KORPUS UTERUS DAN HAL YANG MEMBUATKU TERGILA-GILA

 


Di antara teman-teman lain, barangkali aku satu-satunya orang yang belum membaca buku karya Sasti Gotama. Tentu saja bukan karena tak ingin, namun semesta seperti belum menakdirkan kami berjumpa lebih awal. Di aplikasi ipusnas tersedia beberápa judul, aku sudah mengantre sejak lama, namun selalu saja terlambat meminjam ketika ada orang lain selesai membaca. Aku memutuskan tidak membeli sejumlah buku yang masih bisa kubaca di perpustakaan daring, atau kupinjam di perpustakaan luring.

Bukan berarti aku belum sama sekali membaca karya Sasti yang tersebar di berbagai kanal. Aku sudah mampir ke beberapa tulisan dan, melalui hasil pembacaan tersebut, aku bisa secara dini menyimpulkan bahwa dia adalah penulis yang serius membicarakan isu perempuan dan kesehatan mental dalam karyanya.

Pada akhirnya aku berjumpa juga dengan tulisan Sasti yang lebih panjang. Korpus Uterus. Sejak buku ini diumumkan oleh penerbit Gramedia, aku sudah menaruh perhatian. Sebenarnya bukan karena penasaran, tapi karena bayangan huruf “ut” selalu saja muncul seperti huruf “w” di dalam kepalaku. Hingga ia terbit, aku masih teringat-ingat, dan sepertinya memang inilah saatnya untuk meminang Sasti.

Bisa kukatakan bahwa aku tergila-gila pada buku ini sejak halaman pertama. Cara Sasti menyusun kalimat demi kalimat sangat memanjakan telinga. Seolah setiap kata yang disusunnya telah melalui pertimbangan teramat panjang. Aku membayangkan, barangkali ia memiliki daftar kata yang memiliki arti sama, ia masukkan satu per satu, mengeliminasi yang kurang estetik, lalu menentukan satu kata yang paling pas.

Aku akan dengan mudah jatuh cinta pada penulis yang mampu menceritakan suatu hal dengan memberikan perumpaan sebagai penjelasan tambahan. Dan di buku ini, hal demikian bisa didapati di mana-mana.

“Tiba-tiba Kalimah melolong seperti anjing dikebiri.”

“… putra kesayangannya, yang kulitnya tak lagi sekilau kulit padi terpanggang siang, melainkan sepucat kapuk yang jatuh di tanah kerontang.”

“Separuh atas tubuhnya tak ubahnya sulur kacang panjang, yang tak berdarah ketika ditusuk, tak nyeri ketika dipatahkan, tak menjerit ketika dibakar.”

“Dari cara lelaki itu melakukannya dengan brutal, Kalimah berfirasat, itu bukan karena si lelaki sepenuhnya berhasrat, melainkan karena ingin menghukum dirinya, seperti kucing garong yang buang tahi di halaman rumah milik orang yang pernah mengguyur tubuhnya dengan air.”

Kutipan-kutipan di atas hanya sebagian kecil. Maksudku adalah, betapa penulis benar-benar menghadirkan cerita di hadapan kita yang tidak hanya dapat dinikmati kalimat demi kalimatnya, namun juga dapat dirasakan oleh indera penglihatan. Seolah kita bisa benar-benar melihat kejadian itu, dan seperti apa bentukannya.



Buku ini mengambil banyak latar kejadian. Peristiwa-peristiwa pemerkosaan tahun 1965, pemerkosaan Mei 1998, dan tahun 2009 yang ditandai dengan keluarnya undang-undang tentang golongan yang diperbolehkan melakukan aborsi.

Dari lompatan-lompatan tahun tersebut penulis menjahit sebuah cerita utuh. Mulanya tentang Kalimah yang diperkosa pada tahun 1965 dan kemudian melahirkan anak lelaki bernama Panuluh. Anak yang memiliki telinga kembang kol dan kemampuan pendengaran serupa gajah, jangkrik, atau lumba-lumba. Dalam rentang tahun 1965 sampai 1998, begitu banyak hal yang terjadi. Kalimah yang menjadi penulis stensilan dengan menggunakan nama Mardi S.—lagi-lagi penulis benar-benar hendak membuat pembaca merasa begitu dekat dengan cerita. Ketika mendengar nama Mardi S. yang terbanyang di kepala adalah penulis stensilan di tahun-tahun tersebut.

