

Aku boleh tertawa, An? Lucu sekali ternyata ocehanku. Maaf-maaf, aku hanya sedang bahagia, An. Melihat langit malam ini. Aku sangat suka gelap dengan banyak cahaya yang mengihiasinya.
Mungkin karna aku sedang resah memikirkan hidup dan problematikanya, sepertinya memang lebih enak membicarakan hal-hal tersebut bersamamu, An.

Tuhan memang baik, tetap baik, dan akan selalu seperti itu, An. Seperti aku melihat senyummu, Tuhan memang benar-benar baik.


Pemalang, 13 Mei 2020.


Hanya satu yang Menarik di Dunia Ini: Media Sosial




Al-Baqarah (2):164
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ 
فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.


Ketika membaca ayat ini, saya teringat tentang betapa hari ini orang-orang yang bisa menikmati momen sangat jarang. Mereka seperti satwa langka. Dalam banyak kondisi, meski sedang duduk bersama teman-temannya, mereka lebih memilih hanyut dengan gawainya. Dengan akun-akun virtual, media sosial, game, video siaran langsung, dan semacamnya.  

Menurut riset yang dilakukan salah satu perusahaan media asal Inggirs, We Are Social, berkolaborasi dengan Hootsuite pada Januari 2018 silam—dalam laporan berjudul Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World—menunjukkan bahwa orang Indonesia dalam sehari menghabiskan sekitar 3 jam 23 menit (atau bulatkan 30 menit) untuk sibuk dengan media sosialnya. Jika kita mempertimbangkan aktivitas lainnya seperti kerja 8 jam (normalnya di Indonesia), tidur 7 jam, dan makan-minum-toilet 2 jam 30 menit, maka angka tersebut tidak bisa kita bilang sedikit.

Waktu di luar kerja, tidur, dan di toilet anggap saja adalah waktu untuk istirahat. Dengan perhitungan di atas, kita memiliki 6 jam 30 menit untuk istirahat. Kemudian bila waktu rehat ini dikurangi lagi untuk bermain media sosial maka tersisa 3 jam. Hasilnya, dalam sehari kebanyakan orang Indonesia hanya memiliki sisa waktu 3 jam untuk menikmati momen atau merenungi apa pun yang terjadi di sekitarnya jika meminjam logika Alquran di awal tadi.

Bukankah 3 jam itu lebih dari cukup? Barangkali iya, tetapi lagi-lagi jika kita mau memperhatikan teman-teman kita, berapa banyak dari mereka yang benar-benar mau merenungi sekitar dalam sisa waktu itu? Aku tidak terlalu yakin.  

Dalam contoh kecil saja semisal kita sedang berdua dengan seseorang di warung kopi. Obrolan tentu ada, namun apa yang biasa kita lakukan ketika kita sudah kehabisan bahan pembicaraan? Seturut pengalama saya, kita akan lebih memilih membuka gawai sebagai pengalihan isu ketimbang diam sejenak, meresapi situasi, menikmati udara atau oksigen yang menghidupkan kita, dan semacamnya. Gawai memang benar-benar mengubah pola gerak otot kita.

Momen dan even

Untuk situasi sedang berdua dengan seseorang di kafe barangkali kita bisa memaklumi. Mungkin situasi di kafe kurang merangsang kita untuk merenunginya atau kondisinya bising sehingga hal yang paling aman dan instan adalah dengan gawai. Namun, ada lagi kejadian lain yang menggelikan. Adalah ketika sedang ada even atau di tempat wisata.

Pernah tidak kita sibuk foto saja ketika sedang berwisata alam? Aku tidak tahu dengan teman-teman, tetapi saya pernah mengalami itu. Jadi, pada awalnya, saya berniat untuk menyegarkan segala yang riuh dalam diri dan akhirnya pergi ke tempat sejuk dan indah. Sesampainya di sana, yang terjadi justru membuat saya tertawa setelahnya. Yakni kami sibuk mengambil foto di sana-sini, mengambil video, dan mengunggahnya di media sosial. Sekujur waktu liburan tersebut habis untuk media sosial dan otomatis tidak ada itu yang namanya penyegeran yang cukup berarti, padahal situasi dan kondisi sangatlah mendukung.

Hal senada juga bisa kita amati dengan even. Even adalah sesuatu yang harusnya memicu siapa pun yang melihat untuk tertarik mengamatinya dan otomatis merenungkan. Alain Badiou dalam bukunya, Being and Event, membedakan antara even dan momen. Momen adalah situasi biasa atau dunia pada kondisi normalnya. Adapun even adalah kondisi tertentu yang mencoba untuk menabrak momen, sehingga tekstur dari even tidaklah normal. Jadi, ketika bicara even, maka kita sedang berbicara soal kondisi yang menarik serta memikat pikiran dan perasaan untuk bergerak. Ini di aras “harusnya”.

