Apa Saja Berhubungan dengan Al-Quran, Harus Kita Curigai!

Kajian Muhammad Arkoun atas tradisi Muslim dan Alquran bisa disebut berpijak pada dua keresahan penting, yaitu pertama berupa kenyataan betapa tafsir yang ada selama ini di dunia Muslim bukanlah apa pun kecuali karya yang bersifat ideologis. Para sarjana yang melanjutkannya pun terjebak dalam kubangan ideologi. Jadi, yang ada di sini hanyalah pengulangan demi pengulangan.

Keresahan kedua lebih pada kajian yang dilakukan sarjana Barat. Studi yang dilakukan lingkaran ini sudah menampilkan hasil yang efektif memang, minimal tidak ideologis, tetapi sayangnya mereka tidak sampai masuk pada aspek esoterik. Mereka hanya berkutat dalam lingkar luar seperti ikan sapu-sapu yang suka menempel di kaca dan senang luar biasa karena senantiasa bisa dilihat oleh orang di luar akuarium, kendati sebagai pembersih kaca.

Karena dua hal inilah pada akhirnya, Arkoun berkeinginan untuk menenun sebongkah metodologi yang bisa meramu keduanya. Yang memungkinkan kita untuk tidak terjebak dalam lumpur hitam ideologi tertentu, dalam arti objektif-kontekstual, serta mendalam atau tidak di bagian luar saja.

Tulisan ini tidak akan masuk pada pembahasan soal proyek besar Arkoun di muka, tetapi melihat ala kadarnya pada apa yang dimaksudnya dengan pemahaman Al-Quran yang terjebak dalam pekat ideologi.

Bagian paling mudah yang bisa dipahami dari pandangannya ini berkisar seputar kesadaran kontekstual. Jika ingin sesuatu yang baru dalam memahami Al-Quran lewat tafsir, katanya secara tersirat, pertama-tama kita harus meletakkan tafsir pada situasi tempat ia lahir.

Tidak saja itu, apa saja yang bertautan dengan Al-Quran dan Tafsir pun penting untuk kita posisikan sedemikian rupa. Apa saja di sini bisa berupa kaidah-kaidah penafsiran, syarah dari kitab tafsir, dan bahkan “pendapat santai mengenainya”.

Jadi, ketika ingin memakai kaidah sabab nuzul-nya Imam Suyuti misal, maka kita tidak bisa begitu saja memakainya melainkan harus melewati bacaan terlebih dulu atas kaidah tersebut. Tentang situasi tempat tinggal dan kondisi Imam Suyuti sendiri. Cukup rumit kan? Saran-saran Arkoun memang bajingan susahnya. Tapi, saya rasa, memang inilah yang harus kita bayar untuk sebuah "kebaruan", jika bukan perbedaan.

Kuotes dari Abu Bakar al-Siddiq Pandangan santai terkait Al-Quran

Yang masih hangat beberapa hari ini barangkali adalah gambar kuote dari Sahabat Abu Bakar al-Siddiq tentang memahami Alquran vs menghafalkan yang dibuat dan disebarkan oleh tafsiralquran.id. Dalam gambarnya, tertulis kuote Arab yang dilengkapi dengan terjemahan serta informasi bahwa pandangan ini pernah dikutip oleh Imam Maliki dalam Qawaid al-Asasiyyah fi Ulum al-Quran-nya.

Teks terjemahannya berbunyi begini, "Bisa memahami (menjelaskan/mengamalkan) satu ayat Al-Quran lebih saya sukai daripada menghafalkan satu ayat."

Jika tadi masih ada yang meraba tentang bagaimana contoh dari "pendapat santai mengenai Al-Quran", maka inilah salah satu modelnya dan sebagai dampaknya, masih tentang pendapatnya Arkoun, maka untuk menyikapi kuote ini, kita tidak bisa langsung memercayainya, apalagi mengendapkan dalam diri.

Yang paling awal, kita harus menanyakan dulu, bagaimana situasi Abu Bakar kala itu kok sampai bilang demikian. Kedua, kita penting membaca juga, mengapa Imam Maliki tertarik mengutip Abu Bakar pada bagian itu. Ketiga, bila keduanya sudah terjawab, kita melakukan pembacaan lagi terhadap kondisi di Indonesia: apakah semua masyarakat muslim di Indonesia, 100 persen, sudah bisa membaca Al-Quran. Apakah memang Al-Quran di benak mereka penting, sepenting di benak Abu Bakar dan sebagainya.