Luh yang akhirnya meninggalkan rumah, tumbuh menjadi anak lelaki yang telah menyaksikan banyak hal, terutama kematian perempuan karena kehamilan. Mereka yang terpaksa meregang nyawa karena harus menjalani aborsi yang tidak sesuai prosedur. Dari banyaknya kejadian serupa yang disaksikan Luh kemudian memicunya untuk mempelajari lebih mendalam tata cara melakukan aborsi dengan aman. Tentu saja dengan cara-cara medis yang memenuhi standar.

 Isu yang diangkat sangat menarik dan sangat jarang dibicarakan. Yaitu hak-hak reproduksi perempuan, tentang kehamilan, aborsi, dan hubungan seksual dengan konsen. Tokoh-tokoh yang dihadirkannya tidak tampak sebagai pajangan semata, namun benar-benar ada dan memiliki ceritanya masing-masing. Mereka hadir dan seolah berteriak pada setiap pembaca bahwa mereka layak didengarkan, kisah mereka perlu diperhatikan, terutama derita yang mereka tanggungkan, perlu direnungi lebih mendalam lagi. Apakah benar orang-orang suci itu melarang aborsi karena memedulikan janin yang dikandung, atau karena mereka hanya ingin terlihat berkuasa saja?

Semakin jauh kita membaca, semakin banyak perempuan yang dikhianati kehidupan yang akan kita temukan. Maka penulis kemudian merasa perlu untuk menghadirkan sosok-sosok yang tetap berpihak pada korban-korban tersebut. Di dalam cerita ini, Rumah Singgah Ludira dan Yayasan Suluh dihadirkan. Sebagaimana dalam keseharian kita, biasanya korban-korban kekerasan gender dan ketimpangan sosial lebih mendapatkan perhatian dari lembaga bantuan hukum milik swasta.

Aku senang ketika penulis yang hadir sebagai narator dengan kemampuan menghadirkan perumpamaan-perumpaan di setiap adegannya juga memiliki kesadaran penuh. Bahwa ia hanya narator dan tidak punya hak untuk mencampuri, apalagi membuat tokohnya dapat terlihat seperti dirinya. Misalnya dalam narasi di bawah ini.

“… tetapi telinga kembang kol Luh bisa mendengar detak jantung yang sangat cepat, teramat cepat, seperti kelompok anak kuda Sumbawa yang saling berpacu di Padang sabana. Luh pernah membaca bab ini, dulu, kala di perpustakaan rumah sakit.”

Penulis perlu menjelaskan bagian …pernah membaca bab ini, dulu, kala di perpustakaan rumah sakit untuk membuat pembaca sadar bahwa antara narator dan tokohnya memang dua orang yang berbeda.

Ada hal dalam buku ini yang mengingatkan aku pada Korrie Layun Rampan. Ialah penggunaan diksinya yang jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, atau bahkan buku-buku lain, namun justru digunakan mereka. Ini bukan saja diksi yang berkaitan dengan dunia kedokteran, namun ada banyak sekali diksi keseharian yang kemudian membuat buku ini jadi terasa lebih istimewa. Misalnya beberapa kata ini; palamarta, blirik, sabur, cikar, perbani, dsb.

Satu hal lagi, penulis terkadang menyusun kalimat seperti sedang menulis puisi berima. Lihatlah pada kalimat ini.

“Dia melihat rambut ikal pendek perempuan itu yang mengigatkannya pada suatu masa yang kabur dan mimpi yang sabur. Gesekan kakinya kala menginjak tanah berbaur dengan suara motor yang simpang siur.”

Alamak, lihai sekali Sasti menyusun kalimat hingga aku sempat khawatir Korpus Uterus-nya akan menggeser posisi Ulid dan Lelaki Malang, Kenapa Lagi di hatiku. Namun ternyata belum bisa. Pada bagian-bagian akhir buku ini, aku sempat merasa bosan. Mungkin ketika Lara mulai muncul dan keterlibatan Luri, kakak Lara, yang membuat adegan demi adegan di buku ini seperti tidak lagi terasa alami. Seolah penulis baru memutuskan adanya tokoh bernama Lara dan Luri di tengah-tengah menulis, bukan sejak awal direncanakan sebagiamana kehadiran Yati, Nur, Farida, Dokter Markus, dan juga Danang.

Aku mengharapkan akhir yang lebih menggigit, namun segini pun cukup memuaskan. Aku tetap menyukai buku ini, meski belum sebanyak rasa sukaku pada karya Mahfud Ikhwan dan Hans Fallada.  



Comments

Popular Posts