Akan tetapi, yang terjadi di lapangan berbeda. Saat ada demo besar sedang berlangsung atau ada konser amal Sisir Tanah di Gading Kafe misalnya, cobalah kita perhatikan, ada berapa dari kita yang benar-benar menikmati even tersebut dan ada berapa yang malah sibuk memotret dan menayangkan secara langsung via akun Instagramnya? Jika berkenan mengamati, kita akan tahu jawabannya. Untuk ukuran even pun, kadang kita masih susah untuk mencoba—mencoba saja lho padahal—menikmati setiap detik darinya.

Surah al-Baqarah (2):164 mengandaikan kita untuk senantiasa berupaya menikmati setiap momen di sekitar kita baik yang bergerak secara natural atau pun direncanakan demi tujuan tertentu (even). Perenungan sederhana atas momen dan even mendorong kita untuk menemukan kembali diri kita yang siapa tahu sudah hilang dengan tanpa disadari saat terhanyut di samudra media sosial. Upaya menemukan kembali diri akan mendorong kita untuk mendapat secercah cahaya yang bisa membantu kita guna menentukan sikap dan, kurasa ini penting, tanpa sikap, kita akan sulit untuk membangun mental kita entah sebagai Muslim atau pun Manusia.   




Doa, Kebosanan, dan Obrolan




Bagi sebagian peneliti seperti Mehfooz, Javaid, dan Khalid, doa bukanlah ritual kosong hampa makna melainkan sumber dari reformasi sosial. Lewat pengamatan terhadap beberapa komunitas dari Islam dan Yahudi, mereka menemukan bahwa di balik beberapa reformasi ada aspek doa bersamayam. Paling tidak, menurut mereka doa berhasil membangun semangat persatuan yang nantinya menjadi tumpuan penting dari reformasi. 

Saya sedang duduk dengan seorang teman ketika membaca sekilas riset tersebut. Teman saya sedang bermain game dan kebetulan dia membaca bismillah atau sebut saja doa tepat sebelum memulai pertandingan. Ada yang tek begitu rasanya tiba-tiba tatkala mendengar dia berdoa sebelum nge-game. Kendati demikian, saya tidak bertanya mengapa dia bisa se-unik itu. Saya memutuskan untuk mencerna sendiri dua scene seksi tersebut: riset doa sebagai reformasi sosial dan temanku yang berdoa sebelum main game.

Saya rasa keputusan temanku untuk berdoa bukan tanpa alasan. Saya membayangkan, ada dua faktor mengapa dia begitu. Pertama, seperti halnya reformasi sosial komunitas beragama di muka, temanku berdoa sebab ia membutuhkan keberanian tambahan atau dorongan ekstra supaya ia berani bertanding untuk ke sekian kalinya. Mungkin ini remeh, yakni sebatas permainan, tetapi seremeh apa pun sesuatu, tetap saja itu adalah representasi dari kebiasaan. Dari masa lalu. Dari segenap pengalaman dan semacamnya.

Sederhananya, di kemungkinan pertama, doa memiliki peran penting untuk sebuah gerakan. Jika ada pil untuk membuat orang tampil lebih percaya diri, maka seperti itulah doa mewujud. Dalam bahasa Jalaluddin Rumi doa ibarat jeritan sebatang bambu kering, tercerabut dan terasing, yang ingin kembali ke rumpun bambu. Temanku tadi—yang kutahu bahwa dia sering kalah dalam pertandingan game—berdoa supaya mendapatkan kembali keberanian yang udah hilang ditelan kekalahan-kekalahan.

Kedua, barangkali juga ini disebabkan oleh kebiasaan. Kebiasaan yang sudah mendarah daging atau bahasanya Bourdieu sudah menjadi “habitus”, sehingga ketika ingin memulai apa pun yang menurutnya krusial, seseorang akan membaca doa. Dalam kemungkinan ini, doa seperti—jika bukan tidak lebih dari—dengungan para novis di fajar hari di biara-biara atau ruang khusus di samping perpustakaan yang menggema memuji pada Tuhan, persis dengan gambaran Umberto Eco dalam novelnya The Name of The Rose. Dengan ungkapan lain, ia adalah ritual. Ritual yang ada bukan untuk dirinya, tetapi untuk hal lain di luar dirinya seperti mempertahankan identitas, menutupi sesuatu, dan semacamnya.