Lalu, setelah kita tahu soal itu semua, baru kita bisa menentukan untuk memakai atau tidak pandangan dari Abu Bakar tersebut. Atau jika pun masih kita pakai, tentu kita akan memiliki cara pemakaian sendiri yang khas.

Akhirnya, begitulah langkah paling sederhana yang diandaikan Arkoun untuk mengikis jerat Taqdis al-Afkar al-Diny (pemberhalaan pemikiran tentang agama) di setiap lingkaran Muslim. Hmmm

________________
S. Pole, sedang menempuh studi S2 di
Studi Quran-Hadis UIN Jogja
sekaligus Barista di GadingCoffee  

Gelap dan Perasaan-Perasaan yang Dihadirkannya




Pada dasarnya aku senang tidur dalam keadaan gelap. Masa kecilku tidak mengenal sumber pencahayaan mewah selain senter yang digunakan sesekali saja. Sumber pencahayaan utama di rumah hanyalah pelita, sebuah benda magis yang dirakit sendiri oleh bapak-bapak kami di kampung. Pelita di rumah kami biasanya berupa kaleng susu  diisi minyak tanah dengan sumbu dibungkus pipa besi kecil yang mengalirkan energi, hingga muncullah cahaya dari api yang tetap menyala pada sumbu selama minyak tanahnya tak habis. Sebenarnya tak hanya kaleng susu, beberapa rumah ada yang menggunakan botol kaca bekas minuman, ada juga yang memanfaatkan botol plastik bekas racun hama.

Aku terbiasa dengan gelap, aku telah melalui banyak usia dengan pencahayaan yang alakadarnya, suasana remang-remang yang selalu menjadikan satu sama lain saling berbincang tanpa melihat dengan jelas wajah kawan berbicara. Di dalam rumah kami dan rumah orang-orang di kampung kami hampir memiliki kegiatan yang sama setiap malamnya, berkumpul di suatu ruang usai makan malam, menanti waktu isya, setelah itu masuk ke kamar masing-masing untuk tidur. Tidak ada aktifitas berlama-lama melewatkan malam dengan mata melek, lagipula tidak banyak dapat dilakukan bermodalkan pelita yang bahkan bisa tiba-tiba mati jika tertiup angin lumayan kencang.

Malam-malamku memang kadang berbeda. Ketika kedua orangtua dan adik lelakiku terlelap di balik kelambu, aku masih sering duduk sendirian di depan ranjang, diam-diam mengerjakan tugas sekolah yang tidak kukerjakan di antara waktu magrib dan isya. Kegiatan yang selalu berujung dengan aku yang bangun pagi, ngupil sebentar dan mendapati lubang hidung beserta kotorannya telah meghitam karena asap pelita.

Maka ini juga mempengaruhi besar-kecilnya rasa takutku pada hantu. Aku tidak mudah merasa takut hanya karena lampu di ruangan tiba-tiba mati sementara tidak ada orang lain di sisi. Bahkan ketika sebuah benda terjatuh di momen tersebut, tiada lain yang kutuduh adalah binatang, bisa jadi tikus yang tidak sengaja menyenggolnya.

Tapi rasa-rasanya ada yang berubah pada tindakanku dalam menanggapi gelap. Belakangan gelap menjadi sesuatu yang lain bagiku, ia mewujud sesuatu yang menakutkan dalam arti lain. Benar bahwa aku mengalami ketakutan ketika hendak tidur lalu memutuskan matikan lampu. Ada yang seketika mencengkeramku, mencekikku hingga sulit bernapas seperti gulita baru saja menghimpit tubuhku. Tapi bukan itu yang benar-benar terjadi. Aku hanya tiba-tiba memaknai gelap sebagai sesuatu yang melankolis.

Gelap, atau sesuatu yang nampak gelap, gambar bernuansa buram, abu-abu, blur, kini begitu mudah menghadirkan perasaan nelangsa di diriku, sendu, dan tak jarang buatku berlarut-larut di sana. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah kenyamanan yang juga serta-merta muncul untuk terus-menerus nikmati kegelisahan itu. Atau ini semacam level lebih tinggi dari keakraban terhadap gelap?


Tidak Bisa Diungkapkan




Dia kenal pria yang mendatanginya barusan. Tidak sekadar kenal malah, tapi memahami bagaimana ulah-ulahnya.  

