Abdul Qahir Al-Jurjani dan Menulis dari Ilham

Gemini generated image


Contradixie – Sudah satu dekade silam aku mengenal al-Jurjani. Abdul Qahir Al-Jurjani (1009–1078 M). Ia banyak dikutip oleh orang-orang yang dikenal atau mengaku dirinya sebagai pakar hermeneutika Al-Quran. Namun, hingga satu bulan kemarin, aku tidak pernah membaca langsung bukunya. 


Suatu tuntutan di kampus mempertemukanku dengan Dalail al-I’jaz-nya Al-Jurjani pada akhirnya. Menurut para pakar bahasa setelah Al-Jurjani, tema besar buku ini bicara tentang Ilmu Ma’ani dan Ilmu Bayan


Setelah kubaca, memang benar, sejak awal, buku ini bicara tentang–aku boleh bilang–filsafat memahami. Pasalnya, Al-Jurjani mendiskusikan ihwal dalam kondisi apa seseorang memungkinkan untuk memahami, apa saja yang tidak bisa kita hindari dari proses memahami, dan sebagainya. 


Isinya menarik, namun entah kenapa, ada hal lain yang lebih menyita perhatianku, yakni bagaimana proses Al-Jurjani menulis Dalail al-I’jaz. Ini tentu bukan tragedi magis melainkan akibat dari gaya menulis Al-Jurjani yang “beda”. 


Tulisannya semacam acak atau antara memang tradisi menulis di masa Al-Jurjani demikian dan akunya yang kurang mampu membacanya. Bila tidak dibantu oleh muhaqqiq melalui pemberian catatan pinggir, sepertinya akan lebih sulit bagiku menebak jan-jane apa yang Al-Jurjani omongkan pada bagian ini. 


Meski demikian, setiap paragraf yang ia tulis–kendati bagiku tampak tidak terhubung secara baik dengan paragraf sebelum dan setelahnya–memuat satu gagasan yang wah, masuk akal, dan terasa kontekstual, bahkan bagi orang yang hidup satu abad setelahnya dan di wilayah yang berbeda sepertiku. Gagasan-gagasan yang terserak di berbagai paragraf tersebut pada masa selanjutnya ditindaklanjuti secara serius oleh sarjana-sarjana selepasnya, seperti Al-Sakaki, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Al-Suyuti, dan Muhammad Syahrur. 


Gaya seperti inilah yang kurasa membimbingku untuk sampai pada kesimpulan bahwa basis penulisan Dalail al-I’jaz adalah sesuatu yang melampaui kognisi. Ia menulis berdasarkan ilham! 


Aku dan situasi antara 


Satu minggu setelah membaca Al-Jurjani, di suatu malam, aku tiba-tiba ingin mencoba gaya yang Al-Jurjani pakai, walau aku tidak yakin bagaimana proses Al-Jurjani menulis dan apakah benar ia menulis berbasis ilham. Yang jelas, aku mempraktikkannya. 


Aku menulis melalui ponsel di jam tidurku. Aku sengaja memilih jam tidur karena ini adalah situasi antara, kesadaranku menurun lantaran lelah dan mengantuk, dan memilih gawai sebab dengannya aku bisa menulis sambil tidur. Di tempo awal, aku sengaja tidak memikirkan apa pun, kendati tetap saja ada yang muncul di pikiranku. 


Itu aku lakukan dengan harapan, suatu ide akan turun dan mengguyur diriku dengan tanpa aku berupaya sama sekali untuk meraihnya. Beberapa saat, tidak ada yang muncul. Tapi, beberapa saat selanjutnya–setelah beberapa kali terlelap sebentar–ada yang turun. 


“Hidup di atas jembatan.” Itu ide pertama yang menyembul di pikiranku dan sejak ini, aku merasa ide-ide, klasifikasi, dan semacamnya membanjiri kepalaku, meski di beberapa kesempatan terhenti.   


Singkat kata, aku berhasil menyelesaikan satu tulisan malam itu. Biasanya, setelah mengkhatamkan satu tulisan, aku membacanya kembali, menyuntingnya, tapi karena sejak awal niatku adalah menulis berbasis ilham, tulisan itu aku tidak mengeditnya. 


Di pagi hari, aku buka gawai. Aku baca dan hasilnya jelek. Sialan. Tidak runtut. Tapi, ada beberapa klasifikasi yang lucu, seperti manusia lembu atau manusia pitik. Tulisan ini aku beri judul sesuai dengan kata-kata yang kudapat pertama kali: hidup di atas jembatan. 


Aku mengunggahnya juga di situs web ini, tapi yang kuunggah adalah versi setelah kurevisi. Tidak sanggup rasanya bila mengunggahnya dalam bentuknya yang asli. Ipng   




  




Comments

Popular Posts