Dalam kasus temanku tadi, melihatnya dari kemungkinan terakhir, boleh jadi dia berdoa untuk menutupi ketidaknyamannya saja sebab jika tidak demikian ia akan merasa ada yang aneh. Ini seperti kita yang terbiasa khatam Al-Quran saat Ramadan dan setibanya tidak menyelesaikan bacaannya, tentu ada yang ganjil, bukan?  

Orang bisa menyebut ini pula sebagai formalitas. Doa sebagai formalitas, iya, tapi meski begitu, siapa saja tidak bisa meremehkan formalitas. Formalitas—di beberapa level—melahirkan kebosanan dan kebosanan akan selalu menciptakan obrolan.  

Waktu yang Tepat untuk Tidak Tarawih




Pukul sembilan malam biasanya temanku, sebut saja Badang, sudah berada di sini, di bawah pohon Kepel tempat biasa kami membunuh waktu. Namun, kali ini tidak. Pasti ada yang tidak beres.

Dua jam kemudian, dia baru datang dengan raut muka yang membingungkan. Kebiasaan terbaiknya selama ini adalah datang dan langsung bercerita segalanya. Kali ini, kebiasaan itu terjadi.

Setibanya, dia langsung bilang, kalian tahu ndak, gaes? Dan seperti yang kerap terjadi, dengan tanpa menunggu kami, dia menjawabnya sendiri.

Ceritanya, dia habis membandingkan dua hal. Yakni antara doa salat tarawih dan doa setelah witir. Dia mendapatkan ide itu karena faktor tunggal: pacarnya. Pasalnya, selama belasan tahun dia hidup di bumi, baru kali ini ia tahu tekstur dan penampakan dari dua doa di muka. Singkatnya, dia diminta pacarnya untuk membacakan doa dan doi mengamini.

Karena yang menyuruh nyonya putri jelas dia tidak bisa mengelak, se-subversif apa pun dia. Dalam kondisi seperti ini, seseorang dalam ukuran tertentu justru dapat menangkap hal-hal unik dari apa yang dilakukannya. Badang termasuk di dalamnya. Ia tidak saja membacakan doa untuk nyonyanya, tetapi juga menemukan sesuatu lain yang menarik.

Doa: antara meminta dan cinta

Ketika membaca doa tarawih, Badang merasa sebal. Sebal sekali. Begitu kisahnya. Sebab di dalamnya berisi permintaan-permintaan yang cenderung ke arah materi. Sebut saja misalnya di situ ada permohonan untuk menikah dengan bidadari-bidadari, bisa mengenakan pakaian sutra yang bangsat mahalnya, makan hidangan surga, minum susu dan sebagainya. Itu pun harus dengan gelas yang khusus.

Beberapa orang di levelnya jelas sangat menyukai konten dari doa tersebut selama mereka paham. Bayangkan, tegas Badang, siapa yang tidak tergoda dengan hal-hal “perut ke bawah” itu dan inilah yang membuat temanku gemas.

Meski gemas, dia tetap tidak berkutik di hadapan nyonyanya. Ia masih melanjutkan salat witir dan ketika sampai di penghujung yaitu waktu berdoa, dia terbahak dalam hati. Kenapa? Konten dari doa witir menunjukkan wajah yang sama sekali bertentangan.

Doa witir terasa jauh lebih menenangkan. Ia tidak berkisar lagi tentang perut ke bawah, tetapi pada hati, pikiran, kemandirian, penerimaan, dan kehati-hatian. Lewat doa ini siapa pun dibuat tidak segan untuk berlutut di hadapan semesta, memohon ampunan seraya berharap betapa apa yang sudah kita lakukan bisa diterima. Itu sudah lebih dari cukup.

Satu bagian yang paling menarik, menurut Badang dan nantinya juga menurutku, adalah ketika doa salat witir menyebutkan kalimat wa nas’aluka al-ghina ‘an al-nas (Tuhan, buatlah kami tidak terlalu butuh pada manusia). Kurasa ini tidak saja doa, tetapi mental, cinta, ketulusan, dan kepasrahan total pada yang menumbuhkan lombok-lombok pasca-hujan. Butuh keberanian yang tinggi untuk mencapai titik ini dan doa salat witir berusaha mengajarkan kepada kita tentangnya.

Badang belum selesai bercerita, tetapi sampai di bagian al-ghina ‘an al-nas, pikiranku sudah menghiraukan Badang. Ia jalan-jalan sendiri, menerka-nerka, membandingkan, dan entah kapan mau memutuskan.

Dan akhirnya aku baru tersadar ketika Badang menyebut untuk ketiga kalinya bahwa dari penemuannya tersebut dia berencana untuk tidak salat tarawih lagi. Meh witiran waelah. Pertama sitik dan kedua apik, begitu pungkasnya.  

Popular Posts