Dia tadi sempat bingung. Bimbang dalam beberapa menit dan akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah justru berbeda dengan yang di kepalanya.

"Jadi, mas. Total semuanya 250.000 ribu."

Angin segar melewati pikirannya tepat setelah dia tahu bahwa raut muka pria di depannya yang posisi duduknya seperti takhiyat awal itu standar. Tidak mengekspresikan kewegahan apalagi kecut, meski pria itu mendengar gambling angka yang disebutkannya.

Apa yang dia takutkan sama sekali tidak terjadi dan kali ini ia lebih tenang. Ada yang sudah bergeser dari pria di depannya ini, batinnya.

Bagaimana pun, tragedi 8 tahun yang lalu masih melekat di benaknya. Dia adalah sosok yang senantiasa imbang antara perkataan dan perbuatan. Mulanya. Jadi tentu tragedi itu akan selalu melekat, bahkan di bawah sadarnya.

Kita semua tahu bukan betapa ingatan atau memori seseorang bergantung pada apa yang kita sukai. Kita pegang. Dan kita benci. Beginilah kira-kira mengapa dia mengalami kebimbangan luar biasa tadi, padahal dia sudah melewati hal-hal seperti ini berulang kali selama 5 tahun terakhir.

"Jadi, teman-teman, apa yang bisa kita simpulkan dari materi kali ini adalah betapa kita, sebagai muslim, sebagai yang senantiasa membaca Alquran, penting untuk memihak pada mereka yang membutuhkan. Tetangga-tetangga kita yang untuk besok makan apa saja tidak tahu. Teman-teman kita yang tidak memiliki baju baru kala lebaran, padahal semua temannya punya. Dan semacamnya. Hanya dengan begitulah kita jujur pada diri kita. Kejujuran adalah tidak mengambil keuntungan dari yang membutuhkan. Inilah maksud dari surah al-Maun. Begitu ya teman-teman," jelasnya di depan anak-anak kelas XI MA dengan begitu bersemangat 8 tahun silam.

"Saya mau bertanya bapak. Apakah hukuman bagi yang melanggar?" Seorang laki-laki dari bangku nomer dua dari depan mengacungkan tangan dan bertanya.

"Oh pertanyaan bagus, Nata. Hukumannya jelas. Dalam surahnya sendiri disebut bahwa yang melanggar patut diganjar neraka. Dua neraka malah. Neraka dunia dan neraka akhirat. Neraka dunia itu seperti perasaan tidak tenang. Kalau kita melanggar, hidup kita tidak bakal tentram selamanya, Nata. Begitu ya. Teman-teman yang lain paham ya."

***

"Oh nggeh pun, bapak, matur nuwun. Berkasnya saget diambil kapan nggeh bapak?"
Pertanyaan pria di depannya membangunkannya dari nostalgia singkat ala Freud. Dia lupa sudah berapa menit dia menunduk dan pria di depannya menunggu.

"Senin ya. Tidak buru-buru kan?"

"Oh nggeh. Mboten kok bapak. Oh iya, pembayarannya sekalian pas ngambil nggeh bapak?"

"Oh iya. Tidak papa."

Pria di depannya tadi pamitan seusai memastikan pembayaran dengan tanpa bersalaman. Andai musimnya tidak lagi pandemi, pasti keputusan pria tadi untuk tidak salaman akan lebih dari cukup—untuk kesempatan kedua—membuatnya tidak bisa tidur selama seminggu. Tapi untung saja, pikirannya segera menyimpulkan bahwa pria itu tidak bersalaman bukan karena apa pun melainkan mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah.

Dia masih duduk bersila di tempat yang sama, kendati di ruang tamu tidak ada siapa pun kecuali seonggok meja kecil di sampingnya yang menopang Kitab Suci Al-Quran yang terbuka. Berkas dari si pria masih dipandanginnya. Ada ketakutan muncul. Tapi dia segera menepis sambil meyakinkan dirinya bahwa pria di depannya tadi udah lupa dan sudah tidak seperti yang dia kenalnya.

***

Di malam hari, tanpa bisa ia cegah, kebimbangan itu muncul lagi. Mengusiknya dengan pertanyaan, "Kenapa kemarin kamu memberi harga 350.000 dan yang ini 250.000 padahal yang kemarin lebih tidak mampu? Kenapa Fauzan? Apa gara-gara ketidaktahuannya itu sekaligus kemiskinannya?"

