Jarak dari rumahku tidak sampai dua kilometer, namun butuh beberapa kali purnama barulah aku merasa perlu untuk berkunjung.
Namanya Pecel Tegal Sengon. Berada di sekitaran Tugurante, atau sekitar 15 menit berkendara dari kota Blitar ke arah utara. Tapi percayalah, sangat sepadan untuk menempuh perjalanan, bahkan 30 menit sekalipun, demi mendapatkan pengalaman menikmati seporsi nasi pecel, ditemani secangkir kopi khas tegal sengon, atau segelas es jeruk yang menyegarkan tenggorokan.
Terhitung sudah lebih dari tiga kali aku berkunjung ke sini. Selain karena posisinya memang sangat dekat dengan tempatku tinggal, juga karena sepiring rempeyeknya selalu punya cara untuk membuatku ingin datang lagi dan lagi.
Akhir tahun 2025 ini bahkan sempat diadakan diskusi buku Reset Indonesia yang dihadiri oleh Dhandy Laksono. Acara berlangsung dengan lancar dan tanpa kendala, dihadiri oleh ratusan peserta yang memenuhi bagian joglo maupun area lainnya.
Namanya mungkin Warung Pecel Tegal Sengon, namun sebenarnya di sini juga sedia kopi hitam pahit yang bisa dinikmati sembari membaca buku. Angin semilir akan membuat betah diiringi dengan suara alam yang memanjakan telinga. Letaknya mungkin bukan di tengah kota, tapi sudah bisa dipastikan ia berada di tengah pohon sengon.
Datanglah ke Tugurante, Ponggok, dan nikmati sebuah harmoni yang jarang, atau mungkin sulit, kamu temukan di Kabupaten Blitar. Perpaduan antara pecel yang mengenyangkan perut, suasana yang melenakan perasaan, dan pemandangan yang menyegarkan mata.



.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)