Sebagai WNI, adalah hal wajar ketika
membaca Mata Malam dari Han Kang dan tidak merasa terkejut. Bukan karena bukunya
buruk, justru sebaliknya. Buku ini disusun dengan sangat menarik, baik dari
segi gaya penulisan maupun dari ide cerita itu sendiri. Namun mengapa kok tidak
mengejutkan? Karena kita sudah terlalu kenyang dengan pengalaman serupa.
Mei 1980 terjadi penembakan sangat brutal terhadap
mahasiswa Universitas Nasional Chonnam dan warga sipil lainnya yang menimbulkan
banyak korban nyawa. Tidak hanya itu, sejumlah masyarakat sipil juga dipaksa
mengaku sebagai pemberontak, dipukuli, disiksa, dan dipenjara oleh militer
Korea Selatan. Ini terjadi setelah kudeta 17 Mei yang kemudian menjadikan Chun
Doo-Wan sebagai diktator militer yang menyerukan darurat militer.
Han Kang sangat halus dalam menampilkan
kebengisan aparat negara yang satu ini. Dia tidak menggebu-gebu, tidak pula berteriak,
dia hanya menyisipkannya di antara kalimat-kalimat lain yang justru membuat
kita sebagai pembaca bisa merasakan bagaimana kebengisan itu, yang dalam logika
kita, hanya mampu dilakukan oleh iblis justru dilakukan oleh negara, oleh tentara.
“Kenapa mereka menyanyikan lagu kebangsaan
untuk orang-orang yang dibunuh oleh tentara? …”
“… Seolah-olah
yang membunuh mereka bukan negara.”
“Yang
menakutkan itu tantara. Orang mati sih tidak menakutkan.”
“Tentara
dijatah sejumlah peluru yang memungkinkan mereka untuk menanamkan dua kematian
di tubuh setiap orang di kota.”
“Tentara
kita menembak,”
“Katanya,
penghargaan berupa uang puluhan ribu won diberikan oleh petinggi kepada tentara
yang bertindak sangat kejam.”
“Bahwa presiden yang merupakan anggota
militer ada di puncak kekerasan tersebut.”
“Bagaimana caramu membalas negara yang
membunuh adikmu?”
“Ada tentara-tentara yang sangat kejam.”
Bagian mana dari tulisan Han Kang di atas yang
tidak sesuai dengan pengalaman kita sebagai Warga Negara Indonesia? Bahwa pemimpin
kita dari kalangan militer, bahwa saudara kita dibunuh negara, bahwa tentara
kita menembak, bahwa tentara kita dijatah sejumlah peluru untuk membunuh warga
sipil, bahwa tentara kita mengurus KDMP (upss, bagian ini gak ada di buku Han
Kang, ding). Jadi bagaimana mungkin, sebagai WNI, kita akan terkejut dengan kenyataan
bahwa tentara di Korea Selatan sana membunuh mahasiswa, sementara di Indonesia pun
serupa.
Aku merasa miris ketika tokoh-tokoh di buku
ini menyebut “tentara kita,” sebab ada ironi di sana. Tentara, sesosok manusia dengan
jabatannya, sudah selayaknya mampu melindungi warga sipil dari serangan luar. Namun
yang terjadi justru sebaliknya. Seseorang yang merupakan bagian dari kita
sebagai masyarakat, justru menjadi penyerang itu sendiri. Darah kita tumpah di
tangan tentara, nyawa kita melayang oleh tentara. Dan tentara di sini, adalah
negara itu juga. Jadi
ke mana kita harus berlindung jika negara kita menginginkan nyawa warganya?