Pertanyaan kadang memiliki fungsi nmemotik yang bisa mengingatkan kita pada hal lain yg berkaitan. Setibanya, untuk kedua kalinya, pikirannya dipenuhi masa dulunya ketika masih jadi guru dan bersemangat membahas makna kejujuran di depan siswa-siswanya.

Ia paham sekali bahwa yang ia lakukan tidak tepat. Harusnya masyarakat tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk pengurusan berkas. Sepeser pun! Ia paham juga bahwa pengurusan pernikahan itu gratis kecuali yang menginginkan pelaksanaan akad di rumah. Tapi, sejak dia masuk dalam arus, dia pada akhirnya harus mengkhianati pengetahuannya. Pengkhianatan memang selalu berbuah manis. Jika tidak, tidak mungkin Sabina, salah satu tokoh fiksi inti dari The Unbearable Lightness of Being-nya Milan Kundera, akan begitu cinta dengan pengkhianatan.  

Inilah yang membuat tidurnya tidak nyenyak atau lebih tepatnya semua ini akibat dari kedatangan pria tadi pagi yang tidak lain adalah Nata. Nata yang bertanya tentang hukum pelanggaran 8 tahun silam kepadanya saat jadi guru.

"Tapi sebentar," pikiran lain merasukinya, "jika Nata tidak mempersoalkan apa yang sudah kulakukan tadi dengan memberi harga 250.000 ribu dan malah ia bersedia, berterima kasih pun, lantas kenapa aku harus mempersoalkan ini? Ah bodoh! Nata diam, berarti dia sudah paham. Sudah mengerti bagaimana cara dunia bekerja."

***

Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Matanya sudah mengantuk. Pikirannya sudah mulai berdamai. Tapi masih tidak bisa tidur. Ia mencari pelarian dan akhirnya ia memilih untuk melanjutkan bacaannya atas novel In the Name of Rose, karangan seorang pakar semiotik sekaligus akademisi yang giat: Umberto Eco.

Tidak berjeda lama, barangkali baru 5 halaman membaca, ia sekonyong menutup novel. Ia termangu untuk ke sekian kalinya seraya bergumam, “Kok bisa?”

Ia meyakini bahwa kebetulan adalah cara tuhan secara supranatural untuk hadir dan turut membantu hambanya yang sedang tidak bisa berpikir sendiri, tetapi mengapa harus se-begininya. Begitu protesnya dalam benak.

Baru mendapat dua halaman membaca, ia disodorkan oleh kebetulan yang magis tadi dengan salah satu scene ketika Adso yang masih novis itu berhasrat sama sekali untuk menindak langsung apa yang ada di depannya karena menurutnya menyalahi protokol Gereja. Namun, langkah Adso segera dihadang oleh Willam—sosok guru yang bijak buat Adso dan mantan inkuisitor—seraya bilang dengan santai, “Adso yang baik, pengetahuan itu terbagi menjadi dua, yaitu pengetahuan yang harus kita lakukan selepas mendapatkannya dan pengetahuan yang memang itu hanya untuk kita ketahui. Apa yang di depan kita ini adalah pengetahuan yang dengan mengetahuinya saja, itu lebih cukup, bahkan lebih bijak.”

***

Ia memutuskan untuk meletakkan kembali novel di atas meja. Semuanya sudah jelas sekarang, batinnya, aku tidak akan bisa tidur malam ini!

Adakah yang Benar-Benar Siap Menikah, An?




Tak ada yang benar-benar siap untuk menikah, An… begitupun aku, seperti ketidaksiapanku ketika Tuhan menakdirkan aku lahir dari Rahim ibuku untuk menjadi aku yang sekarang. Tak ada yang siap.

Aku hanya menjalankan apa yang ada di hadapanku sekarang, An. Aku memilih untuk menikah, yang bagi sebagian orang menikah begitu menakutkan, aku pun berpandangan demikian. Kalaupun bukan karena iming-iming ketenagan jiwa, mungkin aku tak akan menikah, An. Doktrin agama memang selalu memukau, dan aku percaya Tuhan, aku percaya firman-firman-Nya.

Bahwa siapapun yang menikah, apapun dan bagaimana pun hidupnya akan dijamin oleh-Nya. Tapi bukankah semuanya sudah dijamin oleh-Nya, An?

