Sejak berpindah dari Jogja ke Blitar pada awal
tahun 2022, aku sudah mencoba nongkrong di beberapa warung kopi terdekat. Meski
tidak bisa dikatakan dekat juga sebab kala itu aku tinggal di pedesaan, sangat
jauh dari pusat kota, dan untuk mencoba nongkrong di kabupaten sebelah (Kediri)
juga sama saja. Barulah kemudian bisa lebih banyak eksplor beberapa cafe di
Blitar ketika kami pindah ke daerah yang lebih dekat dengan kota, dan kebetulan
lagi sebab untuk ke arah yang berlawanan dengan kota pun bisa dikata lebih
dekat. Anggap saja posisinya berada di tengah-tengah.
Aku kemudian mencoba beberapa warung kopi di
daerah Srengat: ada Honocoroko Pea, Tandalan by Semayan Kopi, Bromfiets Kopi, juga Warung Kopi Giras.
Masing-masing pernah ke sana lebih dari sekali. Untuk warung kopi di bagian kota Blitar, aku menemukan
banyak sekali yang bisa disinggahi, meski memang belum seluruhnya sempat
kukunjungi. Namun di antara beberapa tempat yang pernah aku singgahi, ternyata
ada satu warung kopi yang suasananya mengingatkanku pada Jogja. Dari segi tata
letak mungkin sedikit berbeda, namun dari segi pengunjung dan harga makanan serta
minumannya sangat mirip dengan beberapa warung kopi langganan yang ada di
Jogja, lebih tepatnya yang ada di sekitaran Sorowajan, Banguntapan, Bantul.
Sebagai
mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, tentu saja aku banyak nongkrong di sekitaran kampus.
Dan warung kopi yang terjangkau dari segi jarak maupun isi dompet adalah jajaran
warung kopi yang ada di Sorowajan. Sebutlah Blandongan, Joglo, Basabasi, dan
Kopas. Pada warung kopi yang kusebutkan tersebut setiap harinya, atau setiap
saatnya, dipenuhi oleh para mahasiswa yang mengerjakan tugas kuliah, atau
sekadar diskusi bersama teman-teman kampus. Suasananya pun terasa lebih ramah, lebih membumi, dan juga akrab. Aku mengenang
suasana tersebut ketika akhirnya menetap di Blitar. Bahwa ternyata aku
merindukan suasana nongkrong yang semacam itu. Ketika kita sedang menikmati
secangkir kopi dan pengunjung yang duduk di sekitar kita juga asik menekuni
kegiatannya. Mereka berkunjung untuk menuntaskan sesuatu. Aku merindukan kekhusyuan
bernada akademis itu.
Namanya
Warung Kopi Mbah Adjam. Letaknya di Jl. Kalibrantas No. 4, Bendo,
Kecamatan Kepanjenkidul, Blitar. Warung kopi Mbah Adjam ini letaknya tepat di
seberang kolam renang Sumber Udel yang saat ini lagi renovasi itu. Saat pertama
kali diajak suami nongkrong di sini, aku sedikit dikejutkan dengan harga minumannya
yang sangat standar, di bawah 15k. Untuk orang yang beberapa kali nongkrong di café
dengan minuman di atas 15k semua, tentu saja ini sesuatu yang baru. Dan ternyata
bukan hanya minuman dan makanannya yang murah, suasananya juga bikin betah.
Saat
ke Mbah Adjam untuk kedua kali, aku datang sendirian. Hanya berbekal sejumlah
buku di dalam tas serta ponsel dengan daya baterai penuh, aku percaya diri
menghabiskan malam minggu di sini tanpa perlu takut merasa bosan atau lainnya. Saat tiba pun disambut dengan pemandangan yang amat menyejukkan mata. Beberapa
orang sedang duduk berhadapan, ada yang mengobrol, ada yang membuka laptop, dan
ada pula yang tengah membaca buku. Usai memesan beberapa minuman dan makanan,
aku mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman. Aku akhirnya memutuskan untuk
duduk di bagian meja panjang menghadap parkiran. Meja semacam ini memang sangat cocok untuk
orang yang datang sendirian. Bentukannya mirip dengan meja panjang yang
menghadap ke arah rel kereta yang ada di warung Kokambar, Jogja, pada masanya.
Dua pekan
kemudian aku ke Mbah Adjam lagi seorang diri. Sore yang syahdu dengan dikelilingi
oleh pengunjung lain yang asik berdiskusi mengenai tugas kuliah mereka. Saat aku
tiba memang belum begitu banyak pengunjung. Saat itu masih siang menjelang
sore, namun setelah satu jam duduk, pengunjung semakin ramai. Aku memperhatikan
mereka yang datang dan dapat memastikan bahwa mereka memang datang untuk sebuah
hal; mengobrol, menyelesaikan sesuatu, menghabiskan hari. Pakaian mereka
sederhana, tampilan mereka pun demikian. Pemandangan yang sangat jarang
ditemukan jika berkunjung ke beberapa café atau warung kopi di Blitar yang
harga minumannya banyak di atas 20k.
Kalau ada warung kopi di Blitar yang tidak akan bosan kukunjungi karena senyaman itu menongkrong di sana, tentu saja Warung Kopi Mbah Adjam berada di urutan pertama. Setidaknya saat tulisan ini dibuat aku memang belum menemukan tempat lain yang suasananya juga menyerupai. Aku sih berharap bisa menemukan yang lain ya, semata supaya ada opsi, baik untukku pribadi, maupun teman-teman lain yang senang dengan suasana demikian.










.jpeg)