Semesta memang mendukung kita selalu berfikir kontra dengan (yang katanya) kebaikan. Seperti yang kubaca dari tulisan temanku waktu itu, An. Semua iklan yang bersliweran di layar televisi, semua promosi yang bergentayangan di sosial media, semua menggiurkan, bahkan bisa dikatakan mewah. Tak ada penggambaran realistis dari kehidupan di sini.

Dan itu membuat sebagian orang berfikir, jika menikah haruslah siap segala-galanya, terutama materi. Untuk kebahagian keluarga, masalah mental, jiwa dan spiritualitas dinomorsekiankan. Yang paling utama adalah uang, rumah, mobil, dan fasilitas-fasilitas lain.

Manusia menjadi budak dari topeng-topeng yang berseliweran tak jelas itu, An, yang menumbuhkan mental pengecut. Bukan mental para pejuang yang nekat menerobos segala sesuatunya tanpa persiapan yang sempurna.

Aku sedang mencoba menjadi manusia itu, An. Manusia yang mesti berjuang tanpa persiapan sempurna. Demi menjadi seorang hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Baik. Demi psikisku yang butuh ditopang oleh terpenuhnya sistem biologisku sebagai makhluk. Dan demi menjadi warga Negara yang baik di Negara yang entah ini.

Lucu kan, An? Aku sering menertawakan diriku sendiri karena hal ini. Menghadapai kematian dengan sengaja. Menghadapi kematian dengan pesta pora. Ahh… sudahlah, An. Aku hanya ingin menikah. Di tengah-tengah absurdnya hidup kita ini.

Semoga Tuhan tidak tertawa terbahak-bahak kepadaku atas kekonyolan isi kepalaku ini, An. Yang tak bisa kuceritakan semuanya kepadamu.

Dampak Pandemi pada Fragmentasi Baru Pelanggan Kopi Sorowajan-Jogja




Di koran-koran sudah banyak disebutkan bagaimana pandemi korona jenis baru memorak-porandakan banyak segi kehidupan. Mulai dari segi ekonomi, pendidikan, psikologi sampai jumlah kehamilan yang naik drastis menjadi isu hangat yang mewarnai pengetahuan kita, di samping kewajiban bermasker, bantuan langsung yg salah sasaran, dan sebagainya.

Yang tidak lepas dari dampak juga yaitu polarisasi pelanggan kopi di Sorowajan-Jogja. Sorowajan adalah salah satu kelurahan di kecamatan Banguntapan, Bantul, DIY. Di Sorowajan, tepatnya di kisaran selatan rel kereta api sebelah Perumahan Polri Gowok, berjejer banyak warung kopi, seperti Kopi Paste (Kopas), Blandongan, Joglo Kopi, dan yang terjauh Gading Coffee.

Meski banyak, kafe-kafe tersebut sudah memiliki segmennya masing-masing. Blandongan misalnya, kafe yang paling senior ini segmennya adalah teman-teman yang memiliki tingkat kesantaian radikal. Dilihat dari segi penampilan, jemaat kopi Blandongan lebih banyak yang mengenakan kaos oblong, celana pendek, sandal jepit, dan rambut yang tidak teratur.

Jemaat ala blandongan ini sekali-kali akan susah kita dapatkan jika kita pergi ke Joglo Kopi. Di Joglo, seperti disebut Saleh Pole, salah satu mantan barista di situ, Joglo Kopi adalah kafe parlente. Orang-orang yang ke sini lebih menonjol dari sisi penampilan. Jarang manusia bercelana pendek bisa kita dijumpai di sini. Yang ada adalah mereka yang ber-pantopel, baju rapi, dan rambut klimis. Dari segi isu yang dibahas pun beda: sudah menunjukkan distingsi yang seolah menandakan mereka darang dari kelas yang khas.

Dari segi latar belakang, tentu tidak sama pula. Jemaat ngopi Joglo lebih banyak dari kalangan dosen dan mahasiswa-akademik yang diskusinya harus sebisa mungkin formal dan rumit. Ini menjadi wajar sebab tekstur di Joglo Kopi lebih memungkinkan mereka untuk bisa berfoto tanpa harus kehilangan citra. Dengan ungkapan lain, di Joglo Kopi ada fasilitas Sofa, kursi yang beragam, meja seksi, dan kamar mandi duduk.

Di antara keduanya, soal latar belakang yang menurut pengamatan kami lebih netral adalah Kopas. Jika Blandongan secara penampakan lebih mengarah pada freelancer murni (manusia bebas, bahasanya Pram) dan Joglo sebaliknya, maka di Kopas dua jenis manusia di muka ada. Di beberapa sudut Kopas, jika kalian sempat mampir, kalian akan menjumpai lingkaran yang rapi dan di sudut lain, lingkaran yang mirip di Blandongan (hanya tidak terlalu radikal).

Soal isu yang seringnya menguar, di kopas lebih dominan pada wacana santai. Sebagian membicarakan pekerjaan, sebagiannya studi. Pun, itu disampaikan dengan tidak terlalu bar-bar. Di dua kafe sebelumnya, satu dominan ke pekerjaan, satu ke studi dengan adanya semacam upaya untuk tampil dominan melalui suara-suara yang memekik.



Beberapa bulan dilanda wabah

Selayang, sangat selayang, dari gambaran fragmentasi pelanggan di warung kopi Sorowajan di atas, rupanya kami menemukan adanya pergeseran. Ada beberapa bagian yang seharusnya itu menjadi pelanggan joglo, sekarang beralih ke Blandongan dan sebagian yang harusnya di Kopas bergeser ke kafe lainnya.

Faktor utamanya tentu kebijakan pemerintah daerah. Maksud saya adalah pandemi yang membuat pemerintah melarang kafe-kafe untuk buka. Sejak ada pandemi, pemerintah mengatur jadwal buka setiap kafe, sehingga mau tidak mau waktu buka kafe pun berbeda-beda antara satu dengan lainnya.

Perbedaan jam serta durasi buka ini ternyata berimbas pada adanya migrasi mikro dari satu kafe ke kafe lain. Aturan tentang pembatasan sudah berjalan sekitar 3 bulan—jika tidak salah ingat—dan selama waktu itu pula banyak pelanggan kopi yang tersesat bukan pada kafe idaman mereka sebelumnya.

Berpijak pada asumsi bahwa manusia hanya butuh 21 hari untuk pembiasaan hal baru, maka 3 bulan adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mengubah pola fragmentasi. Pelanggan-pelanggan Joglo yang 3 bulan ini ngopi di Blandongan bisa jadi sudah menemukan kenyamanannya yang baru, sehingga besok lagi kalau sudah benar-benar normal bukan pseudo-normal (new normal), ia tidak akan lagi nyaman di Joglo—misalnya.

Begitu pun dengan pelanggan Kopas. Kemungkinan paling jelek, akibat pandemi ini, akan ada beberapa pelanggan yang tidak lagi mencurahkan hatinya ke satu kafe, tetapi membaginya. Sangat mungkin, besok akan ada pelanggan yang saat siang ngopi di Kopas dan saat malam di tempat lain secara intens. Iya secara intens.

Namun, yang paling jelas kita tunggu saja bagaimana wajah fragmentasi pelanggan baru di warung kopi sorowajan kelak serta sejauh mana ini berpengaruh pada kafe yang baru lahir kemarin, gading coffee.


Tim Contradi(xi)e


Di Balik Keengganan Menikah, Terselip Iklan yang wwwuah




Beberapa kali berdoa supaya pikiranku teralihkan pada hal lain selain korona jenis baru, baru malam ini semesta mengabulkan. Ijabah ini disampaikan melalui beberapa iklan yang lewat di televisi, yakni iklan seorang ibu yang bingung harus ngapain dengan anaknya yang sedang belajar dari rumah dan sejoli orang tua yang sedang ngelus-ngelus anaknya tanda sayang.

Yang pertama adalah iklan susu dancow yang menggambarkan—meski bagi logika dasarku tidak terlalu nyambung—betapa dengan memberi anak kita, eh anak kita, seorang anak maksudku, susu dancow, maka kita tidak lagi akan bingung harus ngapain dengan mereka selama belajar dari rumah. Pendeknya, iklan ini ingin bilang bahwa dengan dancow seorang anak akan bisa dengan mandiri mengontrol serta mengoptimalkan potensi belajarnya sendiri, sedangkan ibunya tinggal senyam-senyum nonton dengan puas.

Yang kedua adalah iklan buavita, jus segar dan menyehatkan. Di sini, alurnya tidak sepanjang dancow: sebatas gambaran orang tua menyayangi anaknya dan lalu sebagai bentuk pelengkap sayangnya, orang tua penting memberikan buavita supaya si buah hati sehat. Seolah, iklan ini bilang pada kita begini, “kalau kalian sayang anak dan tidak memberinya buavita, maka itu bullshit. Rasa sayang palsu! Bilangnya sayang, tapi minuman yang diberikan tidak menyehatkan.” Beginilah deskripsi dua iklan yang aku ingin berterima kasih padanya sebab telah menyelamatkanku dari banjir informasi yang semakin tidak jelas tentang covid-19.

Meski demikian, sebenarnya bukan tentang dancow dan kecerdasan instan si anak atau pun buavita sebagai simbol kesehatan yang ingin aku sasar di sini. Tetapi, ini lebih tentang latar dari kedua iklan di muka. Keduanya terjadi dalam satu keluarga kelas menengah-atas yang sudah memiliki rumah bagus sekaligus perabot lengkap dan baru memiliki satu anak dengan kisaran umur 7-9 tahun.

Dengan ungkapan lain, setting yang dipakai iklan tersebut adalah keluarga yang sudah mapan. Keluarga yang kemungkinan besar, sebelum mereka menikah, salah satu dari mereka atau bahkan keduanya sudah memiliki pekerjaan masing-masing dan pekerjaannya tidak sembarangan. Terlepas dari bagaimanakah mereka mendapatkan pekerjaan—entah karena relasi keluarga atau upaya ambisius pribadi yang sepi (bedakan dengan sunyi)—begitulah yang dua iklan di atas tampilkan.

Lalu, beralih ke perspektif pemirsa, pada sisi lain, mengetahui bahwa iklan diputar secara rutin dan berulang, maka tentu ada keterpengaruhan yang halus di dalamnya. Keterpengaruhan memiliki dua model, yakni model sadar dan tidak sadar. Ketika kita menyukai pikiran-pikiran tentang koron jenis baru dari Zizek misalnya dan lantas kita membacanya dengan serius hingga paham dan melekat, maka itulah yang disebut keterpengaruhan model pertama. Model ini memerlukan beberapa proses lagi untuk bisa sampai ke level kesadaran atau rasio, meminjam bahasanya Hegel.  

Adapun model kedua adalah keterpengaruhan yang tanpa kita sadari sudah menjadi kesadaran. Keinginan kita yang luar biasa untuk mudik misalnya, meski pemerintah melalui corong-corong media yang mengembik padanya sudah berkoar luar biasa seperti aktivis 98, bisa digolongkan sebagai model keterpengaruhan tanpa sadar. Keinginan seseorang untuk mudik lebaran merupakan akumulasi dari segenap wacana, kenyatan, dan semacamnya yang secara rutin selalu diulang dan direproduksi, sehingga puncaknya adalah kesadaran yang kerapnya kita sendiri tidak tahu mengapa perasaan ingin pulang pasti muncul ketika lebaran tiba.

Ketidaktahuan kita atas apa yang kita rasakan inilah yang kusebut tadi sebagai kesadaran. Sebagai bukti kita tengah terpengaruh oleh sesuatu yang kita sendiri masih samar tentangnya. Sampai di sini, ketika tadi sedang melihat setting keluarga dancow dan buavita, aku memiliki bayangan bahwa mengapa hari ini banyak pemuda takut untuk menikah—sampai menganggap pernikahan adalah kematian—adalah sebab mereka sebenarnya tengah terpengaruh oleh dua iklan tersebut.

Yang ada dalam benak mereka, keluarga itu dibangun setelah punya rumah seperti dalam iklan. Jadi, ketika sudah memiliki anak, mereka bisa tampil seperti orang tua dalam iklan: berpakaian rapi, perabot (mewah) rumah lengkap, kebutuhan (palsu) tercukupi, dan semacamnya. Saat melihat iklan, fokus kita sudah melayang bersama keindahan bahtera keluarga di dalamnya, sehingga kita sering melupakan hal-hal yang lebih mendasar, yakni pertama, itu hanya iklan; kedua, konteksnya adalah keluarga menengah-atas urban yang secara mental dan orientasi jelas berbeda dengan jenis kelas lain; ketiga, kita lupa tentang diri kita sendiri yang tidak bisa tidak juga memiliki keunikan sendiri baik secara mikro atau pun makro.

Popular Posts